Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Ep. 76 - Rasa setia kawan


__ADS_3

\*\*\*


"Hei! Apa aku harus kesana dan menanganinya sendiri? Untuk apa aku punya anak buah seperti kalian? Cepat, selesaikan masalahnya! Apa kau dengar!."


"Waw...! Kamu sangat keren...! kamu memberi perintah sudah seperti seorang bos besar saja," ucap Keyla sambil tersenyum saat melihat kagum kekasihnya itu.


Nampak Keyla dan Nino baru keluar dari sebuah restoran setelah makan malam. Keyla tak henti-hentinya menggoda Nino karena perannya sekarang.


Bukanlah mereka jika tidak cek cok adu mulut karena silang pendapat. Tapi kali ini Nino mengelak dan berkata, jika sebenarnya dia juga tidak ingin selalu memarahi para bawahannya. Tapi, untuk saat ini Arka sedang tidak fokus urusan geng dan dia ambil alih karena tidak ingin Jack sampai ambil kesempatan.


Mendengar hal itu, Keyla pun tersenyum-senyum dan memancing pertanyaan Nino. "Kenapa kamu tersenyum?," tanya Nino pada Keyla yang biasanya terlihat garang.


"Aku hanya tidak menyangka, kamu tampan juga jika saat marah... Aku merasa, aku seperti wanita terkuat dan kau pria terhebat di kota ini, hi hi...."


"Apa kamu bangga?," tanya Nino lagi dengan tersenyum bangga. "Apa! Siapa yang bangga?!," canda Keyla. "Ya, aku... Aku yang bangga...," Nino menjawabnya sendiri. "Ha ha ha...." Dan mereka pun tertawa bersama sambil berjalan santai menyusuri trotoar dan berpegangan tangan.


Keyla merasa jika ia bahagia selama tidak ada masalah besar menimpa mereka walau mereka bertengkar seumur hidup. Lalu membandingkan dengan kisah hidup Sania yang memiliki kisah cinta yang memukau, yang bahkan kesedihannya itu sampai melelehkan dirinya.


Nino pun merasa tidak habis pikir dengan jalan pikir Arka. Dia merasa, harusnya setelah 24 jam pertengkaran Arka sudah bisa mengatasinya dan harus berusaha menghibur Sania, tapi dia malah pergi dan bermalam ke rumah lamanya.


Langkah Keyla terhenti saat mendengar perkataan Nino. "Hei! Kamu bilang Arka menginap di rumah lamanya?." Seketika langkah Nino pun terhenti dan tidak berani berbalik menatap Keyla.


"Hei! Nino! Cepat katakan...!."


"Benar, tapi tidak terjadi apa-apa, Arka hanya ingin sendiri dulu untuk berpikir," jawab Nino masih mencoba menutupi.


Lalu Keyla bertanya tentang Santi, apakah saat ini ia sudah kembali ke kampung halamannya atau masih tinggal di rumah lama Arka.


Nino memberi jawaban, jika dalam beberapa waktu ini dia belum bisa mengurusi Santi karena sibuk dengan pekerjaannya. Juga mengatakan jika Santi tidak akan bisa berbuat macam-macam jikapun ia menginginkannya.


"Apa kamu yakin mereka tinggal bersama semalaman dan tidak melakukan apa-apa?," tanya Keyla penuh selidik.


"Mereka tinggal semalaman dan mungkin hanya bermesraan sesaat," jawab Nino jujur karena tidak bisa berbohong lagi.

__ADS_1


"Bermesraan semalaman kau bilang itu tidak apa-apa?! Kau ini...!." Keyla merasa kesal dan menjewer telinga Nino.


Lalu Nino mencoba membela dirinya dan Arka, dengan mengatakan jika selama ini Arka di kenal sebagai orang yang paling setia di kalangan gengster dalam sejarah.


Namun, Keyla tetap tidak menerima alasan apapun dari Nino. Dia meminta Nino untuk segera mengantarkan Santi pulang ke kampung halamannya apapun resikonya.


~


Beralih ke tempat lain, Jack sedang berada di sebuah gym dan sedang berlatih tinju dengan penuh semangat. Di sisinya, Coki setia mendampingi dan memberikan semangat kepadanya.


Sambil melanjutkan latihan tinjunya, Jack mulai menyampaikan kepercayaannya kepada Coki. Lalu Coki berbicara dengan nada manis dan menjilat, menyampaikan bahwa saat ini Arka sedang tidak fokus pada urusan geng dan hanya di urusi Nino yang dia anggap berotot tapi tidak berotak.


[🤭 belum tau aja mereka].


Jack sangat senang mendengarnya dan melihat ini sebagai kesempatan baginya untuk mengambil alih kekuasaan dan memperluas pengaruhnya.


Ia sepenuhnya percaya pada kecerdikan dan kekuatan Coki. Lalu mereka berbagi rencana dan strategi untuk mengambil keuntungan dari situasi ini, dengan harapan dapat mengungguli Arka dan gengnya.


"Coki, apakah paket yang aku tunggu akan segera tiba? Jangan sampai polisi mengetahuinya."


~


Keesokan paginya, Arka pergi ke rumah lamanya untuk menemui Santi yang memintanya bertemu.


Saat sampai di halaman rumah, Arka melihat Santi yang sedang asyik membaca dan belajar cara bermain piano di dalam rumah. "Akh! Aku tidak bisa, mungkin dia sangat pintar, sehingga bisa dengan mudah memainkannya, pantas saja Arka sangat menyukainya."


Arka berjalan menghampiri Santi dengan perasaan kagum karena usahanya. Lalu Santi melihat kedatangan Arka dan merasa senang. "Arka?," panggilnya dengan semangat.


"Ternyata kamu pandai bermain piano juga."


"Akh... Tidak, aku hanya merasa asyik saat mempelajarinya... Maafkan aku, aku menyentuh buku musikmu tanpa izin."


"Tidak apa-apa, buku itu milik Sania dan aku berencana untuk membuangnya."

__ADS_1


Kemudian Arka mengajak Santi ke sebuah tempat untuk membicarakan sesuatu. Dan disinilah kini mereka berada, di pinggir danau tempat Arka dulu sering berkunjung ke sana.


Mereka berjalan di tepian danau dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup. "Dulu, aku juga sering ke tempat seperti ini di kampungku, tapi pemandangannya tidak seindah tempat ini," tutur Santi dan memulai percakapan mereka dengan basa-basi.


"Santi, soal malam itu, aku sangat minta maaf," ucap Arka, namun Santi tidak merespon perkataan Arka dan malah membahas topik lain.


"Arka, pasti Sania juga suka kesini kan?."


"Ya, saat suasana hatinya sedang buruk dia akan jalan-jalan kesini."


"Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini, tidak baik jika dia melihat kita." Santi hendak pergi tapi Arka memanggilnya sehingga langkahnya terhenti.


"Santi, biar aku selesaikan... Sebenarnya aku tidak pernah~...."


"Arka."


Santi memotong pembicaraan Arka dan mengatakan jika ia tau apa yang akan di katakan Arka. Di juga berkata tidak bermaksud mengganggu hubungannya dengan Sania dan tidak akan merepotkan Arka atas apa yang sudah terjadi.


"Arka, aku tidak tau kenapa aku sangat menyukaimu, aku juga tidak mengerti, kenapa perasaan tidak terduga ini sangat kuat."


Saat ini, Arka nampak bimbang dan tidak tau harus berbuat apa.


"Arka... Bolehkah aku tetap tinggal disini? Aku berjanji tidak akan membebanimu."


Arka berpikir beberapa saat dan tersenyum miris. "Beban untukku?... Dulu, Sania juga berkata sama padaku, aku kira... Aku akan mengurus semuanya dan bisa melindunginya, tapi... Kini aku hanya bisa memberinya kesedihan dan penderitaan... Aku tidak bisa memenuhi janjiku padanya."


"Arka...."


"Mungkin tanpa diriku, dia akan jauh lebih bahagia... karena aku hanya menjadi beban untuknya."


Kemudian Santi berkata jika ia tidak akan meminta janji apapun dari Arka. Ia hanya ingin bisa terus melihatnya dan jika Arka ada masalah ia bersedia untuk menjadi temannya bicara.


Namun, Arka terus meyakinkan Santi jika ia tidak bisa mengabulkannya karena dengan keberadaan Santi justru itu menjadi beban untuknya.

__ADS_1


Dan akhirnya, dengan rasa kecewa Santi pun menerima keputusan Arka dan menyetujui untuk kembali pulang ke kampungnya.


Tapi sebelum itu, ia meminta Arka mengantarnya ke pemakaman Maya untuk berpamitan dan langsung di setujui Arka. Tanpa berlama-lama mereka pun pergi ke pemakaman Maya saat itu juga.


__ADS_2