Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Ep. 82 - Keputusan final Sania


__ADS_3

\*\*\*


Hari itu, menjadi hari yang sangat membuat Sania rapuh. Seharian dia berada di tempat tersebut hingga malam hari dan masih dalam pikirannya.


Di tempat lain, Arka dan Nino sedang berada di klinik untuk memeriksa kesehatan Santi karena hendak di antarkan pulang dan keadaannya pun sudah pulih total.


Tiba-tiba Keyla datang dengan emosinya dan langsung melabrak Santi, menyingkirkan Arka yang menghalaunya lalu memberi satu tamparan keras di pipi Santi. "Santi!."


Plakkkkk! Plakkkkk! Plakkkkk!


"Keyla, apa yang kau lakukan? Kenapa memukul Santi?," teriak Arka sedangkan Nino mencoba mencegah Keyla agar tidak melakukan hal yang lebih.


"Minggir!." Keyla menyingkirkan Nino yang menghalaunya. "Aku ingin memberi pelajaran pada pelakor yang sudah membuat rusak hubungan ini!."


"Cukup Keyla, kamu sudah kelewatan!," bentak Nino.


"Kelewatan? Dia yang sudah kelewatan!," jawab Keyla dengan nada tingginya.


Arka nampak bingung dengan situasi ini terlebih saat dia melihat Santi memegangi pipinya karena merasa sakit. Arka hendak memarahi Keyla namun kalah cepat oleh Keyla yang lalu bicara kembali.


"Untuk apa dia menemui Sania dan bicara banyak hal konyol padanya!... Kini Sania merasa hancur total akibat ulahnya!," teriak Keyla yang sangat geram dan seperti ingin menerkam Santi.


Arka merasa sangat terkejut mendengar perkataan yang Keyla katakan, sorot matanya pada Santi seketika berubah dari yang asalnya hangat dan penuh khawatir, kini Arka menatap Santi sangat tajam.


"Santi, apakah itu benar?," tanyanya.


"Aku memang menemui Sania karena berharap hubungan kalian akan membaik, jawab Santi meyakinkan.


Keyla melangkah maju lebih dekat pada Santi. "Beraninya kau berkata manis! jika hanya itu yang kau lakukan, kenapa dengan Sania? bahkan dia sampai tidak menerima teleponku, dan dia merasa sangat sedih sehingga tidak bisa bicara apapun!."


"Aku juga tidak tau, aku tidak lakukan apapun padanya."


Santi terus mengelak dan tidak merasa bersalah. Di tengah perdebatan Keyla dan Santi, Arka berpikir keras dan sangat mengkhawatirkan Sania. Lalu ia segera pergi dan berlari hendak menemui Sania.


Dengan perasaan was-was, Arka berlari seperti orang yang tidak terkontrol. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, melewati banyak kendaraan yang membunyikan lakson peringatan padanya, namun sama sekali tidak di hiraukan.


"Sania... Sania..., tunggu aku...." Arka bicara pada dirinya sendiri dan terlihat begitu cemas.


Saat tiba, ia melihat rumahnya masih dalam keadaan gelap. Ia langsung membuka pintu dan berjalan tanpa melihat langkahnya karena fokusnya hanya tertuju pada Sania.

__ADS_1


"Sania! Sania!...."


Sekeras apapun Arka memanggil, tidak ada sahutan dari Sania. Arka begitu panik karena dia tidak menemukan keberadaan Sania di seluruh rumah, di kamar, di dapur dan di tiap sudut juga tidak ada.


Kemudian dia berlari keluar rumah untuk mencarinya ke tempat lain. Tiba-tiba teleponnya berbunyi. "Hallo, Santi?."


...


"Belum, aku belum menemukannya... Santi, aku akan mengurus sendiri urusanku, aku mohon jangan mengganggu Saniaku lagi."


Tut Tut Tut...


"Maaf, ponselku habis baterai, aku tutup dulu teleponnya." Arka pun beranjak dari sana tanpa melihat ke arah samping, dimana Sania baru saja muncul dari arah sana.


Sania berjalan dengan pikiran kosong sehingga ia pun tidak menyadari jika Arka berada di depan mencarinya. Sania berhenti sejenak dan menatap gedung tempat tinggalnya berada. Lalu ia menarik nafas dan melangkahkan kakinya kembali dan masuk ke rumah.


Sania duduk dan melihat bayangan dirinya di cermin dengan putus asa. Lalu ia teringat masa lalu saat dirinya dan Arka berboncengan motor.


[Arka yang mengendalikan motornya dan lalu bertanya pada Sania, apakah dirinya menyesal sudah bersamanya dan Sania pun menjawab dengan sangat yakin, jika ia tidak akan pernah menyesal asalkan tetap bersamanya.]


Kenangan itu membuat Sania meneteskan air matanya kembali. Lalu ia membuka kalung pemberian Arka yang selalu di pakainya dan menggenggamnya erat.


Sania merebahkan dirinya di kasur karena merasa sudah sangat lelah, tanpa melepaskan kalung yang ada di tangannya.


Ya, Sania membuat keputusan final. Ia mengakhiri hidupnya... 😭😭😭


Kini dia terbaring kaku dengan darah yang terus mengalir. Konyol? Bodoh? Mungkin iya, tapi sampai situlah batas kesabaran dan ketahanan Sania.


Kenzi, yang baru tiba di rumah Sania karena sebelumnya mereka berjanji untuk bertemu, merasa heran karena situasi rumah tidak seperti biasanya.


Ia memanggil-manggil Sania karena rumahnya nampak gelap dan pintu pun nampak tidak tertutup. Kenzi mencoba masuk dan membuka pintu secara perlahan lalu mengecek keadaan di dalam.


Namun saat menuju kamar, ia langsung tercengang karena melihat Sania yang terbaring namun darah terus mengalir dari tangannya dan meleber membasahi lantai.


"Sania! Sania!... Apa yang kamu lakukan? Sania!... Sania bangun!."


Kenzi begitu panik lalu segera menggendong Sania menuju rumah sakit dengan berlarian. "Sania, bangunlah... Jangan tidur! Bukankah kamu katakan akan hidup bahagia apapun yang terjadi! Kamu bohong padaku...! Sania... Aku mohon bertahanlah!!." 😭😭😭


Akhirnya mereka tiba di rumah sakit dan Sania pun segera di tangani dokter. Kenzi menunggu di depan ruang UGD dan berharap Sania akan baik-baik saja.

__ADS_1


Kenzi meremas dahinya dan merasa tidak habis pikir atas apa yang menimpa Sania. Tidak lama berselang, Keyla yang sudah di kabari Kenzi baru tiba di sana.


"Kenzi, bagaimana dengan Sania? Apa dia baik-baik saja?," tanya Keyla khawatir.


"Dia masih di tangani dokter, hasilnya belum keluar," jawab Kenzi tanpa mengangkat kepalanya yang di tekuk.


"Kenapa dia bodoh sekali! Kenapa dia melakukannya karena hal semacam itu!," kata Keyla lagi sambil mondar mandir gelisah.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang terjadi sehingga Sania mau bunuh diri?!."


"Santi menemui Sania... lalu Sania bicara di telepon denganku sebentar, lalu ponselnya di matikan."


"Dimana Arka?."


"Aku tidak tau...."


Kenzi mengeraskan rahangnya dan menatap tajam. Ia merasa marah pada Arka yang sudah memperlakukan Sania tidak adil sehingga terjadi kejadian seperti itu.


Saat pagi hari, Nino masih berusaha menghubungi Arka dan mencari keberadaannya. Kini dia ada di kantor karena berharap Arka ada disana, namun sayang dia tidak ada juga disana.


"Sebenarnya Arka kemana? Kenapa dia sangat susah di hubungi!," ucap Nino gelisah.


"Nino!."


Panggil Arka yang baru tiba di kantor dengan wajah putus asa karena tidak berhasil menemukan Sania. "Arka! Kamu kemana saja? Ponselmu sangat susah di hubungi."


"Maaf Nino, ponselku habis baterai... Kenapa?! Apa kamu menemukan Sania? Apa yang terjadi padanya?!," tanya Arka bertubi-tubi karena rasa cemas yang besar.


"Arka, Sania... Sania mencoba bunuh diri dan sekarang dia ada di rumah sakit."


"Apa!."


Mereka berdua pun segera pergi ke rumah sakit dan mencari keberadaan Sania. Kenzi, yang baru keluar dari ruang rawat Sania terlihat sangat lelah karena semalaman dia terus menunggu Sania dan tidak bisa tidur.


"Kenzi!," panggil Arka saat melihat sahabatnya itu. "Dimana Sania? Bagaimana keadaannya?."


Sudah memendam amarah sedari malam, maka saat Arka menghampirinya, Kenzi langsung melayangkan tinjunya dengan kuat di pipi Arka dan ia lakukan beberapa kali sambil berkata, "Bajingan! Apa yang kau lakukan pada Sania!."


Jekuk!

__ADS_1


😱😱😱😱😭😭


Bersambung...


__ADS_2