
\*\*\*
Setelah Arka berhasil memenangkan balapan motor, ia turun dari motornya dengan cepat dan membuka helmnya. Terlihat jelas bahwa ia merasa senang dan puas dengan kemenangan yang ia dapatkan.
Sorakan dan tepuk tangan dari penonton semakin membuatnya merasa bangga. Arka lalu melambaikan tangan ke arah para penonton sebagai tanda terima kasih atas dukungan mereka.
Ia kemudian menghampiri Sania dan mengambil botol air mineral yang Sania berikan untuknya. Lalu Arka meminumnya untuk menghilangkan rasa dahaganya setelah balapan yang sengit.
"Selamat Arka, kamu menang."
Sania begitu antusias menyambut kemenangan Arka dengan senyumannya. Arka pun merasa sangat senang dan bangga dengan prestasinya, namun tetap rendah hati dan mengucap syukur. Namun, terlihat Kenzi yang berada agak jauh dari mereka hanya berdiam diri dengan pikirannya sendiri.
"Arka, ini hadiah untukmu...."
Nino menghampiri Arka dengan membawa sejumlah uang yang cukup besar sebagai hadiah atas pertandingan Arka.
Arka merayakan kemenangannya dengan penuh sukacita dan mentraktir teman-temannya yang lain. Setelah itu, mereka melanjutkan acara barbeque dan menghabiskan malam bersama dengan ceria dan bahagia.
Setelah acara selesai, Arka mengantar Sania pulang namun tidak sampai depan rumahnya karena hawatir Ayahnya akan mengetahui tentangnya dan Arka.
"Kamu pulang sangat larut, apakah ayahmu tidak akan marah?," tanya Arka.
"Tidak, aku mengatakan pada orang tuaku, jika aku mengikuti sebuah konser pianis."
"Aku sangat mencemaskanmu, hubungi aku jika kamu sudah sampai di dalam rumah, agar aku tau jika kamu baik-baik saja." Sania mengangguk tanda setuju.
Saat Sania akan pergi, Arka memanggilnya kembali dan ingin mengatakan sesuatu tapi di urungkan. Ada keraguan di raut wajah Arka sehingga dia tidak jadi mengatakannya. Lalu Sania berpamitan dan melangkah pergi sambil melambaikan tangannya.
Seperti biasa, setelah Sania masuk rumah, dia langsung memainkan sebuah lagu dengan piano nya yang selalu di dengar Arka yang masih berada di bawah menunggu Sania memainkannya.
Ayah Sania merasa heran karena Sania sudah sering pulang larut malam, tapi ibunya mengatakan jika Sania akan menghadapi ulangan dalam waktu dekat. Hal itu membuat ayahnya tidak berpikir macam-macam tentang Sania.
~
~
"Cepat, cepat, ayo lempar kemari."
Beberapa siswa sedang bermain basket di lapangan basket sekolah saat jam istirahat tiba. Beberapa di antaranya bermain dengan serius, sementara yang lain hanya asyik bergembira sambil mencoba memasukkan bola ke keranjang.
Di pinggir lapangan, terdapat beberapa siswa yang hanya duduk dan mengamati permainan tersebut. Dua di antara mereka adalah Arka, juga Kenzi yang sedang duduk sambil memandang kosong ke arah lapangan basket.
Nino yang ikut permainan basket, terus mengomel dan mengeluh bahwa dia selalu kalah dalam bermain basket dan memukul pelan setiap siswa yang mengalahkannya. Hingga membuat Arka dan Kenzi saling pandang dan menggelengkan kepala mereka saat melihat tulisan tingkah Nino tersebut.
"Kenzi, aku minta maaf atas kejadian kemarin siang," kata Arka. Ketegangan antara mereka berdua kemarin membuat Arka merasa tidak enak haru terhadap sahabatnya itu.
"Hal yang sudah berlalu, kenapa kamu harus mengungkitnya lagi," jawab Kenzi.
"Meskipun begitu, aku harus minta maaf padamu."
__ADS_1
"Apakah Sania pengaruh buruk untukmu? Aku sudah mengatakan tidak apa-apa, tapi kamu malah bersikap seperti banci ha ha," ledek Kenzi, lalu mereka berdua tertawa.
Arka melihat Nino yang sedang terus mengomel dan bertingkah kasar pada siswa lain karena kekalahannya, lalu Arka mengajak Kenzi untuk ikut bergabung dan membantunya bermain.
~
Di kelas Sania, guru sedang membagikan nilai hasil tugas kepada murid-muridnya. Sania yang duduk di bangkunya melihat keluar jendela dan melihat Arka sedang bermain basket di lapangan sekolah, membuatnya terpesona.
"Sania... Sania?."
Sania tidak mendengar saat ibu guru memanggilnya saking husu melihat permainan basket Arka yang terlihat tampan dan keren. Ketika panggilan ketiga kalinya, Sania baru menyadarinya lalu menghampiri guru dan mengambilnya hasil ulangannya.
" Sania, akhir-akhir ini... Nilaimu sangat turun drastis. Ibu harap kamu bisa belajar lebih serius jika ingin mencapai cita-cita sesuai harapan orang tuamu, ya."
"Baik, Bu."
Sania berjalan menuju bangku nya dengan perasaan lemas karena nilainya yang turun. Lalu, dia melihat ke jendela lagi dan melihat Arka. Ada perasaan bimbang dalam hatinya, lalu Sania mencoba fokus belajar lagi.
Saat waktu pulang sekolah...
Sania dan dua temannya jalan bersama keluar kelas, lalu Dinda bertanya pada Sania,
"Sania, besok ada ulangan lagi. Siang ini kamu mau belajar bersama kami? Maksudku, beberapa waktu belakangan ini, kamu selalu sibuk bermain dengan Arka dan geng nya. Kita sudah lama tidak kumpul bareng lagi."
"Dinda, pelankan suaramu. Geng Arka menuju kesini," kata Rani.
Terlihat Arka dan Nino berjalan menuju Sania. Dengan senyuman di bibirnya, Arka mengajak Sania untuk ikut pulang bersamanya, tapi Sania menolak dan menyarankan agar Arka tidak usah mengantar dia pulang setiap hari. Lagi pula hari ini dia akan belajar di rumah Dinda untuk ulangan besok.
"Ayo, Nino."
"Arka... Sebentar, aku mau memberi saran kepada dua gadis yang bersama Sania ini. Hei, kalian... Lain kali, kalian coba berdandan yang cantik dan berpakaian seksi. Jangan berpenampilan seperti ibu-ibu. Kalau kalian berdandan, pastikan kalian akan menarik, ya?."
"Nino, jangan mengganggu mereka," pinta Sania.
Arka tersenyum melihat Sania mulai kesal lalu mengajak Nino untuk segera pergi dari sana. Nino berjalan dengan terus tertawa, merasa lucu menggoda para gadis lugu seperti teman-temannya Sania.
"Mereka sangat menakutkan," ucap Dinda, bergidik ngeri.
"Abaikan saja, dia memang suka begitu, tapi mereka baik," sambung Sania.
"Tidakkah kamu takut bergaul dengan mereka, Sania?."
"Kalian salah paham, sebenarnya mereka baik, hanya saja sedikit usil. Tenang saja mereka tidak akan menyakiti kita."
"Sania, apakah kamu jatuh cinta pada Arka? Kamu terus saja membela dan memujinya."
"Kalian bicara apa, omong kosong."
"Lihatlah... Wajah Sania menjadi merah seperti itu ha ha."
__ADS_1
~
Saat Sania dan temannya berjalan di pinggir jalan sekitar sekolah, tiba-tiba mereka dihadang oleh tiga perempuan dua di antara mereka siswi satu sekolah dengan Sania sedangkan satu lagi perempuan berpenampilan tomboy dan bersikap tidak ramah pada Sania.
"Keyla, ini gadis yang selama ini dekat dengan Arka," ucap salah satu siswi di antara mereka.
Keyla adalah gadis yang pernah melihat Sania dan Arka bersama saat menjenguk nenek Arka. Keyla menaruh hati dan menyukai Arka. Oleh karena itu, dia sangat sering mengunjungi nenek Arka tanpa sepengetahuan Arka. Berharap Arka akan membalas menyukainya, tapi saat mendengar kedekatan Arka dengan Sania, Keyla meradang dan mencari Sania.
Keyla menatap Sania dari atas sampai bawah. Tanpa aba-aba, Keyla mendorong Sania hingga terpental ke tembok dan tangannya terluka. Keyla mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas dan menunjukkan rasa tidak suka karena Sania sudah dekat dengan Arka.
"Aku tidak peduli siapa kamu, jauhi Arka! Berhenti menggodanya! Jika tidak, aku akan memberimu pelajaran!," bentak Keyla.
Sania dan temannya merasa terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa, namun mereka tetap mencoba untuk menjaga ketenangan dan tidak mempermasalahkan perilaku buruk perempuan tersebut.
Sania mencoba meluruskan dan berkata,
"Sepertinya kamu sudah salah paham, aku dna Arka hanya berteman biasa."
Plakkkk!
Keyla menampar Sania dengan keras dan berteriak,
"Kau berani bicara padaku! Kamu pikir kamu siapa hah!."
"Kenapa kamu memukul ku?," tanya Sania sambil meringis menahan sakit di pipinya.
"Aku akan melakukan apapun yang aku mau, dan aku paling benci perempuan yang jaim sepertimu!."
Teman-teman Keyla menyuruhnya untuk memberi Sania pelajaran dan memberikan sebuah pisau kecil. Sania merasa terkejut dan terkejutnya satu Keyla menodongkan pisau ke wajahnya.
" Keyla! Apa yang kau lakukan?."
Tiba-tiba Arka datang dan menghampiri mereka dan membuat Keyla mundur ke belakang saat Arka menatapnya dan menyuruhnya pergi, lalu Arka menghadap Sania dan bertanya tentang keadaannya.
Sania hanya menunduk dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja dengan kondisi masih terkejut karena sikap Keyla. Kemudian Arka melihat Keyla dengan emosi, lalu meraih tangan Keyla kasar sehingga pisau yang ada di tangannya terjatuh.
"Dengar Keyla, aku tidak memukul wanita. Jangan sampai kamu menjadi pengecualian!."
"Arka, lepaskan tanganmu, dia seorang perempuan, kamu sudah bersikap kasar padanya, kamu sudah berjanji tidak akan membuat masalah lagi, Arka...,"
Sania mencoba menenangkan Arka yang sudah emosi, lalu Arka melepaskan tangan Keyla kasar dan memperingatinya, "Jika kamu menyentuh Sania lagi, aku tidak akan segan-segan membuatmu menderita lebih dari ini, mengerti!."
Keyla hanya diam dan melihat tatapan mata Arka yang penuh amarah. Sedangkan teman-temannya memintanya untuk segera pergi dari sana begitupun dengan Nino yang merasa kesal juga pada Keyla dan menyuruhnya untuk segera pergi juga.
Setelah beberapa menit, akhirnya Keyla pergi dengan sangat emosi.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, subcribe, hadiah juga komentar terbaik nya ya... ππ