
Saat malam tiba...
Sania duduk di pinggiran kasur sedang merapikan pakaian yang baru dia angkat dari jemuran. Arka melangkah mendekati Sania yang terlihat masih kesal padanya.
"Bolehkah aku membantumu?," tanya Arka namun tidak di jawab Sania dan malah pergi menghindari Arka yang terlihat menyesal.
"Apakah kamu masih marah padanya?," tanya Kenzi yang masih berada di rumah mereka. Saat ini, Sania dan Kenzi duduk berdua di balkon rumah dan berbincang.
"Tentu saja aku marah."
"Dia memang berlebihan, tapi dia melakukannya untukmu."
"Untukku? Hanya untukku dia bisa memarahi dan memukul orang kapan saja dia mau, dia memperlakukanku seperti anak kecil... Apakah aku tidak bisa melindungi diriku sendiri?."
"Sania... Aku sudah lihat sendiri seburuk apa tempat itu, aku melihat 4 orang pria bertubuh besar membawa seorang gadis yang mabuk tanpa ada yang berani mencegah atau menolongnya."
"Selama aku menjauh dari orang-orang aku akan aman."
Sania bersikukuh dengan pendapatnya sendiri dan semakin merajuk, lalu Kenzi menjelaskan lebih detail jika seberapapun seseorang berusaha melindungi dirinya tetap bisa saja terkecoh.
Obat-obatan seperti itu jika mencair akan transfaran dan tidak berbau. Obat itu akan di campur di minuman yang pelayan bawa dan tidak di ketahui oleh orang yang meminumnya. Ada banyak sekali cara kotor yang bisa di lakukan di tempat itu dan seringkali tidak bisa di hindari.
Kenzi juga mengatakan jika lebih baik Sania melupakan niatnya untuk bekerja di sana, jika dia ingin bermain piano banyak cara lain yang bisa di lakukan. Sania masih terlihat kesal, namun seketika dia tersenyum lebar hingga membuat Kenzi merasa heran dan mempertanyakan alasannya.
Lalu Sania mengatakan jika Keyla memang sudah salah menilai Kenzi sebagai orang yang pendiam, dan jika bicara maka seperti seorang yang kena alergi. Mendengar hal itu Kenzi pun tertawa dan membenarkan penilaian Keyla yang cukup akurat, hingga candaan mereka membuat Sania tertawa lepas dan tidak cemberut lagi.
Arka yang melihat kebersamaan Sania dan Kenzi dari jendela, merasa senang karena akhirnya Kenzi bisa membujuk Sania sehingga tidak merasa kesal lagi dan terhibur.
"Aku sudah menduga, kamu memang benar-benar cerdas Kenzi, kamu membuat Sania bisa tersenyum kembali," ucap Arka saat menghampiri mereka yang asyik tertawa.
__ADS_1
Namun, saat melihat Arka mendekat... Tawa Sania berubah menjadi cemberut lagi, lalu Arka hanya tersenyum kecil dan mengatakan jika ia harus berusaha lebih untuk mencairkan hati Sania.
"Ayo Kenzi, kita harus pergi," ajak Arka yang di ikuti Kenzi. Melihat kekasih hatinya akan pergi Sania merasa penasaran dan bertanya walaupun masih kesal padanya.
"Arka, kalian mau pergi kemana?," tanya Sania dan Arka pun berbalik sambil tersenyum dan menjawab, "Aku akan pergi menemui seorang teman, aku akan segera pulang, jadi jangan hawatir."
Saat di perjalanan keluar rumah, Arka mengucapkan terima kasih pada Kenzi yang sudah membelanya di hadapan Sania, jika bukan karena bantuannya, mungkin Sania akan sangat lama memaafkannya.
~
Di saat malam sudah larut, terlihat sebuah mobil berhenti di depan ruko milik orang tua Nino. Lalu beberapa orang yang turun dari mobil itu menyiramkan beberapa kompan yang berisi bensin dan hendak membakar rumah Nino.
Beruntung pada saat itu Nino melihat aksi mereka dan meneriakinya sehingga orang-orang yang tidak di kenal Nino itu segera melarikan diri dengan mobil mereka.
"Woi! Siapa kalian! Bedebah! Jangan lari dan bersikap jentel, hadapi aku!," Nino sangat marah dan mengutuk orang-orang itu.
"Sial! Ini pasti ulah Jack!."
Sementara itu, Arka dan Kenzi sedang berjalan keluar dari markas pusat geng Elang di temani Remon bos besar dari geng tersebut, mereka hendak berpamitan setelah melaporkan kelakuan Jack terhadap mereka beberapa hari ini.
Remon mengatakan jika hal ini berhubungan dengan Jack maka dia tidak akan tinggal diam. Lalu Remon bertanya lagi tentang apakah sekarang Arka, Kenzi dan Nino akan bergabung dengan geng Elang.
Namun, Arka masih menolak dan mengatakan jika saat ini mereka masih belum berpikir untuk bergabung. Sebagai seorang kepercayaan Remon, Roy mengatakan jika Arka sudah menyia-nyiakan tawaran yang langka itu karena banyak sekali orang yang sangat ingin bergabung dengan mereka namun tidak semudah itu.
Remon menghentikan perkataan Roy dan mengatakan tidak boleh memaksa mereka. Lalu Arka berkata, jika mereka sudah berjanji pada Tedi untuk tidak bergabung dengan geng manapun lalu meminta maaf dan Remon pun tidak mempermasalahkannya.
"Jack! Keluar! Kalau berani, lawan aku!."
Nino yang kini sedang berada markas Jack
__ADS_1
berteriak dengan penuh emosi dan menantang Jack. Mendengar kegaduhan di markasnya, Jack menyuruh Coki menemaninya untuk mengecek keadaan, karena dia sendiri masih belum pulih.
Nino berdiri di depan pintu markas Jack, menggertakkan giginya dan menatap Jack dengan mata yang memancarkan kemarahan.
"Berhenti menggertakku, Jack!," teriak Nino. "Apa yang kau inginkan dari ku? Kau terus saja mempermainkan dan mengancamku selama beberapa hari ini. Aku sudah muak dengan sikapmu!."
Jack hanya tersenyum sinis, menatap Nino dengan tatapan tajam. "Kau tahu apa yang aku inginkan," kata Jack dengan suara rendah. "Aku ingin melenyapkan kalian dari hadapanku karena kalian sudah beraninya mengusikku!."
Nino merasa semakin marah dan frustasi. Dia tidak tahan lagi dengan sikap Jack yang sombong dan arogan. Tanpa berpikir panjang, dia memukul mobil Jack yang terparkir dan terus berteriak dengan penuh emosi.
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku, Jack! Aku akan melawanmu sampai titik darah penghabisan! Aku tidak akan membiarkanmu bisa lari!."
"Tidak ada yang bisa mengancamku, apalagi menghinaku di depan bawahan," kata Jack pada bawahannya dengan suara dingin.
Bawahan Jack segera bergerak, mempersiapkan diri untuk menangkap Nino.
Sementara itu, Nino merasakan detak jantungnya semakin cepat ketika ia menyadari telah di kepung dan tidak bisa melarikan diri. Namun, dia tidak menyerah begitu saja. Dia merencanakan untuk melawan dan melindungi dirinya sendiri.
Ketika Coki akan menangkapnya, Nino melawan dengan sekuat tenaga. Dia berhasil melarikan diri dari cengkeraman mereka dan melarikan diri ke luar gedung.
Namun, ketika Nino berlari keluar dari gedung, dia terkejut saat melihat sekelompok orang yang menunggunya di luar gedung. Mereka adalah pasukan keamanan yang bekerja untuk Jack dan mereka langsung menyerang Nino.
Nino berjuang dengan sekuat tenaga untuk bertahan hidup, tetapi sayangnya, ia akhirnya kehabisan tenaga dan terjebak di antara mereka. Saat itu, Jack menelpon Arka dan mengatakan jika Nino sedang berada di sana dalam keadaan sekarat.
Arka sangat terkejut dan bergegas pergi hendak menolong Nino. Remon yang juga mendengar hal itu mengikuti Arka menuju markas Jack. Dan setelah beberapa saat, kini mereka sudah sampai dan berjalan masuk di pimpin Remon.
Arka dan Nino terkejut saat melihat keadaan Nino yang sudah sangat memprihatinkan dengan berlumuran darah. Kemudian Remon menyuruh Jack untuk melepaskan Nino, dan tanpa basa basi Jack pun menurutinya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
__ADS_1
Bersambung...