
\*\*\*
Om Tedi membawa Sania ke sebuah rumah kecil milik Arka, rumah itu terlihat kurang terawat dan dibiarkan begitu saja. Ketika mereka mencoba membuka pintu, ternyata pintu tidak terkunci.
Om Tedi mengomel kesal, "Masih saja pintunya tidak dikunci... Kalau begitu, siapa saja bisa masuk ke dalam rumah dan mengambil barang-barangnya, Dia harusnya lebih hati-hati."
Sania hanya tersenyum dan mencoba menghibur om Tedi, "Tenang saja, Pak... Arka pasti akan memperbaikinya suatu saat nanti."
Mereka masuk ke dalam rumah kecil itu, dan melihat bahwa di dalam rumah itu sangat sederhana. Hanya ada beberapa barang yang diatur dengan rapih di sudut ruangan. Sania merasa sedih melihat kondisi rumah kecil itu, tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya.
"Pak, dimana orang tuanya Arka?," tanya Sania.
"Ayahnya meninggal dalam kecelakaan pesawat, lalu ibunya... Dia sudah menikah lagi... Silahkan duduk dulu, aku akan ambilkan air minum."
Sania mencoba menolak agar tidak merepotkan, tapi om Tedi tetap pergi ke dapur menyiapkannya.
Sania melihat sekitar rumah Arka, lalu saat melewati kamar, Sania melihat bingkai foto keluarga Arka yang terletak di atas meja kecil di kamar Arka. Foto itu menampilkan Arka yang masih kecil, ayahnya, dan ibunya.
Mereka tersenyum bahagia dalam foto itu, membuat Sania merasa sedih karena tahu bahwa keluarga Arka kini sudah tidak lengkap lagi.
Sania memandangi foto itu sejenak, lalu merenung. Dia merasa sedih karena tahu Arka pasti merasa kesepian tanpa keluarganya. Namun, dia juga merasa tergerak untuk membantu Arka dan membuatnya merasa lebih baik.
Lalu Sania melihat sebuah foto yang tergantung di dinding kamar Arka. Foto itu terlihat sudah buram dan kusam karena sudah lama tergantung di sana. Namun, Sania tertarik dengan foto tersebut karena terdapat gambar seorang gadis kecil yang memakai payung di tengah hujan.
"Siapa gadis kecil ini?," batin Sania.
Sania tidak menyadari jika gadis kecil di foto itu adalah dirinya. Satu - satunya foto Sania yang Arka masih simpan sampai kini.
Saat akan mengambil dan melihatnya, tiba-tiba Arka dan dua sahabatnya datang sambil mengomel tentang Jack. Lalu Arka di kejutkan dengan keberadaan Sania yang ada di kamarnya.
"Sania, kenapa kamu ada disini?."
"Tadi siang aku melihat Coki dan membawa kalian, aku kira kamu dalam bahaya jadi aku~...."
"Dia menghubungiku mencari tau apakah kalian masih hidup atau mati," kata om Tedi yang keluar dari dapur memotong pembicaraan Sania.
"Om Tedi," sapa ketiga pemuda itu berbarengan.
Om Tedi memarahi mereka karena perilaku sembrono mereka dan mengatakan bahwa mereka harus berhati-hati karena berurusan dengan mafia sesungguhnya bisa sangat berbahaya.
__ADS_1
Dia menjelaskan bahwa ketika mereka berada di dalam dunia mafia, nyawa mereka bisa terancam setiap saat, dan tidak ada yang bisa menolong mereka jika mereka terjebak.
Arka, Kenzi, dan Nino kaget saat mendengar ucapan Om Tedi. Mereka tidak pernah mengira bahwa mereka terlibat dalam masalah yang sedemikian besar. Sania juga terlihat takut dan cemas mendengar hal tersebut.
Om Tedi juga mengatakan bahwa kehidupan tidak semudah itu dan mereka harus berhati-hati dengan tindakan mereka.
Jika saja dalam masalah ini dia tidak ambil alih dengan meminta bos besar gengster itu untuk menghentikannya, maka nyawa Arka, Kenzi dan Nino sudah melayang dan sekarang jasadnya sudah ada di dasar laut.
"Mana ada polisi yang berhubungan baik dengan bos gengster," celetuk Nino.
Lalu om Tedi memukul tangan Nino pelan namun dengan beberapa kali pukulan sambil mengomelinya,
"Kamu ini, masih berani bicara? Memangnya kalian ini siapa hingga berani menghajar anak buah Jack sampai babak belur begitu, hah! Apa alasan kalian melakukan semua itu?."
Om Tedi melihat ketiga pemuda itu meminta jawaban atas alasannya. Tidak ada yang bicara satupun dari mereka, akhirnya om Tedi menyuruh Nino agar mengatakannya.
Arka dan Kenzi memberikan isyarat agar Nino tidak mengatakannya, tapi om Tedi terus mendesak hingga akhirnya Nino mengatakan alasannya.
"Kami melakukannya karena Coki dan gengnya melecehkan Sania. Kami tidak bisa melindungi Sania setiap waktu jadi kami memperingati mereka, tapi Coki tidak mendengarnya dan mengatakan akan lebih senang mengganggu Sania."
Om Tedi terkejut mendengar penjelasan mereka, begitu pun dengan Sania. Lalu om Tedi mengatakan jika hal ini tidak boleh di biarkan dan akan mengurusnya sendiri.
Om Tedi berpikir sejenak lalu melihat secara bergantian ke arah tiga pemuda yang sama-sama tampan namun hanya berbeda satu tingkatan ketampanan walaupun Arka yang paling tampan. Ha ha.
"Aku yang akan mengantar Sania pulang," jawab Arka sambil tersenyum melihat Sania yang tersipu malu. Akhirnya om Tedi tau, Arka lah yang menaruh hati pada Sania.
"Ya sudah... Arka, kamu antarkan Sania dahulu. Jarak rumahnya dekat dari sini. Jangan terlalu larut."
"Baik, Om."
Arka dan Sania keluar dari rumah kecil milik Arka dan berjalan menuju rumah Sania dengan berjalan kaki berdampingan. Jalanan yang mereka lewati terasa cukup sepi, namun Arka tetap berjalan dengan penuh perhatian terhadap Sania. Dan suasananya terasa romantis.
Saat mereka sedang berjalan, Arka mengalihkan perhatiannya ke Sania. Dia melihat Sania dengan tatapan penuh kekaguman, tak bisa menahan perasaannya yang semakin tumbuh.
Di sela-sela perjalanan mereka, Sania meminta maaf karena nya Arka harus repot-repot melindunginya dan jadi berkelahi dengan Coki. Tapi Arka tidak merasa repot, bahkan dia senang karena bisa melindungi Sania.
"Coki dan gengnya sudah buruk sejak lama di mata kami, dan sekarang kami menemukan alasan untuk menghajar mereka."
Sania mengucapkan terima kasih pada Arka dan bertanya bagaimana luka-lukanya, namun Arka hanya mengangguk sambil tersenyum dan mengatakan bahwa itu tidak apa-apa.
__ADS_1
"Ayahku membawa beberapa obat dari luar negeri dan bisa menyembuhkan luka dengan cepat, besok aku akan membawakannya untukmu." Arka tersenyum dan mengangguk.
Sania juga senang melihat reaksi Arka walaupun Sania selalu mendongakkan kepalanya setiap kali berbicara dan melihat Arka karena perbedaan tinggi mereka. Arka mempunyai badan tinggi dan atletis sedangkan Sania bertubuh mungil namun berisi dan tinggi tubuhnya hanya sampai pundak Arka.
Ketika mereka tiba di depan rumah Sania, Sania memutar badannya dan mengucapkan terima kasih lagi pada Arka. Arka juga mengucapkan selamat malam dan berkata bahwa dia akan segera pulang. Sania masuk ke dalam rumahnya dan Arka melanjutkan perjalanannya pulang dengan senyum di wajahnya.
Pagi harinya...
Saat Sania akan berangkat sekolah, ia keluar dari rumah dan senang melihat Arka sudah menunggu di depan rumah dengan motor kebanggaannya. Arka tersenyum manis sambil mengangkat helmnya saat Sania mendekat.
"Sudah siap?," tanya Arka semangat. Sania mengangguk, terkesan dengan kesigapan Arka yang datang menjemputnya.
"Kenapa kamu harus repot menjemputku?."
"Kamu sudah berjanji akan mengobati luka dan memberikan obat untukku bukan? Ayo, naiklah."
Arka memberikan helm pink dan memakaikannya pada Sania. Mereka lalu meluncur dengan motor Arka menuju sekolah. Sania merasa senang dan nyaman berada di samping Arka. Mereka mengobrol dan tertawa bersama selama perjalanan menuju sekolah.
"Nino bilang mereka akan melihat matahari terbenam sepulang sekolah, apakah kamu mau ikut?."
"Tidak, pulang sekolah aku harus latihan piano."
"Kamu berlatih terlalu keras, lain kali rehat sejenak agar tidak cape."
"Ayahku akan marah jika aku tidak latihan."
"Baiklah...."
Saat sore hari, Sania keluar dari tempat les piano-nya dan melihat Arka, Kenzi, dan Nino sudah menunggunya di depan dengan motor masing-masing. Nino berteriak kegirangan mengajak Sania untuk berkeliling kota dengan motor. Lalu mereka bersiap dan meluncur.
Sania merasa senang dan bahagia saat dia dibonceng Arka dan berkeliling kota, menikmati angin senja yang sejuk dan melihat pemandangan kota yang indah.
Mereka berhenti di sebuah tempat di mana mereka dapat melihat matahari terbenam. Sania merasa seperti dunia ini sangat indah dan Arka adalah orang yang tepat untuk menemani dia melihat keindahan itu.
Mereka membeli kembang api dan memutuskan untuk menghabiskan malam bersama di pantai. Mereka menyalakan kembang api dengan riang dan terkesima melihat cahaya dan warna yang indah di langit malam.
Kenzi hanya duduk berpikir dan mengkhawatirkan sesuatu saat melihat Arka dan Sania semakin dekat. Namun, ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan kekhawatirannya pada mereka. Ia akhirnya memutuskan untuk diam dan terus mengawasi kebersamaan Arka dan Sania dari jauh.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Bersambung...