
Para siswa berkumpul di depan kantor kepala sekolah dengan penasaran yang tinggi. Mereka semua ingin tahu apa yang terjadi dan apa kesalahan yang dilakukan Arka. Sania merasa gugup dan tidak tahu harus berbuat apa, Nino dan Kenzi yang berada di sana juga merasa sangat hawatir pada Arka.
Di dalam kantor, Arka duduk di depan kepala sekolah dan guru-guru. Mereka semua menatap Arka dengan tatapan tajam. Arka merasa tenang-tenang saja karena memang dia tidak bersalah, memang dia menerima secarik kertas contekan tapi tidak Arka gunakan dan hanya menyimpannya di saku.
Sialnya, saat Arka akan menyimpan di sakunya, Kepala sekolah melihat hal itu dan menjadikan Arka sebagai siswa yang melanggar aturan. Kepala sekolah kemudian menanyakan kepada Arka tentang dugaan bahwa ia membawa contekan saat ujian. Tapi Arka menolak nya karena memang kenyataannya.
"Apa kamu masih mau membantah? Lalu apa ini? Kamu masih mau menyangkal walaupun sudah ada bukti ini? Kamu menyontek?," tanya kepala sekolah yang memang sudah tidak suka kepada Arka.
"Aku sudah mengatakannya, aku tidak menyontek."
"Apakah kertas contekan ini muncul sendiri?,"
"Ya Pak, anda memang sangat benar."
Arka menjawab setiap pertanyaan kepala sekolah dengan datar, sehingga membuat kepala sekolah itu sudah mulai naik darah dan berdiri.
"Kalau ini bukan milikmu, lalu milik siapa?."
Kali ini kepala sekolah bertanya dengan lebih keras di depan wajah Arka, sehingga Arka memalingkan wajahnya. Lalu kepala sekolah mengatakan jika kesimpulannya adalah Arka memang menyontek, karena Arka bungkam dan tidak menjawabnya lagi.
Para siswa yang mendukung Arka semuanya mengeluh karena kepala sekolah sudah bertindak tidak adil. Dan mereka semua membela, walaupun kertas itu ada pada Arka, tapi Arka tidak mencontek.
Merasa kepala sekolah sudah tidak adil kepada Arka, Sania mencoba masuk ke kantor dan memberi pembelaan untuk Arka dan mengatakan jika kepala sekolah sudah salah dengan langsung memberi hukuman tanpa bukti yang lebih kuat.
"Jika Pak kepala sekolah menyimpulkan siswa yang membawa kertas contekan pasti menyontek berarti anda juga mengatakan orang yang membawa sebuah pisau berarti dia seorang pembunuh." Jelas Kenzi.
"Iya Pak, Arka tidak menggunakannya, mungkin dia pakai hanya untuk jimat selamat," celetuk Nino, sehingga membuat siswa lain bersorak. Lalu kepala sekolah menyuruh mereka untuk diam. Kemudian bertanya pada Sania,
"Sania, kamu adalah murid berprestasi dan murid teladan. Tapi sekarang kamu berdebat dengan kepala sekolah, apakah kamu di ancam para siswa yang bermasalah? Jika benar, katakan saja."
"Maaf Pak, aku akan bicara jujur sekarang. Aku tidak di ancam siapapun dan anda selalu mengatakan jika tidak ada bukti yang kuat tidak boleh menghukum seseorang, tapi kenapa anda langsung menghukum Arka? Alasan anda tidak masuk akal."
__ADS_1
"Sania!," Kepala sekolah berteriak sehingga membuat Sania terkejut, kali ini kepala sekolah kecewa dengan sikap Sania, lalu memanggil orang tuanya ke sekolah.
Beberapa menit kemudian, para siswa lain kembali ke kelas masing-masing, sedangkan di kantor terdapat Arka, Kenzi, Nino, Sania, Kepala sekolah, juga om Tedi yang di panggil juga sebagai perwakilan orang tua Arka.
Om Tedi mencoba membela Arka dan mengatakan jika mereka hanyalah anak-anak nakal, tapi mereka tidak akan berbohong, terutama Arka yang sudah banyak melakukan pelanggaran. Dia tidak mungkin berbuat kesalahan lagi karena dia ingin lulus sekolah. Jadi om Tedi meminta kepala sekolah agar tidak membesarkan masalah ini.
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada om Tedi sebagai penegak hukum, Kepala sekolah tetap harus memberikan sanksi kepada siswa yang telah melanggar aturan sekolah, apalagi ini pelanggaran saat ujian akhir sekolah. Dan mengatakan, bagaimanapun satu di luar om Tedi membela mereka, tapi saat di sekolah, pihak sekolah lah yang lebih berhak mengurus semua ini.
Saat perbincangan itu terjadi, ayahnya Sania baru hadir dan memasuki kantor. Kepala sekolah menyambutnya hangat dan meminta maaf karena sudah merepotkannya untuk datang ke sekolah. Tapi ayah Sania memaklumi hanya merasa kecewa kepada putrinya yang sudi bersikap tidak baik.
Kemudian kepala sekolah membenarkan sikap Sania yang menentangnya dan membela siswa yang ketahuan menyontek saat ujian dan dia juga berkata kasar. Kepala sekolah sudah mengatakan agar Sania bersikaplah baik tapi tidak mendengarkan, jadi kepala sekolah terpaksa memanggil orang tua Sania untuk mengurusnya.
Lalu ayah Sania melangkah beberapa langkah dan melihat Arka. Saat berjalan melewati om Tedi yang menyapa dan mengulurkan tangannya, ayah Sania mengacuhkannya sehingga membuat om Tedi merasa tidak nyaman dan menarik tangannya kembali.
"Sania, cepat minta maaf pada kepala sekolah," kata ayahnya.
"Kenapa aku harus meminta maaf ayah, Kepala sekolah sudah menjebak Arka dengan tuduhan menyontek dan menghukumnya, kenapa aku tidak boleh membelanya?," jawab Sania.
Melihat itu, Arka mencoba untuk bicara kepada ayah Sania tapi langsung di hentikan oleh ayah Sania dan melarangnya untuk ikut campur.
"Ayah, aku harap ayah bisa bersikap bijak, jangan seperti kepala sekolah yang hanya menilai murid dari angka nilai saja."
Perkataan Sania membuat ayahnya merasa kecewa dan tidak percaya.
"Anda lihat sendiri kan Pak, Sania sudah bersikap tidak baik karena pengaruh anak-anak berandal itu." jelas kepala sekolah.
Merasa urusan itu semakin rumit, akhirnya Arka mengatakan jika kepala sekolah ingin Arka mengakui kesalahan itu maka dia akan mengakuinya meskipun tidak sesuai kenyataan. Tapi jangan melibatkan teman-temannya, Arka meminta agar hanya menghukum dia saja.
Merasa puas dengan jawaban Arka, Kepala sekolah berkata kenapa bukan dari tadi mengaku, maka tidak akan menyeret semua orang dalam masalah ini. Setelah mengakui kesalahan yang tidak dia lakukan, Arka langsung keluar kantor sambil emosi di ikuti Kenzi dan Nino. Meskipun kepala sekolah terus memanggilnya, Arka tetap berlalu pergi dan tidak menghiraukannya.
Pada hari itu juga, Arka di keluarkan dari sekolah tanpa memberinya peringatan terlebih dahulu. Keputusan tidak bijak dari sekolah yang akan menghancurkan masa depan Arka.
__ADS_1
Setelah mendengar kabar itu, Sania berlari mengejar Arka yang hendak pulang dari sekolah. Setelah beberapa saat berlari, akhirnya Sania berhasil menemukan Arka yang sedang berjalan dengan langkah yang lemah dan tatapan kosong.
"Arka."
Sania memanggil Arka dan Arka pun melihatnya. Sania melihat Arka terlihat sedih dan murung. Dan saat Sania hendak menghampiri Arka, Kepala sekolah dan ayahnya tiba-tiba muncul di antara mereka seolah menjadi dinding pemisah yang memberikan jarak yang sangat jauh, sehingga membuat mereka berjalan berpapasan dan hanya bertatap mata saja dan berkata dalam hati,
"Arka, apakah kamu akan pergi dengan cara seperti ini?."
"Jangan menoleh ke belakang, jangan pikirkan aku lagi, aku tidak ingin menjadi bebanmu lagi... Sania...."
Arka memejamkan matanya karena keputusan yang sangat sulit itu.
~
Beberapa hari berlalu setelah Arka di keluarkan dari sekolah, om Tedi menemuinya di rumah.
"Arka, sekarang apa yang akan kamu lakukan? Awalnya aku ingin membujuk kepala sekolah agar kamu tidak di keluarkan dari sekolah, minimal kamu punya ijazah SMA. Tapi kamu keras kepala dan tidak mau minta maaf."
"Sudahlah Om, aku minta berikan aku waktu untuk berpikir." Arka berkata dengan tatapan sedih sehingga membuat Tedi pun merasa iba.
Tedi merasa hawatir karena sekarang Arka hanya tinggal sebatang kara setelah kematian neneknya. Tidak ada kerabat lain yang bisa mengurus Arka. Tapi Arka berkata pada Tedi agar dia tidak usah khawatir, karena Arka berkata selama dia masih mempunyai tangan dan kaki, dia tidak akan pernah kelaparan.
Kemudian Tedi mengatakan jika ia punya kenalan seorang teman yang mempunyai bengkel motor dan akan meminta agar Arka di terima bekerja disana dan menambah pengalaman. Tapi dengan syarat Arka harus bersikap baik dan tidak terjerumus pada hal-hal yang akan merugikan dirinya.
*Kehidupanmu memang sangat pahit Arka.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Bersambung...
Next episode 18 πππ
__ADS_1