
Setelah kabar dari kehamilan Sania, ia hidup lebih bersemangat demi anaknya dan Arka yang kini di dalam kandungannya. Sania menjalani masa-masa sulit awal kehamilan di bantu oleh dua sahabat dari ayah anak yang ia kandung hingga ia merasa aman dna terjaga.
Pada suatu hari, Sania, Kenzi, Nino juga om Tedi mengunjungi kuburan Arka. Mereka mengenang kepergian Arka yang tidak terasa ia sudah meninggal dua bulan yang lalu.
Kesedihan sangat mereka rasakan, terlebih bagi Tedi yang baru kali ini bisa berkunjung ke kuburan Arka karena berbagai hal. Tedi sangat bersedih dan mengomeli Arka yang kini terbaring di bawah tanah sana.
Ia menyesali karena Arka telah meninggal saat masih muda dan mendahuluinya. Tedi berkata jika seharusnya dialah yang terlebih dahulu meninggal, tapi Arka malah membuat laki-laki tua yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri menghadiri pemakamannya.
Semua hal Tedi ungkapkan untuk mengutarakan perasaan sedihnya sehingga membuat semua orang yang berada disana juga sangat bersedih.
"Ketika kamu masih hidup kamu memang sangat berada di atas dan jadi pemimpin... Kamu di ikuti banyak anak buah dan kau sukses... Tapi lihatlah! Ketika kamu tidak ada di dunia ini apakah mereka semua ada disini? Tidak ada! Hanya kami yang ada untukmu!... Dasar anak bodoh! Hu hu hu hu...."
Nino yang turut tenggelam dalam kesedihan turut emosi dan berkata, "Arka, aku berjanji padamu, aku akan membalaskan dendam untukmu dan membunuh semua orang yang sudah mengkhianatimu!."
Plak!
Seketika Tedi menjitak kepala Nino hingga meringis. "Dasar kau bodoh! Apa kau juga akan mengikuti saudaramu ini hah? Apa kau juga akan mati sia-sia?!."
__ADS_1
"Om... Aku... ~."
"Diam! Sekarang aku ingin kau berjanji di hadapan malam Arka, bahwa kau tidak akan berurusan dengan orang-orang hina seperti mereka lagi! Ayo berjanji!."
Tedi berteriak menuntut Nino untuk berjanji. Merasa tidak ada upaya untuk menolak, akhirnya Nino pun mematuhi permintaan Tedi yang kemudian Tedi mengajak Nino untuk tinggal bersamanya di gunung agar terhindar dari kehidupan gelap lagi.
Setelah pulang dari pemakaman, Kenzi mengantar Sania pulang ke rumah. Di sela-sela perjalanan mereka ada satu perbincangan yang membuat Sania dan Kenzi memperjelas sesuatu.
"Sania... Jika kamu tidak keberatan, aku siap bertanggung jawab dan menjadi ayah dari anak yang kamu kandung."
Tiba-tiba langkah Sania terhenti dan duduk sejenak di bangku yang terletak di dekat gedung rumah miliknya. Sania menarik nafasnya secara perlahan dan berkata,
"Apa?!."
"Ya Kenzi, aku rasa sudah terlalu lama meninggalkan mereka, dan aku rasa ini saatnya aku pulang ke rumahku... Rumah orang tuaku... Aku yakin mereka pasti masih menerimaku, apalagi sekarang mereka punya cucu."
Sania meraba perutnya yang masih terlihat datar sambil tersenyum dan meyakinkan diri jika ayah dan ibunya juga pasti sangat merindukannya.
__ADS_1
Mendengar keputusan Sania yang tidak bisa di ubah lagi, Kenzi pun hanya bisa mendukungnya dan memberi semangat dan berpesan untuk selalu bahagia dimanapun berada.
Kini, Sania sudah membereskan barang-barangnya dan siap untuk pulang. Dia juga membereskan rumah sederhana yang selama ini ia dan Arka tinggal dan memberikan banyak kenangan.
Sania memutar netranya dan memperhatikan setiap sudut rumah yang ia sendiri enggan untuk pergi dari sana karena terlalu banyak kenangan manis bersama laki-laki yang sangat ia cintai dan mencintainya.
Namun, keadaan dirinya saat ini yang perlu dukungan dari orang-orang terdekat terutama orang tua lebih sangat dibutuhkan. Maka dari itu, meskipun berat hati Sania tetap pergi dengan membawa kenangan yang akan selalu ada dan membuka kenangan baru dengan calon buah hatinya.
Dan benar saja, saat Sania baru tiba di depan gerbang rumah orang tuanya, ia langsung di sambut oleh ayah dan ibu yang selalu merindukan kepulangannya.
Meskipun mengingat ketidak patuhan putri semata wayangnya itu, Ayah dan ibu Sania tetap berlapang dada memaafkan putrinya dan masih menyayanginya. Apalagi dengan calon cucu yang kini ada dalam perut Sania.
Pertemuan haru antara kedua orang tua dan putrinya itu sangatlah agak sulit di gambarkan tapi yang pasti sangat dramatis dan mengharukan.
Sejak saat itu, Sania di perlakukan dengan sangat baik dan penuh perhatian sebagaimana perlakuan mereka pada Sania waktu dulu. Ada rasa menyesal di hati ayah dan ibu Sania karena Arka harus pergi meninggalkan putrinya sendiri bersama calon anak mereka. Namun semua itu mereka terima dengan lapang dada.
~
__ADS_1
Bersambung...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸