
Saat malam hari, sebelum kepergian Sania ke luar negeri...
Sania menenteng beberapa buku yang sudah tidak terpakai lagi, memutuskan untuk membuangnya di luar rumahnya. Setelah sampai di luar, dia meletakkan buku-buku tersebut di atas trotoar kemudian Sania menyelipkan sebuah surat yang di tujukan untuk Arka.
Sania berpikir jika Arka malam ini akan datang kesana dan Sania berharap Arka bisa menemukan suratnya itu. Tidak lama, ibu Sania memanggilnya kembali karena takut Sania pergi tanpa sepengetahuan mereka lagi.
Sania melihat sekitar berharap Arka datang saat itu, tapi nihil bahkan suara motornya pun tidak terdengar. Dengan perasaan kecewa akhirnya Sania kembali masuk ke rumahnya. Namun, tidak lama setelah Sania masuk ke rumah, Arka pun datang kesana tapi tidak bertemu dengan Sania. Memang takdir kalian sedang tidak beruntung saat itu, hu hu.
Pagi pun tiba...
Sania sedang bercermin di depan kaca sambil memegang kalung yang Arka berikan kemudian ibunya memanggil,
"Sania, ayo cepat-cepat, kita sudah terlambat...."
"Iya, Bu, aku datang."
Sania dan orang tuanya bergegas meninggalkan rumah menuju bandara karena mereka khawatir akan ketinggalan pesawat. Ibunya memeriksa ulang perlengkapan mereka, termasuk paspor, untuk memastikan semuanya sudah lengkap.
Saat hendak naik mobil, ayah Sania melihat sebuah hiasan di tembok rumah mereka dan merasa risih. Namun, Sania merasa senang karena tahu bahwa hiasan itu dibuat oleh Arka.
"Siapa yang membuat semua ini? Aku tidak mengerti masih ada orang yang iseng," kata ayah Sania.
"Sudahlah... Nanti Sania terlambat naik pesawat," sahut ibu Sania.
Sania menghampiri dan melihat hiasan tersebut dan tersenyum. Kemudian ibu Sania memanggilnya agar segera naik mobil karena takut terlambat ke bandara.
Saat hendak masuk ke mobil, Sania melihat surat balasan dari Arka lalu mengambilnya dan menyimpan surat itu di tasnya.
Saat Sania sampai di bandara, dia terlihat bersedih hati karena harus meninggalkan keluarga dan teman-temannya. Ibunya mencoba untuk menghiburnya dengan mengatakan bahwa sebenarnya ayahnya juga tidak ingin mengirim Sania jauh, tapi mereka merasa terpaksa demi masa depan putrinya dan agar Sania tidak salah bergaul. Kemudian ibu Sania meminta agar Sania tidak membenci ayahnya atas keputusan ini.
"Sania sayang, aku tahu ini tidak mudah untukmu. Tapi kamu harus percaya bahwa ini adalah yang terbaik untuk masa depanmu."
__ADS_1
"Tapi ibu, aku tidak tahu bagaimana hidup sendiri di luar negeri. Aku takut," jawab Sania.
"Aku mengerti perasaanmu, sayang. Tapi kamu sudah menjadi wanita yang tangguh dan kuat. Kamu pasti bisa melewati ini. Aku selalu mendukungmu dari jauh dan kamu bisa menghubungi kami kapan saja jika butuh bantuan."
Ibu Sania terlihat bersedih dan menangis saat akan melepaskan putrinya itu. Lalu ibu Sania mengatakan akan ke kamar kecil dahulu dan menyuruh Sania menunggu ayahnya yang sedang mengambil tiket.
Sania tersadar akan surat yang Arka berikan lalu segera membukanya. Saat di buka di dalamnya terdapat sebuah surat dan foto. Dengan senang Sania membaca surat itu,
"Sania... terbanglah... Terbanglah tinggi dengan berani dan gapai semua cita-citamu. Walau hanya sesaat kita bersama, bagiku... Itu sudah cukup. Dan, aku kembalikan satu hal padamu, karena mulai sekarang, aku tidak membutuhkannya lagi. Semoga berhasil. Arka."
Setelah membaca surat itu, Sania melihat sebuah foto yang ia kenali bahwa gadis kecil yang ada di foto itu adalah dirinya. Sania teringat saat dia di rumah Arka dan melihat foto itu, akhirnya Sania mengerti jika Arka selama ini sudah mengenalnya sejak kecil.
"Arka, bagaimana aku bisa melupakanmu... bagaimana aku menanggung semua kenangan ini... Aku harus menemuimu... Aku harus melihatmu untuk terakhir kalinya... Arka."
Sania keluar dari bandara dengan rasa sedih yang tak terkendali. Dia tahu ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bertemu dengan Arka sebelum pergi ke luar negeri.
Orang tua Sania panik ketika mereka tidak melihat putrinya di bandara dan mulai mencarinya di sekitar area bandara. Mereka meminta bantuan petugas keamanan dan petugas bandara untuk mencari Sania.
Kemudian Sania mencari Arka ke warung kolontong tempat tinggal Nino, tapi masih tidak menemukannya. Sania semakin putus asa dan tidak tau harus mencari kemana lagi. Saat sedang berjalan, tiba-tiba ada sebuah motor yang melaju dengan kecepatan tinggi di depan Sania lalu Sania berkata,
"Benar juga, kenapa aku tidak terpikirkan kesana."
Sania mencari-cari Arka di sekitar tempat biasa Arka balapan. Dia berjalan ke sudut-sudut jalanan dan melihat sekelilingnya dengan harapan dapat menemukannya. Setelah beberapa waktu mencari, Sania melihat Kenzi dan Nino juga Keyla berada di sana kemudian menghampiri mereka dan menanyakan keberadaan Arka.
"Sania? Kenapa kamu ada disini? Bukankah kamu pergi ke luar negeri?," tanya Nino.
" Arka, dimana Arka?."
"Oh... Kamu tidak jadi berangkat karena ingin menemui Arka ya? Tuh dia disana sedang bersiap," jawab Nino sambil menunjuk dan memanggil Arka.
"Arka," panggil Sania pelan.
__ADS_1
Arka menghentikan pekerjaannya dan memalingkan kepalanya. Matanya membesar melihat Sania berdiri di depannya.
"Sania?" tanya Arka, tak percaya.
Sania mengangguk dan tersenyum lemah. Dia berjalan mendekati Arka dan berdiri di depannya.
"Sania, bagaimana kamu bisa berada disini?."
"Arka, akhirnya aku menemukanmu, aku menemukanmu setelah mencarimu kemana-mana. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, dan kamu jangan menyuruhku untuk pergi. Aku tidak peduli kita dari level yang berbeda, yang aku tau aku akan selalu bersamamu." Kata Sania panjang lebar.
Keduanya saling memandang, saling merasakan kepedihan yang sama, lalu Arka berkata," Sania, kamu harus mendengarkan orang tuamu."
"Ini adalah takdirku, meskipun kamu mengabaikanku aku akan tetap disini denganmu, aku tidak ingin berpisah denganmu hiks hiks...."
Arka terdiam sejenak, lalu menarik Sania dalam pelukannya. Sania menangis di bahu Arka, dan Arka mencoba untuk menenangkan hatinya. Semua orang yang berada disana bersorak turut bahagia dan mendukung hubungan mereka berdua.
Namun Kenzi berpaling seakan tidak menyukai pemandangan yang dia lihat. Kemudian Kenzi menerima telpon dari om Tedi yang menanyakan keberadaan Arka dan menyuruhnya membawa Sania pulang ke rumah.
Akhirnya Arka mengantar Sania pulang ke rumahnya, mereka berjalan sambil berpegangan tangan layaknya sepasang kekasih. Dan saat tiba di pintu gerbang, Arka menguatkan Sania bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kemudian mereka segera masuk ke dalam rumah dan mendapati om Tedi sudah berada dengan orang tua Sania.
"Lihat, akhirnya kamu pulang Sania. Lihatlah kedua orang tuamu sangat mengkhawatirkanmu," kata Tedi menunujuk orang tua Sania yang sedang menahan amarah mereka.
Kemudian Tedi menyuruh Sania agar segera meminta maaf pada orang tuanya. Sania sempat merasa ragu dan melihat ke arah Arka terlebih dahulu, setelah mendapat persetujuan Arka, akhirnya Sania melangkah maju.
"Ayah, ibu, aku minta maaf...."
"Sania... Kenapa kamu kabur begitu saja? Kami sangat mengkhawatirkan kamu," kata ibu Sania seraya mendekatinya dan memeluk putrinya itu.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, subcribe, hadiah dan bintang 5 nya ya....