Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Ep. 90 - Apakah berakhir seperti ini?


__ADS_3

πŸ’”


"Mewujudkan rencana ini membuatku lebih bersemangat daripada berkelahi," kata Nino yang sedang berjalan menggandeng tangan Keyla. "Kamu benar, kita sudah berusaha dan melakukannya semaksimal mungkin, untuk selanjutnya terserah mereka," jawab Keyla dengan semangat.


Setelah meninggalkan Sania di depan pintu hotel, mereka berdua berprasangka jika rencana mereka berhasil dan melanjutkan kencan mereka ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh dari hotel tersebut.


Tanpa mereka ketahui jika kini Sania dan Arka sedang menghadapi masalah yang lebih rumit gara-gara si Santi.


Saat sedang menyusuri jalan, Nino merengek karena di sela-sela kencan mereka tiba-tiba saja ia mulai merasa lapar. Keyla pun seakan memaklumi sikap Nino yang seperti anak kecil dan membawanya ke sebuah restoran sederhana di pinggir jalan dan membiarkan Nino makan sepuasnya.


"Keyla, apa kamu tidak salah? Kamu pesan semua makanan ini? Memangnya akan habis semua?," tanya Nino yang terkejut dengan meja mereka yang penuh dengan makanan yang Keyla pesan.


"Ha ha... Malam ini aku ingin memakan semua makanan ini, rasanya aku sudah lama tidak menikmatinya," seru Keyla sambil bersemangat hendak mencicipi semua hidangan.


"Ya, baiklah... Walaupun kita hanya makan di tempat seperti ini, tapi semau makanan ini terlihat sangat enak, dan aku berikan untukmu semua...,"ucap Nino dengan senang. "Bagaimana? Apa kamu melihat betapa aku sangat mencintaimu?," lanjutnya.


Mendengar hal tersebut seketika senyum di wajah Keyla menghilang dan berubah menjadi sedikit kesal, mengingat bahkan lamaran pernikahannya beberapa minggu lalupun belum Nino jawab dan terima, he he he....


"Cepat, dan makanlah! Kau banyak bicara, nanti makanannya keburu dingin," kata Keyla sambil melempar tisu ke wajah Nino di akhiri dengan senyuman kecilnya.


Beberapa saat kemudian...


"Hah... Akhirnya aku merasa sangat kenyang! Makanan ini sangat enak-enak," ucap Keyla dengan piring-piring yang sudah nampak kosong karena semua makanannya sudah habis di lahap tak tersisa.


"Hei, kamu makan seperti anak kecil saja sampai belepotan begini," kata Nino sambil menyeka sisa makanan di bibir Keyla dengan jarinya. Hal itu membuat Keyla segera mengambil tisu dan membersihkannya sambil berkata dalam hati, "Apakah dia tidak merasa jijik menyeka kotoran di mulutku dengan jarinya? Nino... Ternyata kamu sangat peduli padaku."


"Apa yang terjadi pada Arka dan Sania ya? Apa mereka juga menghabiskan banyak makanan seperti kita?," tanya Nino yang tidak ada jawaban karena Keyla nampak berpikir dan mengkhawatirkan Sania.


"Sudahlah, aku yakin mereka akan baik-baik saja... Ngomong-ngomong makanan apalagi yang kamu inginkan?," lanjut Nino. "Hmmm... Ayo makan cincau," jawab Keyla dengan semangat.

__ADS_1


"Ok, kita makan cincau setelah itu kita jemput mereka."


Tiba-tiba ponsel Nino berdering lalu mengangkatnya. Dia menerima kabar dari anak buahnya tentang keberadaan jack yang sudah lama mereka cari. Lalu Nino mengatakan jika ia akan segera ke tempat itu untuk melihat situasi.


"Keyla maaf, aku tidak bisa mengantarmu makan cincau sekarang karena aku harus pergi bekerja."


"Ok, tidak apa-apa, kalau begitu aku akan menjemput mereka sendiri."


"Lain kali aku akan membelikan cincau untukmu, " ucap Nino dan Keyla pun mengangguk. "Tapi, malam ini kamu akan tidur di rumah bersamaku kan? Karena sudah lama ini kamu hanya tidur dengan Sania."


"Aku harap aku bisa pulang," ucap Keyla dengan senyum semangatnya.


Mereka pun beranjak dari restoran tersebut dan terlihat sangat harmonis. Nino seakan enggan berpisah tapi Keyla meyakinkan Nino bahwa dia baik-baik saja dan meminta Nino untuk berhati-hati.


Nino memeluk Keyla erat dan memberinya satu ciuman hangat di kening. "Hati-hatilah dan tunggu aku di rumah... Dah...." Setelah melihat kepergian Nino, Keyla pun beranjak menuju hotel dimana Sania dan Arka berada.


Sementara kedua orang yang mereka cemaskan kini sedang duduk bertiga dengan Santi dengan situasi yang sangat tegang. Arka nampak menunduk dan merasa bingung tentang apa yang harus dia lakukan.


Lalu Arka menatap Santi dengan serius dan bertanya, "Santi, apa benar kamu hamil?."


"Arka, apa kamu tidak percaya padaku?."


"Tapi ini tiba-tiba saja terjadi, aku merasa~...."


"Arka, kenapa kamu meragukannya? Gadis macam apa yang akan berbohong untuk masalah semacam ini?," timpal Sania saat Arka belum selesai bicara. "Walau bagaimanapun, di dalam perutnya itu adalah makhluk hidup, jadi kamu akan bertanggung jawab kan?," lanjut Sania.


Mendengar pertanyaan Sania, Arka menatapnya tidak percaya. Tidak percaya dengan sikap Sania yang memintanya untuk bertanggung jawab bukannya bersikap marah dan meluapkan emosi padanya.


"Kalau begitu, kalian selesaikan masalah kalian berdua, aku tidak akan ikut campur, jadi... Aku akan pergi sekarang," ucap Sania yang segera berdiri dan hendak beranjak pergi namun Arka menahan tangannya dan mencegahnya pergi.

__ADS_1


Sania menatap Arka dengan tatapan yang sulit di artikan seraya melepaskan tangannya. Tatapan dingin yang Sania tampakkan justru membuat Arka semakin terluka.


Bertepatan dengan itu, Keyla pun baru saja tiba disana dan menyaksikan kejadian yang sangat dramatis itu dan langsung berteriak, "Santi! Apa yang kau lakukan disini! Aku sudah muak denganmu! Kau bahkan mengacaukan kesempatan yang kami atur agar mereka berdamai!."


Keyla sangat emosi dan menarik tangan Santi hendak menyeretnya keluar. Namun Sania segera mencegah Keyla dan berkata, "Sudahlah Keyla, jangan kasar padanya... Dia sedang hamil," ucap Sania mencoba tegar.


"Apa!."


Mendengar hal tersebut Keyla sangat merasa emosi bahkan tidak percaya lalu memarahi Arka dan menyalahkannya atas kejadian ini.


"Arka! Kami membantumu karena kau berjanji akan mengakhiri semua urusanmu dengan wanita ja*ang ini! Bagaimana semua ini menjadi semakin kacau! Aku akan membawa Sania denganku! Dan ingat, jika kamu tidak segera membereskan hal ini, jangan harap kau bisa menemui Sania lagi!."


Keyla pun segera membawa Sania pergi meninggalkan Arka meskipun Arka menyusul mereka dan terus memanggil Sania agar tidak pergi, Keyla hanya terus membawa Sania tanpa menghiraukan Arka sama sekali.


Arka merasa frustasi dan memukulkan tangannya ke tembok. "Arka! Apa tanganmu tidak apa-apa? Kamu jangan seperti ini!," teriak Santi dan mencoba melihat tangan Arka karena khawatir terluka. Namun Arka menepis tangan Santi dan berteriak kesal. "Aaaaarrggghh!!!."


Sania yang melihat Arka dari dalam mobil hanya bisa menangis dan menatapnya sampai tidak terlihat.


~


Beralih ke tempat lain, terlihat jack sedang marah-marah karena gudang pengelolaan obat terlarang miliknya di gerbek polisi sehingga semua barangnya di sita polisi dan dia mengalami kerugian yang besar.


"Setelah bertahun-tahun aku kumpulkan uangku dan merintis semua ini, tapi sekarang semua sia-sia!... Jika aku menemukan pelaku yang melaporkan hal ini pada polis, maka aku akan membunuhnya juga keluarganya!."


"Bos, aku yakin jika Arka lah yang sudah melaporkan semua ini," hasud Coki.


"Kalau begitu, karena dia sudah membiarkan aku hidup, maka akan aku tunjukan betapa kejamnya aku!."


Bersambung...

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2