
Malam itu hujan turun deras, membasahi seluruh kota dan membuat jalan-jalan menjadi licin. Beberapa pemuda yang memakai jas hujan terlihat berdiri di tengah jalan, terlihat sedang bersitegang. Mereka saling berteriak dan menunjuk ke sebuah motor yang terparkir di tengah jalan, menghalangi laju mobil.
Di saat yang sama, Moko baru saja tiba di tempat kejadian. Ia mengendarai mobilnya dan terhalang oleh motor yang ada di depannya. Moko merasa kesal karena motor tersebut menghalangi jalannya dan ia tidak bisa melanjutkan perjalanannya.
Moko turun dari mobilnya dan mendekati para pemuda yang sedang bersitegang itu. Ia ingin mengecek apa yang sedang terjadi dan mencoba menyelesaikan masalah tersebut.
"Hei! Apa yang kalian lakukan?!."
Namun, ketika Moko mendekati ketiga pemuda itu yang tidak lain adalah Arka, Kenzi dan Nino... Seketika Moko melangkah mundur saat melihat tiga senjata tajam yang di hunuskan kepadanya.
Moko merasa ketakutan dan berlari secepat mungkin, menghindari setiap rintangan di jalannya. Ia mencoba mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dan memanggil bantuan. Namun, Arka, Kenzi dan Nino terus mengejarnya dengan tekad yang kuat dan tatapan membunuh.
Moko merasa semakin lelah dan tidak bisa terus berlari dengan kecepatan yang sama. Ia mencari-cari solusi terbaik untuk mengatasi situasi tersebut, namun akhirnya dia tertangkap dan berhasil di habisi oleh Arka, Kenzi dan Nino.
Beberapa jam kemudian, Arka, Kenzi, dan Nino memutuskan untuk pergi ke sebuah sauna untuk bersantai dan menghilangkan rasa tegang setelah melakukan pembunuhan. Namun, di dalam sauna, mereka merasa tidak nyaman dan gemetar karena mereka merasa tertekan dengan apa yang telah mereka lakukan.
"Sial! Aku sangat tidak berguna, aku bahkan sangat gemetaran," ucap Nino sambil menyesap rokok dengan tangan yang masih gemetar.
"Ini pertama kalinya kita membunuh seseorang, mungkin pada awalnya mereka juga merasakan hal yang sama seperti kita," timpal Kenzi.
"Aku rasa... kita tidak bisa mundur sekarang," sambung Arka.
Mereka saling pandang, merasa tidak nyaman dan terus bergumul dengan perasaan bersalah mereka. Mereka menyadari bahwa kejahatan yang mereka lakukan tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga merugikan diri mereka sendiri.
__ADS_1
Kemudian Arka menenggelamkan badannya hingga tertutup air hangat diikuti Kenzi dan Nino.
Keesokan harinya, suasana di markas geng Elang sangat ramai. Terdengar tawa Remon yang menggelegar karena ia mendapat kabar bahwa bos geng Lion, Moko, sudah mati. Kabar tersebut membuat para anggota geng Elang merasa senang karena telah memenangkan persaingan antar geng.
Remon juga merasa bangga karena Arka, Kenzi dan Nino sangat bisa di andalkan.
"Jack, kali ini ketiga pemuda ini telah membuktikan lagi keberhasilan mereka, dan sekarang kamu tidak bisa menganggap mereka remeh lagi, mengerti?," jelas Remon.
Setelah itu, Remon memberi kekuasaan di satu cabang dan mengangkat Arka sebagai ketua geng. Jack sangat tidak menerima hal itu dan menolak keputusan Remon, namun keputusan Remon sudah tidak bisa di ganggu gugat. Oleh karena itu Jack terpaksa menerimanya.
Saat perjalanan pulang...
"Ha ha ha ha... Aku tidak menyangka bos Remon akan mempercayai kita semudah ini, hei! Apakah kita mempunyai anak buah sendiri?," tanya Nino dengan gembira.
"Ya, kamu akan memiliki banyak anak buah yang akan menghormati dan melayanimu, mereka akan memberi semua yang kamu mau, tapi ingat satu hal jangan pernah meremehkan mereka, mengerti?," jelas Arka.
Di saat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba Jack datang dengan mobil terbarunya sehingga menghentikan langkah ketiga cogan itu. Jack membuka kaca matanya dengan angkuh dan berkata,
"Kamu sangat tangguh, kamu juga cepat naik... Tapi pisau dan senjata tidak bermata, jadi... Aku harap, kamu jangan cepat mati."
"Tenanglah Jack, aku tidak akan mati mendahuluimu, kau duduk tenang saja," jawab Arka sambil tersenyum kecil, kemudian Jack melajukan mobilnya dengan kesal.
~
__ADS_1
"Aku pikir... Saat kami jadi berandal, bicara dan tertawa itulah yang di sebut organisasi kriminal karena tidak memikirkan apapun, ternyata kami begitu naif, karena kejahatan yang sesungguhnya, sekarang kami telah terjerumus ke dalamnya." Arka.
~
Setelah resmi menjadi anggota gengster, kehidupan Arka, Kenzi, dan Nino berubah seratus persen. Mereka terlibat dalam kegiatan yang lebih berbahaya dan ilegal daripada sebelumnya.
Mereka sering terlibat dalam pertikaian dan perselisihan dengan geng-geng lain, dan sering kali menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, mereka juga harus menghadapi konsekuensi hukum dari tindakan mereka. Mereka sering terlibat dengan polisi dan risiko penangkapan serta hukuman penjara menjadi lebih tinggi.
Namun, meskipun menghadapi konsekuensi yang serius dan mengalami banyak kesulitan, Arka, Kenzi, dan Nino terus bertahan di dalam gengster. Mereka merasa bahwa gengster memberi mereka kekuatan dan pengaruh, serta kesempatan untuk memperoleh uang dan kekuasaan.
\*
Kini, Sania sedang merenung di balkon dan menatap bintang yang dia harap bisa dia saksikan bersama Arka. Namun, seiring berjalan waktu, Arka sudah jarang meluangkan waktu untuknya karena terlalu sibuk.
"Aku tidak tau apa yang mereka lakukan di luaran sana... Tapi bagiku kisah para gengster hanya ada di dalam sebuah film, tapi aku sangat berharap tidak akan mengalami hal yang kejam dan sadis... Ku harap mereka bisa menjadi protagonis dalam sebuah film yang bisa selalu bertahan," batin Sania.
Saat darah menodai baju mereka dan saat teriakan minta ampun menggelegar, mereka tidak menghiraukannya. Mengejar dan membunuh kini menjadi gaya hidup Arka, Kenzi dan Nino. Mereka harus mengakui jika semua itu benar-benar nyata dan satu permainan yang keji yang melarang mereka untuk mengatakan berhenti.
Meskipun Arka sudah terlalu sibuk, tapi dia selalu menyempatkan waktu untuk menemani Sania dan memenuhi kebutuhannya. Namun, Sania mulai merasa hidupnya begitu hampa dan ia menginginkan kehidupan yang normal.
Tetapi, Arka hanya bisa berusaha menerima perubahan kehidupannya menjadi kebiasaan, dia tidak memiliki banyak waktu untuk hanya sekedar memikirkan keluhan dan kekhawatiran Sania.
Namun di sebalik kekejaman mereka yang terus di lakukan, mereka masih punya dunia kecil mereka yang gembira. Di saat waktu luang, Arka, Kenzi dan Nino sering berkumpul dan bersenang-senang seperti waktu mereka sekolah dahulu.
__ADS_1
Berbeda halnya dengan Sania ketika melihat mereka tertawa bahagia, dia merasa dirinya adalah orang asing yang telah masuk ke kehidupan Arka, Kenzi dan Nino. Sania berpikir mungkin jika dia menghilang dari kehidupan mereka, maka segala konflik dan beban akan menghilang.
"Apakah ini kehidupan yang selama ini aku inginkan??," batin Sania.