Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Ep. 102 - Hamil


__ADS_3

Keesokan harinya...


Dengan angkuhnya Jack turun dari mobil menuju markas kebesaran geng elang. "Luar biasa sekali, untuk menuju posisi ini, aku sudah menempuh jalan yang sangat panjang, sekarang... Semua penghalangku sudah mati, kini aku punya segalanya di tanganku dan akulah pemenangnya ha ha ha...."


Saat Jack berjalan menuju pintu markas, tiba-tiba saja seseorang memanggil namanya, "Tuan Jack." Seketika Jack pun menoleh dan menatap merendahkan melihat Santi yang kini ada di hadapannya.


"Bukankah kau sudah ku ampuni? Kenapa kau masih berani menemuiku? Pergilah."


"Aku tidak mau pergi, aku akan tinggal disini dan ingin jadi wanitamu."


"Ha ha ha... Gadis yang menarik... Kau kira aku akan mengambil wanita bekas musuhku?."


"Kamu pasti akan menerimaku karena kamu akan menjadikanku piala keberhasilanmu untuk kamu pamerkan kepada semua orang, jika kamu terus melihatku di sampingmu, maka kamu akan terus mengingat akan jasaku dan keberhasilanmu melenyapkan Arka."


Dasar gadis tidak tau malu si Santi itu ya! Arka... Kasihan sekali dirimu. 🤧


Santi terus meyakinkan Jack agar dia mau menerimanya dan dia juga mengatakan jika dia melakukan semua ini karena merasa sakit hati sudah di tolak oleh Arka dan kini ia ingin menjadi seperti Sania yakni menjadi wanita dati seorang gengster.


Namun, Jack tidak percaya begitu saja pada Santi dan minta pembuktian. Tanpa ragu, Santi pun membuka kancing baju di hadapan Jack dan membiarkannya melihat sebagian buah dada miliknya hingga laki-laki luknut itu pun tergoda dan memutuskan menjadikan Santi sebagai wanitanya mulai saat itu.


Seperti malam-malam sebelumnya, Sania selalu bermimpi dan mengigau tentang Arka. Dan kali inipun dia bermimpi dan langsung membuka matanya perlahan saat ia merasa melihat sosok Arka di hadapannya.


"Arka...." Sania tersenyum dan mendudukkan dirinya. "Iya, aku sudah bermimpi... Aku bermimpi jika kamu sudah mati... Tapi itu semua mimpi, Arka... Kamu mau tinggal bersamaku kan? Arka... Jangan tinggalkan aku...."

__ADS_1


Dalam pikiran Sania, kini Arka menatapnya dengan sangat sedih. "Arka...." Sania terus memanggil Arka dengan mengulurkan tangannya namun Arka tidak menyambut gapaian tangannya hingga Sania hendak berdiri namun ia malah terjatuh dari kasur. "Arka! Hu hu hu...."


Kenzi yang tidur di sofa dna setia menemukan Sania, kini ia terbangun karena terkejut mendengar teriakan Sania. "Sania!Sania... Kamu mimpi buruk lagi?."


Kenzi segera membantu Sania berdiri namun Sania masih saja menyebut-nyebut nama Arka dan mengatakan jika Arka masih hidup dan baru saja dia ada di hadapannya.


"Kenzi, aku bermimpi lagi jika Arka sudah mati, tapi dia baru menemukan dan aku yakin dia pasti ada di luar menungguku... Aku akan keluar dan membuka pintu untuknya," ucap Sania lemah dan hendak menuju pintu namun Kenzi mencegahnya.


"Sania, aku mohon tenanglah! Arka sudah mati! Arka sudah mati Sania...!."


Plakkkkkk!


"Omong kosong!."


"Arka tidak meninggal! Baru saja dia menemuiku! Aku akan mencarinya! Arka!."


"Sania! Arka sudah mati! Aku juga berharap ini semua hanya mimpi! Tapi dia sungguh sudah meninggal!."


Sania kini terdiam dengan tatapan kosong dan sangat terpukul. "Sania... Aku mohon tenanglah...! Kamu harus bisa menghadapi semua ini... Aku tau kamu sangat bersedih, tapi kamu harus bisa hadapi kenyataan! Lebih baik aku melihatmu menangis dan menjerit daripada kau hanya diam dan memendamnya! karena semua itu hanya akan membuatmu semakin menderita!."


"Aku tidak bisa menangis... Aku sudah berjanji pada Arka untuk tidak menangis lagi... Aku tak akan menangis lagi."


Suara Sania perlahan mulai terdengar lemah hingga akhirnya dia pun terjatuh dan tidak sadarkan diri. Kemudian Kenzi segera membawa Sania ke rumah sakit dan menghubungi Nino.

__ADS_1


Kini mereka berdua sedang duduk gelisah menunggu hasil pemeriksaan dokter hingga snag dokter pun keluar dan mengabari hasilnya.


"Dokter, bagaimana hasilnya? Apa yang terjadi padanya?."


"Kalian tenang saja, tidak ada hal yang berbahaya pada kondisi pasien, dia hanya kekurangan nutrisi dan dehidrasi sehingga menjadi lemah di tambah dengan kondisinya yang sedang hamil."


"Apa dokter, hamil?," tanyakan Kenzi dan Nino berbarengan.


"Iya, pasien kini sedang hamil dengan usia kandungan lebih dari satu bulan."


Nino dan Kenzi nampak sangat bahagia, ekspresi merk sungguh tidak bisa di gambarkan. Mereka berdua berjingkrak dan kegirangan dan tidak berhenti tertawa senang.


"Ha ha ha... Kenzi, apa kau dengar? Sania hamil! A ha ha ha...."


"Benar Nino! Arka punya anak, dan kita akan menjadi paman! A ha ha ha ha...."


Mereka tertawa bersama dan saling berpelukan. Kemudian mereka menemui Sania yang berada di di dalam ruang inap dengan perasaan gembira.


"Sania... Kini kamu tidak sendiri lagi, demi bayinya, kamu harus kuat," ucap Kenzi.


Sania menatap dua sahabat di hadapannya dengan rasa haru. "Bayi... Bayiku dan Arka." Dia menyentuh perutnya lembut dengan berlinang air mata dan meyakinkan dirinya untuk kuat.


Bersambung...

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2