
"Arka... Aku mohon angkat teleponnya...."
Sania terus berada dalam kecemasan saat dalam perjalanan menuju dermaga. Banyak hal buruk yang terlintas di pikirannya sehingga membuat Sania tidak bisa tenang dan terus berdo'a.
Setelah berjalan dan mencari keberadaan Santi, akhirnya Arka menemukan gadis itu duduk termenung dan gelisah menanti kedatangannya.
Tekad Santi cukup kuat, dia tidak segera pergi naik kapal dan terus menunggu Arka karena berharap akan bertemu dengannya. Betapa bahagianya Santi saat melihatmu kini Arka ada di hadapannya.
"Arka... Akhirnya kamu datang."
"Iya, aku harap kamu akan sampai ke kampung halamanmu dengan selamat."
Prok! Prok! Prok! Prok...!!!
"Pertemuan yang sangat mengharukan sekali," kata Jack yang tiba-tiba saja muncul dari arah yang tidak di duga Arka.
Arka merasa keheranan dengan kedatangan Jack dan mengira jika Santi merencanakan itu semua dan bersekongkol dengan Jack. "Santi! kau mengkhianati ku dan sengaja melakukannya?!."
"Tidak! Arka... Aku juga tidak tau kalau mereka ada disini," jawab Santi kebingungan karena memang dia juga tidak menyangka.
Jack merasa puas mendapatkan Arka yang sendirian dan ia pun tertawa jahat. "Kamu kejam juga ternyata, setelah manis sepah di buang... Gadis cantik seperti inipun kamu campakkan ha ha ha ha...!."
Arka hanya menatap tajam pada Jack yang seolah mengincarnya. "Hei gadis bodoh! Terima kasih karena kamu sudah membantuku, tapi aku kasihan padamu karena saat ini kamu harus menyaksikan laki-laki yang sangat kau cintai matiin di hadapanmu."
Perkataan Jack seketika membuat Arka dan Santi terkejut. "Jangan ganggu Arka! Jangan sakiti Arka!," teriak Santi saat melihat Arka di sergap oleh beberapa orang hingga tidak bisa berkutik.
"Diam kau! Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku sudah membalaskan sakit hatimu!."
"Jack! Lepaskan aku! Jika kau berani lawan aku secara jantan dan jangan jadi pengecut!."
"Hm, pengecut?."
__ADS_1
Jack mengambil pisau tajam yang berukuran cukup besar dan panjang dari tangan anak buahnya. Dia berjalan perlahan mendekati Arka yang menatap benci padanya. "Jangaaaaan!."
Melihat Arka terancam, Santi memberanikan diri mendorong Jack sehingga mundur beberapa langkah ke belakang. Lalu Arka menjadikan kesempatan itu untuk mencoba berontak dan melawan hingga akhirnya ia terbebas dan memukuli setiap orang yang menyerangnya.
Memang, jika menggunakan tenaga Arka selalu lebih unggul dari siapapun. Namun, setelah Arka berhasil melumpuhkan anak buah Jack, dari arah yang tidak terduga Jack maju melesat menghampiri Arka dan langsung menusukan pisaunya ke perut Arka.
Sleebbb!
"Argghhh!."
Seketika darah segar keluar dari mulut dan perut Arka ketika pisau tajam itu merobek perutnya. Tidak sampai saat itu, Jack menusukan pisaunya kembali saat Arka mencoba melepaskan tangan Jack juga pisua yang menancap di perutnya hingga beberapa kali.
Santi yang melihat kejadian di depan matanya itu hanya bisa teriak histeris dan merasa syok tanpa bisa melakukan apa-apa.
Kejadian yang selalu terjadi, ter-lam-bat. Kini Kenzi, Sania, Nino dan beberapa anak buahnya baru tiba di tempat kejadian. Mereka sangat terkejut saat menyaksikan Arka yang sudah tidak berdaya karena mereka datang terlambat beberapa menit.
"Arka! Arka...!!!."
Menyadari datangnya pertolongan untuk Arka, Jack segera melepaskan tusukan pisaunya hingga Arka semakin banyak memuntahkan darah. Lalu para penjahat itu berlarian kabur menghindari peluru dari pistol yang Nino tembakan.
Dor! Dor! Dor!
Nino dan Kenzi terus mengejar para penjahat itu sambil terus menembakkan senjatanya namun tidak berhasil menangkap mereka. "Terus kejar mereka!," teriak Nino pada anak-anak buahnya. "Jangan biarkan meriah lolos!," timpal Kenzi.
"Arkaaaaa!!," teriak Sania lagi saat melihat tubuh kekasihnya itu hampir tumbang. Sania mempercepat larinya hingga ia bisa menahan tubuh Arka yang ambruk ke tanah.
"Arka...! Hu hu hu hu... Arka bangun!." Sania menangis histeris saat memeluk kekasihnya yang berlumuran darah itu. Lalu Arka mengulurkan tangannya yang penuh darah, perlahan menghapus air mata Sania yang mengalir deras. "Maafkan aku...."
"Bertahanlah Arka! Hiks Hiks Hiks ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜."
Setelah itu, Nino dan Kenzi segera menghampiri Arka juga dan segera membawa Arka ke rumah sakit.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Sania yang berada setia di samping Arka tidak melepaskan tangan Arka sedetikpun sambil terus mengajak Arka bicara agar kesadarannya tetap terjaga.
"Sania... Jangan menangis... Selama I-ni... a-ku sudah sering membuatmu menangis... Maafkan aku."
"Iya Arka, aku sudah memaafkanmu... Kamu akan sembuh hu hu hu hu... ðŸ˜ðŸ˜."
"Sania... Maafkan aku karena aku tidak bisa membahagiakanmu, aku sudah berjanji tapi aku tidak mewujudkan janjiku itu."
"Tidak Arka, aku sudah bahagia hidup denganmu dan selalu bersamamu... Itulah kebahagiaanku Hiks Hiks hiks...."
"Aku ingin kamu berjanji... Kamu tidak akan pernah menangis lagi dan hidup bahagia... Menjadi gadis yang ceria seperti saat pertama kali aku melihatmu... Sania yang selalu bersemangat dan suka bermain piano...."
"Iya... Iya... Aku akan melakukannya bersamamu ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜."
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Lagi lagi Arka memuntahkan darah dari mulutnya dengan lebih banyak sehingga membuat Sania lebih khawatir dan ketakutan. "Arka!... Hu hu hu... Kenzi! Lebihnya cepat lagi jalannya! ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜."
Dengan perasaan yang juga sama khawatir pada Arka, Kenzi pun menjalankan mobilnya dengan secepat kilat namun dengan masih mempertimbangkan keselamatan mereka.
"Sania...," panggil Arka sambil menyentuh pipi gadis yang sangat dia cintai itu. "Aku sangat mencintaimu...." Sania pun mengangguk dan berkata, "Aku juga sangat mencintaimu Arka...," jawabnya sambil mencangkup tangan Arka dengan kedua tangannya.
Namun setelah perkataan terakhir mereka, sorot mata Arka perlahan menjadi kosong dan tangannya pun menjadi lemah hingga terlepas dari genggaman Sania. "Arka?...
...
" Arkaaaaa....! ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜. "
Begitu mobil mereka sampai di rumah sakit, saat itu juga Arka menghembuskan nafas terakhirnya. Selamat tinggal Arka... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Bersambung...
__ADS_1
💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔💔