
Sania merasa hancur melihat Keyla terbaring tanpa nyawa di tempat tidur rumah sakit. Dia merasa bersalah karena merasa telah gagal melindungi Keyla dan tidak berjuang bersamanya melawan Jack.
Dalam keputusasaan dan penyesalan yang mendalam, Sania memeluk tubuh Keyla dengan erat. Air mata tak terbendung mengalir di wajahnya saat ia berbicara dengan suara gemetar,
"Keyla, tolong jangan pergi meninggalkanku... Aku minta maaf, aku minta maaf karena tidak bisa melindungimu, karena tidak berjuang bersamamu... Aku menyesal, aku menyesal karena belum sempat membalas setiap kebaikanmu... Kamu adalah sahabat sejatiku, dan aku akan merindukanmu setiap hari... Hu hu hu hu... πππ. "
Sania terus menangis, mencurahkan semua perasaannya yang terpendam. Dia merasa kehilangan yang begitu besar, karena Keyla bukan hanya sahabat, tetapi juga seseorang yang begitu penting dalam hidupnya.
Ia merenungkan momen-momen indah yang mereka habiskan bersama, tawa, dan tangis yang mereka bagikan. "Keyla... Ayo kita balapan lagi hiks hiks hiks...."
Sementara Sania sedang mengisi Keyla, Arka berlari dengan cepat mengejar Nino yang keluar dari rumah sakit dengan amarah yang membludak.
__ADS_1
"Berhenti, Nino!" teriak Arka sambil mengejar Nino. "Aku tahu kamu marah, tapi kamu harus tenang... Melakukan sesuatu dengan emosi yang memuncak hanya akan membuat semuanya menjadi lebih buruk."
Arka menyadari bahwa Nino ingin membalas dendam pada Jack atas kejahatan yang telah dilakukannya terhadap Keyla. Arka dengan cepat berusaha mencegah Nino agar tidak bertindak gegabah dan meminta Nino untuk bersabar.
Nino berhenti sejenak dan menoleh ke arah Arka, tatapannya penuh dengan kemarahan dan keinginan untuk membalas. Namun, setelah mendengar kata-kata bijak dari Arka, dia mulai merenung dan berlutut seakan rapuh.
"Arka, dia telah menyakiti Keyla. Dia harus dihukum!" ujar Nino dengan nada penuh emosi.
"Keyla!!!!," teriak Nino putus asa dengan air mata membasahi pipinya. "Tadi malam kau baru saja makan malam denganku dan aku berjanji akan membelikanmu cincau... πππDan juga aku belum sempat menerima lamaranmu... Apa yang harusnya aku lakukan hu hu hu... πππ."
Arka kemudian melanjutkan, "Ketahuilah, malam ini bos Remon akan kembali ke Indonesia... Kita harus menyambut kedatangannya dengan sikap yang baik."
__ADS_1
Nino menghela nafas panjang dan melihat Arka dengan perasaan campur aduk. Setelah merenung sejenak, dia akhirnya menganggukkan kepala dengan penyesalan.
"Kamu benar, Arka... Aku tidak boleh membiarkan amarahku menguasai diriku... Kita harus berpikir jernih dan mengambil langkah yang tepat."
Arka tersenyum lega mendengar keputusan Nino. "Baiklah, Nino... Kita akan menghadapi ini bersama-sama," kata Arka sambil menepuk bahu Nino dengan penuh dukungan. "Kami semua di sini untukmu, untuk Keyla, dan untuk memastikan keadilan tercapai, Kita akan menyelesaikan ini dengan cara yang benar."
Dengan tekad yang kuat, Arka dan Nino berjalan kembali ke arah mobil. Mereka mengetahui bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, tetapi kali ini mereka akan melakukannya dengan kepala yang dingin dan hati yang tegar.
Malam ini, mereka akan menyambut kedatangan bos Remon dengan sikap profesional, namun dalam hati mereka tetap bersemangat untuk menjalankan misi mereka.
"Aku akan membunuh para bajingan itu dengan tanganku sendiri!."
__ADS_1
Bersambung...
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ