
Sania kembali ke kamarnya setelah selesai makan camilan, namun tiba-tiba ia mendengar suara motor yang cukup bising di depan rumahnya. Ia melangkah ke jendela dan melihat Arka sedang memarkirkan motornya di halaman rumahnya.
Sania merasa terkejut dan penasaran, lalu ia membuka jendela untuk memanggil Arka.
Tapi Sania khawatir orang tuanya menyadari keberadaan Arka, jadi dia memutar kaset agar orang tuanya mengira Sania sedang berlatih piano padahal dia turun ke bawah secara sembunyi-sembunyi.
"Dengarlah, bahkan keahlian bermain pianonya menurun. Kita harus mencari cara untuk menghiburnya," ujar ibu Sania.
"Aku juga merasa hawatir, sengaja aku tidak membiarkannya tidak masuk sekolah dulu agar tidak bertemu dengan para berandal itu. Tapi, saat Sania pulang les tadi sore dia masih di ganggu oleh preman kecil lainnya, bahkan dia seorang gadis seusianya," jelas ayah Sania.
"Aku tidak mengerti, putri kita adalah anak yang baik, kenapa dia apes harus bertemu dengan para berandalan itu," sambung ibu Sania.
"Aku rasa, sebaiknya kita segera mengirim Sania belajar ke luar negeri, agar dia pergi dari lingkungan ini," saran ayah Sania.
"Aku kurang setuju untuk hal itu, Sania masih terlalu muda untuk meninggalkan kita, dan aku masih tidak ridho jika melepasnya sekarang," jawab ibu Sania.
Saat sudah berada di bawah, Sania berjalan mengendap-endap seperti maling yang takut ketahuan. Kemudian Sania memanggil Arka yang sedang duduk di motornya dengan suara yang pelan.
"Arka."
Arka tersenyum kegirangan ketika mendengar suara Sania memanggil namanya. Ia lalu berlari menuju besi pagar yang memisahkan rumah Sania dengan jalan. Sania berdiri di balik pagar, memandang Arka dengan senyuman manis di wajahnya.
"Sudah lama tidak bertemu," kata Sania sambil tersenyum.
"Benar..., suara piano itu, aku kira kamu sedang memainkannya," ucap Arka.
"Aku sengaja memutarnya agar orang tuaku tidak curiga, cukup cerdik bukan?," tanya Sania. Arka tersenyum tapi sedikit terganggu atas kenakalan Sania itu.
Saat Sania merasa senang atas kehadiran Arka, sebaliknya, Arka malah merasa tidak nyaman setelah kejadian beberapa hari yang lalu, saat Arka meminta Sania untuk tidak lagi bertemu dengannya, tapi kini dia sendiri yang menemui Sania.
"Maaf sudah mengganggumu, aku kesini hanya ingin mengatakan jika hari ini aku berulang tahun, dan aku ingin melihatmu," jelas Arka.
Sania langsung merasa terkejut dan terharu. Dia tidak menyangka jika hari ini adalah ulang tahun Arka.
__ADS_1
"Wah, selamat ulang tahun ya Arka," kata Sania sambil menjabat tangan Arka dengan tersenyum.
Arka merasa senang dan bersyukur karena di hari ulang tahunnya dia bisa bertemu dengan Sania. Arka menatap Sania sendu dan merasa serba salah. Di rasa keperluannya sudah cukup, Arka segera pamit dan mengatakan ada sesuatu yang harus dia lakukan dan segera naik ke motornya.
Sania tidak bisa membiarkan Arka pergi begitu saja setelah lama mereka baru bertemu lagi, lalu Sania berkata,
"Hei, bisakah kamu membawaku jalan-jalan?," tanya Sania agresif, dan Arka pun mengangguk seraya tersenyum menyetujuinya.
~
Di tempat acara balapan yang akan di ikuti Arka malam ini, sudah ramai dan di padati penonton yang menunggu para peserta termasuk menunggu arka yang belum juga datang.
Para peserta terlihat sedang melakukan pemanasan dengan berbagai latihan fisik dan peregangan otot sebelum balapan dimulai. Beberapa di antaranya juga melakukan latihan khusus di atas motornya, seperti menyetel rem dan memperiksa kondisi mesin. Terlihat antusiasme dan semangat tinggi dari para peserta yang siap berlomba di malam itu.
Kenzi dan Nino yang baru hadir dan memarkirkan motornya tidak jauh dari tempat itu. Mereka melihat kondisi sekitar dan memastikan semuanya akan baik-baik saja.
"Apa Arka akan datang?," tanya Nino.
"Arka menyuruh kita menunggunya," jawab Kenzi.
Dari arah sebrang, Kenzi dan Nino melihat Jack dan gengnya turut hadir. Kecurigaan Kenzi ternyata benar, pantas saja taruhannya sangat tinggi, ternyata Jack ingin mengalahkan Arka pada balapan kali ini dan tidak mustahil Jack berencana mencelakakan Arka pada saat bertanding.
"Nino, segera beritau Arka agar dia jangan datang kemari. Jack dan gengnya sengaja memancing kita kesini," kata Kenzi.
"Aku akan buat perhitungan dengan mereka," kata Nino sambil melangkah hendak menghampiri Jack dan gengnya. Tapi Kenzi mencegahnya dan mengatakan jika Nino tidak boleh sembrono dan sok jadi pahlawan, karena mereka tidak bisa melawan Jack dengan anggota gengnya yang banyak seperti itu, apalagi geng Jack selalu membawa senjata api.
Saat mereka akan pergi, terlihat di area balap, keyla sedang berdebat membela Arka yang di katakan pengecut oleh lawannya karena tidak hadir di acara malam ini.
Perdebatan mereka semakin sengit karena sikap tomboy Keyla yang pemberani dan lawannya yang seorang laki-laki kalangan preman, sehingga keributan itu menarik perhatian Jack lalu bertanya,
"Siapa gadis itu? Apakah dia kekasih Arka?."
"Bukan, yang aku tau Arka tidak mempunyai pacar, gadis genit itu hanya salah satu dari penggemar Arka," jawab Coki.
__ADS_1
"Rupanya dia cukup populer di kalangan wanita," seru Jack, "Habisi gadis itu!," lanjutnya.
Lalu Coki hendak menghampiri Keyla yang masih membela Arka habis-habisan. Tapi sebelum Coki mendapatkan keyla, Nino sudah terlebih dahulu mengajak Keyla pergi dari tempat itu dengan menggunakan helm agar tidak di ketahui oleh geng Jack dengan berpura-pura menjadi pacarnya Keyla agar menghindarkan Keyla dari bahaya Jack.
Meskipun Keyla sempat menolak dan memberontak karena tidak mengenali orang yang tiba-tiba saja mengaku sebagai pacarnya itu dan ingin membawanya, tapi akhirnya Keyla menurut saat melihat Kenzi sudah stanby di motor.
Dengan melihat Kenzi, keyla pun sudah mengerti dan tidak banyak bertanya, lalu naik motor Nino dan pergi bersama mereka.
Jack yang memperhatikan kepergian Keyla lalu menyadari jika mereka adalah teman-teman Arka yang sedang mereka incar.
Lalu Jack menyuruh Coki dan anak buahnya untuk menangkap mereka. Namun beruntung Kenzi dan Nino melesat dengan kecepatan tinggi sehingga tidak dapat terkejar dan terhindar dari bahaya.
Sementara itu, Arka dan Sania sedang berdiri berdampingan di atas gedung yang tinggi, menikmati indahnya pemandangan kota yang di bawah sinar rembulan.
"Ada jutaan bintang yang ada di langit, tapi mereka kalah dengan cahaya lampu kota di malam hari," ungkap Sania.
"Bintang berada sangat jauh di atas sana, tapi bintang bercahaya dan berkerlip di langit malam hari dan membuat orang yang berada di bawah melihatnya merasa bahagia," sahut Arka.
"Ternyata, selain suka melihat pesawat terbang lepas landas, kamu juga suka melihat bintang," kata Sania sambil melihat wajah Arka yang nampak tampan dari samping.
Lalu Arka bercerita, bahwa saat dia masih kecil, Arka sering di bawa ke tempat tinggi seperti itu oleh ayahnya dan mengatakan jika melihat sesuatu dari atas maka akan terlihat lebih kecil. Semenjak itu, Arka selalu bercita-cita untuk menjadi seorang pilot, tapi impiannya kini sudah sirna dan hanya bjsa menyesalinya.
Lalu Sania mencoba memberi semangat kepada Arka untuk terus melanjutkan studinya, tapi Arka menolak dan tidak ingin tetap berada di sekolah yang sama sekali tidak menginginkannya. Lagipula dia merasa payah dalam belajar.
Kemudian Sania bertanya tentang masa depan Arka jika dia tidak lulus sekolah. Dan Arka pun mengatakan jika ia akan mencari nafkah sebisanya, dan untuk sementara Arka akan bekerja di bengkel motor temannya om Tedi.
"Bengkel motor? Apakah itu pekerjaan yang bagus?," tanya Sania.
"Kita dari dunia yang berbeda, seharusnya dari awal kita tidak pernah bertemu. Bagiku, kamu seperti burung yang terbang di atas langit, seluruh langit milikmu, Sania. Sedangkan aku, aku hanya ikan kecil di dalam kolam, lumpur adalah tempatku."
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Bersambung...
__ADS_1
Nantikan episode selanjutnya ya...
Jangan lupa kasih like, subcribe, hadiah juga komentar terbaik ny ya...