
Mendebarkan!!
⚔️⚔️⚔️⚔️⚔️🔫🔫🔫🔫🗡️🗡️🗡️🗡️⚒️⚒️⚒️
Malam telah tiba, dan cahaya lampu menerangi setiap jalan dan tempat, menembus dinginnya malam. Kota terlihat indah dan penuh warna, dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit dan lampu-lampu yang bersinar terang.
Di rumah dengan lampu yang sudah di matikan, Arka dan Sania sedang berada di kamar yang sama, mereka terbaring tidur di kasur yang terpisah. Arka tidur di kasur samping ranjang, sedangkan Sania tidur di kasur atas.
Arka menempatkan bantal di bawah kepalanya dan masih membuka matanya, karena mencoba untuk tidak tidur dan menunggu Sania terlelap. Sementara itu, Sania menutup matanya, mencoba untuk meredakan pikirannya yang tidak tenang.
Kamar itu sunyi, hanya suara napas mereka yang terdengar. Arka berusaha untuk tidak bergerak terlalu banyak agar tidak mengganggu tidur Sania. Sementara itu, Sania juga berusaha untuk segera tertidur dan setelah beberapa saat akhirnya terlelap.
Di rasa Sania sudah tertidur pulas, Arka membuka selimut yang menutupi tubuhnya sehingga nampak dia yang hanya mengunakan kaos putih oblong dan celana pendeknya. Pemandangan yang membuat hati perempuan klepek-klepek saat melihatnya.
(Tapi mereka hebat ya, satu kamar dalam waktu yang sudah lama tapi tidak terjadi apa-apa... Eith... Hus ah! Ha ha... Lanjut ceritanya... 🤫🤭)
Arka bangun secara perlahan dan bersiap dengan memakai celana jeans juga jaket kulit hitamnya, padahal jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Saat bersiap-siap, Arka dikejutkan oleh suara Sania yang terbangun.
"Arka, kamu kamu kemana?." Arka menoleh. "Apa kamu melakukan sesuatu di belakangku?." Arka hanya berdiri terdiam menatap Sania yang bertanya padanya. "Nino sekarang di rawat di rumah sakit, jangan membuatku tambah hawatir dengan kamu sering keluar rumah," lanjut Sania.
"Sania...."
"Kamu sering berkata padaku agar tidak mengkhawatirkanmu, tapi... Setiap kamu keluar rumah, aku sangat takut kamu akan pulang dengan berlumuran darah."
Mendengar perkataan Sania, Arka melangkah dan menghampiri Sania lalu duduk di hadapannya. Arka menggenggam tangan Sania lembut dan menatapnya lekat lalu berkata,
"Maafkan aku... Aku tidak ingin membuatmu hawatir... Aku hanya ingin melindungimu, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa aku kendalikan... Tapi aku berjanji, untukmu... aku akan kembali dengan utuh."
"Kenapa kamu tidak bisa mengendalikan mereka? Kenapa kita tidak pergi dari sini saja dan meninggalkan semuanya?."
Lalu Arka melepas pegangan tangannya pelan-pelan dan teringat perkataan Remon,
__ADS_1
"Jika kamu bisa menyelesaikan misi ini, kamu akan di terima di geng Elang dan tidak akan ada seorang pun yang berani menyentuhmu."
Kemudian Arka mengatakan pada Sania jika sebenarnya dia juga ingin kabur bersamanya, tapi untuk saat ini dia tidak bisa mundur dan harus tetap melangkah.
"Aku tidak peduli apa pun, kamu adalah orang yang paling berharga dalam hidupku... Aku akan ciptakan dunia yang aman untukmu... Dan aku akan membuat hidupmu bahagia dan sejahtera."
"Arka...."
"Sekarang sudah malam, lebih baik kamu tidur."
"Kamu bagaimana?."
"Ada sesuatu yang harus aku kerjakan, aku akan segera kembali." Lalu Arka beranjak melangkah pergi, meskipun Sania terus memanggilnya agar tidak pergi tapi Arka tidak menghiraukannya. Namun, saat membuka pintu, Arka berhenti sejenak dan menoleh ke belakang tapi tetap pergi.
Arka pergi dengan hati yang berat, namun dia berpikir ini yang terbaik untuk saat ini. Kenzi yang sudah stanby di motornya menunggu Arka di bawah dengan dua buah senjata tajam yang sudah dia siapkan. Ternyata misi malam itu adalah membunuh seorang anggota geng Elang namun berhianat karena jadi informan polisi.
"Dalam geng Elang, kami punya peraturan, agar bisa di pandang terhormat maka harus melakukan satu hal yang mengesankan."
Saat melihat target jatuh dan terkapar di jalan dengan bersimbah darah, Arka dan Kenzi menatapnya seakan tidak percaya bahwa mereka menyaksikan seseorang di bunuh di depan mata mereka. Roy berteriak agar Arka dan Kenzi segera naik mobil dan tidak hanya diam berdiri saja, jika tidak mereka akan jadi sasaran musuh.
Di dalam mobil...
"Bos Remon mengatakan jika kalian tidak akan bisa melakukannya, oleh karena itu dia memintaku untuk menolong kalian," ucap Roy pada Arka dan Kenzi yang saling menatap karena masih meredakan keterkejutannya.
Setelah beberapa saat akhirnya Arka mulai bertanya," Aku tidak mengerti, bos Remon sudah mengetahui jika kami tidak akan bisa melakukannya, tapi kenapa masih mengirim kami?."
Kemudian Roy mengatakan selama anggota geng Elang mengetahui jika merekalah yang merobohkan targetnya maka seluruh anggota tidak akan ragu untuk menerima Arka dan Kenzi bergabung dengan geng Elang.
Setelah beberapa saat, Arka dan Kenzi di antar pulang sampai depan rumah Arka di lantai dasar, karena rumah Arka tepatnya berada di di lantai atas gedung itu. Tapi sebelum berpisah, Roy berpesan agar Arka dan Kenzi untuk bersembunyi selama beberapa waktu sampai bos Remon menghubungi mereka kembali.
Sania yang merasa hawatir pada Arka, meminta Keyla untuk menemaninya menunggu Arka pulang. Saat berjalan di sekitar rumahnya, akhirnya Sania melihat Arka sudah kembali namun merasa terkejut karena melihat senjata tajam yang Arka bawa di tangannya.
__ADS_1
"Arka!," pekik Sania.
"Sania...." Begitupun Arka yang sama terkejut saat melihat Sania yang melihatnya membawa senjata tajam, lalu Arka mencoba menyembunyikan senjata itu di belakang bajunya.
"Tidak usah di sembunyikan, aku sudah melihatnya," ucap Sania.
"Sania... Itu hanya sebuah pisau, semua orang memiliki pisau di dapurnya bukan?," seru Keyla.
"Apakah kamu menggunakan pisau itu untuk membunuh Jack?," tanya Sania, namun Arka terdiam dan bingung harus menjawab apa. "Arka, katakan padaku!."
"Sania sebenarnya... ~."
"Sebenarnya kami bergabung dan menjadi anggota geng Elang," timpal Kenzi, "bos Remon meminta kami... ~"
"Kenzi! Hentikan!," teriak Arka.
"Apa?!," tanya Sania terkejut.
"Sania, itu tidak benar!."
"Kamu yang menyembunyikan kebenarannya dariku!," jawab Sania dan segera berlalu di ikuti Keyla yang mencoba membujuknya.
"Sania!." Panggilan Arka tidak di dengar sama sekali dan terus berlalu pergi sehingga membuat Arka merasa frustasi.
Arka berteriak pada Kenzi dan berkata kenapa harus memberitahu Sania. Lalu Kenzi menjawab jika Sania memang harus tau kebenaranya, dengan begini sekarang Sania bisa memilih apakah dia akan pergi atau akan tetap tinggal di dunia gelap bersama mereka.
Kemudian Arka berpikir jika semua itu memang benar. Arka harus memberi kesempatan pada Sania untuk memilih.
Arka menatap rumahnya yang berada di lantai atas itu dan berpikir, mungkinkah Sania akan tetap bersamanya atau akan pergi meninggalkannya?
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
__ADS_1
BERSAMBUNG...