
\*\*\*
Cerita selanjutnya...
...
Di saat Keyla meminta Sania mengungkapkan pendapatnya, tidak lama berselang, Arka pun pulang dan melihat sekilas pada Sania lalu mengalihkan pandangannya. "Hei Arka! Kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang? Kamu sudah menjelaskan semuanya pada Sania semalam bukan?," tanya Keyla panjang lebar sambil memberi kode manisnya untuk Sania.
Namun Arka tidak merespon kode Keyla,
"Kamu bau alkohol, Arka, ini tidak benar...." Arka tidak menghiraukan Keyla yang terus nyerocos namun Arka menatap Sania yang juga sedang menatapnya penuh tanya namun hanya diam saja.
"Aku tidak mau bicara sekarang, aku lelah sekali dan mau tidur," jawab Arka lalu beranjak menuju ranjang dan hendak membuka jaket kulitnya. "Hei, Arka!," panggil Keyla, tiba-tiba...
Dretttt....
Dretttt....
Ponsel Arka berbunyi, lalu ia segera menerima telpon itu dan memakai jaketnya kembali. "Hallo?... Apa?... Maya hilang lagi? Baiklah, jangan khawatir, aku akan segera kesana... Tunggu dan jangan kemana-mana." Melihat Arka yang hendak pergi dan merasa cemas, Sania pun langsung berdiri dan memanggil kekasihnya itu. "Arka...?."
Arka berbalik dan menoleh saat Sania memanggilnya lalu berkata, "Ada pekerjaan penting dan aku harus pergi, nanti kita bicara lagi." Kemudian Arka bergegas pergi meninggalkan Sania dengan perasaannya. Keyla merasa kesal saat melihat Arka yang baru pulang dan harus pergi meninggalkan Sania lagi.
Kini, Arka dan Nino berada di rumah lama bersama Santi dan membahas atas menghilangnya Maya. Santi meminta pada Nino agar mengantarkannya ke gudang tempat Maya di kurung, tapi Arka mencegahnya di samping Santi seorang perempuan dan itu sangat berbahaya untuknya. Lalu Arka berjanji jika dia akan menemukan Maya kembali.
~
Saat pagi menjelang siang, Sania berjalan pelan namun pasti menghampiri Kenzi yang sedang mencuci sepeda motor tidak jauh dari halaman rumah Kenzi. Melihat kedatangan Sania yang tiba-tiba membuat Kenzi terkejut dan tidak menyangka dan sedikit khawatir. "Sania...? Ada apa? Apa terjadi sesuatu lagi pada Arka?."
__ADS_1
"Tidak, aku kesini bukan untuk masalah itu... Apa kabar?... Kamu sedang membersihkan motor kesayanganmu?," tanya Sania sambil mengelus motor yang baru saja selesai di cuci itu.
"Ya, sekolah akan di mulai beberapa hari lagi, dan aku merasa lebih nyaman jika naik motor... Aku sangat tersentuh karena Arka sudah menjaga dan merawat motorku dengan baik," kata Kenzi. Sania merasa tersentuh saat mendengar perkataan Kenzi dan makna persahabatan mereka.
"Pasti kamu sudah tidak pernah naik motor dalam waktu yang lama sekali bukan, karena Arka sekarang lebih suka membawamu naik mobil agar lebih nyaman," tutur Kenzi.
"Sangat nyaman, tapi aku merindukan tiupan angin saat naik motor," jawab Sania. "Kamu kesini ada perlu apa? Apa ada masalah antara kalian?," tanya Kenzi khawatir. "Jangan bicarakan dia sekarang, aku kesini memang untuk meminta bantuanmu untuk mengantarkanku ke rumah pak Tedi."
Sania menjelaskan jika ia ingin bertemu dengan Tedi karena siapa tau dia mengetahui tentang kasus penyelundupan manusia. Walaupun sebenarnya Sania sudah tidak mau ikut campur urusan geng, tapi setidaknya dia bisa membantu sedikit masalah Arka.
Sama halnya dengan Kenzi yang juga sudah tidak ingin berurusan dengan geng lagi, namun ia juga tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada sahabat-sahabatnya. Akhirnya, Kenzi dan Sania kini pergi ke rumah Tedi dengan mengendarai motor Kenzi.
Setelah beberapa waktu perjalanan,
"Om Tedi...? Om...? Om?... Aku datang...." Seru Kenzi sambil membuka pintu dan langsung masuk ke rumah Tedi. Mendengar suara keributan yang tiba-tiba, Tedi pun keluar dari kamar dan menyambut Kenzi dengan senang. "Kenzi?."
"Sania? Kamu juga datang... Ha ha ha...."
"Apa kabar Pak Tedi?," tanya Sania dengan senyum ramahnya.
Mereka langsung bercengkerama dan melepas rindu setelah lama tidak berjumpa.
Di tengah-tengah perbincangan mereka, Tedi mengeluhkan jika ia sudah tua dan berencana akan pensiun, bahkan matanya saja sudah tidak bisa melihat dengan jelas.
Kemudian Kenzi bertanya tentang kasus penyelundupan manusia yang terjadi akhir-akhir ini dan mengatakan jika Arka sudah menyelamatkan seorang gadis yang menjadi korbannya. Ia menjelaskan jika kasus itu pasti ada sangkut pautnya dengan Jack.
Mendengar hal itu, Tedi berkata jika ia dari dulu sudah bicara pada Arka untuk tidak berurusan dengan orang-orang seperti Jack dan yang lainnya karena mereka itu hanya sekumpulan orang-orang yang hina dan selalu menghalalkan segala cara.
__ADS_1
"Hah... Anak itu terlalu bodoh untuk tetap setia pada orang seperti Remon, tidak lama lagi dia juga akan di jual oleh mereka," kata Tedi merasa khawatir dan putus asa.
"Om, walaupun Arka berada dalam lingkungan geng, tapi dia selalu bisa mencegah Jack untuk melakukan hal kejahatan," ucap Kenzi mencoba meyakinkan.
"Apa kamu pernah lihat baju di kolam pewarna yang tidak berubah warnanya? Arka harus mencontoh darimu, dia harus menerima hukuman undang-undang dan dia masih akan jadi pria baik-baik saat keluar, dan aku berpesan padamu agar kamu selalu berada di jalanmu dan jangan kembali ke dunia hitam itu."
"Aku mengerti Om, tapi...."
"Ah, sudahlah... Jangan membahas si brengsek itu lagi." Tedi merasa kesal saat harus membahas Arka yang tidak mau berubah sampai saat ini. Lalu dia menyadari jika Sania juga berada disana dan merasa tidak nyaman.
Kemudian Tedi mencoba menghangatkan suasana dengan meminta mereka untuk makan malam bersamanya. Juga Tedi mengatakan jika ia akan membuatkan makanannya sendiri dengan spesial karena mereka jarang berkunjung kesana.
Tedi meminta Sania untuk duduk manis saja sampai makanannya siap sedangkan Kenzi ikut ke dapur dan membantu Tedi memasak.
Sania duduk di kursi dan melihat Kenzi dan Tedi yang sedang asyik berbincang sambil memasak di dapur. Mereka berdua terlihat begitu akrab, saling berbagi cerita dan tawa. Sania merasa kehangatan itu menyentuh hatinya, meskipun di dalam hatinya masih terasa rasa cemas dan kekosongan.
Sambil duduk di meja, Sania terus melanjutkan pekerjaannya dalam memperbaiki baju yang robek milik Tedi. Jarum dan benangnya meluncur dengan hati-hati, sementara matanya terus memperhatikan interaksi hangat antara Kenzi dan Tedi.
"Pak Tedi, aku sudah menyelesaikan jahitan bajumu, apa aku bisa menemukan gunting?," tanya Sania. "Oh ya, ambillah saja di laci di meja di dekatmu itu." Sania pun berdiri hendak mengambilnya barang yang dia cari.
Saat membuka lacinya, ia menemukan kotak jam tangan juga isinya, hadiah ulang tahun yang dulu Arka berikan untuknya dan sempat hancur karena Tedi lempar saking kecewa saat mengetahui jika Arka, Kenzi dan Nino ikut bergabung dengan geng.
Namun, ternyata selama ini hadiah itu selalu Tedi simpan dan jaga baik-baik meskipun tidak pernah ia pakai. Sania merasa terharu dan tidak terasa air matanya telah menetes ke pipi.
"Pak Tedi... Aku mohon... Jangan menyerah pada Arka...."
Bersambung...
__ADS_1