
\*\*\*
Siang itu, Kenzi berjalan keluar dari gerbang penjara dengan tatapan bahagia dan penuh semangat. Setelah beberapa waktu yang sulit di dalam penjara, dia akhirnya mendapatkan kebebasannya kembali.
Ketika keluar dari penjara, Kenzi melihat Arka dan Nino sudah menunggunya di luar. Wajah mereka dipenuhi dengan senyuman dan kegembiraan. Mereka merasa lega dan bersyukur bahwa Kenzi akhirnya bebas.
Kenzi melangkah keluar dari gerbang penjara dengan tatapan bahagia dan langkah yang pasti. Dia menggenggam tas dengan erat dan mempercepat langkahnya saat dia melihat Arka dan Nino berdiri menunggunya di luar gerbang.
Ketika Kenzi semakin dekat, ia melemparkan tasnya ke tanah dan memeluk Arka dan Nino erat-erat. "Sudah selesai," katanya dengan suara gembira. "Sekarang aku bebas!."
"Yuhuuu! Kamu bebas Kenzi!," teriak Nino dan Arka.
Arka dan Nino tertawa bahagia, menyambutnya dengan hangat dan mengucapkan selamat padanya. Dalam keadaan yang penuh sukacita, Kenzi memeluk Arka dan Nino dengan erat. Dia merasa begitu bersyukur atas kehadiran mereka di sana dan rasa persahabatan yang begitu kuat di antara mereka.
Mereka berjalan perlahan menuju mobil yang telah diparkir di dekat gerbang penjara.
"Bagaimana di dalam sana?" tanya Nino.
Kenzi menggelengkan kepala dan tersenyum. "Sama seperti yang aku duga, tidak enak sama sekali, tapi sekarang semuanya berakhir dan aku bebas."
Mereka tiba di mobil dan Kenzi duduk di kursi belakang sementara Arka mengambil kemudi. Mereka berbicara dengan riang, tertawa, dan berbagi cerita tentang pengalaman mereka selama beberapa bulan terakhir.
Mereka memarkirkan mobil di pinggir danau lalu Arka membuka bagasi mobil dan mengeluarkan beberapa botol minuman yang telah mereka siapkan sebelumnya.
__ADS_1
Ketiga cogan itu duduk di sekitar meja yang tersedia di pinggir danau tersebut sambil memegang gelas mereka yang berisi minuman pilihan mereka sendiri, lalu mengangkat gelas mereka untuk merayakan kebebasan Kenzi dan minum bersama.
"Kenzi, jika kamu tidak menyuruh kami merahasiakan kebebasanmu, maka aku akan mengerahkan semua bawahan dan menyambutmu dengan suka cita," seru Nino.
Kemudian Nino bicara panjang lebar tentang mereka yang kini sudah mempunyai banyak cabang dan setara dengan Jack. Semua bar dan hotel di distrik wilayah Barat semuanya milik mereka, bahkan sekarang Jack pun tidak berani meremehkannya. Dan dia juga mengatakan jika Jack berani pada mereka maka dia yang akan lebih dulu menghajarnya.
Mereka bertiga pun tertawa lepas. "Selamat, akhirnya kalian membalas mereka," kata Kenzi. "Hei, apa maksudmu dengan 'kalian'? Ini 'kita'...," jawab Arka. "Arka benar Kenzi, kami sudah menunggumu selama ini, kita bertiga yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkan wilayah kita, semua orang juga tau itu, aku tidak akan membiarkan mereka berkomentar apapun," timpal Nino.
"Nino... Kamu sudah salah paham, bukan itu yang aku pedulikan ... Aku hanya ingin melanjutkan studi sekarang, lagipula pembebasan bersyaratku cepat di setuju karena aku di terima kuliah," jelas Kenzi.
Arka dan Nino pun merasa terkejut saat mendengar penuturan Kenzi dan tidak mempercayainya. Nino pun mengatakan jika untuk apa mafia kuliah, bukankah Kenzi sendiri yang dulu mengatakan jika mereka yang kuliah adalah sekumpulan orang-orang bodoh.
Kemudian Kenzi berkata, "Nino... Aku rasa sifat orang itu berubah."
"Hei, Kenzi...." seru Nino. "Nino...," timpal Arka, "Kenzi, aku mengerti kamu baru saja keluar, kamu tidak akan mudah menerima ini secepatnya, tidak apa-apa, pelan-pelan saja...," lanjut Arka sambil tersenyum.
Lalu Nino mengatakan jika mereka sudah lama tidak bertanding dan menantang siapa yang akan lebih jauh melempar botol bekas minumannya, maka dia pemenangnya. Mereka pun melakukannya dan terlihat tidak ada perbedaan yang jauh, di akhiri dengan gelak tawa canda mereka.
Ketika mereka tiba di depan rumah Arka, Kenzi turun dari mobil dan mengamati rumah yang dihuni oleh Arka dan Sania. Dia merasa lega melihat bahwa rumah itu tidak berubah meskipun dia telah absen selama beberapa tahun di penjara.
Kenzi menghela nafas dan melangkah, "Rumah ini nampak tidak berubah," katanya. "Ya, aku sudah berpikir untuk pindah dari tempat ini, tapi Sania selalu saja menolak dan lebih memilih tetap tinggal disini," jawab Arka dengan nada sedikit kecewa.
Kenzi pun bisa melihat kekecewaan Arka namun hanya bisa menatapnya dan tidak mengatakan apapun." Lupakanlah... Ayo kita bicara di rumah saja... Ha ha ha..., "seru Nino sambil merangkul mereka berdua.
__ADS_1
Mereka terus melangkah menuju pintu rumah dengan ocehan Nino yang terus nyerocos bagai kereta api yang tidak ada masinis nya. Arka mengikutinya dengan senyuman lebar di wajahnya. Mereka masuk ke dalam rumah, disambut dengan suasana yang akrab dan hangat.
Di dalam rumah, Sania dan Keyla telah menyiapkan hidangan istimewa untuk merayakan kebebasan Kenzi. Mereka menata rapi kursi dan meja makan yang berada di balkon, dan di penuhi dengan makanan lezat untuk mereka nikmati bersama.
"Keyla, lama sekali tidak bertemu," seru Kenzi saat melihat Keyla yang sibuk di meja. "Kenzi! Apa kabarmu?." Mereka pun berpelukan dan saling menyambut. "Kamu sama sekali tidak berubah dan masih saja bersikap dingin...," canda Keyla. "Kamu juga tidak berubah dan tetap cantik," jawab Kenzi. Mereka pun tertawa bersama.
Kemudian Sania tiba dengan satu mangkuk sup di tangannya lalu menghampiri Kenzi yang menatapnya penuh arti. "Sania...," seru Kenzi di balas senyuman hangat dari Sania lalu berkata, "Aku buatkan sup untukmu agar perutmu terasa hangat."
Kini mereka menikmati makanannya bersama dan semua orang senang saat melihat Kenzi makan dengan sangat lahap.
Namun, Kenzi hanya tersenyum dan mengatakan bahwa dia sangat lapar setelah berada di dalam sel selama beberapa waktu.
"Kenzi, kamu tidak akan minta tambah lagi kan...? Satu mangkuk sudah cukup kan?," canda Nino lalu mereka tertawa lagi. "Sudahlah, mari kita bersulang untuk Kenzi," ucap Keyla sambil mengangkat gelasnya lalu diikuti yang lain dan meneguknya bersama.
"Sudah lama aku tidak sebahagia ini," seru Arka sambil tersenyum. "Benar," jawab Kenzi. "Kalau begitu, hari ini kita akan minum sepuasnya, siapa yang pertama kali mabuk berarti dia kura-kura sejati... Ha ha ha," lanjut Nino. "Kamu memang tidak tau malu ya, biasanya kan kamu yang kalah duluan," timpal Keyla sambil mengacak-ngacak rambut Nino.
Kemudian Arka berdiri lalu berkata, "Kenzi, walaupun ini sudah lama, tapi aku harus mengatakannya padamu... Maafkan aku, seharusnya aku tidak bicara kasar padamu empat tahun yang lalu." Sikap Arka membuat semua orang disana terharu terutama Sania meskipun tersirat kekhawatiran di raut wajahnya.
" Arka, kita bersaudara... Kamu tidak perlu mengatakan itu," jawab Kenzi.
"Harus, karena aku selalu merasa bersalah selama ini ... Kenapa malam itu aku harus mabuk, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Sania dan Keyla... Untung saja kamu datang tepat waktu, jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada mereka," tutur Arka.
Semua orang disana kecuali Arka merasa tidak nyaman dengan perasaan mereka masing-masing tentang apa yang mereka sembunyikan dari Arka selama ini, yaitu kebenaran yang menimpa Sania malam itu.
__ADS_1
Untuk menghindari rasa canggungnya, kini giliran Sania yang kini ikut berdiri dan menawarkan bersulang bersama dan meminta mereka melupakan masalah masa lalu dan mengajak mereka bersenang-senang. Seakan mengerti lalu semua orang pun ikut berdiri dan bersulang kembali lalu minum sampai sepuasnya.
Bersambung...