
Setelah kejadian akhir-akhir ini, Nino berasumsi bahwa semua itu adalah ulahnya Jack dan anak buahnya. Nino memberi pendapat jika mereka lebih baik menemui Remon saja dan melaporkan kejadian ini padanya. Karena dia pikir, Remon sudah melarang Jack untuk mengganggu mereka tapi Jack masih saja melakukannya. Dengan begitu Remon akan bertindak untuk menghentikan Jack.
Namun Arka berpikir sebaliknya, jika mereka temui Remon maka hal itu akan membuat Jack semakin mempunyai alasan untuk balas dendam pada mereka. Lagi pula, Remon sangat menginginkan mereka bergabung dengan geng Elang, dia tidak ingin itu sampai terjadi.
"Kenapa kita tidak gabung saja dengan geng Elang? tidak ada salahnya bukan?," ucap Nino.
"Aku tidak ingin kita terjebak di dunia hitam, kalian tau sendiri bukan bagaimana orang-orang seperti mereka," jelas Arka.
"Benar Nino, kita harus mendengarkan kata Arka, mungkin dalam beberapa hari ini mereka tidak akan menggertak kita lagi, jadi bersabarlah," timpal Kenzi.
"Aku tidak mengerti, kenapa kita harus bertahan, kita tidak takut pada mereka... Lagi pula, mereka terus menggangguku bertubi-tubi... Entah kalian mengalami hal yang sama atau tidak, tapi aku sudah tidak bisa bertahan lagi!."
Setelah itu, Nino pergi dengan emosi. Bukannya Arka tidak ingin secepatnya menyelesaikan masalah ini, tapi dengan kondisinya yang masih belum stabil dia hawatir tidak bisa melawan mereka. Dia juga merasa jika mereka harus lebih mengetahui situasi dulu sebelum bertindak. Setelah beberapa saat, Arka pun berpikir jika mereka memang lebih baik menemui Remon saja.
~
Sambil berjalan menyusuri trotoar jalan yang cukup ramai... Nampak Sania dan Keyla sedang berbincang-bincang,
"Keyla, apa kamu tau rencana mereka belakangan ini?," tanya Sania nampak hawatir.
"Bagaimana aku tau jika kamu saja tidak mengetahuinya," jawab Keyla sambil menaikkan bahunya.
"Aneh sekali... Sebenarnya apa yang terjadi? Mereka menyuruh kita untuk pergi dari sana agar kita tidak mengetahui rencana mereka... aku akan bertanya saja pada Kenzi."
Keyla berpikir sejenak setelah mendengar kata-kata terakhir Sania lalu berkata, "Itu aneh... Aku pikir Kenzi orang yang aneh karena dia selalu jauh dari orang lain... bahkan, sejak aku bertemu dengannya, aku belum pernah bicara banyak, pernah sih... Tapi tidak lebih dari 20 kata hi hi...."
"Menurutku tidak seperti itu, Kenzi suka banyak bicara kok...," jawab Sania sambil menoleh ke arah Keyla, lalu dia melihat pengumuman lowongan pekerjaan di dinding kaca. Disana tertulis sedang di cari pekerja untuk pemain kibor piano.
Sania merasa tertarik dan mengatakan jika bermain kibor memang tidak sama dengan bermain piano, tapi jika dia belajar dengan sungguh-sungguh pasti dia akan mudah mempelajarinya. Tangannya terus bergerak seakan bermain piano mencerminkan betapa Sania sangat merindukan hobinya itu.
__ADS_1
"Sania, kamu jangan berpikir ingin melamar pekerjaan ini... Arka tidak akan mengizinkanmu bekerja," ucap Keyla.
"Tapi aku ingin mencobanya, ini kesempatan yang langka... Keyla ayo, kamu bantu aku, ya?."
Tanpa menunggu jawaban Keyla, Sania langsung mengajak gadis berstelan preman itu menunjukkan tempat tersebut. Dengan berat hati Keyla pun menyetujuinya walau dia tau Arka pasti akan marah besar karena sudah membawa Sania ke tempat mereka berada sekarang, yaitu sebuah tempat hiburan yang bernama Bar.
Kini, Sania sedang bernegosiasi dengan pemilik bar. Sania meminta di beri kesempatan untuk bekerja disana. Meskipun dia tidak terlalu mahir bermain kibor tapi kelihaian bermain piano Sania membuat pemilik bar tersebut terpukau dan menerima Sania bekerja di sana.
Saat ini Sania sedang di ajari teknik kibor, sedangkan Keyla menunggu di kursi tamu tidak jauh dari tempat Sania berlatih.
Tiba-tiba, Keyla mendapat panggilan dari Arka yang membuatnya panik. Di sebrang telpon Arka terdengar cemas saat menanyakan keberadaan Sania, raut wajah Keyla pun semakin tegang saat Arka marah karena Keyla telah membawa Sania ke bar.
Setelah bicara dengan Arka lewat telpon, Keyla merasa sangat gelisah. Akhirnya dia memutuskan mengajak Sania untuk segera pulang dari sana, dia tidak mau Arka sampai marah besar padanya.
"Sania, ayo kita pulang," ajak Keyla.
"Keyla... Aku masih berlatih sebentar lagi, ya?."
Di saat Sania hendak berpamitan dan berjabat tangan dengan pemilik bar sebagai ucapan selamat, tiba-tiba Arka datang menjemputnya seraya berteriak, "Jangan menyentuhnya!."
Sania dan Keyla di buat terkejut oleh teriakan Arka yang langsung memburu pemilik bar dan memperingatinya agar tidak menyentuh Sania lagi.
"Arka... Aku baru saja akan pulang," ucap Sania.
"Ayo pulang denganku!," jawab Arka. Sania merasa tidak nyaman saat Arka tiba-tiba datang dan membuat keributan.
"Kamu siapa?," tanya pemilik bar yang masih terkejut dengan kedatangan Arka yang juga langsung melabraknya.
"Aku peringatkan padamu, jika sekali lagi menyentuh tangannya! Aku akan mematahkan tanganmu!."
__ADS_1
"Arka! Maafkan aku Pak... Arka dengan begini kamu telah menghilangkan pekerjaanku!," teriak Sania.
"Baguslah, kamu tidak perlu pekerjaan ini! Dan jangan membujukku! Kamu tidak boleh bekerja di tempat seperti ini!."
"Memangnya kenapa? Ini Band yang sopan dan aku hanya bermain piano saja!."
Arka memegang kedua pundak Sania dan menatap kedua matanya yang sudah terlihat emosi,
"Dengarkan aku Sania, semua orang yang datang kesini bermacam-macam karakter, seperti pria ini! yang melecehkanmu di siang hari padahal kamu sudah mempunyai pacar," kata Arka sambil menunjuk pemilik bar.
"Kamu yang tidak mengerti perasaanku! Aku kecewa padamu!," emosi Sania sambil mendorong Arka lalu berlari pergi.
Keyla mencoba memanggil dan menyusul Sania, namun di hentikan Arka yang langsung memarahinya karena sudah membawa Sania ke tempat itu.
"Keyla! kamu sudah tau tempat seperti apa ini, kenapa kamu membawa Sania yang polos dan tidak tau apa-apa!."
"Entah bagaimana aku harus mengatakannya! Yang aku tahu, Sania hanya ingin bermain piano, itu saja!," jawab Keyla dan langsung pergi menyusul Sania.
Arka merasa semakin kesal dan frustasi ketika Sania tidak mendengar perkataannya atau memahami perasaannya. Ia merasa butuh waktu untuk merenung dan mendinginkan hatinya, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang sepi dan tenang.
Arka memilih sebuah danau yang indah dan tenang sebagai tempat untuk menenangkan dirinya. Ia duduk memandang air yang mengalir dan merasakan angin yang menyegarkan.
Arka membiarkan dirinya merenung dan berpikir bagaimana cara agar bisa selalu melindungi Sania kapan dan dimanapun.
Namun, Arka menyadari bahwa sebenarnya ia juga salah dalam pertengkaran barusan dan harus belajar untuk lebih sabar dan memahami Sania.
Setelah beberapa waktu, Arka merasa lebih tenang dan mampu berpikir dengan lebih jernih. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah dan bicara baik-baik dengan Sania.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Bersambung...
Tunggu episode selanjutnya ya... π€