Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 69


__ADS_3

\*\*\*


Di kediaman Remon berada...


Tedi yang ikut dalam misi penyergapan di rumah Remon, dengan sigap masuk ke ruang kerja Remon yang ada di dalam rumah. Dia melakukan pencarian dengan hati-hati, mencari bukti-bukti yang dapat membongkar kejahatan yang dilakukan Remon.


"Catatan keuangan...," batin Tedi.


Saat Tedi melihat meja kerja Remon, matanya tertuju pada sebuah buku keuangan yang tergeletak di atasnya. Dia segera menyadari bahwa buku tersebut bisa menjadi kunci untuk mengungkap kejahatan yang dilakukan oleh Remon.


Tedi mengambil buku keuangan tersebut dan mulai memeriksanya. Dia melihat bahwa catatan-catatan di dalamnya sangat rinci dan terperinci, mencakup berbagai transaksi keuangan yang terjadi.


Ada beberapa entri yang mencurigakan, menunjukkan adanya transfer uang yang tidak jelas dan penyalahgunaan keuangan.


Di sana tercatat nama Arka dan Nino sebagai orang yang ikut ambil alih bisnis-bisnis ilegal itu.


"Ini aneh... Kenapa dokumen sepenting ini di simpan di tempat terbuka?," gumam Tedi.


Merasa ada sesuatu yang mencurigakan, Tedi berinisiatif menyimpan buku catatan itu sendiri karena ia merasa khawatir semua ini ada rencana menjebak Arka dan Nino. Oleh karena itu, saat petugas yang lain bertanya, Tedi hanya mengatakan jika ia tidak menemukan apapun.


Sementara, Arka dan Nino mengawasi kediaman Remon dari kejauhan. "Waah... Mereka bergerak cepat, bahkan sudah sampai kesana," seru Nino.


"Rasanya ada yang tidak beres... Di saat bos Remon akan menyelesaikan permasalahannya dengan Jack, polisi tiba-tiba melakukan penyergapan... Bahkan mereka tau setiap tempat yang sering di kunjungi bos Remon," tutur Arka.


"Keterlaluan si Jack dia bahkan menjual bos nya sendiri... Apa dia tidak takut jika Tuhan menghukumnya?," emosi Nino. Tiba-tiba ponsel Arka berdering dan menerima panggilan dari Remon.


Remon bicara sesaat tentang kabar dan keberadaannya sekarang. Dan berencana melakukan penyelamatan dari tuduhan yang di lakukan si Jack terhadapnya. Kemudian Arka dan Nino pun menuju tempat yang Remon katakan.


Beralih ke rumah Arka dan Sania, terlihat Keyla yang sedang mondar mandir dengan pikiran yang memenuhi otaknya sambil menunggu kedatangan Sania yang tidak ada di rumah.


Beberapa saat kemudian, Sania pun tiba dan langsung di hampiri Keyla dengan tergesa-gesa dan was-was. "Sania... Apa Arka pergi?," tanyanya. "Iya... Dan aku memberikan semua uangku padanya," jawab Sania.


"Aku merasa kagum pada Arka, padahal seluruh polisi sedang mencari keberadaan bos Remon, tapi dia masih melibatkan dirinya... Dia memang yang paling setia di antara seluruh geng Elang," seru Keyla.


Kemudian Sania berkata, jika Arka tidak akan membiarkan temannya kesusahan apalagi orang yang sudah menjadi kerabatnya. Keyla segera menjawab jika bukan hanya teman dan kerabat saja yang suka Arka tolong tapi terhadap semua orang juga.


Mendengar hal itu, Sania merasa heran dan menatapnya seolah minta penjelasan yang lebih detail. "Ada apa Keyla?," tanya Sania.

__ADS_1


"Oh, tidak apa-apa, aku hanya mengoceh ... Sania, bagaimana hubunganmu dengan Arka, apakah sudah baikan?." Sania menggelengkan kepalanya dan berkata jika dua hari yang lalu Arka marah kepadanya karena Kenzi mengantarnya pergi menemui Tedi.


"Benarkah? Apa dia merasa cemburu?," tanya Keyla lagi. "Bukan... Dia hanya merasa tidak suka karena aku sering bicara dengan Kenzi dan tertawa bersama, tapi aku hanya mengabaikannya dan tidak peduli," jawab Sania.


Lalu Keyla mengomeli Sania tentang dirinya yang tidak memperdulikan Arka. Keyla mengingatkan Sania bahwa semua orang pun tau jika mereka berdua saling mencintai.


" Sania... Aku benar-benar tidak paham pada kalian... Di saat kalian mendekat kalian seperti landak yang akan saling menusukan duri satu sama lain... Sania, aku rasa keluhan Arka itu sudah tepat... Lebih baik kamu akur saja dengannya."


"Aku juga ingin begitu... Tapi aku tidak tau bagaimana cara menghadapinya...."


"Mudah saja, kamu kembali lagi seperti dahulu... Berbicara tentang bunga dan tanaman... Juga bermain piano lagi, bahkan aku bersedia mengantarmu meluruskan rambutmu lagi sekarang juga."


"Keyla... Kenapa sikapmu aneh sekali hari ini? Apa ada sesuatu yang terjadi?."


Keyla mengalihkan pandangannya dan menghindari sorot mata Sania. Ia berusaha mengelak bahwa sama sekali tidak terjadi hal yang serius, lalu ia berpura-pura ingin pergi ke toilet demi menghindari berkata bohong pada Sania.


"Ada apa dengan Keyla?," batin Sania.


Saat malam tiba, Arka berada di tempat Remon akan melarikan diri dari kejaran polisi, yaitu di sebuah dermaga yang akan mengantarkannya ke tempat persembunyian.


Remon berterima kasih pada Arka karena kesetiaannya. Dia mengatakan jika selama ini dia sudah banyak menyaksikan penghianatan yang terjadi di kalangan mafia, tapi baru kali ini dia melihat seseorang yang setia kawan seperti Arka.


Setelah beberapa saat, Remon pun pergi di temani beberapa anak buahnya yang masih setia, setelah sebelumnya ia memberikan tanggung jawab mengurus geng Elang pada Arka selama kepergiannya.


"Aku tinggalkan geng Elang padamu!," pesan Remon saat perahu yang ia tumpangi perlahan melaju.


~


Keesokan paginya...


Nampak Sania sedang duduk memandangi lukisan piano yang dulu Arka buatkan untuknya sambil mengingat pesan yang Keyla dan Kenzi katakan padanya.


[Aku rasa keluhan Arka memang benar, dan kamu harus akur dengannya...] Keyla.


[Jadilah dirimu sendiri di hadapan Arka, jangan sampai masa lalu menghalangi hubunganmu dengan Arka...] Kenzi.


Sania berpikir sejenak lalu berkata, "Mungkin aku harus mendengarkan yang mereka katakan." Sania pun tersenyum dan beranjak mengambil peralatan melukis.

__ADS_1


Sania mulai mewarnai not not piano yang sudah terlihat mulai pudar. Ia mewarnai dinding itu dengan bahagia sampai waktu Arka tiba di rumah mereka.


" Arka, kamu sudah pulang?," tanya Sania dengan senyum sumringahnya. Arka pun mengangguk dan ikut tersenyum saat melihat Sania menyambutnya dengan senyuman hangat.


Lalu Arka menghampiri Sania. "Apa yang sedang kamu lakukan?," tanyanya. "Lihatlah... Sudah lama sekali semenjak aku melihat dan memainkan piano ini, dan sekarang warnanya sudah mulai memudar," tutur Sania dengan raut wajah yang terlihat sedikit sedih. "Aku sedang tidak sibuk, jadi ingin mewarnainya kembali," lanjut Sania dengan semangat.


"Kamu sudah lama tidak bermain piano."


"Apa kamu mau mendengarkan aku bermain lagi?." Arka pun tersenyum dan mengangguk. Matanya berbinar dan merasa bersemangat.


"Baiklah... Tapi sebelum bermain, kamu jangan berisik, jangan merokok dan jangan jalan-jalan... Mengerti?."


"Baiklah, Bu guru... Aku mengerti," jawab Arka sambil tersenyum.


Sania duduk di depan dinding yang terdapat gambar piano dengan penuh penghayatan. Jarinya menyentuh "tuts" imajiner, seolah-olah memainkan melodi indah yang terdengar dalam benaknya.


Ekspresinya penuh konsentrasi dan kegembiraan, karena piano adalah salah satu cinta pertamanya.


Sementara itu, Arka duduk di sebelah Sania, mendengarkan suara imajiner dari piano yang Sania mainkan dengan begitu penuh penghayatan.


Dia tidak bisa menahan senyum yang terukir di wajahnya saat mengamati Sania. Hatinya terpenuhi oleh kebahagiaan melihat Sania menyalurkan bakatnya dengan semangat dan keceriaan.


Mereka terus melanjutkan momen itu, Sania dengan penuh semangat bermain "piano" di dinding, dan Arka yang dengan penuh perhatian mendengarkan setiap nadanya.


Setiap melodi yang Sania mainkan membawa mereka kembali ke masa lalu, di mana mereka berbagi kegembiraan dan cinta bersama.


Walaupun hanya bermain piano secara imajiner, Sania dan Arka merasakan kehadiran piano itu seperti nyata di antara mereka. Mereka terhubung dengan keindahan musik yang mengalun di sekitar mereka, membangkitkan kenangan manis dan emosi yang terpendam.


Dalam momen itu, Sania dan Arka merasakan kembali kebersamaan mereka yang dulu. Mereka melupakan semua permasalahan dan konflik yang terjadi, dan hanya menikmati momen itu dengan sepenuh hati.


Hati mereka penuh dengan kehangatan dan kebahagiaan, mengingat betapa berarti dan indahnya masa lalu mereka bersama.


Seiring melodi terakhir yang dimainkan oleh Sania, Arka bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Sania dengan langkah perlahan.


Arka berdiri di belakang Sania, memeluknya dengan lembut, dan mengucapkan terima kasih atas momen yang indah ini.


"Aku sangat menyukaimu yang seperti ini, tetaplah jadi Sania ku...," tutur Arka sembari terus memeluk Sania.

__ADS_1


Dan pagi itu, mereka akhirnya bersatu kembali dalam kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara. Hingga kini, ruangan itu di penuhi suara-suara meresahkan dari Sania dan Arka yang membuat bulu di seluruh tubuh meremang.🤭🤭😜🙉🙊


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


__ADS_2