
\*\*\*
Lanjut...
Pergi keluar untuk mencari makanan ternyata Keyla jadikan kesempatan untuk menemui Kenzi di kampus. Ia berkeliling mencari keberadaan laki-laki yang sudah menjadi teman dekatnya sekarang.
Saat Keyla celingukan, Kenzi yang sedang berjalan di halaman kampus lalu melihatnya dan memanggilnya. "Keyla!."
Keyla pun menoleh. "Akhirnya aku menemukanmu," sahutnya. Dan mereka pun duduk berbincang di kursi taman.
Setelah beberapa saat mengobrol, "Apa kamu yakin? Aku tidak percaya jika Arka melakukan hal semacam itu," ucap Kenzi. "Aku juga tidak percaya, tapi kata Nino Arka bersikap aneh, juga ekspresi Santi yang membuktikan jika mereka sudah ke arah sana," tutur Keyla.
Kenzi nampak tidak percaya sama sekali, karena dia yakin jika Arka hanya mencintai Sania. Kemudian Keyla mencoba terus meyakinkan Kenzi jika semua itu mungkin terjadi saat ini, mengingat hubungan Arka dan Sania sedang tidak baik-baik saja.
"Dengarkan aku Kenzi, jika itu dulu maka akan mustahil terjadi, tapi karena masalah yang muncul belakangan ini tentu bisa saja terjadi... masalah mereka belum selesai taoi kini di tambah kesalah pahaman baru."
Kenzi nampak berpikir keras mengenai hal itu, namun ia belum berkata dan memberikan pendapatnya.
"Mungkin karena Jack membeberkan rahasia Sania, Arka jadi kehilangan akal sehatnya sementara sehingga dia berkhianat dengan Santi," lanjut Keyla.
Kemudian Kenzi berpikir apakah Sania tidak cukup menyedihkan selama ini. Lalu ia bertanya pada Keyla apakah Sania sudah mengetahui hal itu tapi Keyla mengatakan jika ia belum memberitahunya karena merasa khawatir dan meminta Kenzi untuk merahasiakannya dari Sania.
"Kenzi, jikalau Sania tau, aku ingin kamu selalu bersamanya untuk menguatkan dirinya, itu sebabnya aku datang kemari...."
"Baiklah."
"Kalau begitu, aku pergi dulu, aku harus kembali untuk mengawasi kupu-kupu kecil aneh itu!," ucap Keyla kesal.
"Pergilah." Kenzi nampak meremas buku yang sedang dia pegang. Ia nampak menyesali sesuatu dan marah atas hal yang menimpa Sania.
Kini, Kenzi meliburkan jam kuliahnya dan menemui Sania di rumah. Lalu Kenzi mengajak Sania berjalan-jalan di toko buku dan terlihat Sania sangat menikmati waktu di dalam sana.
"Waw... Kamu membeli buku banyak sekali?," tanya Sania.
"Aku tidak punya pilihan lain karena profesor yang menyuruh," jawab Kenzi. "Sania, akhir-akhir ini aku sering merasa stres, apa kamu bisa mencarikan buku rekomendasi untuk menghilangkan stres?."
"Kamu bertanya pada orang yang salah, jika buku semacam itu ada... Maka aku sudah membacanya sebanyak seribu kali," jawab Sania spontan.
Setelah menghabiskan beberapa jam di toko buku, mereka pun keluar dari sana dan duduk santai di meja taman sambil menikmati es krim dengan rasa favorit mereka masing-masing.
__ADS_1
"Kenzi, aku ingin bertanya sesuatu padamu, apa kamu tau gadis yang tinggal di rumah Arka yang lama?."
Kenzi merasa terkejut atas pertanyaan Sania yang ternyata sudah mengetahui keberadaan Santi. Melihat Kenzi yang hanya terdiam menatapnya, Sania pun mengira jika Kenzi juga menyembunyikan hal itu darinya.
"Kenzi, siapa dia? Dan kenapa dia tinggal disana? Katakanlah sejujurnya...." Sania sangat berharap jika Kenzi akan memberitahunya. Tapi Kenzi hanya berkata, "Apapun yang ingin kamu tau, tanyakan langsung pada Arka, dia yang bisa memberitahu jawabannya."
Saat malam tiba, nampak Keyla masih setia menemani Santi di rumah lama Arka. Ia fokus melihat-lihat majalah tapi sesekali melihat Santi yang terus menoleh ke arah pintu dan mengharapkan kedatangan Arka.
"Apa yang kamu lihat? Apa ada seseorang di luar?," tanya Keyla ketus. "Tidak ada," jawab Santi.
Keyla menyuruh Santi untuk segera menghabiskan makanannya agar cepat pergi beristirahat dan segera pulih jadi Santi bisa cepat pulang ke kampung halamannya.
Meskipun mendapat sikap ketus dari Keyla, Santi masih terus mencoba bicara dengannya. "Keyla, apa Sania berambut panjang?."
"Ya," jawab Keyla singkat dan terus sibuk dengan majalahnya.
"Apakah rambutnya lurus?."
"Tidak, rambutnya bergelombang... Hei! Kenapa kamu bertanya tentang Sania?."
"Tidak ada, hanya saja... Sepertinya tadi siang dia kesini, dan aku lihat dia nampak sudah dewasa."
Mendengar hal itu, Keyla merasa kesal karena berpikir jika Santi merasa lebih muda ketimbang Sania. Lalu ia menegaskan jika kecantikan Sania tidak bisa terkalahkan oleh siapapun sejak masih muda bahkan sampai saat ini.
Juga ia berpenampilan seperti itu agar tidak terlihat lemah, jadi bilamana ada yang mengganggunya paling tidak dia bisa membela dirinya dan tidak selalu mengandalkan orang lain.
"Tidak setiap wanita bisa memenuhi syarat untuk mendampingi Arka, kau mengerti?," ucap Keyla menegaskan.
Tidak sampai saat itu, Santi masih berani bertanya, "Tapi... Apakah Arka menyukai setiap perubahan yang terjadi pada Sania?."
"Kamu ini kenapa? Jangan terus menerus menyebut soal Arka, lebih baik cepat habiskan makanmu dan cepat tidur!."
...
Kini, Sania nampak duduk termenung di kursi balkon rumahnya dan teringat perkataan Kenzi. "Apapun yang ingin kamu tau, tanyakan langsung pada Arka, dia yang bisa memberitahu jawabannya."
Ia mencoba mencerna semua hal yang ia baru ketahui samar-samar. Lalu ia mengambil sebatang rokok dan mencoba menghirupnya tapi langsung terbatuk karena tidak terbiasa.
Secara kebetulan, Arka yang baru tiba di rumah melihat Sania dengan rokok di tangannya. Ia segera menghampiri kekasihnya itu lalu menegurnya. "Bukankah kamu tidak menyukai asap rokok?," tanya Arka lalu membuang rokok yang Sania pegang.
__ADS_1
Sania hanya bersikap dingin dan tidak merespon secara berlebihan, hingga ia berkata, "Apa ada hal yang ingin kamu sampaikan padaku?," tanya Sania tanpa melihat netra Arka.
"Hal apa yang harus aku katakan padamu?." Arka balik bertanya dan menatap Sania yang menghindari pandangannya.
"Selama kamu tidak menghindariku, aku akan mendengarkan apapun yang kamu bicarakan ... Tentang aku, kamu, juga tentang dia."
Teg!
Seketika ekspresi keterkejutan Arka nampak jelas di wajahnya. "Ternyata kamu sudah mengetahui tentangnya, siapa yang sudah memberitahumu?."
Sania menatap Arka dan berdiri. "Apakah itu penting? Saat kamu bersedia meninggalkan geng demi dia, semua orang sudah mengetahuinya... Apa aku harus tanya orang lain?... Jika ada kesalahan pahaman, kamu bisa menjelaskannya sekarang."
Mendengar perkataan Sania, Arka benar-benar bingung dan tidak tau harus berkata apa.
"Katakan... Katakanlah Arka... Apapun itu... Selama kamu mengatakannya, aku akan mempercayaimu...," batin Sania yang sudah mencoba menahan perasaan sedihnya.
Lalu Arka menatap Sania dengan tatapan penuh ragu dan berkata, "Tidak ada yang harus aku katakan padamu."
Jedag!
Hati Sania terasa hancur luluh lantah, air mata yang sudah tidak bisa di bendung lagi kini mengalir deras membasahi pipinya.
"Apa itu jawabanmu? Kamu tidak bisa bicara sedikitpun padaku? Apakah dia... Sekuat itu? Dia bisa memenuhi keinginan yang aku do'akan selama bertahun-tahun...," tutur Sania sambil tidak berhenti mengusap air matanya.
"Aku tidak tau, apa aku harus senang atau sedih...
Kamu bersedia meninggalkan geng Elang demi dia...
Lalu bagaimana dengan semua usaha dan pengorbananku selama bertahun-tahun? Hiks hiks...." ππ€§π€§π€§
"Cukup!... Bisakah kamu tidak mengungkit masa lalu? Aku tahu semua ini salahku...," ucap Arka sambil menahan lukanya. "Kamu sudah banyak berkorban untukku, tapi aku tidak pernah bertanggung jawab melindungimu...
Ini semua salahku! Dan kamu bisa berteriak padaku... Jangan bertele-tele jika ingin menyalahkanku...!," kata Arka sambil menunduk karena tidak berani menatap mata Sania. π£
Sania nampak tidak percaya dengan respon Arka saat ini, dia hanya diam merasa tidak percaya dan berurai air mata. Lalu Arka mengangkat wajahnya dan sangat terluka saat melihat Sania yang terus menangis.
"Aku mohon, jangan salahkan aku dengan air matamu... π£ Aku merasa sudah cukup membuatmu menangis, sudah cukup!."
Seperti biasa, Arka meninggalkan Sania yang berdiri mematung melihat kepergiannya. Kali ini Sania sudah merasa sangat lelah dan hanya terus menangis.
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Bersambung...