
Lanjut...
Sania membelakangi Arka dan membuka bajunya perlahan sehingga punggungnya terbuka, kemudian Sania menyingkapkan rambut panjangnya yang hitam hingga nampak sebuah tato yang bergambar hati ❤️ bertuliskan A-R-K-A.
Seketika Arka merasa terperangah saat melihat tato di punggung Sania yang bertuliskan namanya. Ia merasa campur aduk karena tidak menyangka bahwa Sania mempunyai tato yang begitu berarti baginya.
Arka teringat waktu yang telah berlalu. Mereka sering kali membicarakan mengenai tato. Sania selalu mengatakan bahwa ia tidak suka tato dan tidak akan pernah membuat satu untuk dirinya sendiri.
Namun, Seketika Arka melihat tato di punggung Sania yang bertuliskan namanya membuatnya berpikir bahwa mungkin Sania melakukan hal tersebut sebagai bukti jika dia mencintainya.
Setelah beberapa saat, mereka duduk berhadapan dan berbincang. Arka menceritakan kejadian semalam bahwa dia dan Remon sedang bernegosiasi dengan geng lain namun mendapat sergapan yang tiba-tiba dari musuh sehingga pertikaian berdarah pun tidak terhindarkan. Banyak dari anggota geng Elang yang gugur karena serangan dadakan itu hingga membuat Arka terlihat emosi.
"Apakah kamu tau Sania, di saat aku terpojok... Aku hanya memikirkanmu, bagaimana jika aku terbunuh saat itu... Maka aku tidak akan bisa melihatmu lagi dan aku takut mereka akan membalas dendam padamu... Oleh karena itu, aku terus berjuang melawan mereka karena yang aku pikirkan adalah harus tetap hidup agar bisa melindungimu."
Arka terlihat menunduk menahan air matanya dan Sania pun ikut terharu, "Arka...."
"Aku pikir, jika aku mendapat posisi di dunia hitam ini, aku akan tetap bisa melindungimu... Tapi, aku sangat berkecamuk, karena aku telah menyakiti orang-orang yang aku cintai." Arka menatap Sania dengan sedih dan menitikan air matanya lalu segera ia hapus. "Semalam, saat aku melihat kesedihan om Tedi aku merasa itu lebih menyakitkan dari pada aku harus mati!."
Bruukkk!
Arka memukulkan tangannya ke kursi karena emosi sehingga membuat Sania terkejut dan segera melihat keadaan tangan Arka karena hawatir terluka. Namun, yang lebih membuat Sania hawatir ketika ia melihat luka di dada Arka yang cukup besar akibat perkelahian semalam.
"Arka, kamu terluka lagi?," tanya Sania sambil meraba dadanya yang terbalut perban, "Aku akan ambilkan obat untukmu," lanjut Sania sambil beranjak namun Arka menghentikan langkahnya dengan memegang tangan Sania.
"Tidak perlu."
"Tapi apa kamu merasa sakit?."
"Sekarang tidak lagi." Arka menatap Sania lekat, "Sania... Maafkan aku, seharusnya aku tidak marah padamu... Entah apa yang merasukiku, Aku takut kehilanganmu."
Sania membelai tangan Arka dan berkata, "Aku tidak akan meninggalkanmu, bahkan jika aku mau... Aku tidak akan melakukannya."
"Benarkah?," Arka meyakinkan dan di balas anggukan Sania. Arka merasa tenang dan menarik nafasnya dalam-dalam.
__ADS_1
"Apakah aku bisa melihat tato di punggungmu sekali lagi?."
Kemudian Sania berbalik dan kembali membuka bajunya, Arka nampak senang dan terharu melihat tato tersebut lalu membelainya. Kemudian Arka mendekatkan bibirnya dan mengecup punggung Sania sehingga membuat Sania merasa berdebar saat merasakan sentuhan Arka.
Arka mencium punggung Sania dengan cukup lama sehingga membuat nafas Arka menderu, lalu memutar badan Sania secara perlahan sehingga menghadap padanya. Kini mereka berada di jarak yang begitu dekat dan saling memandang.
Arka membelai lembut wajah Sania lalu semakin mendekatkan wajahnya. Arka ingin sekali mencium bibir Sania yang masih suci itu, namun ia merasa tidak yakin apakah dia harus melakukannya atau tidak.
Arka merasa sangat ragu karena dia tidak mau merusak gadis yang sangat dia cintai sebelum menikahinya. Sehingga saat bibir mereka hampir menempel, Arka melengos hingga kini kepalanya hanya bersandar di bahu Sania dengan nafas yang tersengal-sengal.
Sania yang juga merasa berdebar-debar mencoba menenangkan Arka dengan mengelus punggungnya, berharap dengan begitu Arka bisa lebih tenang. Kemudian Arka mengangkat kepalanya hingga dan menatap Sania kembali.
"Sania, aku mencintaimu... Aku sangat mencintaimu."
Sania tersenyum dan menjawab, "Aku juga sangat mencintaimu, Arka."
Kali ini Arka mendapat keberanian hingga akhirnya kedua benda kenyal milik Arka dan Sania kini menempel dan saling menyecap, saat itulah ciuman pertama antara kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu kesampaian.
Sementara Arka dan Sania sedang menikmati kebersamaan mereka, Kenzi sedang terbaring di kursi di dekat danau sambil menatap birunya langit. Ia merasa tidak percaya atas perasaannya yang telah menyukai kekasih dari sahabatnya.
Kini... Arka sedang duduk termenung di taman dekat rumahnya mengingat perkataan Remon yang akan memberinya pangkat yang lebih tinggi dan kekuasaan yang lebih besar.
Remon mengatakan akan mengadakan pesta yang meriah untuk keberhasilan Arka dan gengnya. Pesta itu akan di laksanakan di hotel rekan mafia mereka dan Arka lah yang akan jadi bintang di pesta itu.
Nampak Arka berpikir keras mengingat hal itu, beberapa pertanyaan mengganjal di hatinya hingga raut wajahnya nampak serius, namun seketika berubah saat Sania menghampiri dan memanggilnya.
"Bagaimana Sania, apakah om Tedi mau menemuiku?."
"Tadi dia menemuiku, tapi aku tidak memberitahunya kalau kamu ada disini...."
"Kamu memang benar, om Tedi pasti tidak ingin menemuiku, dai pasti sangat kecewa padaku," tutur Arka dengan nada sedih.
"Tenang saja Arka, selama kamu mau bersungguh-sungguh minta maaf padanya, pasti Pak Tedi akan memaafkanmu... Kamu dan Pak Tedi sudah seperti ayah dan anak, masalah diantara kalian tidak akan lama."
__ADS_1
"Semoga begitu."
Saat Arka dan Sania berbincang, terlihat Tedi berjalan melewati taman tempat mereka berada. Arka yang melihatnya segera memanggil dan menghampiri lelaki yang sudah merawatnya selama ini.
Namun, saat Tedi melihat Arka, dia langsung berbalik arah dan menghindari Arka lalu berhenti sejenak saat Arka memanggilnya kembali. Pemandangan yang sangat menyedihkan saat Arka tidak di hiraukan sama sekali oleh Tedi karena rasa kecewa yang sangat besar.
"Sania, aku pamit dulu...," kata Tedi, melewati pandangan Arka yang ada di hadapannya.
"Pak Tedi, bisakah anda memberi Arka satu kesempatan lagi?," tanya Sania.
"Maafkan aku, aku tidak mengenal dia."
Mendengar perkataan Tedi, Arka langsung berlutut di hadapannya dan memohon maaf sehingga membuat Sania tercengang.
Arka terus memohon dan meminta maaf namun Tedi hanya berkata jika itu semua tidak perlu.
Lantas Tedi mengatakan jika dialah yang sudah bersalah karena sudah membesarkan Arka selama 12 tahun hanya untuk menjadi seorang gengster. Karena hal itu adalah skandal yang sangat besar bagi polisi.
Tedi sangat merasa bersalah saat kepolisian tidak menghukum ataupun memecatnya atas semua ini.
Arka menitikan air matanya dan terus memohon agar Tedi mau memaafkannya, namun harapannya sia-sia saat Tedi berkata,
"Sekarang apa? Kamu masih mau berhubungan denganku? Tidak mungkin, karena aku tidak punya nyali bergaul dengan seorang gengster sepertimu."
"Om... Tolong jangan katakan itu, setelah selama ini kamu merawatku, aku sangat menyayangimu sampai kapan dan dimanapun aku berada, aku tidak akan melupakanmu."
"Sia-sia! Semua itu sia-sia...! Jika kamu masih tinggal di dunia hitam dan tidak berhenti menjadi seorang gengster, maka aku akan menghapusmu dari ingatanku, ingat itu! Aku seorang polisi, dan kau seorang preman! kapan saja aku bisa menangkapmu!."
Tedi kemudian pergi dengan rasa sedih dan kecewanya, Arka terus memanggil Tedi sambil berjalan merangkak namun tidak di hiraukan sama sekali. Sania mengikuti Arka dan hanya bisa menangis sambil berlutut memeluk Arka.
💔
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
__ADS_1
Bersambung...