Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 38


__ADS_3

Kini, Arka berada di taman dan berbincang dengan Kenzi. Arka mengatakan jika dia tidak akan membelikan piano untuk Sania karena Sania tidak menginginkannya. Dan Arka berkata jika saat ini Sania akan merasa sensitif jika membahas tentang piano.


Arka kemudian meminta Kenzi untuk membujuknya agar tidak marah lagi, karena Arka merasa Sania sudah tidak ingin memaafkannya dan biasanya Kenzi ahli dalam membujuk Sania.


Namun, Kenzi memberi saran pada Arka, jika lebih baik Arka membawa Sania berjalan-jalan ke toko bunga dan membelinya beberapa karena Sania sangat suka sekali dengan tanaman.


Mendengar hal itu, Arka pun tersenyum sehingga membuat Kenzi heran dan menanyakan alasannya. Arka hanya menjawab, jika selama ini, dia yang tinggal bersama Sania setiap hari tapi tidak mengetahui apa yang di sukai dan tidak di sukai Sania, tapi Kenzi, dia tau segalanya.


Sania sedang berjalan-jalan di sekitar rumah dengan pikirannya yang semeraut lalu bertemu dengan Tedi yang sengaja datang karena ingin mengunjungi Arka.


"Pak Tedi...!." Sania segera menghampiri Tedi dengan senang dan menyapanya, "Hari ini anda libur dan menemui kami?."


"Iya, aku sengaja meluangkan waktuku untuk bertemu dengan Arka, bagaimana kabar anak berandal itu?."


"Pak Tedi, anda sudah salah menilai... Arka orang yang baik, sekarang dia sudah mendapat pekerjaan di perusahaan besar, dia bekerja sebagai keamanan dan sekarang dia sedang dalam masa pelatihan," jelas Sania.


"Perusahaan keamanan? Ya, baguslah... Yang dia tau hanya berkelahi jadi dia bisa menggunakannya untuk bekerja ha ha ha...."


Sania hanya bisa tersenyum namun dalam hatinya dia merasa tidak enak hati karena sudah tidak berkata jujur tentang Arka.


"Aku merasa sangat tenang sekarang, setidaknya dia mempunyai dirimu yang bisa membuatnya menjadi orang yang lebih baik."


"Pak Tedi aku...~."


"Ha ha, sudahlah... Aku tidak akan ikut campur urusan pribadi anak muda seperti kalian, asal kalian bisa bahagia... Ini, aku bawakan sesuatu yang tidak terlalu berguna untukku."


Tedi memberikan sebuah kotak hadiah yang sengaja dia bawa, ukurannya cukup besar dan di bungkus kertas kado yang berwarna pink. Setelah itu, Tedi pamit untuk pulang dan melambaikan tangannya. Sania hanya menatap sedih hadiah yang dia terima itu, lalu melihat kepergian Tedi dengan rasa penyesalan karena sudah mengelabuinya.


Di rumah... Sania membuka kotak hadiah pemberian Tedi itu dan semakin merasa tidak enak hati. Arka yang baru keluar dari kamar mandi melihatnya dan bertanya,


"Kamu sedang apa? Kamu melihati oven dengan tatapan kosong."


Sania hanya memasang wajah kesalnya saat Arka bertanya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Oven ini pemberian Pak Tedi," ucap Sania.


"Om Tedi? Kapan dia kesini?."


"Siang ini, kami bertemu di taman... Aku mengatakan padanya jika sekarang kamu bekerja di perusahaan keamanan sehingga dia tidak jadi menemuimu."


"Perusahaan keamanan? Hm, dari mana kamu muncul ide seperti itu?," tanya Arka sambil tersenyum.


"Arka, Pak Tedi sangat peduli padamu... Aku tidak bisa membayangkan jika suatu saat dia mengetahui kamu sudah bergabung dengan geng, pasti dia akan merasa sangat kecewa," jelas Sania dengan nada bersedih.


"Aku tidak tau sampai kapan kita bisa menyembunyikan semua ini darinya," lanjut Sania.


Arka menatap Sania dengan wajah sendu nya dan menarik nafas dalam-dalam lalu pergi keluar karena pekerjaan barunya memanggil. Sania hanya melihat kepergian Arka yang menghilang di balik pintu sambil berkata, "Setidaknya sampai oven ini rusak."


Saat berada di markas geng Elang, Arka duduk dengan pikirannya yang melayang. Dia teringat masa lalu saat dirinya masih kecil.


~


Saat itu Tedi datang ke rumah nya dan mengomelinya karena bolos sekolah. Namun Arka sedang duduk menangis karena mengingat orang tuanya.


~


"Arka, Arka! Bos Remon sedang bicara denganmu," sahut Kenzi sembari menepuk pundak Arka yang larut dalam lamunan. Arka yang segera tersadar segera meminta maaf karena sudah tidak fokus.


"Arka, tidak mengapa jika kamu hanya meminta maaf untuk sekarang... Tapi jika kamu sedang berada di jalan dalam misimu, maka tidak ada kata maaf yang bisa kamu katakan," seru Remon dan Arka pun mengangguk.


"Arka, Bos meminta kita menyingkirkan Moko, bos geng Lion," ucap Kenzi.


"Pertikaian antara geng Elang dan Lion semakin memanas, Moko memerintahkan anak buahnya membunuh salah satu pimpinan cabang geng Elang... Arka, kalian anak baru disini, jadi Moko tidak akan mengenali kalian saat beraksi, dan jika kalian berhasil dengan misi ini, sudah di pastikan kamu akan memimpin salah satu cabang geng Elang dan Jack pun tidak akan berani mengganggumu lagi."


~


"Tidak ada pilihan lain... Saat aku bergabung dengan geng, maka itu sudah menjadi kutukan dalam hidupku... Dari pertama kali kami masuk geng Elang, aku tau cepat atau lambat hal ini akan aku alami, kekerasan dan perkelahian tidak bisa di hindari," batin Arka.

__ADS_1


~


Arka, Kenzi dan Nino sedang berjalan di trotoar untuk melakukan aksinya malam nanti. Nino sangat berantusias untuk melakukan misi pertama mereka itu. Dia menyemangati Arka agar fokus supaya misinya terselesaikan dengan lancar.


"Lihatlah! Mobilnya sudah datang... Ayo kita naik," ajak Nino.


Namun sebelum itu, Arka menghubungi Sania terlebih dahulu dan mengatakan jika ia harus melakukan beberapa pekerjaan di luar kota dan tidak akan pulang ke rumah. Arka meminta Sania menghubungi Keyla untuk menemaninya di saat Arka tidak ada.


Dalam hal ini Arka juga berbohong pada Sania, oleh karena itu dia semakin tidak meyakini hatinya, lalu Kenzi menepuk pundak Arka yang terlihat putus asa dan memberinya semangat.


Sore itu, Arka, Kenzi dan Nino sedang mengamati pergerakan Moko yang jadi target mereka saat ini. Moko keluar dari sebuah gedung di kawal oleh beberapa anak buahnya.


"Target kalian orang yang berada di tengah itu," kata Roy.


"Wow! Pengawalnya banyak sekali, bagaimana kita bisa melakukannya," sahut Nino.


"Itu tergantung kalian beraksi," jawab Roy sambil tersenyum kecil. Arka, Kenzi dan saling menatap dan merasa ragu apakah mereka bisa melakukannya atau tidak.


Malam pun telah tiba...


Ketiga cogan itu masih duduk setia di mobil dan mengamati pergerakan Moko yang sedang berada di dalam sebuah tempat hiburan. Mereka sudah terlihat kelelahan karena sudah lama menunggu namun Moko belum keluar juga dari tempat tersebut.


Arka yang duduk di bangku mobil depan melihat jalanan dengan tatapan kosong dan tidak bergairah. Kenzi yang melihatnya pun merasa iba, lalu Kenzi membangunkan Nino yang sudah tertidur di kursi belakang.


"Nino, bangunlah... Hei!," seru Kenzi.


"Apa? Mana penjahatnya?," Nino yang masih terbawa mimpinya langsung sewot saat Kenzi membangunkannya. Lalu saat tersadar, Nino berkeluh kesah karena sampai saat ini Moko belum juga terlihat batang hidungnya.


"Kenapa dia lama sekali di tempat menyenangkan itu... Haduh....!," ocehan Nino.


Sania yang berada di rumah sedang berbaring di kasurnya namun tidak kunjung tidur. Dia merasa gelisah karena tidak mendapat kabar dari Arka. Kemudian Sania mencoba menghubungi Arka namun tidak dapat tersambung. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Sania mencoba untuk tidur dan berpikiran positif terhadap Arka.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2