
Sania merasa sangat marah ketika mengetahui bahwa Arka bergabung dengan geng dan menjadi anggotanya. Dia merasa kecewa dan marah karena tidak menyangka bahwa Arka bisa menjadi bagian dari kejahatan dan kekerasan.
Sania memutuskan untuk meninggalkan rumah Arka dan pindah ke tempat yang lain. Dia mengemas barang-barangnya dengan cepat, dan meskipun Keyla mencoba untuk memberikan penjelasan yang lebih baik, Sania tetap tidak mau mendengarkan.
"Sania, kamu jangan marah," bujuk Keyla.
"Kamu jangan membujukku lagi! dulu dia suka berkelahi, sekarang dia ikut geng, aku sangat kecewa padanya!."
"Sania! Bukankah saat pertama kali kalian bertemu Arka juga seorang berandal?."
"Lalu apa? Dia sudah berjanji akan berubah!," jawab Sania sambil terus berkemas.
"Kenapa dia harus berubah untukmu? Apa kamu tidak mengerti perasaannya? Sania, apakah kamu benar-benar mencintai Arka?."
"Apakah karena cinta aku harus mentoleri tindakan jahatnya? Apakah aku harus membiarkan dia terjerumus ke dalam dunia hitam?!."
Saat ini, Keyla merasa berbicara tidak ada gunanya lagi karena Sania sudah sangat marah, namun Keyla mengatakan satu hal lagi yang membuat Sania menghentikan aktifitasnya,
"Aku tidak tau alasan di balik Arka bergabung dengan geng tanpa memberitahu kita, tapi yang aku tau dia tidak akan pernah bergabung jika tidak ada hal yang memaksanya untuk bergabung... Aku pikir, dia melakukannya karena ada hubungannya dengan dirimu...."
Sania menoleh, "Apa maksudmu?."
"Mungkin Arka butuh uang, lagipula dia harus menghidupimu, atau mungkin... dia takut tidak bisa melindungimu."
Sania duduk di kasur dan mencoba memikirkan perkataan Keyla.
"Sania, jika kamu merasa takut Arka terjerumus ke dunia hitam seharusnya kamu tidak meninggalkannya, justru kamu harus membujuknya, setidaknya itu yang harus kamu lakukan bukan memarahi dia ataupun meninggalkannya."
Setelah bicara panjang lebar, keyla pun pamit untuk pulang dan menyerahkan semua keputusan kepada Sania.
Kini Sania berada dalam dilema perasaan, perkataan Keyla memang benar, bukan hal yang seharusnya dia meninggalkan Arka saat ini.
Kemudian Sania teringat masa lalu, di saat Arka dengan berani menghadang bus yang sedang melaju hanya agar Sania bisa ikut dan tidak tertinggal. Saat itu Arka tidak memikirkan keselamatannya sendiri demi Sania.
Dan di saat Sania tidak jadi pergi keluar negeri hanya untuk menemui Arka dan memohon untuk tidak meninggalkannya dan berjanji akan selalu bersamanya.
__ADS_1
"Sania, apakah kamu menyesal denganku?."
"Tidak, aku tidak akan pernah menyesal asalkan terus bersamamu."
Sania mengingat semua kejadian di masa lalu dan memang keputusan untuk bersama Arka sudah dia ambil dengan sungguh-sungguh saat itu. Kemudian Sania menghapus air matanya dan segera turun ke bawah menghampiri Arka yang sedang duduk termenung di taman dekat gedung itu.
"Malam semakin larut... Udara malam tidak baik untuk tubuhmu," ucap Sania nada datar.
Arka menoleh, namun perasaannya tidak menentu, entah merasa senang karena kedatangan Sania, entah merasa bersalah karena sudah tidak jujur padanya.
"Apa kamu sudah memaafkanku?."
"Aku tidak tau... Sekarang, aku masih banyak pikiran," jawab Sania.
"Sania, bos Remon mengatakan jika aku hanya menjadi pengawalnya saja, jadi jangan hawatir."
"Hentikan..., jika aku bertanya, kamu akan menjawab dengan berbagai alasan. Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan, bisakah kamu mengatakan alasan yang sama pada Pak Tedi?." Arka menatap Sania seakan teringatkan bahwa yang merasa kecewa bulan hanya Sania tapi juga Tedi.
"Sudahlah... Malam semakin dingin, ayo kita pulang...."
Keesokan harinya, Arka, Kenzi, dan Nino tiba di markas pusat geng Elang. Mereka ditemui oleh beberapa anggota geng yang mengajak mereka untuk masuk ke dalam markas.
Setelah masuk, Arka, Kenzi, dan Nino bertemu dengan pemimpin geng Elang, yakni Remon dan meminta mereka untuk menjalani beberapa tes dan menyelesaikan beberapa tugas untuk membuktikan kemampuan mereka.
Setelah melewati tes dan tugas tersebut dengan baik, Arka, Kenzi, dan Nino akhirnya diakui dan diterima sebagai anggota resmi di geng Elang. Mereka merasa bangga dan senang bisa menjadi bagian dari geng tersebut.
Namun, Arka juga merasa sedikit khawatir dengan keputusannya bergabung dengan geng. Dia tahu bahwa keanggotaannya di geng Elang akan membawanya pada risiko dan bahaya yang besar.
Namun, dia juga merasa bahwa keputusannya bergabung dengan geng tersebut adalah keputusan yang tepat untuk orang-orang di sekitarnya, khususnya Sania.
Pada malam harinya, Remon mengatur sebuah pesta di sebuah tempat hiburan yang biasa dijadikan sebagai tempat berkumpul geng Elang. Tempat hiburan tersebut dipenuhi oleh anggota geng Elang yang merayakan dan menyambut Arka, Kenzi dan sebagai anggota baru geng.
"Ha ha ha ha... Kita saudara sekarang, Nino kamu tidak usah lagi melawan Coki karena sekarang kita berada di pihak yang sama," seru Remon, lalu di iyakan Nino.
"Sudah lama aku tidak sebahagia ini, karena sekarang ketiga pemuda ambisius ini telah bergabung dengan geng Elang," ucap Remon. "Arka lebih baik sekarang kalian bersulang dengan Jack agar hubungan kalian semakin dekat," lanjutnya.
__ADS_1
Arka, Kenzi dan Nino saling melirik dan melihat Jack yang terlihat sombong dan arogan secara bersamaan, "Jack, sejarah kita dahulu tidak menyenangkan, hari ini kami bertiga meminta maaf dengan anggur ini," ucap Arka, lalu mereka meneguk minuman beralkohol itu sampai habis tak tersisa.
"A ha ha ha... Cepat panggilkan para gadis kemari, jangan sampai salah satu anggotaku tidak kebagian... Ha ha."
Mereka menikmati makanan, minuman, dan musik yang diputar di tempat tersebut. Suasana pesta semakin meriah ketika para anggota geng Elang mulai menari dan bernyanyi bersama.
Kenzi dan Nino juga ikut bergabung dan menikmati suasana pesta yang sangat menyenangkan. Namun, Arka tidak menghiraukan sama sekali para gadis yang mengerumuninya, dia hanya terus menghindar dan tidak tergoda.
Saat hari menjelang pagi, Arka kembali ke rumahnya dan mendapati Sania sedang tertidur di kursi karena menunggunya. Arka menghampiri Sania dan duduk di sampingnya lalu membelai wajah cantik dan polos Sania lalu tersenyum seraya membangunkannya,
"Sania... Sania... Bangunlah... Sania."
Seketika Sania terperanjat saat melihat Arka sudah ada di depannya. "Arka, kamu sudah pulang? Kamu baik-baik saja? Kenapa pulang terlambat?." Sania melihat wajah Arka dan memeriksa badannya karena hawatir Arka pulang dalam keadaan terluka.
"Aku tidak apa-apa," jawab Arka sambil menatap Sania lekat, "Kamu sangat takut jika aku terluka?." Sania menganggukkan kepalanya. Mendapat perhatian dari Sania, Arka semakin merasa bahagia dan terharu lalu berkata lagi,
"Aku sudah katakan, kami hanya menjadi pengawal bos Remon, kami akan jarang berkelahi."
Tiba-tiba Sania mencium bau alkohol dari tubuh Arka lalu semakin mendekat dan mencium bau alkohol yang semakin menyengat, "Kamu minum alkohol!," protes Sania, namun Arka malah tersenyum dan berkata,
"Lihat kan, bagaimana aku akan berkelahi jika aku minum alkohol..." Sania hanya diam saja dan berpikir jika itu benar. "Oh iya, aku punya sesuatu untukmu, ini."
Arka memberikan sebuah amplop yang cukup tebal pada Sania. Lalu Sania membukanya dan bertanya-tanya tentang isi di dalamnya. Saat di buka, Sania merasa terkejut karena di dalam amplop itu ternyata uang yang sangat banyak.
Arka mengatakan jika uang itu sebagai tunjangan pertamanya, bahkan Kenzi dan Nino pun juga mendapatkannya. Arka mengatakan jika dia akan di beri uang dengan jumlah yang sama setiap bulannya, jadi Sania tidak usah khawatir masalah uang lagi.
Kemudian Arka mengatakan jika mereka akan membeli rumah baru yang lebih nyaman, dan Arka juga akan membelikan piano untuk Sania agar merasa senang.
Namun, bukannya merasa senang... Sania malah berkata jika dia tidak ingin pindah dari rumah itu dan dia tidak menginginkan piano bahkan sangat membencinya. Sania mengatakan karena sebab piano lah kini Arka menjadi anggota geng.
Lalu Sania memberikan uang itu kembali pada Arka dan berlari keluar rumah, Arka merasa frustasi dengan semua itu karena dia merasa usahanya sudah sia-sia.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Bersambung...
__ADS_1