
\*\*\*
"Kenapa aku merasa sakit saat melihat Sania menangis? Apakah dulu aku membuat keputusan yang salah? Jika dulu aku membawanya pergi dan meninggalkan semua, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini."
Setelah pertemuannya dengan Arka di taman tadi, Kenzi merenung sambil menatap air danau yang mengalir. Ia merasa bimbang tentang perasaannya sendiri, lalu berpikir akan menemui Sania saat itu juga.
Di tempat Sania berada, dia duduk di kursi menekuk kedua lututnya dengan tatapan kosong dan berurai air mata. Ketika tiba-tiba ia mendengar suara ketukan pintu yang dia kira itu Arka.
Tok Tok Tok!
Seketika Sania beranjak dari duduknya dan bersemangat membuka pintu. "Arka?." Tapi senyum tipisnya menghilang saat dia melihat bukan Arka yang berada di di balik pintu tersebut melainkan Kenzi.
"Kenzi...?."
"Ikutlah denganku," ucap Kenzi sambil meraih tangan Sania. Lalu ia masuk ke rumah dan mengambikan jaket milik Sania.
"Ayo!." Kenzi langsung membawa Sania pergi ke suatu tempat.
Setelah berkeliling kota memakai sepeda motornya. Kenzi membawa Sania naik ke sebuah jembatan yang tinggi di pinggir kota yang terdapat sungai di bawahnya.
"Kenzi, kenapa kita kesini?."
Kenzi hanya terus berjalan dan menuntun Sania ke tengah jembatan hingga akhirnya berhenti. "Berteriaklah!," ucapnya. "Apa maksudmu?," tanya Sania. "Aku ingin kamu mengeluarkan semua kesedihanmu dengan berteriak!."
Sania hanya menatap kenzi yang bicara padanya dengan nada tinggi, karena memang berisik dari suara arus sungai juga kendaraan di sekitar.
"Saat dulu kamu mengatakan sudah menemukan cara hidup untuk bahagia, kamu sudah tidak jujur pada dirimu sendiri! Kamu akan merasa sakit di dada jika terus memendamnya! Oleh karena itu, berteriaklah! Berteriak seperti aku!... Aaaaarggghhh....!."
Sania melihat cara Kenzi berteriak, lalu mencoba untuk melakukannya juga. "Aaargh!."
"Itu tidak cukup...! Lebih keras lagi...! Teriakan semua kesedihanmu...! Teriakalaaah...!."
"Aaaaaaaaarrrrgggggghhhhhhh...!."
Sania berteriak lagi dengan sekuat tenaga dan lebih keras. Ia pun tersenyum karena merasa lebih lega. "Kita seperti orang gila!,"ucapnya.
"Ya, Kita seperti orang gila, tapi ingat ini Sania... Apapun yang terjadi pada kita, dunia tidak akan berhenti walaupun satu menit bahkan satu detik."
__ADS_1
"Kamu benar, kita harus mengatakannya dengan lantang, dengan begitu... Kamu, Nino juga Keyla, tidak akan terbebani dengan masalahku, karena aku bisa menghadapinya... Walaupun sangat sedih, dengan berteriak aku akan melupakannya sejenak... Aku akan berusaha, apapun yang terjadi, aku akan tetap bertahan."
[Kenzi... Kamu memang sesuatu banget ya! ππ ]
Beralih ke tempat lain...
Santi sedang melamun di jendela kamar sambil menatap rembulan yang nampak bersinar. Tiba-tiba suara telpon rumah berdering, ia dengan semangat menerima telpon tersebut dan berharap Arka lah yang menghubunginya.
"Hallo... Arka?."
....
"Oh... Maaf, aku tidak berniat memasang televisi," jawab Santi pada seseorang di ujung telepon sana. Ternyata itu hanya panggilan dari sebuah perusahaan yang menawarkan produk.
Lalu Santi mencoba menghubungi Nino dan bertanya tentang Arka, namun Nino tidak memberi Santi info lebih tentang Arka dan menutup telponnya kembali dengan rasa kecewa.
"Di atas gedung waktu itu... Mungkinkah yang di ceritakan Arka itu tentang dirinya? dan gadis yang bermain piano itu Sania?," batin Santi.
~
Kini, Sania sedang duduk di depan piano yang tergambar di dinding rumahnya. Ia tersenyum saat menyentuh dan merasakan gambar piano tersebut. Lalu terdengar pintu rumahnya terbuka.
Sania melihat ke arah pintu lalu tersenyum saat dia melihat Arka lah yang datang. "Arka, kamu sudah pulang?." Ia segera berdiri dan menyambutnya hangat. Sementara Arka hanya menatap Sania dengan senyumannya yang tipis.
"Aku sudah buatkan makanan kesukaanmu, tunggu sebentar ya, aku ambilkan dulu," ucap Sania sambik berlalu dan Arka pun mengangguk.
Arka menatap nanar punggung Sania yang sedang berkutat di dapur, lalu ia mendudukkan dirinya di kursi dan menghadap piano yang ia gambar untuk Sania lalu menatapnya dengan sedih.
"Sania... Aku sangat merindukanmu, tapi aku mengacau lagi... Maafkan aku, aku sungguh minta maaf... Sania... " Arka berkata dalam hatinya dan merasa bingung atas apa yang akan mereka hadapi, terlebih setelah penghianatan yang dia lakukan.
Akhirnya, pada malam itu, Sania dan Arka melewati malam begitu saja. Setelah makan malam, mereka tertidur tanpa ada topik yang mereka bahas. Keduanya nampak memejamkan mata, namun dalam hati mereka masing-masing sangat bergejolak.
Keesokan harinya ...
Santi terlihat berjalan keluar dari sebuah toko piano. Dia berjalan pelan namun pasti sambil berkata pada dirinya sendiri.
"Memang benar... Walaupun aku belajar piano semaksimal mungkin, aku tetap tidak bisa mengalahkan orang yang belajar dari sejak SMP... Begitupun dengan cinta, Arka sudah mengenal Sania sejak kecil dan cintanya pun sangat besar... Tapi, apakah aku harus menyerah?."
__ADS_1
Saat tiba di rumah, Santi melihat Nino yang sudah menunggunya di depan rumah. "Nino?." Nino bersyukur karena akhirnya Santi pulang juga. Ia merasa bosan karena sudah menunggu lama disana.
Dan mereka pun masuk ke dalam rumah untuk membahas rencana kepulangan Santi ke kampung halamannya. Namun, hal yang tidak di duga membuat Nino merasa heran karena Santi menolak untuk kembali pulang.
"Apa maksudmu, Santi...? Bukankah kita sudah sepakat setelah semuanya selesai kamu akan segera kami antar pulang," tanya Nino.
"Aku tidak bisa pulang sekarang... Aku masih mau tinggal disini," jawab Santi memelas.
"Santi, aku sudah terlalu sibuk mengurusi urusan geng, aku terlalu repot dengan mengurusimu juga," jelas Nino.
"Apakah Arka tau dengan semua ini?," tanya Santi dan Nino pun melongo seakan tidak percaya.
"Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi, aku mohon...," Santi memohon dengan wajah sedihnya dan Nino pun nampak bingung. "Haduh... Merepotkan sekali," ucapnya.
Beberapa jam kemudian, Nino sudah berada di kantor bersama Arka dan memberitahu Arka atas keinginan Santi yang ingin bertemu dengannya.
"Benarkah dia berkata begitu?."
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu harus datang menemuinya? Dan kenapa dia bersikeras ingin bertemu denganmu sebelum dia pergi?... Apa yang terjadi di antara kalian berdua?."
Arka merasa cemas saat menerima pertanyaan Nino yang beruntun. "Tidak ada yang terjadi, kamu jangan konyol," jawabnya sedikit gugup.
Lalu Nino berkata jika mereka sudah berteman sejak kecil, dan ia tau jika Arka sudah tidak berkata jujur padanya. Melihat ekspresi Arka yang sudah tidak bisa menyembunyikan kebenaran, akhirnya Nino pun mengerti jika memang terjadi sesuatu antar Arka dan Santi.
"Arka! Ya ampun... Kamu bahkan terlibat cinta terlarang dengannya saat ini? Aku tidak percaya ini... Arka, Sania sangat menderita saat ini dan ~...."
"Cukup! Kamu dan Kenzi sudah berkata hal yang sama! Menurutmu apa aku tidak menderita? Kenapa kamu tidak berpikir dari sudut pandangku? Bunuh saja aku!."
Gebrakkkk!
Arka memukul meja dan menyingkirkan barang di atasnya karena kesal. Setelah beberapa saat dan merasa tenang, ia segera meminta maaf pada Nino yang terlihat terkejut.
"Maafkan aku, aku terlalu gelisah akhir-akhir ini."
"Aku tau, Arka... Lebih baik selesaikan masalahmu dengan Santi dengan segera, jika tidak... Kamu tau pasti apa yang akan terjadi," ucap Nino lalu ia berlalu pergi meninggalkan Arka dengan kebimbangannya.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Bersambung...