Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Ep. 7 - Mulai PDKT


__ADS_3

\*\*\*


Arka membawa Sania berkeliling kota dengan motor untuk menghindari kejaran geng Coki. Setelah beberapa lama berkeliling, mereka akhirnya sampai di lapangan terbuka dekat landasan kapal terbang. Arka turun dari motor dan melihat Sania yang masih duduk di bangku di motor, membuatnya heran.


"Kenapa kamu tidak turun?," tanya Arka.


"Kakiku kesemutan dan seperti mati rasa, jadi aku tidak bisa turun."


Lalu Arka mendekati Sania dan mengulurkan tangannya menawarkan bantuan. Tapi Sania menolaknya dan mencoba turun sendiri dengan perlahan. Tubuhnya yang hilang keseimbangan menjadikannya hampir terjatuh tapi berhasil di tahan oleh Arka yang lalu berkata,


"Aku sudah bilang padamu, biar aku membantumu."


Sania menatap mata Arka karena jarak mereka yang dekat, lalu segera menjauhkan dirinya dari Arka. Saat itu sebuah pesawat terbang sedang lepas landas, Arka melihatnya dengan kagum. Sania yang melihat ekspresi Arka menimbulkan pertanyaan dalam hatinya.


"Apakah ini siswa yang paling terkenal berandal? Sekarang dia seperti memiliki sisi yang berbeda."


Saat Sania sedang asyik dengan pikirannya, tidak di sadar Arka sedang menatapnya semenjak tadi sambil tersenyum. Ketika Sania menyadarinya, ia langsung mengalihkan pandangnya dan bertanya,


"Kenapa kamu membawaku kemari?."


Arka berbalik badan dan melihat ke arah pesawat yang hendak lepas landas lagi.


"Sangat mengagumkan melihat pesawat yang lepas landas bukan? Perjalanan jauh kita jadi tidak sia-sia," jawab Arka.


Sania ikut terpesona dengan suasana disana yang dia pun menyukainya. Lalu mereka duduk di bangku taman yang ada di sekitar lapangan sambil menikmati suasana di sekitar. Di kejauhan, mereka bisa melihat pesawat terbang yang lepas landas dari landasan kapal terbang.


"Kamu pernah naik pesawat?," tanya Arka.


Sania menggelengkan kepala, "Belum pernah. Tapi, suatu saat aku ingin mencoba."


"Kapan-kapan kita bisa mencoba naik pesawat bersama," ujar Arka dengan senyum.


Sania merasa senang mendengar kata-kata Arka, tapi segera membuang jauh-jauh pikiran itu karena baginya itu adalah hal yang sangat tidak mungkin.


Saat sedang asyik menikmati suasana, Arka teringat sesuatu.


" Bukankah hari ini hari Selasa?."


"Iya," jawab Sania.

__ADS_1


Arka segera berdiri dan mengajak Sania untuk segera pergi dari sana menuju suatu tempat. Sania yang merasa bingung hanya mengikuti saja, karena ingin pulang pun dia tidak bisa karena tidak tau arah pulang.


Setelah beberapa waktu akhirnya Arka membawa Sania ke sebuah panti jompo. Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan dimana ada seorang nenek yang sedang duduk di tempat tidur.


Nenek tersebut terlihat sedang di bujuk oleh perawat untuk minum obat, namun nenek itu menolak dengan keras. Sania pun melihat Arka menatap nenek tersebut dengan perhatian. Lalu perawat tadi melihat kedatangan Arka dan menghampirinya.


"Arka... Syukurlah kamu sudah datang, dia tidak mau makan obat, dan mengatakan akan meminumnya jika kamu sudah ada."


"Baiklah suster, aku akan mencobanya."


Arka mengambil makanan dan obat untuk nenek itu.


Tiba-tiba nenek tersebut mengenali Arka dan memanggil namanya. Arka langsung menghampiri nenek tersebut dan memeluknya dengan erat. Ternyata nenek itu adalah nenek dari Arka. Arka sangat bahagia bisa melihat neneknya lagi setelah lama tidak bertemu.


Arka duduk di samping neneknya dan menyapanya tapi tiba-tiba neneknya jadi tidak mengenalinya.


"Kamu siapa?."


"Nenek, ini aku Arka, cucu nenek."


"Cucuku? Bagaimana aku punya cucu, putraku baru saja menikah kemarin mana mungkin dia sudah mempunyai anak."


Arka hanya tersenyum dan prihatin melihat keadaan neneknya yang sudah terbiasa itu, lalu neneknya mengenali Arka sebagai ayah Arka dan memanggilnya,


Nenek Arka mencari keberadaan Susan yaitu ibu Arka, lalu melihat Sania yang sedang berdiri dan memanggilnya untuk duduk bersamanya. Sania pun menghampiri nenek Arka dengan bingung karena nenek memanggilnya sebagai Susan.


" Susan, kamu baru datang?." Sania hanya mengangguk dan tersenyum ragu.


Arka menghampiri Sania yang terlihat kebingungan dan berkata,


"Nenek mengira jika kamu ibuku." kata Arka.


"Raka, kamu harus sering mengajak istrimu kemari, agar aku lebih sering menemui dia. Juga kalian ini adalah pengantin baru dan harus sering mengunjungi orang tua, agar kalian mendapat do'a untuk kelanggengan pernikahan kalian, mengerti."


"Baiklah, Nek... Sekarang nenek harus minum obat dan beristirahat."


"Iya, Raka... Susan, kalian harus tetap saling mencintai dan jangan terpisahkan."


Saat Arka memberi neneknya obat, perawat tadi mendekati Sania dan memuji Arka sebagai cucu yang berbakti karena masih mau mengurus neneknya yang sudah tua, renta, dan pikun.

__ADS_1


Perawat itu mengatakan bahwa jarang sekali ditemukan anak muda lain yang mau melakukan hal yang sama seperti Arka, yang masih peduli dan memperhatikan kesejahteraan neneknya.


Sania yang mendengarkan percakapan itu merasa terharu dan menghargai sikap Arka yang begitu mencintai keluarganya. Ia semakin yakin bahwa Arka adalah orang yang baik dan layak dihargai.


Di lorong perjalanan menuju parkiran Arka meminta maaf kepada Sania karena sudah membawanya ke tempat itu dan merepotkannya. Tapi Sania merasa tidak keberatan.


Arka menjelaskan kepada Sania bahwa neneknya mengalami hilang ingatan sebagian dan hanya ingat kejadian saat ayah dan ibunya baru menikah sehingga neneknya tidak mengenali Arka. Neneknya sakit, setelah ayah Arka meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang.


Sania merasa terharu mendengar cerita Arka dan mencoba memberi semangat kepadanya.


"Ayo kita pulang, ini sudah hampir larut," ajak Arka lalu mereka segera naik motor.


Sania menatap punggung Arka dan berkata dalam hati, "Dia benar-benar menjadi orang yang sangat berbeda. Dia bos geng di sekolah kami, tapi dia juga cucu yang berbakti. Dia selalu tersenyum riang, tapi di balik senyumnya itu apakah ada banyak cerita yang tersembunyi?."


"Pegangan, aku tidak mau jika nanti kamu sampai terjatuh," pinta Arka.


Seketika Sania tersadar dari lamunannya, Lalu Sania pun menurutinya dan berpegangan pada baju Arka.


Di rasa ada yang kurang, lalu Arka mengerem motornya secara mendadak hingga Sania memeluk pinggangnya dengan erat karena takut terjatuh.


" Kalau naik motor harus berpegangan dengan benar seperti ini." kata Arka sambil melihat tangan Sania yang melingkar di perutnya lalu tersenyum. Sedangkan Sania merasa tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini, tapi bagaimana lagi dia juga takut terjatuh.


Di sebrang jalan ada dua mata milik seorang gadis yang menyaksikan kebersamaan Arka dan Sania lalu berkata,


"Siapa gadis yang bersama Arka itu?."


Lalu gadis itu pergi ke dalam panti jompo dan menemui nenek Arka. Saat di dalam, nenek Arka juga mengenalinya sebagai Susan menantunya. Gadis itu bernama Keyla. Dia sering mengunjungi nenek Arka dan merawatnya.


Arka mengantar Sania sampai di depan rumahnya dan mengatakan jika geng Coki sudah tidak lagi mengejar mereka. Sania pun merasa senang dan bersyukur.


Lalu Sania segera masuk ke gerbang rumahnya dan berterima kasih kepada Arka.


Saat tiba di rumah, Sania langsung naik ke kamarnya dan berlatih piano memainkan musik yang dia sukai. Arka yang masih berada di bawah menatap jendela kamar Sania dan mendengar musik yang Sania mainkan sambil tersenyum dan menikmatinya.


Tiba-tiba...


Arka teringat sesuatu dan segera menelpon Kenzi lalu mengatakan bahwa benar saja, Coki sudah menjadikan Sania target balas dendamnya. Lalu Arka meminta Kenzi dan Nino untuk bertemu dengannya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung...


Lanjut episode 8 πŸ‘‰πŸ‘‰


__ADS_2