Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 41


__ADS_3

Siang itu, Sania menunggu di depan sekolah dengan penuh harap. Arka telah berjanji akan menjemputnya setelah Sania selesai mengajar di TK tempat ia mengajar karena Arka tidak ingin membiarkan Sania pulang sendirian.


Setelah lama menunggu, Sania memutuskan untuk duduk di depan piano di ruang musik sekolah. Ia merasa bahwa bermain piano dapat membantu melegakan pikirannya dan mengurangi rasa tegangnya.


Di rasa semua orang sudah tidak ada di sekolah kecuali satpam yang berjaga, Sania mulai memainkan beberapa lagu piano. Ia teringat masa lalunya ketika ia masih tekun berlatih piano dan bermimpi menjadi pianis terkenal.


Namun, saat bermain piano, Sania tidak bisa menghindari rasa sedih dan kerinduan pada masa lalunya, terutama ketika ia bermain lagu-lagu yang pernah dimainkan untuk Arka.


Tidak lama berselang, Kenzi tiba disana karena Arka memintanya untuk menjemput Sania. Arka tidak bisa meninggalkan tugasnya meski ia sangat ingin melakukannya sendiri sehingga dia mempercayakannya pada Kenzi.


Saat perjalanan pulang, Sania dan Kenzi berjalan Bersambung sambil berbincang, "Giliranmu menjemputku hari ini... Kalian terus sibuk sehingga membiarkanku terus menunggu di sekolah seperti anak-anak TK, sampai salah satu dari kalian punya waktu dan menjemputku," tutur Sania bernada kecewa.


"Aku mengerti perasaanmu, dan aku yakin kamu bisa menjaga diri, tapi aku mewakili perasaan Arka yang mengkhawatirkanmu... Dia takut terjadi sesuatu yang buruk padamu, terlebih setelah kejadian yang menimpa Keyla, Arka takut hal itu juga terjadi padamu... Kamu tau sendiri jika itu sampai terjadi, Arka akan merasa sangat hancur," jawab Kenzi.


"Aku mengerti, dan aku memutuskan mulai besok aku akan berhenti mengajar... Aku tidak mau Arka sampai berbuat kacau di TK," lanjut Sania sambil terus berjalan semakin cepat.


Keesokan paginya...


Setelah bekerja semalaman, Arka akhirnya tiba di rumah. Namun, ketika ia masuk ke dalam rumah, ia tidak menemukan Sania di mana pun. Arka merasa panik dan khawatir, terutama karena Sania selalu ada di rumah untuk menunggunya pulang.


"Sania! Sania...!."


Arka mencari ke seluruh sudut rumah, tetapi tidak menemukan tanda-tanda Sania. Ia mencoba menelepon Sania, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Arka merasa semakin cemas dan tidak tahu harus berbuat apa.


Tanpa pikir panjang, Arka kemudian memutuskan untuk keluar rumah dan mencari Sania di sekitar lingkungan tempat mereka tinggal. Ia berjalan-jalan di sekitar jalan.


Setelah beberapa saat, Arka akhirnya menemukan Sania duduk di sebuah taman di dekat rumah mereka. Sania terlihat murung dan tidak seperti biasanya. Arka merasa lega karena ia menemukan Sania dan segera menghampirinya.


"Sania...! Aku mencarimu kemana-mana, aku sangat takut kehilanganmu," ucap Arka. Sania merasakan nafas Arka yang berat. Arka memeluknya dengan erat, hampir seperti takut kehilangan Sania.

__ADS_1


Sania merasa tersentuh dengan perhatian Arka dan menyadari betapa besar cintanya terhadap Sania. Sania merasakan ketulusan dalam pelukan itu, dan ia juga merasakan betapa pedulinya Arka terhadapnya.


Setelah beberapa saat berpelukan, Arka dan Sania akhirnya melepaskan pelukan mereka saat Sania berkata, "Aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini dan membeli beberapa makanan, lagipula aku sudah tidak mengajar lagi, jadi kamu tidak perlu sangat hawatir."


"Jika kamu ingin pergi ke suatu tempat, tunggu aku dulu atau jika tidak minta Kenzi atau Nino untuk menemanimu."


"Aku rasa tidak perlu melakukan itu."


"Dengar Sania, aku melakukan semua itu karena mencemaskanmu... Sudahlah, aku sangat lelah dan aku mau istirahat... Ayo kita ke rumah." Akhirnya, Arka dan Sania pun menuju rumah sambil berpegangan tangan.


Saat Arka sedang istirahat, Sania sibuk mencuci baju di dapur sambil memikirkan tentang kehidupannya bersama Arka. Tiba-tiba ia tersadar ketika mesin cuci memberi tanda bahwa cucian sudah selesai dicuci. Ia merasa terkejut karena lamunan dan pikirannya sudah terlalu jauh.


Sania mengambil baju dari mesin cuci dan menjemurnya. Kemudian, Sania menghampiri Arka yang sedang terlelap tidur karena kelelahan. Ia membereskan baju Arka yang berserakan di meja, lalu Sania melihat sesuatu yang terjatuh dari dalam jaket Arka dan mengambilnya.


"Aaarghhh!."


Sania berteriak histeris dan menjatuhkan dirinya di lantai saat ia melihat benda yang terjatuh itu adalah sebuah jari yang terbungkus dengan noda darah segar. Seketika membuat Arka terbangun karena terkejut lalu memeluk Sania.


Bukannya menjawab, Sania malah mendorong Arka sambil ketakutan lalu berlari ke kamar mandi dan mengunci diri. Arka terus berteriak memanggil Sania, namun Sania tidak kunjung membuka pintunya sehingga membuat Arka frustasi, lalu segera menghubungi teman-temannya.


Setelah menerima kabar dari Arka, Kenzi segera menuju rumah mereka dengan tergesa-gesa. Saat tiba, dia segera naik ke atas tanpa menghiraukan motornya yang terjatuh karena tidak terparkir dengan benar saking hawatir pada Sania.


"Ada apa dengan Sania? Dimana dia?,," tanya Kenzi dengan nafasnya yang memburu.


"Kata Arka, dia mengurung diri di kamar mandi sudah selama dua jam, dia tidak mau keluar walau kami sudah membujukny," jawab Nino yang sudah terlebih dahulu sampai disana.


"Dan semua itu hanya karena benda ini, lagipula kenapa kamu harus membawa jari orang yang sudah di potong, hah?!," sambung Keyla.


"Aku tidak tau benda itu ada di sakuku, lalu Sania melihatnya," kata Arka.

__ADS_1


Keyla memperhatikan jari yang terpotong itu dan malah tertawa sambil berkata, "Hah, ini sepertinya jari tengah, festival sekarang dia tidak bisa f*uck you! Ha ha ha...."


"Kenapa gadis ini berbeda sekali, bukannya merasa senang mencoba bicara dengan Sania dan membujuknya!," celetuk Nino.


"Kenapa? Aku memang begini! Aku tidak perlu berpura-pura harus takut hanya dengan melihat benda seperti ini! ... Sania!."


Tok! Tok! Tok!


Saat Keyla mengetuk beberapa kali, akhirnya Sania muncul di balik pintu dengan tenang, "Apa kamu lapar? Aku akan masak sesuatu," ucap Sania sambil melihat Arka sekilas lalu pergi ke dapur.


"Nino, lebih baik sekarang kamu bawa Keyla pulang," Serui Kenzi.


"Aku lagi? Aku sangat kelaparan?."


"Aku tidak perlu diantar! Aku pulang sendiri saja!," kata Keyla sambil beranjak pergi dengan kakinya yang masih berjalan picang. Dan akhirnya Nino pun terpaksa mengantar Keyla pulang.


Kemudian Kenzi mengatakan jika Arka bicara baik-baik pada Sania mengenai masalah ini, dan pamit untuk pulang. Namun, Arka meminta Kenzi tetap tinggal disana untuk menemani Sania karena Arka harus menemui Remon saat itu juga.


#


Keyla berjalan pulang dengan pincang karena kakinya masih belum sembuh sepenuhnya setelah ia terkilir beberapa hari yang lalu. Ia merasa kesal ketika Nino mengikuti di belakangnya untuk menemani pulang.


"Jangan ikuti aku! aku bisa pulang sendiri," teriak Keyla pada Nino yang berjalan di belakangnya.


"Aku juga tidak mau mengikutimu, dasar su*dal!!, tapi aku hawatir karena kakimu masih terluka!," jawab Nino sambil teriak juga, tapi kali ini Keyla tidak terpancing malah merasa tersentuh karena ia merasa Nino perhatian padanya lalu membiarkan Nino untuk berjalan bersamanya.


Sambil terus melanjutkan perjalanannya, Keyla bertanya tentang hubungan Arka dan Sania, apakah mereka pasangan yang serasi? Pasalnya, apakah Sania akan bisa menerima kebiasaannya Arka saat bergabung dengan geng seperti membunuh.


Nino menjawab, jika Arka dan Sania saling mencintai, dan Arka akan berusaha keras agar Sania tidak mengetahui apa yang mereka lakukan di luar. Selebihnya ... Nino menyerahkan semuanya pada pasangan itu.

__ADS_1


Bersambung...


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2