
\*\*\*
"Bajingan! Apa yang kau lakukan pada Sania!."
Jekuk!
"Pukulah! Pukul aku sepuasmu!," teriak Arka dengan darah segar mengalir dari bibirnya sehingga membuat tangan Kenzi menggantung di udara karena ingin memukulnya lagi tapi ia tahan dengan emosi.
"Tapi aku mohon, katakan padaku, bagaimana keadaan Sania?."
"Arka! kata dokter Sania sekarang sudah selamat, dia sudah melewati masa kritisnya tapi dia kehilangan banyak darah sehingga dia masih sangat lemah dan belum sadarkan diri," jawab Keyla yang baru keluar dari ruangan Sania karena mendengar keributan.
Mendengar hal itu, Arka nampak menunduk dan menyesal. "Apa kau tau? Berapa banyak darah yang ia tumpahkan?," tanya Kenzi menahan emosinya. "Lihat!... Apa kau masih ingat ini?," tanya Kenzi lagi seraya memperlihatkan kalung Sania.
"Dia memegang ini saat mencoba bunuh diri!," lanjut Kenzi.
Arka melihat nanar pada kalung yang berlumuran darah itu lalu ia mengambilnya dengan tangan yang bergetar.
"Apa itu menyakitimu?! Itu bahkan lebih melukaiku! Karena aku sangat menyesal!," teriak Kenzi dan membuat Arka menatap Kenzi dengan penuh tanda tanya begitupun dengan Keyla dan Nino.
"Jika aku tau dengan melepas Sania hanya akan membuatnya menderita seperti ini hingga mencoba bunuh diri, aku akan merebutnya dari dulu dan membawanya pergi meninggalkan semua!."
__ADS_1
Arka, Nino dan Keyla sangat terkejut mendengar perkataan Kenzi yang sama sekali tidak mereka sangka.
"Ya! Aku suka pada Sania... Sama seperti kau menyukainya! Tapi dia lebih memilih dirimu dan aku hargai keputusannya karena ingin dia bahagia!."
Air mata Arka lolos begitu saja dan tidak tertahankan. Kemudian Kenzi menyalahkan Arka lagi dengan semua kejadian yang menimpa Sania.
Dia mengatakan jika Arka lah penyebab semua penderitaan Sania, Arka lah yang sudah menjerumuskan Sania yang hanya seorang siswi teladan dan berbakat tapi kini hidup di lingkungan dunia gelap.
Kenzi tak henti-hentinya menyalahkan Arka yang seharusnya lebih bisa menjaga Sania saat dirinya sudah mencapai keberhasilan, tapi sebaliknya, dia malah mengkhianatinya dengan gadis lain dan memberi pukulan yang besar.
Arka memundurkan badannya hingga tersandar di tembok dan merasa terkulai lemas. Sedangkan Kenzi mengusap wajahnya kasar dan lalu berkata,
"Satu hal, jika dia sudah bangun dan jika ia mau, aku akan membawanya pergi darimu dan dari tempat yang membuatnya selalu menderita ini!."
"Kenzi, izinkan aku untuk menemui Sania... Hiks hiks... Aku ingin melihatnya... Kenzi, aku mohon!."
~
Arka melangkah masuk ke dalam ruangan Sania dengan hati yang berat. Matanya langsung tertuju pada Sania yang terbaring lemah di kasur. Ia melihat luka di tangannya dan hatinya terasa hancur.
Sania sudah siuman dan menyadari kehadiran Arka. Namun, ia memilih untuk memejamkan matanya kembali, berpura-pura tidur, karena masih merasa kecewa dan terluka sehingga ia tidak ingin bertemu langsung dengan Arka.
__ADS_1
Arka melangkah mendekat ke kasur Sania dan duduk di sampingnya. Ia merasa berat untuk melihat Sania dalam keadaan seperti ini, tetapi ia juga penuh penyesalan atas apa yang telah terjadi.
Dalam keheningan yang tegang, Arka memegang tangan Sania dengan lembut, namun sebelumnya ia menyeka darah di bibirnya terlebih dahulu.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa, jika terjadi sesuatu padamu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Dalam keputusasaan, Arka berkata dengan suara yang penuh dengan penyesalan dan rasa sakit di hatinya. Ia meminta maaf kepada Sania dengan suara yang lembut. Namun Sania masih tetap memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.
Lalu Arka melihat luka di tangan Sania dan menangis. "Aku tidak izinkan kamu melakukan hal ini lagi, mengerti? Aku tidak bisa melihatmu terluka dan lebih baik aku mati saja jika harus hidup sendiri tanpa dirimu, hiks hiks hiks... πππ."
Arka menciumi tangan Sania yang basah karena air matanya dan berkata bahwa satu luka pada Sania itu sepuluh kali lebih menyakitinya. Dan yang paling dia sesali adalah semua itu terjadi karena dirinya.
Arka terus menyalahkan diri dan merasa bodoh karena selalu melarikan diri dari Sania setiap kali ada masalah sehingga menjadi lebih tidak berguna.
"Aku merasa jika aku tidak perlu berkata-kata padamu karena aku merasa yakin jika kamu akan mengerti diriku dan karena kamu lebih memahamiku... ππ."
"Kenzi sangat benar, aku memang tidak bisa menjalin hubungan apapun dengan baik, aku terus menerus menyakitimu dan mengecewakanmu."
Arka menangis pilu seraya memeluk Sania yang enggan membuka matanya, namun air matanya lolos menetes karena ia memang mendengar dan merasakan cinta yang tulus dari Arka.
~
__ADS_1
Bersambung...
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ