Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 43


__ADS_3

"Ibu... Ibu pasti sangat merindukanku, hiks hiks hiks...."


"Pergilah... kamu memang merindukan kehidupan lamamu... Kembalilah pada mereka, orang tuamu juga sangat merindukanmu... Kamu tidak pantas berada di dunia kami... Pergilah ke kehidupanmu."


Sania terdiam sejenak saat mendengar kata-kata Kenzi. Dia memang merindukan keluarganya, tapi baginya, dunia gengster yang dijalani bersama Arka, Nino, dan teman-temannya sudah menjadi kehidupannya yang sehari-hari. Sania merasa sulit untuk meninggalkan Arka.


Namun, Sania juga merasa bahwa dia harus mempertimbangkan kembali hidupnya di dunia gengster tersebut. Dia tahu bahwa kehidupan di dunia gengster sangat berbahaya dan bisa mengancam keselamatan dirinya dan orang-orang terdekatnya.


Sania melangkah perlahan ke arah rumahnya dengan hati yang berdebar-debar. Dia merasa sedikit ragu lalu menoleh ke belakang dan melihat Kenzi kembali, "Pergilah!," perintah Kenzi dengan penekanan.


Setelah Sania berada tepat di depan pintu rumahnya, Kenzi pun melangkah pergi dengan hati yang berat.


"Aku tidak tau apa yang aku lakukan ini benar atau tidak... tapi aku hanya ingin Sania hidup bahagia dan tidak menderita, Aku tidak peduli jika Arka marah atau dengan kepergian Sania akan menghancurkan hatiku... Yang aku pedulikan, aku hanya ingin melakukan yang terbaik agar tidak menyesalinya," batin Kenzi, kemudian dia menyalakan motornya dan hendak pergi.


Namun tiba-tiba dia mendengar suara Sania berteriak memanggilnya, "Kenzi...! Kenzi...! Tunggu aku! Jangan tinggalkan aku sendiri disini...." Sania berhamburan lari menghampiri Kenzi dengan keputusannya.


"Sania, apa kamu yakin? Kamu jangan terlalu memaksakan dirimu... Jika kamu merindukan kami aku akan menjemputmu."


"Aku tidak mau kembali pada orang tuaku... Aku sudah meninggalkan mereka dengan kejam demi Arka dan membuat mereka kecewa, kini... Hatiku masih milik Arka, aku tidak ingin membuat mereka bersedih lagi."


Mendengar keputusan Sania, Kenzi pun menerimanya dan mengatakan akan segera membawa Sania pulang karena Arka pasti sudah menunggunya di rumah. Namun untuk saat ini Sania menolak untuk bertemu Arka karena dia merasa takut.


Akhirnya, Kenzi membawa Sania ke suatu tempat yang dia rasa bisa mengurangi rasa stres Sania, yaitu tempat sekolahnya dahulu. Kenzi dan Sania menyusuri setiap tempat di sekolah itu meskipun dalam suasana setengah gelap.


Yang pertama mereka kunjungi adalah kelas Sania, Kenzi membuka pintu yang terkunci itu dengan caranya sehingga dapat terbuka. Kemudian mereka masuk dan Sania mulai mengenang bagaimana dahulu dia belajar disana, dia mengenang tempat duduknya dahulu saat belajar dan suasana indah saat-saat belajar.


"Dulu... Aku duduk di kursi ini," ucap Sania sambil mendudukkan dirinya di kursi, "Dari jendela ini aku selalu melihat kalian bermain basket di lapangan...," lanjutnya.

__ADS_1


Melihat Sania yang menatap keluar dengan bersedih, Kenzi mulai berbicara tentang hal-hal lucu yang terjadi saat mereka sekolah dahulu sehingga membuat mereka tertawa lepas. Namun, seketika senyum lebar Kenzi berubah saat Sania melihatnya dan berkata,


"Kenzi, kenapa kamu tidak pernah mempunyai pacar? Aku merasa jika kamu memilikinya, kamu akan memperlakukannya dengan baik...."


"Aku... Cukup sulit bagiku untuk mencintai seseorang...." hening sejenak, "sudah dulu ceritanya, kita disisi hanya sebentar dan kita harus berkunjung ke tempat lain."


"Ayo!," Semangat Sania.


Beranjak dari kelas, Sania dan Kenzi berjalan bersama menuju ke tempat di mana Sania biasanya melakukan pertunjukan bermain piano. Sania adalah murid yang sangat berbakat dan selalu berhasil menghipnotis siswa lain dengan melodi yang indah.


Setelah sampai di tempat tersebut, Sania mulai menunjukkan Kenzi tempat-tempat penting di ruangan tersebut, termasuk tempat duduknya dan piano yang biasa ia gunakan. Kenzi sangat terkesan dengan atmosfir di dalam ruangan tersebut, terutama ketika Sania mulai memainkan beberapa lagu untuknya.


Saat Sania sedang memainkan lagu-lagu yang indah, Kenzi merasa seolah-olah dia tengah berada di dalam dunia lain. Suasana yang tenang dan damai di dalam ruangan itu membuatnya merasa nyaman dan tenang. Namun, berbeda dengan Sania yang memainkannya sambil menahan air matanya karena mengingat semua kejadian yang telah dia lalui.


Di saat Sania menghabiskan malam di sekolah, Arka yang baru kembali ke rumah mendapati Sania tidak berada disana. Arka mulai panik dan merasa semakin khawatir tentang keberadaan Sania. Arka mencoba menghubungi Sania beberapa kali namun tidak berhasil sehingga membuatnya semakin frustasi kemudian membanting pintu dan berteriak.


Kini, Sania dan Kenzi hendak pulang, "Kenzi, terima kasih... Aku tidak akan melupakan malam ini," ucap Sania dan Kenzi pun mengangguk.


"Terima kasih atas kesempatan ini, aku bisa ucapkan perpisahan pada masa laluku sekarang... Mulai hari ini, aku tidak akan menyesali apapun... Dan pertanyaanmu tentang apakah aku masih mencintai Arka, ya... Aku tidak meragukannya, aku memang masih sangat mencintainya....."


Lalu Sania mengajak Kenzi membawanya ke suatu tempat sebelum mereka pulang dan di setujui Kenzi.


"Untuk beberapa detik, aku nyaris mengungkapkan perasaanku padanya," batin Kenzi.


Tok! Tok! Tok!


Arka langsung membuka pintu dengan terburu-buru dan melihat Sania pulang bersama Kenzi sehingga Arka menatap mereka dengan tidak suka.

__ADS_1


"Pergi kemana saja kamu? Kenapa baru pulang saat pagi?," Arka bertanya dengan nada yang sinis sehingga membuat Sania menatapnya tidak suka.


"Arka kemarin aku membawa Sania~...."


"Diam! Aku tidak bertanya padamu!," teriak Arka pada Kenzi lalu beralih menatap dan bertanya pada Sania kembali, "Kamu dari mana?! Kenapa baru pulang pagi-pagi?!."


Bukannya menjawab, Sania malah berlalu melewati Arka sehingga membuat kekasihnya yang terlihat cemburu itu semakin kesal dan mengingatkan kembali jika dia sudah berpesan agar Sania tidak keluar malam karena di luar sangat berbahaya dan hawatir bertemu dengan penjahat.


"Arka, semalam dia bersamaku jadi dia aman dan tidak terjadi apapun padanya," seru Kenzi.


Mendengar penjelasan Kenzi, Arka pun berbalik menghadap Kenzi dengan menatapnya tajam, "Kenapa kamu mematikan handphone-mu?."


"Batreiku habis."


"Baterai mu habis! Setidaknya kamu bisa menghubungi dan mengabari ku apapun yang terjadi, mungkin Sania tidak mengerti perasaanku, tapi kamu... Kamu pasti tau hal itu."


Mendengar perkataan Arka, lalu Sania berkata dan mempertanyakan saat semalam Arka meninggalkannya dan Tedi di kantor polisi dan lebih memilih pergi dengan para gengster itu, apakah dia tau perasaan mereka saat itu.


Merasa kondisi semakin tegang, Kenzi lalu mengatakan jika semalam dia membawa Sania ke rumah orang tuanya dengan harapan Arka bisa mengerti perasaan Sania. Namun bukannya menjadi luluh, Arka malah semakin murka karena dia beranggapan jika Sania merindukan rumahnya dulu dan ingin kembali juga menyesal tinggal bersama Arka.


Ketegangan di antara ketiga insan itu semakin panas apalagi saat Kenzi mengatakan jika Arka egois dan hanya ingin orang lain mengerti perasaannya sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaan Sania.


"Diam! Kalian diam... Kalian sudah terlalu banyak bicara."


Sania menatap Arka lalu berbalik membelakanginya sambil membuka bajunya. Melihat adegan itu, Kenzi pun berlalu pergi meninggalkan mereka berdua dan berharap masalah mereka cepat terselesaikan.


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2