
Kini Nino tiba di kantor markas geng dengan perasaan cemas dan waspada karena saat pintu markas terbuka, dia merasakan suasana yang tidak biasa. Kondisi di dalam tampak sangat sepi, dengan lampu yang mati dan menyelimuti ruangan dalam kegelapan.
"Kenapa semua lampu mati? Dan kemana semua orang?," tanyanya sendiri. "Hallo? Apa ada orang?."
Nino merasa ketegangan yang memenuhi udara. Dia mencoba mencari tahu apa yang terjadi dan mengapa markas geng tampak begitu sunyi. Hati-hati, dia melangkah maju dengan langkah perlahan, mencoba untuk memperhatikan setiap suara dan gerakan di sekelilingnya.
"Bukankah tadi bos Remon memintaku untuk datang menemuinya disini? Apa terjadi sesuatu?."
Dalam kegelapan, Nino merasakan adanya kehadiran yang misterius di sekitarnya. Dia berusaha menyalakan senter ponselnya untuk melihat dengan lebih jelas. Tiba-tiba, dia mendengar suara langkah kaki di koridor, menyiratkan kehadiran seseorang di dalam markas.
"Hallo? Siapa itu? Kenapa lampunya mati? Hallo!."
Dengan hati-hati, Nino mengikuti suara langkah kaki tersebut. Dia memutar sudut dan mendapati seseorang berdiri di ujung koridor yang gelap. Sosok itu berpakaian serba hitam dan menutupi wajahnya dengan penutup kepala.
Nino melangkah mendekati sosok misterius itu dengan waspada. Dia merasakan ketegangan yang semakin meningkat saat semakin dekat. "Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini?."
__ADS_1
Tiba-tiba saja Nino mendapat serangan mendadak dan tidak sempat melawan. Kini lehernya di jerat seutas tali dengan kuat. Meskipun Nino meronta sekuat tenaga tapi ia tidak bisa terlepas dari jeratan penjahat itu.
Dengan kekuatan Nino yang tersisa, dia mencoba melawan dan mengerahkan tenaga terakhirnya untuk mendorong penjahat tersebut hingga terjungkal ke meja kaca dan akhirnya Nino pun terlepas dengan nafas yang terengah-engah dan hampir tidak bisa bernafas.
"Siapa kau!."
Belumlah Nino bangkit dari duduknya, ia segera mendapat serangan lagi dari orang misterius itu namun kali ini Nino berhasil menghindar meskipun ia sangat kewalahan.
Dalam kegelapan yang menyelimuti markas geng, pertempuran antara Nino dan orang misterius pun dimulai. Keduanya saling berhadapan dengan keahlian dan kekuatan mereka masing-masing. Suasana tegang dan penuh aksi memenuhi setiap sudut ruangan yang gelap itu.
"Hah!."
Seketika Nino terkejut saat ia berhasil membuka dan melihat wajah orang yang menyerangnya itu yang tidak lain adalah Roy, kaki tangan Remon yang selalu setia bersamanya.
"Kau! Kenapa kau?!."
__ADS_1
Dengan susah mempercayai hal ini, Nino menyangka jika Remon sengaja menyuruh kaki tangannya untuk melenyapkan dirinya. Lalu ia teringat pada Arka yang kini berada sendirian di luar. "Arka! Aku harus segera mengingatkannya!."
Nino mencoba menghubungi ponsel Arka namun tidak ada jawaban karena nyatanya ponsel Arka tertinggal di mobil sedangkan dia sudah turun dari mobil untuk menemui Santi di dermaga. "Akh! Sial! Arka kamu dimana?," gerutu Nino yang tidak kunjung bisa menghubungkan Arka.
Lalu ia pun beralih menghubungi Kenzi dan memberitahu apa yang terjadi padanya baru saja. Kenzi sempat tidak percaya dengan yang di katakan Nino tentang Remon yang berbuat senekad itu padahal Nino dan Arka sudah setia padanya namun tidak lama Kenzi segera mempercayai dan tidak ragu.
Kemudian Nino menyuruh Kenzi agar segera menyusul Arka karena khawatir Remon merencanakan sesuatu pada Arka. "Aku juga akan menyusul kesana dengan membawa anak buahku, Kenzi aku harap tidak terjadi apapun pada Arka!."
Sania merasa penasaran tentang apa yang di bicarakan Kenzi dan Nino, karena saat ini Kenzi masih berada di rumah Sania untuk menjaganya. Awalnya Kenzi tidak ingin memberitahu Sania, tapi setelah Sania memaksa Kenzi pun jujur dan akhirnya Sania pun memaksa ikut meskipun Kenzi melarangnya karena merasa terlalu berbahaya di luar.
Tapi apalah daya Sania tetap ingin ikut sehingga mereka kini berangkat bersama menuju dermaga. "Arka... Aku harap kamu baik-baik saja," batin Sania sambil terus mencoba menghubungi ponsel Arka.
Bersambung...
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
__ADS_1