Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Ep. 81 - Luluh lantah


__ADS_3

\*\*\*


Saat tiba di rumah, Arka melihat Santi yang sedang membersihkan sepeda lamanya dan tersenyum karena merasa kenangan lamanya seakan menghampiri dan bernostalgia.


"Arka...!."


Santi segera menghampiri Arka saat menyadari kedatangannya dan menyambutnya hangat.


"Apa yang sedang kamu lakukan?," kata sembari mendekati sepeda lamanya.


"Aku tidak ada kerjaan, jadi aku bereskan barang-barang yang ada di gudang... Kebetulan hari kemarin ada tukang loak yang lewat, aku pikir, jika kamu izinkan aku akan menyuruh tukang loak itu mengambil semua barang ini."


Arka mengelus sepeda yang kini terlihat bersih dan sedikit usang karena sudah lama tidak di rawat. Lalu dia mengingat masa dulu saat ia, Kenzi dan Nino bermain bersama dan selalu memakai sepeda mereka masing-masing.


Saat itu, ketika Arka berusia 10 tahun... Arka mengayuh sepedanya dengan semangat ketika tiba-tiba ia melihat Sania yang sedang bermain piano di dalam rumahnya.


Kaca yang nampak besar dan transparan membuat Arka bisa melihat Sania yang duduk dan memainkan piano dengan lincah dan mempesona.


Arka tersenyum dan terpukau seakan merasakan satu hal yang membuatnya merasa senang dan tidak ingin melepaskan pandangannya. Saat itulah hari pertama Arka melihat Sania dan terus mengaguminya hingga kini.


"Arka?... Arka?."


Santi memanggil-manggil Arka namun Arka tidak meresponnya dan hanya terus tersenyum hanyut dalam bayangan kenangannya.


"Arka?." Kali ini Santi menyentuh tangan Arka sehingga Arka pun tersadar.


"Santi, maaf...."


"Arka, ada apa?."


"Tidak ada, aku hanya mengingat kenangan masa lalu saat sering memakai sepeda ini, tidak terasa waktu sangat cepat berlalu," jawab Arka sambil tersenyum. "Dan untuk barang-barang ini, kamu boleh membuangnya, lagipula semua itu sudah tersimpan lama di gudang."


Kemudian pandangan Arka fokus pada sebuah buku panduan musik piano yang tersimpan paling atas di tumpukan barang yang akan di buang, lalu ia memgambilnya. Namun saat meraih buku tersebut tanpa Arka sadari ponselnya jatuh ke bawah.


"Ada beberapa lagu yang aku sukai di buku ini, aku akan tetap menyimpannya... Dan untuk barang yang lain, kamu bisa membuangnya," seru Arka.


Lalu ia masuk ke dalam rumah. Tidak di sangka, Santi yang melihat ponsel Arka tergeletak ia segera mengambilnya tapi tidak segera di kembalikan pada Arka.


~


"Sania... Kamu jangan bersikap seperti ini, kalian bertengkar bukan kali ini saja... Maksudku, aku tidak pandai bicara tapi aku mohon kamu beri kesempatan satu kali lagi pada Arka....."

__ADS_1


Nampak Keyla sedang membujuk Sania yang sedang mengemasi barangnya dan terus mengatakan jika Arka berkata pada Nino untuk saat ini Arka belum bisa menghadapi Sania, itulah alasan Arka selalu tidak pulang ke rumah.


"Keyla... Aku juga butuh waktu untuk memikirkan hubungan kami," jawab Sania nampak kecewa.


"Lalu kamu mau pergi kemana?."


"Aku tidak tau, mungkin aku akan bepergian sendiri."


Tiba-tiba ponsel Sania berdering dan Keyla mengambilnya dari atas meja lalu terlihat jika Arka lah yang meneleponnya. "Sania, lihat, Arka telepon... Cepat angkat dan bicara padanya...." Namun Sania enggan menerimanya. "Ayolah Sania... Cepat angkat dan bicara, kalau begitu aku akan pergi, bicaralah, ok."


Sania pun mengangkat telepon nya sedangkan Keyla berlalu karena tidak ingin Sania merasa terganggu.


"Hallo?."


...


Sania merasa terkejut saat ia mendengar suara orang di ujung telepon sana yang bicara beberapa saat.


Kemudian pada sore harinya, dengan setelan rapi, Sania terlihat sedang menunggu kedatangan seseorang di sebuah kafe yang cukup privat.


Ia merapikan penampilannya dan terus melihat ke arah pintu masuk namun orang yang ingin bertemu dengannya nampak belum juga datang.


Sania memutuskan untuk kembali pulang, namun saat baru beberapa langkah, ia melihat kedatangan seseorang yang melangkah menuju ke arahnya, dan dia itu adalah Santi.


Sania melihat penampilan gadis yang kini ada di hadapannya dan berkata dalam hati, "Gadis ini sangat mirip denganku... Denganku yang dulu."


(Pertemuan rival antara kedua gadis yang mencintai satu pria ha ha ha...) 🀭


Kini Sania dan Santi duduk di meja dengan tempat yang nyaman dan view yang indah.


"Aku tidak mendatangimu, tapi kamu ingin bertemu denganku, katakanlah, apa yang kamu inginkan," kata Sania tegas.


"Sania, kamu salah paham... Aku tidak punya niat buruk, aku hanya... ~."


"Kamu hanya ingin melihat seperti apa kekasih Arka, atau... Kamu mau hal yang lebih?."


Santi terus menunduk dan sesekali melihat ke arah Sania namun merasa tidak nyaman dan mengatakan jika Sania sudah salah paham padanya.


Akhirnya Santi mulai memberanikan diri dan berkata, jika ia kemari karena ingin agar hubungan Sania dan Arka baik-baik saja dan meminta agar Sania dan Arka jangan terus bertengkar karena Arka sangat mencintai dan peduli pada Sania.


Sania menatap Santi dan merasa tidak habis pikir lalu berkata, "Apa kamu ingin mengatakan jika kamu lebih tau banyak tentang Arka? Atau kamu ingin katakan betapa mesranya kalian berdua?."

__ADS_1


"Tidak, bukan seperti itu... Aku akui, aku memang menyukai Arka, tapi di matanya aku hanyalah bayangan dari masa lalumu, dia hanya mencintaimu, kamulah yang hanya dia inginkan, hanya...~." Santi menggantung perkataannya dan ragu untuk melanjutkan.


"Teruskan...," kata Sania.


"Hanya saja... terlalu banyak masalah antara kalian berdua, sehingga mengganggu hubungan kalian... sebenarnya dia tidak sekuat dan percaya diri seperti yang terlihat."


Sania tersenyum getir dan berkata lagi, "Aku mengerti maksudmu, kamu berkata seakan lebih mengerti dan mengenal Arka, maksudmu... Arka akan selalu tertekan jika bersamaku sehingga dia tidak mampu menghadapiku, tapi jika bersamamu, dia akan merasa nyaman karena kamu hanya sebagai bayangan yang tidak akan memberi tekanan padanya, begitu kan?."


Mendapat respon yang membuatnya seakan tidak bisa berkata apa-apa lagi membuat Santi hanya bisa berkata jika dia hanya mengharapkan agar Sania lebih peduli pada Arka dan tidak selalu mengabaikannya.


Ha ha... So kasih nasihat, belum tau aja si Santi, bagaimana pengorbanan Sania terhadap Arka 😏


"Kamu menemuiku, bukankah niatmu karena ingin aku memberikan Arka padamu? Kamu mengatakan banyak hal agar aku mengetahui apakah kamu lebih cocok dan peduli pada Arka, bukan?."


Kali ini Santi kalah telak sehingga terdiam sejenak lalu berkata, "Jika Arka bersedia... Aku tidak peduli jika hanya jadi bayanganmu selamanya, walaupun dia masih memanggil namamu saat memelukku dengan mesra aku tidak peduli dan akan menahannya."


Jederr!


Sania merasa terkejut saat mendengar penuturan Santi namun berusaha tetap tegar. "Apakah kamu dan Arka~...."


"Ya, aku tau itu adalah hal terburuk untuk seorang gadis, tapi jika bisa bersama dengan orang yang kita cintai kenapa tidak...."


Jawaban Santi membuat satu pukulan yang telak pada Sania, kini dia sangat rapuh dan tidak bisa membendung kesedihannya lagi.


Seperginya Santi dari tempat itu, kini tinggal Sania yang masih duduk dan menangis sendu.


Dretttt Dretttt...


Tiba-tiba saja ponselnya berdering lalu ia mengangkat telepon yang ternyata dari Keyla yang khawatir atas keberadaannya.


"Hallo? Hiks hiks...."


"Hallo? Sania? Kamu kenapa?... Sania katakan apa yang terjadi? Hallo, Sania...?."


"Keyla, aku sudah kalah... Aku benar-benar kalah... Aku kalah, sehingga kini aku tidak punya kekuatan untuk berdiri hiks hiks hiks... 😭😭😭😭."


Sania menutup teleponnya lalu ia menangis sejadi jadinya di meja kafe tersebut. Di ruang privat itu dengan leluasa Sania mengeluarkan kesedihannya dan tidak menahannya lagi. Seluruh badannya terkulai lemas serasa tidak bertulang.


Sungguh kasihan dirimu Sania... 😭😭🀧


Bersambung...

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2