Pacarku Seorang Gengster

Pacarku Seorang Gengster
Episode 59


__ADS_3

\*\*\*


Di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, terdapat rumah kecil yang pernah dihuni oleh Arka. Rumah itu terletak di sebuah lingkungan yang tenang dan terpencil. Di hari itu, suasana tenang itu sedikit terusik oleh kehadiran seorang gadis yang berjalan dengan penuh keingintahuan.


Gadis itu adalah Santi, gadis desa yang telah bertabrakan dengan Arka kemarin dan tanpa sengaja mengambil dompetnya. Santi merasa bersalah dan ingin mengembalikan dompet tersebut kepada Arka. Dengan penuh semangat, dia melihat alamat yang tertera di kartu tanda penduduk (KTP) yang ada di dalam dompet itu.


Sementara itu Arka yang juga tiba-tiba ingin berkunjung ke rumah dulunya, kini ia turun dari mobilnya dan parkir di pinggir jalan.


"Saat aku melihat senyum bahagia di wajah Sania, aku tau jika aku tidak cemburu... Tapi aku iri pada Kenzi, dia bisa membuat wajah Sania tersenyum... Sebenarnya apa yang terjadi di antara kita?," batin Arka sambil terus melangkah menuju alamat rumahnya.


"Ini tempatnya kan? Alamat yang tertera disini, benar ini rumahnya...."


Santi memandang rumah kecil di depannya dengan wajah penuh harap. Dia memastikan alamat rumah Arka dengan hati-hati sebelum memutuskan untuk mengetuk pintu rumah tersebut.


Santi berdiri di depan pintu rumah Arka yang kosong, mengetuk-ngetuk dengan harap-harap cemas. Namun, tidak ada respons. Dia merasa sedikit kecewa dan bingung. Santi memutuskan untuk pulang dan meninggalkan rumah itu dengan perasaan campur aduk.


Santi hendak menyimpan dompet Arka di depan pintu rumahnya, namun tiba-tiba Arka melihat dan mencurigai Santi.


"Hei! Kamu disana! Sedang apa kau!," teriak Arka dari kejauhan sehingga membuat Santi merasa terkejut dan ketakutan hingga dia berlari dan kabur tanpa sempat menyimpan dompetnya.


Santi terus melarikan diri karena Arka terus mengejarnya, ia terus berlari menyusuri jalanan gang yang sama sekali tidak ia kenali. Namun Arka sudah tau dengan baik setiap seluk beluk jalan tempat tinggalnya itu dan akan menunggu Santi di tempat yang pasti Santi akan keluar dari jalan itu.


Dan benar saja, kini Santi sedang berlari sambil melihat ke belakang. Dan kep! Akhirnya Arka yang sudah menunggunya di ujung jalan berhasil menangkap tangan Santi.


"Mau melarikan diri hah! Oh, jadi ternyata kamu!." Kata Arka sambil mengambil dompet yang Santi pegang.


"Aku...."


"Aku tau kamu mencurinya, jadi kamu seorang pencuri hah!." Bentak Arka sambil mengecek dompetnya.


"Tidak! Aku tidak mencurinya... Aku hanya menemukannya dan ingin mengembalikannya padamu, sungguh...."

__ADS_1


"Kamu masih membantahnya?," kata Arka sambil memperlihatkan isi dompetnya yang sudah kosong melompong. "Aku rasa kamu sudah menghabiskan uangnya, dan kini ingin merampok rumahku!."


"Tidak," jawab Santi lalu mengambi uang dari sakunya. "Ini, aku kembalikan uangmu... Aku memang ingin meminjam uangmu, sekarang aku kembalikan uangmu, kamu puas!."


Santi berbalik dan hendak pergi, tapi Arka menarik tangannya. "Lepaskan!."


"Kenapa kamu tidak ambil saja uangnya dan menghilang... Jika kamu kesini bukan untuk mencuri, kenapa datang untuk mengembalikan dompetku? Cepat katakan!."


"Itu karena, aku pikir foto di dompetmu sangat berharga untukmu," jawab Santi, Arka pun terperangah dan berpikir sejenak.


Arka membawa Santi ke rumahnya yang dulu dan mengajaknya masuk. Santi duduk di kursi, sambil memperhatikan sekeliling rumah yang sudah kosong. Dia merasa terkesima melihat bagaimana rumah itu berbeda dari rumahnya sendiri di desa.


Tiba-tiba, Arka keluar dari kamarnya dengan membawa kotak kecil berisi obat luka. Dia menyadari bahwa Santi mungkin terluka saat bertabrakan dengannya kemarin.


"Ambillah," kata Arka sambil menghulurkan kotak obat luka ke Santi. "Mungkin kamu perlu menggunakan ini untuk merawat luka-luka yang kamu alami saat jatuh kemarin."


"Terima kasih, tapi aku tidak apa-apa, hanya goresan kecil," jawab Santi merasa sungkan. "Apa aku sudah bisa pergi?," tanya Santi hendak berdiri.


"Saat kemarin, aku melihat seseorang sedang mengejarmu, apa kamu seorang penyelundup? Apa kamu terlibat dengan perdagangan manusia?."


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin kuceritakan padamu," kata Santi dengan suara bergetar. "Aku dan teman-temanku, kami menjadi korban penculikan beberapa waktu yang lalu."


Arka terkejut mendengar pengakuan Santi. Dia mendekati Santi dengan penuh perhatian. "Ceritakan padaku apa yang terjadi."


Santi melanjutkan, "Kami dari desa kecil di Kalimantan, dan kami berdua, aku dan temanku, ditawari pekerjaan di kota. Ternyata, orang-orang yang mengaku membantu kami mengatur pekerjaan itu adalah penjahat yang ingin menjual kami."


Wajah Arka memucat mendengar cerita Santi. Dia tidak bisa membayangkan betapa mengerikan pengalaman itu bagi Santi dan teman-temannya.


"Saat kami menyadari niat jahat mereka, kami berusaha melarikan diri. Beberapa dari teman-temanku berhasil kabur, tapi temanku dan beberapa orang lain tertangkap kembali," lanjut Santi dengan suara gemetar.


Arka merasa marah dan tidak tahan melihat ketidakadilan yang menimpa Santi dan teman-temannya. Dia berjanji dalam hati bahwa dia akan melakukan segalanya untuk membantu mereka. Lalu Arka meraih ponselnya hendak melakukan panggilan pada seseorang.

__ADS_1


Merasa khawatir, Santi ingin menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari sana, namun Arka mencegahnya kembali dan menghalangi jalan keluar. "Kamu mau pergi kemana?."


"Aku mohon lepaskan aku, kamu tidak seperti orang jahat, jangan serahkan aku pada mereka, aku mohon...." Pinta Santi sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Jangan takut, aku tidak bersama orang-orang yang mencarimu, aku akan menghubungi teman-temanku untuk menolongmu."


Kemudian Arka menelepon Nino dan menyuruhnya untuk pergi ke rumahnya yang dulu. Arka pun meminta Nino untuk mengajak Kenzi agar ikut bersamanya lalu menutup telponnya dan melihat Santi kembali.


"Sekarang katakan, siapa namamu?."


"San-ti... Namaku Santi."


Seketika Arka teringat Sania saat mendengar nama Santi yang hampir mirip dengan nama Sania yang berawalan 'San'.


Malam pun tiba, kini Nino dan Kenzi pun sudah berada di rumah Arka dan membahas persoalan yang menimpa Santi yang berkaitan dengan Jack.


Nino merasa emosi karena bisa-bisanya Jack memaksa gadis baik-baik untuk di jadikan wanita penghibur. Dia merasa bukankah lebih baik mempekerjakan wanita yang benar-benar ingin menghasilkan uang dengan cara itu, bukannya malah menculik para gadis yang tidak berdosa.


"Apa kamu tau dimana mereka di kurung? Ada berapa orang yang bersamamu?," tanya Kenzi pada Santi yang duduk dan berada di sekitar tiga cogan itu.


"Saat kami didorong keluar dari kapal, sebuah perahu datang menjemput kami, ada sekitar tujuh atau delapan orang, kami di bawa memakai truk tertutup saat tiba di darat sehingga kami tidak sempat melihat sekeliling kami." Jelas Santi.


"Menyelundupkan beberapa gadis adalah satu hal yang lumrah, tapi memaksa para gadis itu menjadi prostitusi beda lagi ceritanya, aku rasa bos Remon tidak mengetahuinya, jika hal ini terbongkar maka akan berdampak buruk di mata polisi dan geng, dan aku rasa bos Remon tidak akan mengizinkan Jack melakukan hal ini," ujar Arka.


Lalu mereka mengambil kesimpulan jika pembeli dan penjual telah di atur oleh Jack. Dia menculik beberapa gadis dan menjualnya secara ilegal dengan menggunakan nama orang lain. Dalam artian Jack bertransaksi menggunakan nama perusahaan dan memberinya keuntungan sendiri.


Jika dalam aturan geng Elang, maka hukuman Jack harus mati tidak terhindarkan jika semua itu terbongkar. Oleh karena itu mereka menjadikan hal itu sebagai senjata untuk menyerang Jack saat Jack menyerang mereka.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Bersambung...

__ADS_1


Lanjut next episode πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ‘‰πŸ˜‰


__ADS_2