PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 10


__ADS_3

"Nona, Tuan Egi menunggu anda di ruangannya." ucap resepsionis saat Lily hendak meninggalkan perusahaan Egi.


Lantaran Lily sudah sedikit lama menunggu kalimat tersebut. "Serius?" tanya Lily tidak percaya.


"Iya Nona." ucap resepsionis dengan wajah bingung melihat ekspresi Lily. "Apa benar dia kekasih Tuan Egi." batin resepsionis melihat tubuh Lily semakin menjauh darinya.


"Gue pikir sekertaris Egi berpakaian seksi. Tapi tidak, emm,,, tapi dia tetap cantik." batin Lily memandang ke arah Selly, sekertaris Egi.


"Tuan, Nona Lily sudah datang." ucap Selly membawa Lily masuk ke dalam ruangan Egi.


Lily masuk dengan perasan takut bercampur khawatir. Dengan meremas telapak tangannya sendiri, Lily masuk ke dalam ruangan Egi.


"Hemm." ucap Egi dengan mata masih memandang ke arah lembaran kertas di depannya.


"Kalau begitu, saya permisi Tuan." pamit Selly dengan sopan. Selly tersenyum pada Lily sebelum keluar ruangan.


Satu menit, dua menit, tiga menit....... sepuluh menit berlalu. Dengan Lily masih berdiri di depan meja kerja Egi. Sementara Egi, malah fokus pada lembaran kertas di atas mejanya.


"Tuan Egi." seru Lily kehilangan kesabaran. Egi mengalihkan pandangannya menatap Lily.


Deg,,,,, jantung Lily berdetak melihat Egi menatap tajam ke arahnya. "Jangan takut Lily. Demi membatalkan perjodohan." batin Lily teguh.


"Kenapa kamu mengacuhkanku?" tanya Lily dengan perasaan kesal.


Egi tersenyum miring. Melihat Lily dari ujung rambut hingga ujung kepala. Membuat Lily spontan mendekap sendiri tubuhnya.


"Tenang saja. Saya tidak tertarik dengan anda. Sedikitpun." ucap Egi.


Lily menurunkan tangannya. Mengepalkan telapak tangannya dengan erat. Tentu saja perkataan Egi seperti sebuah jarum yang ditusukkan tepat di jantung Lily.


"Jika tidak punya kepentingan, anda bisa meninggalkan ruangan saya." usir Egi.


Lily melongo sempurna dengan tangan berkacak pinggang mendengar perkataan pedas dari Egi. "Sabar Lily, sabar." batin Lily.


"Papa ingin aku mengajakmu makan malam di rumah kami." ucap Lily langsung, tanpa berbasa-basi mengutarakan niatnya mendatangi Egi.


Egi menyandarkan badannya ke kursi. "Dalam rangka apa?" tanya Egi santai. Lily seperti tidak bisa menjawab pertanyaan Egi. Mulutnya seperti terkunci.

__ADS_1


Egi mengambil pena di atas mejanya dan memainkannya. "Apakah permainanmu masih berlanjut. Berpura-pura dan berbohong." ucap Egi.


Egi berdiri dan berjalan. Meletakkan pantatnya di meja kerjanya. Badannya tepat berada di depan tubuh Lily yang tidak bergerak sedikitpun.


"Se-setidaknya kamu bisa membantu aku." ucap Lily lirih.


"Apa untungnya untukku." Egi memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.


"Untung?" tanya Lily sambil berpikir dan menggaruk-garuk kepalanya yang tertutup topi.


"Kenapa aku jadi seperti kayu di hadapan dia. Tidak bisa di biarkan." batin Lily menyadari jika sedari tadi Egi menyudutkannya.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Lily dengan berani. Lily berjalan mendekat ke arah Egi. Tangannya terulur memegang dada Egi yang berbalut jas dan kemeja mahal.


Egi tersenyum samar melihat Lily. Terlihat jelas jika tangan Lily gemetar saat memegang dada Egi. "Amatir. Gue akan ladeni permainan elo." batin Egi.


Egi mencekal tangan Lily yang berada di dadanya. Mengecupnya pelan. Tangannya yang bebas menarik pinggang Lily. Membuat keduanya menempel, tidak menyisakan jarak.


Dapat Egi rasakan jika tubuh Lily bergetar. Jantungnya berdetak kencang. "Kamu yakin, mau mengabulkan semua keinginanku." bisik Egi membuat sekujur tubuh Lily merinding.


"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan." seru Lily.


"Mana mungkin. Lagi pula, siapa yang mendatangi siapa. Siapa yang membutuhkan siapa." ucap Egi dengan tangan bersedekap.


"Aaaa....!" teriak Lily segera meninggalkan ruangan Egi, dan meninggalkan perusahaan Egi.


Di dalam ruangan, Egi tertawa terbahak-bahak. ''Astaga. Polos sekali dia." gumam Egi.


Bahkan, suaranya terdengar sampai ke meja Selly, yang berada di depan ruangannya. "Nona Lily keluar dengan raut wajah kesal." gumam Selly melihat Lily keluar dengan ekspresi kesal. Bahkan sapaannya tidak di tanggapi.


"Sekarang Tuan Egi tertawa senang." imbuh Selly heran. "Ada apa sebenarnya." batin Selly merasa bingung.


"Pasangan aneh." ucap Selly. Pantas saja Selly berkata jika Egi dan Lily sepasang kekasih. Karena Lily mengaku sebagai kekasih Egi saat di tanya oleh resepsionis.


Egi yakin jika Lily belum pernah mempunyai kekasih. Atau bisa di bilang, belum ada lelaki yang menyentuh Lily. "Masih ada perempuan seperti itu." gumam Egi.


Mengingat sekarang dirinya berada di luar negeri. Dan di negara ini, semua orang dengan mudah dan tanpa malu melakukan **** bebas, tanpa ikatan.

__ADS_1


Bahkan mereka yang masih berpacaran, hubungan **** termasuk kewajiban yang harus mereka lakukan.


"Siapa lelaki yang akan di jodohkan dengannya. Sampai dia sefrustasi itu." ucap Egi lirih. Mengingat Lily sampai berbohong pada papanya jika dia adalah kekasih Lily.


"Biarkan saja. Pasti dia nanti akan kembali ke sini. Senang juga menggoda perempuan seperti dia." ucap Egi terkekeh.


Egi yakin Lily akan mendatanginya lagi. Apalagi Lily sudah memperkenalkan dirinya sebagai kekasihnya di hadapan Tuan Ardes. Dan Egi tahu betul siapa Tuan Ardes.


Sepertinya, kedepannya Egi akan mempunyai kesibukan baru. Egi kembali tersenyum mengingat betapa polosnya Lily.


"Padahal gue cuma mencium tangannya. Dan memegang pinggangnya. Dia sudah seperti itu." ujar Egi kembali duduk di kursi kebesarannya. Sembari menggeleng pelan.


"Tuan." ucap Beni sang asisten.


"Nona Lily masih di parkiran. Dia masih berada di dalam mobil." imbuh Beni.


"Biarkan saja." ujar Egi.


"Selesaikan pekerjaanmu, atau,,,," ucap Egi menggantung kalimatnya dengan menatap ke arah Beni dengan pandangan misterius.


"Saya permisi Tuan, pekerjaan saya masih banyak." pamit Beni dengan segera. Sebelum sesuatu yang tidak diinginkannya menimpa dirinya.


Sebenarnya Beni juga bingung sejak tadi. Antara mengabarkan keberadaan Lily yang masih berada di parkiran perusahaan pada Tuannya atau tidak.


Namun akhirnya, dirinya memilih mengatakan keberadaan Lily pada Tuannya. Meski Egi menanggapinya dengan acuh. Setidaknya dia sudah memberitahu pada Egi.


Sepeninggal Beni, Egi berjalan ke arah jendela. Melihat ke tempat parkiran mobil yang berada di depan perusahaan.


Dengan jelas, Egi dapat melihat mobil berjejer di depan perusahaannya lewat jendela di ruangannya. Tapi dia tidak tahu, mobil milik Lily yang mana.


"Ckk,, kenapa gue jadi kepo." decak Egi, kembali ke tempat duduknya.


Di dalam mobil, Lily mengumpat. "Bajingan, brengsek, sialan. Lelaki mesum." ucap Lily kesal.


Dengan perasan kesal, Lily melajukan mobilnya ke rumah Mauren. Hanya dia yang bisa mendengarkan semua keluh kesah Lily.


Selama berjalan tak hentinya Lily menyumpahi Egi. Padahal Egi hanya melakukan hal kecil padanya. Bagaimana jika Egi mencium dirinya. Mungin sekarang Lily akan membuat perusahaan Egi kacau.

__ADS_1


__ADS_2