
Kedua mata Lily berbinar melihat pemandangan di depan matanya. "Suka." bisik Egi di belakang Lily. Memeluk sang kekasih dari belakang.
Lily mengangguk, dengan bibir tetap tersenyum. "Kamu yang menyiapkan semua ini?" tanya Lily dengan wajah senangnya.
Egi mengecup singkat pipi Lily. "Bukan. Orang suruhan dariku yang menyiapkan semuanya." jawab Egi tersenyum.
Lily memukul lengan Egi yang berada di perutnya. Egi tertawa pelan, melepas pelukannya pada Lily. Membawa sang kekasih untuk bersitatap dengannya.
Egi mencium penuh kasih sayang pada kening Lily. Lalu membawa pujaan hati untuk duduk. "Silahkan." ucap Egi, memundurkan kursi tersebut.
"Terimakasih." Lily tersenyum dan segera duduk.
"Ini...." untuk kedua kalinya Lily di buat tertegun serta merasa jika malam ini Egi benar-benar memanjakannya.
Manakala Lily melihat hidangan di atas meja depan mereka. Semuanya adalah makanan kesukaan Lily. "Dari mana kamu tahu?" tanya Lily.
"Bahkan, warna dalaman kamu saja aku tahu." goda Egi, mengerlingkan sebelah matanya.
"Ckk,,,,," decak Lily. Egi hanya tertawa kecil melihat raut wajah Lily.
Keduanya lantas melakukan makan malam romantis. "Kenapa?" tanya Egi yang duduk di depan Lily. Melihat Lily terus menatap ke arah dirinya.
"Terimakasih banyak. Kamu sudah mau memberikan rasa, yang selama ini belum pernah aku dapatkan." ucap Lily dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Rasa cinta." lanjut Lily tersenyum senang.
Egi memegang telapak tangan Lily, mengecupnya berulang kali. "Aku bisa memberikan apapun untuk perempuan yang aku cintai. Termasuk nyawa." ujar Egi.
"Tapi ingat, aku juga bisa mengambil nyawa seseorang, jika merasakan sakit hati." lanjut Egi.
Lily cemberut, melepas telapak tangannya yang berada di genggaman Egi. "Merusak suasana." keluh Lily.
Egi berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan kirinya pada Lily. "Maaf. Untuk menebus kesalahan ku. Bersediakah princess Lily berdansa dengan saya." ucap Egi sangat formal.
Bibir Lily yang cemberut, seketika kedua sudutnya terangkat ke atas. Membentuk bulan sabit. "Karena kamu semakin pandai membuat aku malu sih." ucap Lily dengan pipi merona.
Keduanya lantas berdiri di tengah hamparan bunga buatan yang sengaja di persiapkan sebelumnya. Berdansa dengan romantis di bawah sinar bulan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Melihat Lily pergi berdua dengan Egi, menggunakan pakaian yang nampak seksi dan memperlihatkan kecantikan Lily. Membuat otak Vincen seketika tidak bisa berpikir jernih.
Dentuman musik beserta wangi khas alkohol beserta rokok menyeruak memenuhi indera pendengaran serta indra penciuman.
Tak ketinggalan, para perempuan dengan baju kurang bahan memamerkan sesuatu yang sangat indah di pandang kaum adam, sedang berjingkrak di lantai.
Vincen meneguk segelas kecil cairan berwarna biru dari gelasnya dengan sekali tenggak. "Isi lagi." pinta Vincen dengan pandangan mata menatap ke arah gelasnya yang kosong.
Currr,,, dengan senang hati, bartender mengisi ulang gelas Vincen yang sudah kosong. Kesendiriannya mengundang kaum hawa untuk mendekat ke arahnya.
Penampilan yang berbeda dengan yang lain. Menampakkan jika dia lelaki yang berasal dari kalangan atas.
Terlebih wajahnya yang tampan serta bentuk badannya yang proporsional. Benar-benar idaman perempuan.
"Sendiri?" seorang perempuan dengan pakaian minim mendekati Vincen.
"Perlu teman?" tanyanya lagi, saat mulut Vincen masih bungkam. Dengan pandangan mata masih menatap gelas berisi cairan biru di depannya.
Sang perempuan mulai memainkan aksinya. Meletakkan tangannya di pundak Vincen dengan perlahan. "Dengan senang hati, aku akan menemani kamu." bisiknya dengan nada sensual.
Melihat Vincen masih diam, tidak lantas membuatnya pergi meninggalkan tempat tersebut. "Well, ingin merasakan kenikmatan. Aku bisa memberikan." godanya, menempelkan dadanya yang montok di lengan Vincen.
"Jangan galak-galak dong." ucapnya semakin menggoda Vincen.
"Aku bilang, pergi. Enyahlah, sebelum nyawamu melanyang." geram Vincen, memegang erat gelas di depannya.
"Oke." ucapnya mengangkat kedua tangannya. Seolah menyerah. Perempuan tersebut mencium bau-bau amarah dari Vincen.
Dirinya memilih bermain aman dengan mencari terget lainnya, dari pada menggoda Vincen. Yang saat ini tengah menyimpan emosi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa yang kalian temukan?" tanya Revan dengan tidak sabar, saat orang suruhannya menemuinya.
Revan merasa tidak mungkin Amanda bisa melakukan semuanya sendiri. "Ditya. Saya hanya mengetahui jika Ditya beberapa kali menemui Amanda. Padahal keduanya tidak sedang dalam kerja sama bisnis." lapornya.
"Ditya. Kenapa? Kenapa dia mau menolong Amanda?" Revan merasa tidak mungkin pengusaha sekelas Ditya mau turun tangan atau sekedar membantu orang lain. Jika itu tidak menguntungkan.
"Apa mungkin, dia dan Amanda ada hubungan." gumam Revan.
__ADS_1
"Setahu saya, Ditya mempunyai masalah dengan Bob." ucapnya.
Revan duduk dengan kening berlipat. "Ada yang tidak beres. Aku yakin, masih ada sesuatu yang belum terkuak." Revan memijat pangkal hidungnya.
"Bagaimana dengan Aldric?" tanya Revan.
"Kerjasama perusahaan Amanda dan Aldric di batalkan. Tanpa ada denda sepeserpun."
"Gila!!" gertak Revan berdiri. "Siapa sebenarnya yang membantu Amanda." geram Revan.
"Lalu, bagaimana dengan dua orang di sebelah Amanda?" tanya Revan.
Padahal Revan sudah pernah menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang hal tersebut. Namun Revan masih tidak percaya. Menurut Revan, masih ada sesuatu hal yang mengganjal di benaknya.
"Mereka teman Amanda sewaktu kuliah." ucapnya. Lagi-lagi perkataan itu yang Revan dengar. Revan yakin, jika keduanya bukan teman Amanda saat kuliah.
Revan yakin, jika dia bisa mencari tahu siapa sebenarnya dua orang di samping Amanda saat ini. Dirinya juga akan tahu. Siapa sosok yang membantu Amanda.
"Bob." kata Revan. "Katakan." bentaknya, saat orang suruhannya malah diam dan memandangnya.
Tanpa berkata apapun, dia menyerahkan secarik kertas pada Revan. Dengan gaya angkuhnya, Revan menyerobot kertas tersebut sambil menatap tajam.
Revan meremas kertas tersebut. "Apa maksud Bob." kesal Revan.
Bob mengatakan jika dirinya dan Bob mulai sekarang tidak ada hubungan. Atau lebih tepatnya, Bob menginginkan putusnya kerja sama dia antara mereka.
"Maaf Tuan. Bob hanya memberikan itu pada saya." ucapnya.
Mengetahui Revan akan marah, segera dia keluar dari ruangan. Sebelum dirinya menjadi sasaran atas amarah Revan.
"Bob sialan, dia ingin meninggalkanku di saat seperti ini. Tidak bisa. Tidak akan aku biarkan." kesalnya.
Pasalnya saat ini Revan tidak mempunyai sesuatu yang akan menghasilkan uang. Oleh karena itu, Revan membutuhkan seseorang untuk berada di belakangnya.
"Bagaimana mungkin, Amanda bisa mengambil properti itu dengan mudah. Padahal sudah jelas, properti itu atas namaku." ucap Revan.
Brakkkk.... Tangan Revan menyapu semua benda yang berada di atas meja. Menjadikan meja sangat bersih dengan sekali gerakan.
Namun sayangnya, semua benda di atas meja kini sudah beralih ke bawah. Berserakan memenuhi lantai. "Semua tidak sesederhana yang aku pikirkan. Aku harus menemui Bob. Dan menanyakannya. Iya, benar." gumam Revan.
__ADS_1
Tanpa Revan ketahui, Bob sudah tahu jika sebelumnya Revan hendak berkhianat padanya. Seseorang seperti Bob, apa mungkin masih mau bekerja sama dengan orang yang pernah berkhianat padanya. Kita lihat saja.