
"Mama,,, papa...!" seru Lily, melepaskan pegangan tangannya dengan Nyonya Tiwi, dan segera berlari ke tempat kedua orang tuanya.
Nyonya Tya dan Tuan Ardes segera berdiri dari duduknya. Lily bergantian memeluk keduanya. "Kenapa mama dan papa bisa ada di sini?" tanya Lily.
Namun di acuhkan oleh kedua orang tuanya. "Silahkan duduk." ucap Tuan Ardes setelah melepas pelukannya dengan Lily pada Nyonya Tiwi.
"Terimakasih." Nyonya Tiwi terlebih dahulu memeluk calon besannya, Nyonya Tya dan berjabat tangan dengan Tuan Ardes sebelum duduk di kursi.
Tampak raut terkejut di wajah Lily. Sungguh, dirinya tidak menduga jika kedua orang tuanya berada di negara kelahiran sang kekasih.
"Ada apa?" tanya Nyonya Tiwi, merasa gemas dengan ekspresi yang ditunjukkan Lily.
Lily bergantian memandang semuanya. Namun, saat memandang Egi, tatapan Lily tampak kesal. Lily bisa menebak, jika Egi tahu semuanya. "Kenapa harus di rahasiakan." kesalnya dalam hati.
"Ada apa dengan wajahmu?!" goda Egi. Mencubit gemas pipi Lily, membuat semua yang duduk di meja tersebut tertawa.
"Iiihh,,, awas ya." Lily mengacungkan kepalan tangannya pada Egi, seperti hendak mengancam untuk meninju sang kekasih. Tapi Egi hanya tersenyum simpul.
"Bukan salah Egi, mama sama papa yang menginginkannya." ucap Nyonya Tya dengan senyum di bibir. Beliau tidak ingin jika Lily salah paham, dan marah dengan Egi
"Jahat banget." ucap Lily pura-pura merajuk.
"Anak mama." Nyonya Tya mengelus pelan rambut Lily.
"Bagaimana nak Egi?" tanya Tuan Ardes dengan tidak sabar.
"Pa, biarkan mereka mencicipi sesuatu dulu." tegur Nyonya Tya pada sang suami. Mendapat kekehan dari Nyonya Tiwi.
Lantaran memang, sejak mereka duduk di meja. Sudah ada berbagai macam hidangan dan minuman di atasnya.
"Tidak apa-apa. Sepertinya sudah ada yang tidak sabar menimang cucu." kelakar Nyonya Tiwi, mendapat tepukan kecil di lengannya oleh Nyonya Tya. "Sepertinya begitu." sahut Nyonya Tya.
Semuanya tertawa, selain Lily yang merasa kebingungan. "Ada apa sih ma?" tanya Lily yang merasa mereka akan membicarakan hal yang serius.
Namun mereka berbincang santai supaya terlihat lebih akrab. "Maaf, membuat kamu bingung." ucap Egi, menggenggam telapak tangan Lily.
Suasana seketika hening. Beberapa saat kemudian, terdengar musik romantis. Dengan cepat, Egi berjalan ke depan. Dimana ada panggung berukuran kecil, dengan sebuah piano berada di tengah.
__ADS_1
Egi duduk di sebuah kursi di belakang piano tersebut. Menatap sang pujaan hati dengan begitu mesra. Membuat Lily menjadi salah tingkah karena tatapan yang diberikan oleh sang kekasih.
Tingg,,, Mulai terdengar suara piano, menandakan jari jemari Egi mulai menekan not-not piano. Lily menengok ke kanan dan kiri. Memastikan keadaan restoran tersebut.
Sepi. Hanya ada lima orang di dalamnya. Yakni Lily, Egi, Tuan Ardes, Nyonya Tya, dan Nyonya Tiwi. Lily mengernyitkan keningnya.
Kenapa Lily tidak merasakan keanehan saat memasuki restoran tersebut. Lily menggelengkan kepala. Tidak mau ambil pusing, Lily segera kembali mengarahkan pandangannya ke atas panggung.
Dimana Egi dengan sangat piawai memainkan piano. Membuat keempat orang di dalam berdecak kagum. Bahkan Nyonya Tiwi.
"Sejak kapan putra tersayangku mahir memainkan piano?" tanya Nyonya Tiwi dalam hati. Sebab, selama ini. Nyonya Tiwi sama sekali belum pernah melihat sang putra memainkan alat musik. Apapun itu jenisnya.
Kedua mata Lily berkaca-kaca. Lily bukan perempuan bodoh, yang tidak mengerti lagu apa yang sekarang Egi sedang mainkan lewat piano tersebut.
"Sejak kapan, es batu bisa berubah seromantis ini." ucap Lily dalam hati.
Tanpa terasa, air mata Lily jatuh ke pipi. Segera Lily menghapusnya. Dirinya tidak ingin merusak momen romantis ini.
Selesai. Satu lagu telah Egi selesaikan dengan baik dan lancar. Dengan percaya diri, Egi melangkahkan kakinya kembali menuju meja sebelumnya.
Langkah Egi yang berwibawa, membuat Lily lagi-lagi terpana. "Sungguh sempurna ciptaanmu Tuhan." ucap Lily dalam hati, memuji calon suaminya.
Dengan ketiga orang di samping mereka langsung berdiri, memposisikan diri mereka di belakang Egi. "Ini,,,," Lily terkejut, melihat Egi mengeluarkan sebuah kotak, yang di dalamnya terdapat cincin yang begitu indah dan pastinya mahal.
"Maukah kamu menikah denganku. My Love." ujar Egi dengan suaranya yang mampu membuat kaum hawa menjerit histeris.
Lily membungkam mulutnya, kelopak matanya mulai buram. Lily mengangguk, dengan air mata lolos meluncur di pipi.
Egi berdiri, namun Lily tetap duduk di kursi. Kakinya seakan lemas untuk digerakkan. Sungguh, Lily merasa ini kejutan yang sangat tidak terduga dan sangat membahagiakan untuk dirinya.
Egi memeluk Lily dengan hangat, dan mencium kening Lily sebelum memasukkan cincin tersebut ke jari manis milik Lily.
"Selamat sayang." Nyonya Tya dan Nyonya Tiwi bergantian memeluk Lily.
Lily hanya bisa tersenyum, dan masih mengeluarkan air mata kebahagiaan. "Jangan menangis dong." ucap Egi, sembari menghapus air mata Lily di pipi.
"Aku senang." cicit Lily lirih.
__ADS_1
Semuanya tampak bahagia, dengan kejutan lamaran sederhana yang di berikan oleh Egi. Sebab, Egilah yang merencanakan semuanya.
Tuan Ardes dan Nyonya Tya pergi meninggalkan restoran, setelah acara kecil yang Egi lakukan untuk melamar Lily selesai.
Kedua orang tua Lily tersebut pergi ke negara lain, untuk meneruskan beberapa agenda perjalanan bisnis Tuan Ardes.
Masih di kediaman Nyonya Tiwi, Lily duduk di taman belakang. Bibirnya selalu tersenyum, dengan pandangannya menatap jari manisnya. Yang saat ini sudah melingkar cincin indah di jari tersebut.
Lily mencium lama cincin di jarinya tersebut. Seolah menyalurkan rasa bahagianya. "Senang sekali." goda Nyonya Tiwi, yang tiba-tiba berada di belakang Lily.
"Mama..." panggil Lily, segera berdiri dan memeluk calon mertuanya.
Nyonya Tiwi mengelus pelan bahu Lily. "Mama sangat senang sayang, mama akan mempunyai anak perempuan." Nyonya Tiwi mengurai pelukannya.
"Mama yang akan membuatkan gaun pengantinnya." ucap Nyonya Tiwi.
"Jangan ma...!" ucap Lily dengan cepat.
"Kenapa? Kamu tidak suka baju rancangan mama?" tanya Nyonya Tiwi dengan eskpresi sendu.
Segera Lily menggeleng. "Bukan seperti itu, Lily tidak mau mama capek." Lily mengelus lengan Nyonya Tiwi dengan penuh kasih sayang.
"Anak mama. Terimakasih." Nyonya Tiwi kembali memeluk Lily, merasa terharu atas perkataan yang baru saja Lily katakan.
Nyonya Tiwi merasa bahagian, lantaran Lily memperhatikannya. "Mama tidak akan capek. Kamu maukan?" bujuk Nyonya Tiwi.
Nyonya Tiwi memandang ke arah calon menantunya dengan eskpresi berharap. Lily mendesah pelan. "Tapi jangan terlalu dipaksakan." ucap Lily.
"Pasti. Setelah kalian menentukan tanggal pernikahan. Mama akan segera ke sana." ucap Nyonya Tiwi antusias.
"Egi belum pulang?" tanya Nyonya Tiwi. Pasalnya, sepulang dari restoran. Egi pamit untuk melihat secara langsung perusahaannya di sini. Sementara Lily dan Nyonya Tiwi pergi berjalan-jalan.
"Belum ma." ucap Lily.
"Anak itu. Pasti lupa waktu lagi. Hehhhh...." desah Nyonya Tiwi. Lily hanya tersenyum melihat calon mertuanya.
"Nanti, jika kalian sudah menikah. Mama minta tolong, ingatkan selalu pada Egi. Jangan terlalu sibuk bekerja." omel Nyonya Tiwi, Lily hanya mengangguk pelan dan tetap tersenyum.
__ADS_1
Nyonya Tiwi memegang telapak tangan Lily. "Maaf ya, Egi malah sibuk di perusahaan. Padahal seharusnya dia mengajak kamu berjalan-jalan." cerocos Nyonya Tiwi, yang mendapat anggukan lagi dari Lily.