
Zeo maju selangkah di depan Amanda. "Kemasi barang kalian. Dan keluar dari perusahaan. Sekarang." ucap Zeo dengan tegas.
Semuanya diam. Tak ada yang bersuara. Suara ancaman yang sempat di dengar Amanda, sekarang sudah tidak terdengar lagi.
Amanda tersenyum sinis. Tatapannya terkunci pada sosok Revan. Zea mendekat ke arah Amanda dan membisikkan sesuatu.
Amanda tersenyum penuh makna. "Revan, bilang pada Bob. Saya, Amanda mengucapkan terimakasih. Karena dia sudah menjaga papa dan mama saya dengan baik." ucap Amanda tersenyum simpul.
Kena. Zea membisikkan pada Amanda, untuk membuat hubungan Revan dan Bob hancur. Karena sekarang, Egi juga melakukannya pada Bob. Dan Zea mengetahuinya dari Beni.
Dan dapat di pastikan. Jika mulai saat ini, antara Bob dan Revan pasti sedang saling curiga. Revan memandang kaget ke arah Amanda.
"A-apa maksud kamu?" tanya Revan terbata. Amanda masih tersenyum. "Aku dengar, sekarang keadaan papa dan mama jauh lebih baik. Dan itu semua berkat Bob." ucap Amanda, semakin mengobarkan api dalam tubuh Revan.
"Tuan dan Nyonya. Bob. Mak-maksudnya. Apa maksudnya?" tanya Revan dengan tatapan penuh penasaran.
"Cihh..." Amanda berdecih. "Kenapa tanya padaku. Tanyakan saja pada Bob." Amanda menyiramkan bensin pada kobaran api yang masih membara. "Jangan lupa, sampaikan salam dariku dan rasa terimakasih dariku juga." imbuh Amanda.
"Bob. Apa dia yang sebenarnya menyembunyikan Tuan Joshua beserta sang istri. Apa dia memanipulasi semuanya. Seolah keduanya di culik. Jika benar, aku harus berhati-hati." ucap Revan dalam hati.
"Dan untuk kalian, seperti yang Zeo katakan. Angkat kaki kalian dari perusahaan. Sekarang. Tanpa pesangon." ujar Amanda tersenyum remeh, memandang seluruh karyawan yang sudah menjadi sekutu Revan.
"Mungkin ada yang ingin kalian sampaikan?" tanya Amanda dengan ramah, seolah menunjukkan jika dirinya sudah memaafkan kesalahan mereka.
__ADS_1
"Nona, maafkan saya." seorang karyawan perempuan maju menghadap ke depan Amanda. Berlutut sambil menyatukan telapak tangannya.
"Nona, berikan saya kesempatan sekali lagi." lanjutnya dengan air mata mengalir di pipi.
"Nona...!!" ucap mereka serempak. Mengikuti rekannya yang berlutut lebih dulu. Berharap jika dengan berlutut memohon di hadapan Amanda, maka Amanda akan
Tapi tidak dengan Revan. Dia masih berdiri. Tapi dengan tatapan mata yang kosong. Dan Amanda tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Revan. "Sebentar lagi, sebentar lagi kamu dan Bob akan saling menghabisi. Terimakasih Egi." ucap Amanda dalam hati.
Amanda tersenyum mengejek. "Kalian. Meminta tetap bekerja di sini?" tanya Amanda dengan lembut.
"Iya Nona." jawabnya dengan serempak. Mendengar nada lembut dari Amanda, mereka semakin berharap. Terlebih Amanda di kenal sebagai putri Tuan Joshua yang baik hati.
"Baiklah." ujar Amanda. Membuat semuanya tersenyum senang menatap Amanda. Apa yang ada dalam benak mereka terbukti, jika Amanda memang mudah memaafkan.
Begitu juga Zea dan Zeo. Namun, keduanya menatap Amanda dengan tatapan berbeda. Tentu saja keduanya tidak suka pada Amanda karena keputusan yang di ambil Amanda.
"Kalian akan aku pekerjakan sebagai OB. Bagaimana?" tawar Amanda dengan senyum menyibir.
Seketika senyum merekah mereka lenyap. Juga dengan Zea dan Zeo. Keduanya kini yang berganti tersenyum senang.
Dari pekerja kantoran yang memakai pakaian rapi. Duduk di kursi di dalam ruangan ber-AC, dengan bayaran tinggi. Dan sekarang menjadi OB. Dan pastinya dengan bayaran sedikit. "Terserah, semua keputusan ada di tangan kalian." ucap Amanda.
Amanda terlihat seperti malaikat penolong. Padahal sejatinya, Amanda sedang menginjak harga diri mereka. "Revan, kamu juga. Jika kamu ingin tetap bekerja di sini. Kamu bisa bekerja sebagai OB." ucap Amanda dengan tatapan lembutnya.
__ADS_1
"Ternyata Nona Amanda bisa juga bertindak kejam dan tegas. Ini baru namanya pemimpin." ucap Zeo dalam hati.
Sementara di depan perusahaan Amanda, Egi memandang ke layar ponselnya dengan tatapan rumit. Tampak Lily menggunakan dress sederhana dengan rambut panjang terurai. Sangat cantik fan menarik.
Dan ini pertama kalinya Egi melihat Lily memakai pakaian seperti itu. Tapi bibir Egi sama sekali tidak tertarik ke atas. "Cari di mana keberadaan Lily sekarang." perintah Egi pada Beni.
Tanpa berkata apapun, segera Beni mengeluarkan ponselnya. Menghubungi seseorang di seberang ponselnya.
Dengan perlahan, Beni mulai meninggalkan perusahaan Amanda. Menuju ke perusahaan Egi. Matanya sesekali mencuri pandang ke arah atasannya lewat kaca spion mobil.
Egi memandang ke luar jendela. Jelas ekspresi datar di raut wajah Egi. "Ada apa sebenarnya." ucap Beni dalam hati.
Masih dalam setengah perjalanan, terdengar suara ponsel milik Beni. Dengan perlahan, Beni menepikan mobilnya. Melihat ke arah layar ponselnya.
"Kita ke sana sekarang." perintah Egi, seakan Egi bisa menebak siapa dan apa yang ada dalam ponsel Beni.
"Baik Tuan." ucap Beni.
Di rumah Mauren.
"Lily..!!!" seru Mauren dengan senang, mendekat ke arah sahabatnya. Mauren juga tampak kaget dengan perubahan sahabatnya tersebut.
Mauren memegang kedua pundak Lily. "Kamu cantik banget." ucap Mauren menatap wajah Lily.
__ADS_1
Lily tersenyum malu. "Terimakasih." ucap Lily.
"Khemm..." dehem Vincen, mendekat ke arah Lily dan Mauren.