
Pandangan Egi mengarah ke kursi empuk. Dimana di sana duduk seseorang dengan senyum di bibirnya melihat ke arah Egi.
Tapi sayangnya, Egi segera mengalihkan pandangan matanya saat Tuan Ardes berbicara. "Silahkan duduk." kata Tuan Ardes pada Egi dan sekertarisnya. Selly.
"Kak Egi." sapa Lila, adiknya Lily.
"Lila baru saja pulang kuliah, lalu mampir ke sini." jelas Tuan Ardes. Egi hanya tersenyum dan mengangguk pelan. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Lila menggeser duduknya. Memberikan ruang pada Egi dan juga sekertarisnya. Tampak Egi dan Tuan Ardes membicarakan tentang kerjasama mereka dengan serius.
Dan Selly, mencatat apa saja poin penting dalam pertemuan ini. Tapi Selly juga tidak lupa membawa alat merekam kecil, untuk merekam obrolan mereka.
Hanya untuk berjaga-jaga. Jika dirinya melupakan atau tidak mencatat hal penting dalam pembicaraan keduanya. Dirinya tidak ingin dimarahi oleh Egi karena kelalaiannya.
Lila nampak duduk dengan tenang dengan memainkan ponselnya. Padahal sebenarnya, Lila tidak benar-benar memainkan ponselnya.
Di setiap ada kesempatan, Lila selalu mencuri pandang pada Egi. "Kak Lily beruntung banget sih." ucap Lila dalam hati. Memuji Egi.
Apalagi saat ini Egi sedang dalam mode serius. Membuatnya, tampak lebih menawan dan tampan berkali-kali lipat. Membuat Lila dengan betah menatap wajah rupawan milik Egi.
"Terimakasih atas kedatangannya." ucap Tuan Ardes berjabat tangan dengan Egi.
"Sama-sama. Saya pamit terlebih dahulu." ucap Egi.
Egi dan Selly pergi meninggalkan ruangan Tuan Ardes. Dan Lila, di buat melongo atas sikap Egi. Sewaktu meninggalkan ruangan papanya, Egi bahkan tidak menyapa Lila, memandang ke arah Lilapun tidak.
"Sumpah. Aku ada lo. Masih terlihat." gumam Lila, terkejut dengan sikap Egi.
"Serius, dia menjalin hubungan dengan kakak. Tapi kenapa acuh banget." imbuh Lila dalam hati. Padahal dia adik dari Lily, kekasihnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Semalam Nona ke mana?" tanya Revan dengan nada terlihat menahan amarah.
"Di rumah." jawab Amanda singkat. Meneruskan makan siangnya. Tanpa melihat ke arah Revan.
Karena hari ini Amanda tidak berangkat ke perusahaan. Dirinya ingin bersantai di rumah. Amanda beralasan jika kurang enak badan.
Revan memandang tajam ke arah Amanda yang sedang duduk di meja makan. Tepat di depannya. Tapi semua itu tidak mempengaruhi Amanda.
Dia tetap mengacuhkan kehadiran Revan. Menikmati makan siang dengan nikmatnya.
__ADS_1
Tanpa berkata sepatah katapun, Revan meninggalkan meja makan. "Huftt..." Amanda menghembuskan nafas panjang begitu Revan pergi.
Ternyata Amanda berusaha setengah mati untuk bersikap tenang saat Revan berada di depannya. Dirinya ingin menunjukkan pada Revan jika dirinya tidak terpengaruh dengan kehadirannya.
"Nona, sebaiknya anda mencari seseorang untuk menjauhkan diri dari lelaki tersebut. Dia nampak berbahaya." ucap Nanny lirih.
Nanny melihat jika kehadiran Revan di samping Nonanya, membuat Amanda tertekan. Nanny juga kurang menyukai sikap Revan. Yang terkesan arogan dan sombong.
Padahal Revan sama seperti dirinya. Pelayan keluarga Amanda. Tapi Revan tidak bersikap layaknya pelayan pada umumnya. Membuat Nanny juga menaruh rasa curiga.
"Amanda juga bingung. Kenapa papa sangat mempercayai dia. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Amanda pada dirinya sendiri.
"Nona harus bisa bertahan dan juga berhati-hati." ucap Nanny memberi semangat, dan juga mengingatkan. Amanda tersenyum dan mengangguk.
Ingin rasanya Amanda mencari tahu yang sebenarnya terjadi. Atau lebih tepatnya, kenapa sang papa begitu mempercayai Revan untuk mengurus dan menjaga Amanda.
Tapi Amanda tidak mempunyai keberanian untuk melakukannya. Dan juga, Amanda bingung, harus memulai dari mana jika dia mau memulai penyelidikan.
Bisa dikatakan Amanda adalah wakil papanya untuk mengambil keputusan di perusahaan, selama sang papa berada di negara tetangga untuk melakukan pengobatan.
Tapi sebenarnya, semua keputusan Revanlah yang membuat dan menentukan. Yang dibutuhkan dari Amanda hanyalah tanda tangan Amanda. Tidak lebih. Jadi bisa dikatakan, Amanda hanyalah boneka hidup milik Revan.
"Sebenarnya Amanda kepikiran seseorang yang bisa menolong Amanda. Tapi, Amanda tidak yakin jika dia mau membantu." ucap Amanda lirih.
"Teman Amanda." ucap Amanda bohong.
Jujur, Amanda juga tidak mau menjadi bonekanya Revan terus menerus. Tapi Amanda tidak punya kekuatan untuk menolak atau membangkang.
"Kenapa aku sangat lemah?" batin Amanda mengejek dirinya sendiri. Merasa tidak berguna.
"Apa dia bersedia membantuku. Jika aku menceritakan semuanya." batin Amanda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Lily." sapa seorang lelaki sewaktu Lily berjalan menuju parkiran yang berada di pelataran kampusnya.
Lily menoleh ke arah lelaki yang menyapanya. "Hay." sahut Lily tersenyum tipis. Ternyata dia adalah Vincen. Saudara Mauren.
"Mauren kemana?" tanya Vincen berjalan di samping Lily.
"Masih ada perlu sama dosen." jawab Lily.
__ADS_1
"Dia tidak pulang bareng kamu?" tanya Vincen.
"Tidak." jawan Lily tanpa melihat ke arah Vincen.
"Setelah ini mau kemana?"
"Pulang." jawab Lily singkat.
"Emm,, tunggu." ucap Vincen memegang lengan Lily, membuat Lily menghentikan langkahnya. Dan memandang ke arah tangannya yang di cekal oleh Revan.
"Maaf." ucap Revan melepas tangannya, melihat Lily memandang ke arah tangannya.
"Boleh minta nomor ponsel?" Lily memandang ke arah Vincen dengan tatapan datar, tanpa ekspresi apapun.
"Mauren punya nomor ponselku. Minta saja padanya." ucap Lily.
"Saya sedang buru-buru. Permisi." pamit Lily meninggalkan Vincen yang masih berdiri memandang kepergian Lily dengan tatapan sulit di artikan.
Di dalam mobil, Lily mengeluarkan ponselnya. "Masih jam segini." gumam Lily. "Pulang nanti saja." imbuhnya.
Segera Lily mencoba menghubungi Egi. Tapi tidak diangkat. "Apa dia sibuk ya." ucap Lily.
"Apa akau datang ke perusahaannya saja." Lily segera melajukan mobilnya meninggalkan parkiran kampus.
Berhenti di restoran untuk membeli makanan. Segera dia masuk ke dalam mobil dan menuju ke perusahaan Egi.
"Semoga Egi ada." ucap Lily berharap bertemu dengan Egi.
Jodoh tak kemana. Egi dan Lily secara bersamaan memarkirkan mobilnya di area parkir perusahaan Egi. Karena Egi juga baru saja pulang dari perusahaan Tuan Ardes. Papanya Lily.
"Egi." panggil Lily melihat Egi berjalan bersama dengan sekertarisnya.
"Saya duluan Tuan." ucap Selly meninggalkan Egi yang masih berdiri memandang ke arah Lily yang berjalan menuju ke tempatnya berdiri.
"Aku bawa makan." ucap Lily menaikan kantong kresek yang dibawa olehnya.
Egi tersenyum samar. Entah apa yang ada dalam benaknya. Tanpa berkata apapun, Egi berjalan lebih dulu tanpa mengajak Lily.
Anehnya, Lily tidak marah atau kesal. Dia malah tersenyum dan segera berjalan. Guna mengejar langkahnya yang tertinggal dari Egi.
Keduanya hanya diam dan berjalan berdampingan. Para karyawan yang melihatnya, ingin sekali melihat seperti apa perempuan yang berjalan di samping atasannya tersebut.
__ADS_1
Lantaran selama ini, atasannya tidak pernah sekalipun membawa perempuan ke perusahaannya. Selain rekan kerja.
Tapi kali ini ada pemandangan berbeda. Egi berjalan beriringan dengan seorang perempuan, meski mereka tidka berpegangan tangan.