PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 72


__ADS_3

"Kamu pikir bisa lari semudah itu. Tidak sayang." seringai Nando. Tampak lebam di wajah dan lengan Nando akibat pukulan dari Lily.


Dan pastinya di badannya yang tidak terlihat karena tertutup oleh kaos dan celana panjang yang ia kenakan. Karena Lily memukul Nando secara membabi buta.


Lily mengira jika Nando sudah tidak sadarkan diri akibat pukulannya. Membuat Lily segera berlari tanpa membawa tongkat besi tersebut. Tapi ternyata dugaan Lily salah. Nando masih tampak kuat.


"Apa memang seorang psikopat memiliki tubuh yang kuat." ucap Lily dalam hati, merasa dia sudah memukul Nando dengan mengerahkan semua kekuatannya.


"Sekarang giliranku, cantik. Haaa.. haaa..." ucap Nando tertawa lepas. Lily memegang sebelah bahunya dengan memundurkan badannya. Karena posisi Lily saat ini sedang duduk di atas aspal.


Lily memejamkan kedua matanya, saat Nando terlihat mengayunkan tongkat besi tersebut. Bersiap menerima pukulan dari Nando.


"Kenapa lama." ucap Lily dalam hati, karena dia tidak merasakan sakit di badannya. Lily memberanikan diri membuka kedua matanya.


Seorang lelaki berwajah tegap berdiri di depan Lily, tangannya memegang tongkat besi yang hendak di pukulkan pada Lily.


"Siapa dia?" tanya Lily lirih, lantaran tidak mengenal sosok yang berdiri di depannya.


"Bawa dia ke markas." perintah seseorang dengan nada dingin, berdiri di belakang Lily.


Lily hapal betul pemilik suara tersebut. "Egi." ucap Lily dengan suara parau.


Beberapa anak buah Egi segera menangkap Nando. Sementara Egi menggendong Lily ala pengantin baru. Lily mengalungkan kedua tangannya di leher Egi dengan membenamkan wajahnya di dada bidang milik Egi.


"Jangan sentuh dia. Karena dia milikku." ucap Egi pada anak buahnya, sebelum meninggalkan tempat tersebut.


Sangat mudah bagi bawahan Egi untuk melumpuhkan Nando. Terlebih sebelumnya, Nando sudah babak belur karena Lily.


Seseorang yang di perintahkan Egi untuk mengikuti kemanapun Lily pergi, kehilangan jejak Lily dan Nando saat dirinya memberitahu Egi lewat ponselnya.


Dia kehilangan jejak Lily saat Nando mencuri ponsel milik Lily. Membuat Lily berlari mengejarnya. Karena tempatnya berdiri di seberang jalan yang berlainan dengan posisi Lily berada, membuatnya tidak bisa berlari dengan cepat. Karena harus menyeberang.

__ADS_1


Terlebih saat itu jalanan cukup ramai. Sehingga dia menyeberang dengan memperhatikan arus dan laju kendaraan. Mengakibatkan dia kehilangan sosok Lily.


Namun dia terus berusaha mencari keberadaan Lily. Bahkan, setelah Egi datang. Dia juga belum menemukan keberadaan Lily. Membuat bawahan Egi harus berpencar. Lantaran banyak sekali gang di daerah tersebut.


Beruntung, mereka datang tepat waktu untuk menyelamatkan Lily dari kebengisan seorang Nando.


Di dalam mobil, Egi duduk di belakang. Dengan Lily berada di pangkuannya. Memeluk Egi dari depan. Dan Beni sang asisten berada di balik kemudi.


Tidak ada percakapan selama mereka berada di dalam mobil. Hingga Egi masih menggendong Lily untuk masuk ke dalam apartemennya.


Dengan perlahan, Egi menurunkan tubuh Lily di atas kasur empuk miliknya. "Jangan pergi." Lily memeluk tubuh Egi dengan erat. Saat si empunya hendak melangkahkan kaki.


Dengan pelan, Egi melepas pelukan Lily di perutnya. "Aku hanya ingin mengambilkan air minum untukmu." tukas Egi mengusap air mata di kedua pipi Lily.


Perkataan Egi membuat Lily melepaskan pelukannya pada Egi. "Minumlah." Egi menyodorkan segelas air putih pada Lily.


Egi kembali mengambil gelas kosong di tangan Lily. Karena Lily meminum air tersebut hingga tandas tak tersisa. Egi menaruh gelas tersebut di atas meja damping tempat tidur.


Lily memeluk tubuh Egi. "Jangan marah." pinta Lily, membuat Egi mengerutkan dahinya.


Lily melepaskan pelukannya. Menengadahkan wajahnya untuk melihat wajah sang kekasih. "Sungguh, aku tidak berpakaian seperti ini untuk menemui Vincen." ucap Lily dengan wajah cemas.


Egi hanya diam, memandang pada Lily. Membiarkan Lily mengatakan apa yang ingin dia katakan. "Ini pertama kalinya aku memakai pakaian seperti ini. Tadi, aku berniat menemui Mauren. Tidak tahunya di sana ada Vincen. Sungguh." Lily mencoba membuat Egi percaya dengan perkataannya.


Cup... cup... cup... Egi berkali-kali mencium bibir Lily dengan singkat. Lily mengulum sendiri bibirnya. Wajahnya yang semula pucat kini bersemu merah karena rasa malu.


"Kamu tahu, nyawaku seakan melayang mendengar kamu bertemu dengan Nando." ujar Egi. Alih-alih memikirkan saat melihat Lily di pegang tangannya oleh Vincen. Yang memang emosinya sempat meluap sampai ke ubun-ubun.


Namun semua rasa cemburu tersebut seketika sirna, saat bawahannya melaporkan jika Lily bertemu dengan Nando. Rasa cemburu yang membumbung tinggi seketika lenyap berganti rasa khawatir yang teramat sangat.


Egi meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Lily. "Aku bersumpah, jika terjadi apa-apa dengan kamu. Detik itu juga aku akan melenyapkan Nando." ucap Egi dengan mata berkabut karena amarah.

__ADS_1


Segera Lily memegang kedua telapak tangan Egi dan menciumnya berkali-kali. "Jangan meninggalkan aku. Aku sangat mencintai kamu." Lily memeluk erat tubuh Egi.


"Tidak akan." Egi merasa senang, mendengar pernyataan cinta dari Lily. Berjuta kupu-kupu seakan terbang di sekitar mereka.


"Aku pikir kamu marah. Saat melihat aku bersama Vincen di rumah Mauren." ujar Lily, masih sesegukan.


Egi mengecup pipi Lily yang masih basah karena air mata. "Siapa yang tidak marah dan cemburu. Melihat perempuan yang di cintanya memakai pakaian seperti ini. Bersama lelaki yang pernah mengungkapkan rasa cintanya." Egi menunjuk dress sederhana yang di pakai oleh Lily.


Lily cemberut. "Ini karena Lila dan mama." sebal Lily dengan nafas belum stabil, karena baru saja menangis.


"Kamu tahu?" Egi menggeleng. "Lila dan mama menyuruhku untuk memakai pakaian seperti ini. Kamu tahu untuk siapa?" lagi-lagi Egi menggeleng, meskipun dia sudah tahu jawaban pastinya.


"Untuk kamu." tunjuk Lily pada dada Egi dengan wajah cemberut.


Egi tersenyum samar. "Kam-kammu kenapa?" Lily memundurkan duduknya melihat Egi menatapnya dengan pandangan lain dan bibir tersenyum.


"Jangan menakutiku." imbuh Lily, menjaga jarak dari Egi.


Egi tersenyum jahil. Mengerlingkan sebelah matanya. "Egi,,," seru Lily merasa merinding. Lily lebih memilih Egi bersikap biasa padanya, ketimbang saat Egi seperti ini.


Mungkin karena Lily belum terbiasa akan perhatian yang di berikan oleh Egi padanya. "Kamu mau apa." ucap Lily bergetar takut.


Egi memajukan duduknya. Tangannya meraih bahu Lily. "Melihat luka kamu. Memang kamu pikir aku mau melakukan apa. Hemmm." Egi menyentil hidung mancung milik Lily.


Dengan pelan dan rasa malu, Lily sedikit menurunkan baju di pundaknya. Membuat bahu Lily terlihat jelas. "Astaga, Lily." geram Egi, melihat bahu Lily memar.


Egi segera berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam almari. "Ganti pakaianmu sekarang." perintah Egi menyerahkan sesuatu pada Lily.


Lily mengambilnya dan memandang apa yang saat ini berada di tangannya. "Dengan ini?" tanya Lily ragu.


"Iya, cepat. Aku akan ambil obat." ujar Egi.

__ADS_1


__ADS_2