PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 43


__ADS_3

Begitu sampai di negara sebelah, Bob langsung mendatangi rumah sakit di mana Tuan Joshua dan sang istri seharusnya di rawat. Karena memang niatnya datang hanya untuk itu.


"Kenapa bisa kalian lalai. Tidak becus!!" hardiknya pada bawahannya yang berjejer rapi di depannya.


Saat ini, Bob berada di ruang kendali CCTV. Melihat semuanya dari sana. Sama seperti yang di lakukan oleh bawahannya tadi, sebelum dirinya datang.


Bob duduk tepat di depan layar yang memperlihatkan bagaimana dengan mudahnya mereka mengeluarkan Tuan Joshua beserta sang istri.


"Mereka sangat terlatih. Bahkan setiap gerakannya nampak ringan tanpa rasa beban dan juga tanpa takut. Pasti ada seseorang di balik hilangnya mereka." ucap Bob dalam hati.


Bob berpikir, pasti ada seseorang yang berpengaruh akan hilangnya tawanan mereka. Tapi siapa. Kenapa dia melakukannya.


Menurut Bob, akhir-akhir ini dia sama sekali tidak menyinggung orang.


Sementara semua anak buah Bob yang berjaga di depan ruangan menunggu dengan khawatir dan juga pastinya ketakutan. Karena mereka tahu bagaimana kejamnya sang majikan.


"Aku memberi kalian satu kesempatan. Temukan kembali mereka dengan segera. Jika sampai pulang tanpa membawa kabar." ucap Bob menjeda, dirinya sudah berdiri di antara anak buahnya di depan ruangan.


Semuanya tampak menunduk. Tak ada yang berani mengangkat kepala, sekedar melihat raut wajah sang majikan. Juga tidak ada yang bersuara. Bahkan, suara nafaspun tidak terdengar. Mereka seperti berdiri tanpa bernafas.


"Lebih baik kalian mati di sana. Dari pada aku harus mengotori tanganku untuk melenyapkan nyawa yang tidak berarti kalian." lanjut Bob dengan suara mengancam.


Semuanya segera bergegas melaksanakan perintah Bob. Mereka tidak ingin mati sia-sia. Meski Bob seperti memberi ampun pada mereka, tapi sesungguhnya dia menginginkan kematian mereka. Karena keteledoran dan ketidak becusan mereka dalam menjaga tawanan.


"Apa anda bisa melacak kemana perginya Tuan Joshua dan sang istri?" tanya Bob pada dokter yang dia beri wewenang untuk merawat keduanya.


"Saya sudah mencari informasi di semua rumah sakit di kota ini." dengan tenang sang dokter menjawab pertanyaan Bob.


Dirinya tidak ingin, jika Bob sampai mengetahui jika dia sedang dalam ketakutan yang luar biasa. "Hubungi aku, jika mendapatkan berita sekecil apapun." tanpa menunggu perkataan dari sang dokter, Bob meninggalkan ruangan beliau.


Sang dokter bernafas lega dan menyandarkan tubuhnya di kursi tempatnya duduk sepeninggal Bob. Seakan tenggorokannya terlepas dari jerat tali yang melingkar di leher.


Tak kalah terkejutnya dari Bob, Revan juga langsung marah dan emosi. Mendengar berita hilangnya Tuan Joshua beserta sang istri dari bawahannya.


"Bob. Apa kerjaannya. Benar-benar. Menjaga dua orang tidak berdaya saja tidak becus." geram Revan, menggenggam erat telapak tangannya.

__ADS_1


Prangggg..... Dengan kasar, Revan melemparkan gelas yang masih berisi air minum yang berada di genggaman tangannya ke arah tembok. Meluapkan emosinya yang membuncah seketika karena mendengar Tuan Joshua dan Nyonya Joshua hilang.


Bawahan Revan tersentak. Tapi dia tetap berdiri di tempat. Menahan rasa takut karena amarah dari Revan. Dirinya hanya tidak ingin menjadi sasaran atas kemarahan sang atasan.


"Apa sudah ada kabar mengenai keberadaan mereka?!" tanya Revan dengan nada meninggi, tanpa melihat lawan bicara.


"Sa--saat ini Bob sudah berada di sana. Kemungkinan dia sedang menyelidiki kasus ini." jelasnya, dengan tubuh bergetar.


"Amanda. Bagiamana dengan dia?"


"Amanda,,, eh. Nona Amanda masih berada di apartemen Tuan Egi."


Revan mengernyitkan keningnya. Berpikir, untuk apa Amanda begitu lama di apartemen Egi. "Jangan sampai Amanda bercerita pada Egi. Jika dia sampai melakukannya. Aku tidak akan segan-segan membuatnya menderita. Perempuan bodoh dan dungu." ucap Revan menghina Amanda.


Dikarenakan selama ini Amanda selalu diam dan menuruti semua perkataan dan perintahnya tanpa ada perlawanan darinya.


Membuat Revan menyimpulkan jika Amanda hanya perempuan yang tidak berguna. Hanya mempunyai wajah cantik dan tubuh seksi. Tak lebih dari itu.


"Pantau terus apartemen Egi. Laporkan segera jika melihat Amanda keluar dari sana." perintah Revan. Karena dirinya tidak busa menghubungi Amanda. Dan tidak mungkin jika dia menghubungi Egi.


"Papa,,, mama,,,," isak Amanda. Segera Lily mendekat. Membawa Amanda dalam pelukannya. Mencoba meringankan beban hati Amanda. Meski Lily tidak tahu apa yang terjadi.


Tapi melihat ekspresi dan kelakuan Amanda saat melihat lembar kertas tersebut, bisa dipastikan jika Amanda mendapat kabar buruk mengenai kedua orang tuanya.


Egi diam. Memandang Amanda dan Lily yang berpelukan. Egi memutuskan untuk memberitahu pada Amanda. Mengenai keadaan kedua orang tuanya.


Egi berharap jika dengan mengetahui keadaan kedua orang tuanya, bisa menjadi motivasi untuk Amanda dalam melawan Revan.


"Mereka sekarang sudah berada di bawah pantauan ku." ucap Egi tenang.


Amanda menghentikan tangisnya. Lily sedikit meregangkan pelukannya. "Pasti sekarang Revan dan orang-orangnya sedang kelimpungan dan kebingungan karena kedua orang tuamu tidak berada di tempat yang seharusnya." imbuh Egi.


Amanda meremas kertas yang di berikan oleh Egi. Dimana terdapat pemberitahuan mengenai keadaan kedua orang tuanya. Beserta gambar, dimana keduanya tengah berbaring di dalan ruang rawat.


Lily melepaskan pelukannya. Menepuk pelan pundak Amanda. "Pantas,,!! Revan selalu mengatakan jika mereka sedang sibuk." geramnya, dengan kedua mata merah. Karena tangisan dan juga amarah.

__ADS_1


"Revan... Kamu benar-benar melampaui batasmu." Amanda menatap ke arah Egi.


"Apa aku bisa menjenguk mereka?" tanya Amanda dengan wajah sendu dan memelas.


"Tidak bisa." jawab Egi tegas. Lily membulatkan kedua matanya. Kenapa Egi tidak memperbolehkannya. Padahal, pasti Amanda sangat merindukan di tambah mengkhawatirkan kedua orang tuanya.


"Jika kamu ke sana. Itu artinya Revan dan orangnya akan tahu keberadaan kedua orang tua kamu." jelas Egi.


"Kamu bisa mengeluarkan mereka. Itu artinya kamu bisa membuatku untuk menemui mereka." pinta Amanda. Lily merasa sedih, melihat Amanda.


Meskipun dirinya dan Amanda baru bertemu semalam. Tapi Lily bisa memastikan jika kehidupan Amanda sangat tragis dan berat.


"Bukan aku yang mengeluarkan mereka. Ditya yang melakukannya." ucap Egi santai.


"Ditya." gumam Amanda dan Lily bersamaan.


"Tapi, aku yakin. Kamu bisa melakukannya. Pasti Amanda mengkhawatirkan kedua orang tuanya." bujuk Lily, membantu Amanda. Merasa kasihan dengan Amanda.


Amanda berharap, jika Lily yang berbicara, maka Egi akan luluh dan memberikan dia izin. Tapi jawaban Egi benar-benar di luar prediksinya.


"Baik." kata Egi, Amanda dan Lily saling memandang dan tersenyum.


"Tapi." imbuh Egi, membuat senyum keduanya memudar seketika, dan kini malah merasa cemas menunggu perkataan Egi selanjutnya.


"Jika sampai Revan mengetahuinya. Jangan harap aku akan membantumu lagi." lanjut Egi dengan sungguh-sungguh.


"Apa benar-benar tidak bisa?" tanya Lily dengan pelan.


Amanda. "Revan tidak bekerja seorang diri. Ada orang lain yang membantunya. Dan dia malah lebih berbahaya dari pada Revan." jelas Egi.


"Kamu pikir, Revan bisa bekerja seorang diri. Dia hanya seorang lelaki pengecut dan tidak berguna. Hanya dengan satu gerakan, aku bisa mengatasinya. Tapi tidak dengan orang di belakangnya." tegas Egi, dirinya ingin jika Amanda bisa bersikap lebih rasional.


"Aku bukannya takut dengannya. Tapi, aku tidak mungkin ada dua puluh empat jam bersama dengan dirimu. Dia,,, dia kejam dan bengis." jelas Egi, melihat ke arah Lily.


Lily mengangguk. Lily sekarang mulai mengerti kenapa Egi menyuruhnya untuk menginap, bahkan menemani Amanda. Dan alasan Egi melarang Amanda. Lily memegang telapak tangan Amanda

__ADS_1


__ADS_2