PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 35


__ADS_3

"Antarkan Tuan Revan untuk mengganti bajunya. Layani dia, senyaman mungkin." ucap Egi, dengan penekanan nada di belakang kalimat.n


"Mari Tuan Revan." Beni mempersilahkan Revan untuk keluar dari ruangan Egi. Membuat Revan mengernyitkan dahi. Bukankah di dalam ruangan Egi juga terdapat kamar mandi.


"Tuan Egi tidak suka berbagi kamar mandi. Karena hanya dua orang yang bisa masuk ke dalam ruangan tersebut." jelas Beni, sambil berjalan.


Seolah Beni mengerti apa yang sekarang ada di dalam benak Revan. "Tuan Egi sendiri, dan juga OB." imbuh Beni menjelaskan.


Revan tersenyum mendengar perkataan Beni. Tapi Revan memakluminya, melihat siapa sosok Egi. Apalagi Egi bukanlah sosok yang mudah memperlakukan orang lain dengan baik.


"Silahkan. Saya akan menunggu di sini." ucap Beni, dengan sopan. Menyerahkan paper bag tersebut kepada Revan. Setelah mereka berada di depan toilet.


Revan merasa senang. Seorang Egi bahkan menyuruh asistennya untuk memperlakukan dirinya dengan begitu istimewa. Diantarkan oleh Beni menuju ke toilet. Bahkan, Beni sampai menunggunya di depan toilet.


Dan pastinya Revan mengira jika Egi sudah memandang dirinya. Sehingga menyuruh Beni untuk menjamin keamanannya. Bahkan menunggunya hingga dirinya selesai berganti pakaian.


"Waoww..." ucap Revan dengan mata berbinar. Saat dirinya tahu, pakaian yang berada di dalam paper bag tersebut. Berharga ratusan juta.


Beni membelikan semuanya, lengkap. Dari mulai dalaman hingga jas. Bahkan sepatu juga.


"Jika seperti ini, gue ikhlas jika badan gue ditumpahkan air setiap hari." ucap Revan terkekeh.


Sementara Revan di kamar mandi, Amanda segera memberikan sesuatu kepada Egi. Serbuk bubuk yang di temukan oleh Nanny di dalam kamar pembantu barunya.


Saat Amanda hendak berbicara, Egi menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya, dan menggeleng. Dirinya takut jika di dalam tas Revan ada alat perekam. Seperti sebelumnya.


Amanda sepertinya tahu maksud Egi. Segera Amanda mengetikkan kalimat di layar ponsel miliknya. Dan di serahkan pada Egi.


REVAN MEMPUNYAI NIAT MENJUAL TUBUHKU UNTUK MENDAPATKAN SESUATU.


Egi hanya memandang ke arah Amanda. Tampak di wajah Amanda, tersirat rasa takut. Karena memang dia tidak mempunyai seseorang untuk melindungi dirinya. Terlebih, dirinya tidak mempunyai kekuatan untuk melawan.


Sepertinya Egi sudah memperkirakan semuanya, sehingga dirinya sama sekali tidak terkejut, saat mendengar kabar tersebut. Egi yakin jika Revan akan menggunakan dan memanfaatkan keluarga Tuan Joshua dengan sangat baik.


Egi mengembalikan ponsel milik Amanda, tapi Egi menghapus terlebih dulu tulisan di layar ponsel Amanda. Egi hanya takut jika Amanda lupa.


Segera Amanda memperlihatkan hasilnya memfoto sebuah berkas, yang di taruh Revan di antara berkas yang lain. Untuk di tandatangani oleh Amanda.


Egi mengernyitkan dahinya. Mengambil ponsel miliknya. Dan memfoto layar ponsel Amanda. Setelah itu, Egi segera menghapusnya.


Amanda menggeleng saat Egi menatapnya. Amanda mengisyaratkan jika dirinya belum menandatanganinya. Segera Egi mengirim pesan pada Ditya, untuk mereka segera bertemu.


Amanda dan Egi mendengar jika handel pintu hendak dibuka dari luar. Segera keduanya berpura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing.


Revan yang baru masuk bersama dengan Beni, kembali duduk di sebelah Amanda. "Khemm." dehem Revan, melihat Amanda masih fokus pada permainan game di ponselnya.


"Maafkan sekertaris saya." ucap Egi.


"Tidak masalah Tuan. Terimakasih atas pakaiannya." ujar Revan.


"Maaf, sampai di mana kita tadi. Mungkin Nona Amanda melanjutkan perbincangan kita." ucap Revan, dengan ekor mata melirik pada Amanda yang terlihat cuek.


"Kami tidak membicarakan apapun." ucap Egi, menatap tajam ke arah Amanda. Seolah sedang kesal dan marah pada Amanda. Benar-benar akting yang hebat.


"Maaf." ucap Revan pada Egi. "Dasar, tidak berguna." ucap Revan dalam hati.


Mereka lantas kembali membicarakan proyek yang akan dilakukan bersama. "Terimakasih sudah datang." ucap Egi, bergantian berjabat tangan dengan Amanda dan Revan.


"Senang bekerja sama dengan Tuan Egi." balas Revan.


"Tenang saja. Saya akan bersikap baik. Pada dia yang layak mendapatkannya." ucap Egi dengan tegas. Membuat Revan menelan air liurnya dengan sulit.


Revan teringat berkas yang di berikan oleh Bob. "Beruntung Egi tidak melihatnya." batin Revan merasa ketakutan.


"Kamu cari tahu, bubuk apa ini." ucap Egi, setelah Revan dan Amanda pergi meninggalkan ruangannya.


"Baik." segera Beni melakukan perintah atasannya.


"Kenapa kamu menyuruhku datang?!" tanya Ditya mendaratkan pantatnya di kursi empuk ruang kerja Egi.


"Revan semakin berani." jelas Egi sambil berjalan menghampiri Ditya.


"Dia mempunyai niat menjadikan Amanda sebagai pelengkap dalam bisnis." imbuh Egi.


"Waow. Jika benar terjadi, bisnis Revan pasti akan berjalan semakin lancar." ucap Ditya tertawa sambil menggelengkan kepala.


Mengingat bagaimana Amanda. Dari bentuk tubuhnya, Amanda terbilang seksi. Dari wajahnya, Amanda sangat cantik. Pasti tidak ada lelaki yang akan menolaknya. Terlebih kulitnya yang seperti porselen.


"Kenapa kamu?" tanya Egi saat melihat Ditya terdiam.


"Amanda terlalu lemah. Padahal saat ini, dirinya harus bisa mengandalkan kemampuannya sendiri." ujar Ditya.


"Perempuan seperti itu. Memang ada." ucap Egi memandang Ditya dengan senyum mengandung penuh makna.

__ADS_1


Keduanya tertawa bersama. Mengingat seorang perempuan mereka di masa lalu. Yang tidak pernah mengandalkan bantuan orang lain. Tapi sayangnya, baik Egi maupun Ditya tidak ada yang bisa mendapatkan hatinya.


"Semua orang berbeda." ujar Egi. Ditya hanya mengangguk, menjawab perkataan dari Egi.


Egi memberikan ponselnya pada Ditya. "Ini...." ucap Ditya, melihat layar ponsel dari Egi.


"Perusahaan ini, bukankah baru beberapa bulan berdiri. Dan setahu saya, belum begitu berjalan dengan lancar. Bahkan, belum ada yang tahu. Siapa pemiliknya." ucap Ditya.


Ditya segera menghubungi Doris, asistennya. Menyuruhnya mencari tahu tentang perusahaan tersebut.


"Padahal Revan selalu menargetkan perusahaan besar. Kenapa sekarang dia menginginkan bekerja sama dengan perusahaan yang baru didirikan. Dan belum jelas pemiliknya." ucap Ditya.


"Kenapa belum jelas pemiliknya. Pasti kamu bisa menduga siapa pemiliknya." ucap Egi tersenyum miring.


"Sangat pintar dan juga licik." sahut Ditya.


Egi dan Ditya menduga jika Revan lah pemilik perusahaan tersebut. Dia sengaja menyelipkan lembar kertas tersebut di antara berkas-berkas lain. Dengan tujuan mendapatkan coretan pena dari Amanda.


Beruntung Amanda termasuk tipikal perempuan jeli. Sehingga dirinya mengetahuinya.


"Tuan." Beni masuk ke dalam ruangan. Membawa laporan mengenai bubuk yang diminta oleh Egi untuk di selidiki.


"Bubuk tersebut sejenis obat pelumpuh saraf. Tanpa bau dan rasa. Sehingga dapat menyatu dengan makanan ataupun minuman. Bekerja secara lambat. Sehingga orang yang mengkonsumsinya tidak akan mengetahuinya. Dan tidak pernah sadar jika makanan atau minuman mereka tercampur dengan obat tersebut." jelas Beni.


"Jangan bilang." ucap Ditya menatap ke arah Egi.


"Benar. Amanda yang memberikannya padaku." sahut Egi. "Ada bawahan Revan yang bekerja di dalam rumah Amanda." imbuh Egi.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ditya mulai gusar. Ternyata Bob dan Revan sudah berjalan sejauh ini.


"Aku tidak bisa menanganinya sendiri." jelas Egi. Ditya menatap dengan tatapan tidak percaya.


"Ada seseorang yang sedang mengincar ku." jelas Egi.


"Nando Ebara. Dia yang hendak mencelakai Lily. Dan sekarang, dia mengincar ku. Karena menggagalkan usahanya." imbuh Egi.


"Lily." ucap Ditya.


"Nando Ebara. Ebara,,, Ebara,,, dia..." ucap Ditya dengan kedua mata membulat.


"Putra pengusaha Ebara. Dia sangat berbahaya." jelas Egi.


"Kenapa kamu tidak langsung memukul intinya?" tanya Ditya.


"Itu artinya aku akan menantangnya secara terbuka." imbuh Egi.


"Ckk,,, terlalu bertele-tele." ujar Ditya.


Ditya sangat mengenal sahabatnya tersebut. Lelaki yang taat akan hukum. Dan pasti Egi akan menggunakan cara lembut. Mencari bukti yang kuat, menahan Nando di dalam jeruji besi. Selamanya.


"Jika aku jadi kamu, sudah aku lenyapkan dia." kesal Ditya.


"Tenang saja, jika tetap berulah. Akan aku kirimkan kepalanya pada Ebara." ucap Egi, terdengar bercanda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ada apa pa?" tanya Nyonya Tya, memakaikan dasi di leher sang suami. Nyonya Tya melihat sang suami termenung.


"Sahabat ku kembali menghubungi. Menanyakan tentang perjodohan yang pernah kami bicarakan." jelas Tuan Ardes.


"Apa yang kamu katakan?" Nyonya Tya membantu memakaikan jas di badan sang suami.


"Aku sudah memberitahu jika putri kita mempunyai kekasih." ucap Tuan Ardes, Nyonya Tya tersenyum mendengarnya.


"Kenapa?" tanya Nyonya Tya, melihat ekspresi wajah datar sang suami.


"Mereka akan datang kesini." ucap Tuan Ardes.


Seketika tangan Nyonya Tya berhenti. Memandang ke arah sang suami. "Jangan salah mengambil keputusan pa. Lily yang menjalani." ucap Nyonya Tya memberi masukan.


Karena jujur, Nyonya Tya terlanjut menyukai sosok Egi. Meski Egi terlihat cuek dan juga memiliki sifat dingin dan terkesan sombong. Tapi Nyonya Tya dapat menangkap, jika Egi akan menjaga dengan sepenuh hati orang yang di sayangnya.


"Mama tenang saja. Mereka hanya ingin bersilaturahmi." jelas Tuan Ardes.


"Apa kita perlu memberitahu Lily dan Lila?" tanya Nyonya Tya. Berjalan ke atas meja. Mengambilkan tas kerja sang suami.


"Papa akan berbicara." ucap Tuan Ardes memutuskan.


"Terimakasih pa." Nyonya Tya memeluk sang suami. Nyonya Tya merasa sang suami sedikit berubah, semenjak Lily dekat dengan Egi.


"Ma, pakaian papa sudah rapi." keluh Tuan Ardes, dengan tangan mengelus bahu sang istri.


"Iya." ucap Nyonya Tya, melepas pelukannya sambil cemberut. Tuan Ardes terkekeh melihat bibir sang istri.

__ADS_1


"Pa." seru Nyonya Tya saat Tuan Ardes malah mencium singkat bibinya.


"Lily, kapan kamu mulai masuk kelas bela diri?" tanya Nyonya Tya, di sela sarapan mereka.


"Hari ini ma. Selesai kuliah. Karena Lily ada kelas pagi sampai siang." jelas Lily.


"Kamu tidak capek?" tanya Nyonya Tya, sedikit khawatir.


"Tidak ma." jawab Lily.


"Kak, Lila ikut ya." ucap Lila.


Lily mengangguk menyahuti perkataan sang asik. "Terimakasih." ucap Lila senang.


"Memang kamu tidak ada kelas?" tanya Nyonya Tya.


"Tidak ada ma." jawab Lila.


"Lily, ada yang ingin papa sampaikan." ucap Tuan Ardes. Membuat Lily dan Lila menghentikan makannya dan memandang ke arah sang papa.


"Sahabat papa akan datang malam nanti. Kalian jangan pulang terlambat. Kita akan makan malam bersama." jelas Tuan Ardes.


Lily dan Lila melanjutkan makan. "Mereka yang sempat menjodohkan putranya dengan Lily." jelas Tuan Ardes.


Lily menghentikan makannya. Matanya memandang ke arah piring. Sementara tangannya, masih menggantung di udara.


Dan Lila, ekor matanya melirik ke arah sang kakak. Begitu juga dengan Tuan Ardes dan Nyonya Tya, beliau berdua memandang ke arah Lily. Dan Lily hanya diam, dan melanjutkan sarapannya.


Sampai di kampus Lily lebih banyak diam. Membuat Mauren merasa bingung, melihat sikap sahabatnya tersebut. "Kamu kenapa?" tanya Mauren, penasaran.


"Emmm,,, tidak. Tidak ada apa-apa." ucap Lily.


"Aku harus berbicara dengan Egi." ucap Lily dalam hati.


Dan Mauren, sebenarnya ingin berterus terang mengenai dirinya yang bercerita pada Vincen. Tapi melihat Lily yang sepertinya sedang mempunyai masalah, Mauren mengurungkannya.


"Lebih baik, aku berbicara besok-besok saja." ucap Mauren memutuskan.


Sepanjang pelajaran, Lily benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Hingga jam kuliah selesai.


"Kak,,,!!! panggil Lila berteriak. Menghampiri Lily.


"Sepertinya kakak tidak akan masuk les bela diri hari ini. Kakak akan bertemu dengan Egi." jelas Lily.


Lila mengerti kegelisahan sang kakak. "Lila ikut ya kak." rengek Lila.


"Lila mau pinjam uang." jelas Lila. Lily menatap ke arah sang adik dengan bingung.


"Uang Lila tidak cukup. Bahkan setelah di gabung dengan uang kakak, masih kurang. Makanya Lila mau pinjam sama kak Egi." cicit Lila.


Kedua bola mata Lily langsung membulat sempurna. Lily bahkan tidak menyangka, dari mana sang adik mempunyai pikiran seperti itu.


"Ya kak..." rengek Lila, bergelayut di lengan Lily. Dengan lemas dan pelan akhirnya Lily mengangguk.


Lily setuju lantaran tidak ingin Lila malah akan menemui Egi sendiri dan malah akan memperkeruh keadaan. "Tapi ada syaratnya." ujar Lily.


"Biar kakak yang bicara." jelas Lily.


"Terimakasih kakak." Lila memeluk sang kakak. "Beruntung sekarang aku mempunyai kakak ipar seperti kak Egi." imbuh Lila tersenyum lebar.


"Astaga." Lily mengacak rambut sang adik.


"Semoga Egi bisa membatu Lila. Dan juga membantu aku." ucap Lily dalam hati.


Lily dan Lila, keduanya tengah berada di depan resepsionis. Meminta izin untuk menemui Egi. Dengan sopan, resepsionis mempersilahkan keduanya, setelah menerima perintah dari Beni, untuk membiarkan keduanya masuk.


"Perusahaan kak Egi besar ya kak." ucap Lila takjub. Keduanya lantas masuk ke dalam lift, dan naik ke lantai di mana ruangan Egi berada.


"Silahkan Nona, Tuan Egi menunggu di dalam." ucap Selly dengan sopan.


"Terimakasih." ucap Lily dengan senyum.


"Dia sekertaris kak Egi, kak." bisik Lila, melirik ke arah Selly. Lily mencubit pelan lengan sang adik.


"Kak Egi..." seru Lila, tersenyum sambil memegang lengan kakaknya.


Egi meletakkan penanya dan memandang ke arah Lily dan Lila. "Ada apa?" tanya Egi dengan wajah datar.


Lily melepaskan tangan Lila di lengannya. "Kamu duduk dulu di sana." ucap Lily, menyuruh sang adik untuk duduk di kursi terlebih dahulu.


Sementara Lily menghampiri Egi. "Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Lily. Berdiri di depan Egi.


Egi berdiri, mengajak Lily untuk duduk bersama dengan Lila. Sebelum duduk, Egi mengambilkan air dingin untuk mereka.

__ADS_1


"Kenapa malah ke sini?" tanya Egi. Karena memang seharusnya Lily masuk les bela diri.


__ADS_2