PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 57


__ADS_3

Egi dan Beni menemui salah satu keluarga korban meninggal karena ulah dari Nando. "Maaf, bukan maksud kami membuka luka keluarga ini kembali. Tapi, saya hanya bisa meminta tolong." ucap Egi dengan sopan.


Meski mereka berasal dari keluarga kalangan bawah, tapi Egi sama sekali tidak menganggap mereka lebih rendah darinya. Bahkan, Egi dan Beni melepas sepatu keduanya saat mereka masuk ke dalam rumah tersebut.


Terlebih keduanya datang karena memang mempunyai niat untuk meminta tolong. "Calon istri saya juga menjadi korban dari Nando." ucap Egi, membuat satu keluarga tersebut menatap Egi dengan tatapan iba.


"Dan saya sudah memasukkan Nando ke dalam penjara. Tapi, karena uang. Nando akhirnya di masukkan ke RSJ. Karena menurut ahlinya, Nando harus dirawat. Namun, lagi-lagi karena uang. Dia berhasil keluar dari RSJ." jelas Egi.


"Maaf Tuan. Bukankah anda juga orang kaya." ucapnya, melihat bagaimana pembawaan atau wibawa dari seorang Egi. Dan juga semua pakaian yang menempel di badannya.


Di tambah, sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumah mereka. Menandakan jika sekarang mereka berhadapan bukan dengan orang biasa. Mereka juga melihat jika Beni seperti sangat hormat padanya.


Egi tersenyum. "Iya, kekayaan saya hampir sama dengan kekayaan orang tua Nando." ucap Egi jujur.


"Tapi saya tidak bisa melakukan hal seperti orang tua Nando. Mengandalkan uang. Karena jika saya mengandalkan uang, pasti suatu saat Nando akan berulah lagi." jelas Egi.


Padahal Egi sudah mempunyai rencana yang sangat matang. "Apa yang anda inginkan?" tanya salah satu dari mereka.


"Membuat Nando tidak bisa lagi berkeliaran dengan bebas. Membuat semua orang tahu, bagaimana kelakuan putra dari Tuan Ebara." ujar Egi.


Karena menurut Egi, dengan semua orang tahu kejahatan yang di lakukan oleh Nando. Pasti Nando tidak akan bisa bergerak bebas seperti sekarang.


"Bagaimana caranya?" tanyanya semakin penasaran. Beni tersenyum samar. Tuannya memang benar-benar hebat.


Dirinya saja kesulitan untuk menyakinkan mereka. Tapi Egi, hanya dengan satu pertemuan bisa membuat mereka penasaran. Dan kelihatannya mereka akan menyetujui permintaan Egi.


"Memasukkan Nando ke dalam penjara. Selamanya." ucap Egi tersenyum licik. Dan Beni meneguk ludahnya dengan pelan. Seolah dia tahu jika atasannya mempunyai rencana di balik rencananya.


Egi melanjutkan kalimatnya. "Oleh sebab itu. Saya membutuhkan bantuan dari para keluarga korban yang telah tiada. Juga para korban yang masih hidup. Termasuk kekasih saya sendiri." ucap Egi.


"Meski saya juga harus membujuknya dengan perlahan." lanjut Egi lirih. Karena dirinya yakin, jika Lily akan ragu menerima permintaan Egi.


Pasti kejadian tersebut masih membuat Lily merasa trauma. Meski sedikit. Dan pastinya, Lily tidak ingin mengingat kejadian tersebut.

__ADS_1


Egi tersenyum ramah pada mereka. "Jika kalian mau, bekerja sama dengan saya. Setelah ini, saya juga akan mencoba berbicara dengan kekasih saya." ucap Egi.


Mereka saling berpandangan satu sama lain. "Seandainya kami menyetujuinya. Pastinya nyawa kita juga terancam." ucapnya.


Karena sebelumnya, mereka pernah di ancam. Bahkan mereka sempat di teror. Hingga mereka memilih untuk bungkam. Dari pada nyawa mereka sekeluarga terlepas dari raga.


"Tenang saja, kami akan melindungi kalian." jelas Beni.


"Jika kita semua setuju, saya akan langsung mengunggah berita ini ke hadapan publik. Sehingga kasus ini akan langsung menjadi sorotan masyarakat umum. Dengan begitu, Tuan Ebara maupun putranya tidak bisa menyentuh kalian." ucap Egi dengan pasti.


Karena dengan semua masyarakat umum mengetahui kejadian yang telah di sembunyikan ini, pasti masyarakat akan lebih memperhatikan dan mengawal kasus ini.


Sehingga sulit bahkan tidak mungkin bagi Tuan Ebara melakukan hal yang akan merugikannya. Karena jika sampai terjadi apa-apa dengan para keluarga korban. Pasti publik akan langsung menyorot padanya.


Beni mendapatkan pesan tertulis dari anak buahnya. Setelah membacanya, Beni membisikkan sesuatu pada Egi.


"Baik, kami setuju." ucap ayah dari korban. Yang juga merupakan kepala keluarga.


Egi tersenyum senang. "Baiklah, untuk selanjutnya. Asisten saya yanga akan menghubungi bapak." ucap Egi.


Karena Egi sudah menempatkan beberapa bawahannya di sekitar rumah mereka untuk berjaga.


"Pastikan keamanan untuk para saksi." perintah Egi.


Beni memberitahu Egi jika semua korban tindak kejahatan yang dilakukan oleh Nando bersedia menjadi saksi.


"Kita langsung ke rumah Tuan Ardes." perintah Egi. Sudah dapat di tebak, jika sebentar lagi akan ada perang besar antara Egi dan Tuan Ebara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di belahan dunia lain. Keadaan Tuan Joshua dan sang istri berangsur membaik. Bahkan, sekarang keduanya sudah tidak di rawat di ruang gawat darurat.


Keduanya di tempatkan di sebuah ruang pasien yang cukup luas. Berada di lantai paking atas di rumah sakit tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana dokter?" tanya Tuan Joshua, saat sang dokter selesai memeriksa keadaannya dan juga sang istri.


Dokter Matias, dokter yang di percaya oleh Egi menangani kesehatan keduanya tersenyum. "Sangat baik Tuan, Nyonya." ucapnya dengan sopan.


"Syukurlah." kata Nyonya Lita, mama dari Amanda.


"Kami harus berterimakasih kepada Tuan Egi." ucap Tuan Joshua tersenyum simpul. Tapi sedetik kemudian, senyumnya langsung pudar. "Saya benar-benar tidak menyangkan. Jika Revan mampu berbuat hal seperti itu." ucap Tuan Joshua.


Beliau teringat bagaimana dirinya selalu membantu Revan saat Revan dalam kesulitan. Bahkan tanpa ada tes, beliau meminta Revan untuk menggantikan asistennya yang berhenti bekerja karena meninggal dunia.


"Jangan-jangan." Tuan Joshua memandang ke arah sang istri. Terbesit di dalam pikirannya, jika Revan adalah dalang di balik kecelakaan yang menimpa asistennya yang terdahulu sampai dia meninggal.


Tuan Joshua menggeleng kuat. "Tidak mungkin." gumamnya memandang ke arah Dokter Matias.


Dokter Matias hanya tersenyum. "Maaf, saya tidak tahu menahu permasalahan yang sedang anda hadapi. Tuan Egi hanya menitipkan anda beserta istri anda pada saya." jelas Dokter Matias menjeda kalimatnya, menghela nafas panjang.


"Dengan sedikit ancaman." lanjut Dokter Matias tersenyum samar. Jika sebelumnya sang dokter tidak berani berkata apapun. Lantaran kondisi kedua pasien istimewa tersebut masih kritis.


Tidak sekarang. Karena kondisi Tuan Joshua beserta Nyonya Lita sudah sangat baik. Membuat sang dokter bisa mengatakannya. Sekaligus membuat hubungan mereka lebih dekat.


"Jika sampai musuh mengetahui keberadaan anda berdua. Nyawa saya taruhannya." jelas dokter Matias dengan santai.


Tuan Joshua terkekeh pelan. Saat mendengar Egi mengancam sang dokter. "Dia pengusaha muda yang hebat." ucap Tuan Joshua.


"Sebenarnya, Egi bisa menyingkirkan Revan beserta Bob dengan mudah. Tapi entahlah. Saya sendiri tidak tahu, apa tujuan dari Egi." jelas Dokter Matias.


Nyonya Lita hanya diam. Bahkan raut wajahnya tampak biasa. Padahal, dalam benaknya berputar banyak pertanyaan mengenai sosok Egi.


"Jika Tuan dan Nyonya ingin bertemu dengan putri anda, saya bisa berbicara dengan Egi." tawar dokter Matias.


Sang dokter tahu, dan paham betul. Jika pasti mereka saling merindukan. "Tidak perlu." tolak Tuan Joshua.


"Pa..." seru Nyonya Lita dengan suara tertahan kesal, lantaran sang suami menolak tawaran baik dari Dokter Matias.

__ADS_1


"Saya percaya dengan Egi. Dia sudah menolong kami sejauh ini. Pasti dia juga mempunyai alasan, jika sampai sekarang belum membawa Amanda datang menjenguk kami." ucap Tuan Joshua.


Dokter Matias tersenyum senang, sekaligus salut. "Benar. Karena Egi tipikal orang yang sangat matang dalam menjalankan sebuah rencana." timpal dokter Matias.


__ADS_2