
"Egi..." seru Lily tidak percaya. Egi menyuruh Beni untuk mengambil buku Lily di rumahnya. Tak lupa Beni juga membelikan baju ganti yang akan digunakan Lily untuk masuk kuliah.
"Dari pada bolak-balik. Mending langsung berangkat dari sini. Nanti biar aku antar. Sekalian aku berangkat kerja." tutut Egi.
"Ada apa?" tanya Egi, saat Lily sepertinya ingin menanyakan sesuatu. Tapi terlihat enggan untuk membuka mulutnya.
"Apa??" jari Egi menyingkirkan anak rambut di wajah Lily.
Lily ragu untuk menanyakan. Tapi dia penasaran. "Emm,,,, itu. Emmmm,,,, anu. Beni." ucap Lily terbata dengan ekspresi aneh. Egi menyatukan kedua alisnya melihat tingkah Lily.
Apalagi Lily seperti tidak nyaman duduknya. "Beni kenapa?" tanya Egi dengan ekspresi kesal. Lily malah menanyakan lelaki lain. Dan itu asistennya sendiri.
"Bagaimana Beni bisa tahu ukuranku. Apa dia tidak malu saat membelinya." tanya Lily menunduk.
"Oooo..." sahut Egi santai. Lily melongo melihat tanggapan Egi dari pertanyaannya. Lily mengira jika Egi akan malu atau salah tingkah. Karena Lily membahas masalah dalaman seorang perempuan.
"Beni sudah mempunyai istri. Mungkin dia minta tolong pada istrinya." papar Egi santai.
Lily hanya mengangguk tanda mengerti. "Apa lagi?!" Egi menarik gemas hidung mancung Lily. Dan Lily mengusap hidungnya sambil menggeleng.
"Lebih baik kamu segera mandi. Dan bersiap. Aku juga." ucap Egi.
Egi mengantarkan Lily untuk pergi ke kampusnya terlebih dahulu. "Jangan lupa, nanti siang kamu harus masuk kursus bela diri." ucap Egi mengingatkan.
"Iya." sahut Lily, dirinya merasa senang, sebab Egi sangat terlihat menyayangi dan memperhatikannya.
"Hubungi aku jika ada sesuatu. Apapun itu." tekan Egi. Lily mengangguk.
"Ingat, ini juga untuk dirimu sendiri. Apalagi seorang perempuan sangat rawan terhadap bahaya. Apalagi kamu tidak mau memakai pengawal." ucap Egi.
"Kok tahu." cicit Lily.
"Papa kamu." jelas Egi, karena memang Tuan Ardes yang mengatakannya.
"Latihan yang giat." ucap Egi. Saat ini Egi belum menjelaskan kenapa dirinya bersikeras untuk Lily supaya latihan bela diri.
Tapi, Egi akan mengatakannya saat Lily sudah menguasai bela diri. Meskipun sedikit. Setidaknya dirinya sudah bisa melakukannya.
Cup,,,,, Lily tiba-tiba dengan singkat mencium pipi Egi dan segera keluar dari dalam mobil. Egi yang terkejut dengan kelakuan Lily hanya mengelus pipinya dan tersenyum melihat Lily meninggalkan mobilnya.
__ADS_1
Tanpa menoleh, Lily berjalan menjauh dan sedikit berlari. Tak lupa, senyum terukir jelas di bibirnya. Lily sama sekali tak ingin menoleh, melihat ke arah mobil Egi.
Lily tidak ingin Egi melihat wajahnya yang sudah memerah seperti menggunakan pemerah pipi yang berlebihan.
Rasanya Lily ingin menenggelamkan dirinya. "Lily, mau kamu taruh di mana wajah kamu." gumam Lily, karena dengan berani mencium pipi Egi.
Dirasa sudah cukup jauh, Lily menoleh ke belakang, membalikkan badannya. Memastikan jika mobil Egi sudah tidak ada. Lily tersenyum lega, tidak melihat mobil Egi.
Yang ternyata sudah meninggalkan depan kampusnya. "Lily." panggil seseorang yang sudah berada di belakang Lily.
Dan Lily sangat hafal pemilik suara tersebut. Lily memejamkan matanya sebentar, mengatur emosinya sebelum membalikkan badan kembali.
Begitu membalikkan badan, Lily tersenyum. "Maaf." kata itulah yang pertama terucap dari bibir Mauren.
"Bisa kita bicara berdua." pinta Mauren dengan kedua mata sudah berembun. Membuat Lily tidak tega untuk menolaknya.
Lily melihat ke pergelangan tangannya. Dimana ada jam tangan berbentuk kecil dengan harga mahal hadiah ulang tahun dari sang papa.
Lily dan Mauren berjalan ke gedung paling atas yang ada di universitas mereka. Keduanya duduk di kursi panjang tanpa senderan yang berada di sana. Dengan pandangan mengarah ke depan, dimana ada hamparan bangunan di sepanjang mata memandang.
"Aku benar-benar tidak tahu jika lelaki itu adalah Vincen. Dia sama sekali tidak bercerita apapun padaku." ucap Mauren dengan tatapan mata jauh ke depan.
"Aku tidak berharap kamu mempercayaiku. Aku yang bodoh. Bisa-bisanya percaya pada seseorang. Hanya karena dia saudaraku. Hanya karena dulu dia adalah seseorang yang memperlakukan aku dengan baik." tutur Mauren, berkata dengan menggebu.
Ada rasa kesal dan marah dalam setiap kata yang terangkai menjadi kalimat yang keluar dari mulutnya.
Mauren memandang ke arah Lily. "Maafkan aku. Maaf." mohon Mauren, mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
Lily mengambil telapak tangan Mauren. Menggenggamnya dengan erat. "Aku percaya." ucap Lily tersenyum tulus.
Mendengar kata percaya, membuat Mauren langsung meluk tubuh Lily. Mauren merasa sangat bahagia. Dia berjanji pada dirinya sendiri. Untuk lebih berhati-hati saat memutuskan percaya pada orang. Meskipun dia adalah orang terdekatnya.
Mana mungkin Lily tidak mempercayai Mauren. Selama ini, Mauren yang telah menjadi sahabatnya selama dirinya mengeyam pendidikan di universitas ini. Keduanya sama sekali tidak pernah bertengkar. Atau mempunyai masalah satu sama lain.
Hanya karena masalah kecil seperti ini, tidak lantas membuat Lily marah pada Mauren. Dan memutuskan ikatan persahabatan mereka.
Mencari musuh sangat mudah. Tapi mencari sahabat sejati, bagai mencari jarum di tumpukan jerami.
Mauren mengurai pelukannya. "Siapa yang mengantar kamu tadi?" tanya Mauren.
__ADS_1
"Egi." jawab Lily singkat.
"Hubungan kalian kelihatannya meningkat." goda Mauren menjawil dagu Lily. Membuat Lily berpura-pura merajuk.
"Apa sih....!!" kesal Lily, saat Mauren terus menjawil bagian tubuh Lily.
"Egi,,, dia.... Emmm,,, ternyata dia sangat posesif." ucap Lily malu-malu.
Mauren melongo tidak percaya. "Sungguh?" tanya Mauren.
Lily segera mengangguk. "Iya padahal....." Lily menceritakan saat dirinya menanyakan Beni pada Egi tadi pagi.
"Astaga." Mauren menutup mulutnya tidak percaya. "Sungguh?" tanya Mauren, menggelengkan kepalanya pelan. Lily memainkan kedua alisnya untuk menjawab perkataan Mauren.
"Bagiamana kalau nanti siang kita jalan-jalan." ajak Mauren, sambil berjalan menuju ke kelasnya. Karena Lily dan Mauren telah turun meninggalkan tempatnya tadi.
"Aku tidak bisa." tolak Lily.
"Kenapa?" tanya Mauren, padahal biasanya Lily sangat semangat jika Mauren mengajaknya jalan-jalan.
"Aku kan harus masuk kelas bela diri." ucap Lily.
"Oh iya. Kamu meneruskannya. Aku kira kamu berhenti." ujar Mauren.
"Ckk,,, berhenti. Yang ada Egi akan marah. Karena dia yang menyuruhku untuk melakukan semua ini." sahut Lily.
"Sungguh. Apa papamu juga tahu?" tanya Mauren. Karena kenyataannya, Tuan Ardes adalah seseorang yang sedikit sulit.
Apalagi dengan sifat Lily yang keras kepala. Pasti sikapnya akan menjadi lebih keras jika dirinya mengikuti kelas bela diri.
"Itu dia yang aku tidak mengerti sampai sekarang." Lily menghentikan langkahnya, menatap ke arah Mauren.
"Setelah aku bilang jika aku memiliki hubungan dengan Egi. Aku merasa jika papa sedikit membebaskan apapun yang aku lakukan. Asal ada nama Egi." imbuh Lily.
"Awalnya papa sedikit tidak setuju. Tapi, saat aku katakan jika Egi yang menyuruhku. Papa mengatakan setuju, meskipun aku melihat ada rasa tidak setuju sepenuhnya dari matanya." jelas Lily.
Mauren mengangkat kedua tangannya, mengacungkan jempolnya. "Papa dan anak sudah menemukan pawangnya. Egi memang hebat." puji Mauren dengan ekspresi sungguh-sungguh.
Lily hanya melengos, meninggalkan Mauren yang masih berdiri. Ada rasa senang yang tidak bisa di ucapkan di hati Lily saat ini.
__ADS_1
"Heyyy...!!!" teriak Mauren, berlari menyusul langkah Lily yang sudah berjalan dulu.