
"Kakakkk....!!!" seru Lila kesal. Setelah mendengar cerita dari sang kakak mengenai dress yang di beli oleh Egi.
Nyonya Tya menggeleng pelan. Sungguh beliau tidak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh putri sulungnya. "Apa karena memang Lily sama sekali belum pernah dekat dengan lelaki." ucap Nyonya Tya dalam hati.
Selesai berjalan-jalan dengan Egi, Lily pulang ke rumah. Dan pastinya di antar oleh Egi. "Lalu kakak diam saja, saat kak Egi memberikan dress itu?" tanya Lila masih dengan wajah kesalnya.
Lily mengangguk pelan. "Tadinya kakak ingin melarang, tapi kakak bingung mengatakannya." ucap Lily merasa bersalah.
"Ya malulah,,,, lagi pula, kenapa kakak menolak pemberian kak Egi sih...!!!" timpal Lila.
"Lila, sudah." tegur Nyonya Tya pada putri bungsunya. Nyonya Tya tidak ingin jika rasa bersalah Lily semakin besar karena omelan dari Lila.
"Maaaa... kakak memang salah. Seharusnya kakak terima. Setidaknya kak Egi tidak akan kecewa. Entah nanti kak Lily pakai atau tidak." ucap Lila menggebu.
"Maaf. Lily salah. Lily menyesal." ucap Lily lesu.
"Maaf. Salah sasaran. Kata maaf, seharusnya kakak katakan pada kak Egi." dumal Lila, menyenderkan tubuhnya di kursi sambil bersedekap dada.
"Lila...!!" tegur Nyonya Tya kembali. Tapi Lila malah melirik ke arah sang mama dengan tatapan tajamnya.
"Sayang, kenapa kamu tidak menyukai bajunya?" tanya Nyonya Tya dengan lembut. Beliau tidak ingin Lily merasa dirinya tidak berguna.
"Bajunya..." ucap Lily terhenti. Lantaran Lila memotong kalimat yang hendak keluar dari mulutnya.
"Mungkin kakak ada foto bajunya." serobot Lila. Penasaran, kenapa sang kakak tidak menerimanya. Lila berpikir jika dress yang hendak di belikan oleh Egi memang terbuka.
"Coba kakak lihat media sosial milik teman kakak yang mendapat dress dari kak Egi. Mungkin dia sudah memposting dressnya di sana." tebak Lila.
Dengan segera Lily menyalakan ponselnya. Apa yang di cari oleh Lily dengan beberapa derik langsung ketemu. "Ini." Lily memberikan ponselnya yang sudah menyala pada sang adik.
"Ini." tunjuk Lila dengan mulut menganga. Terlihat seorang perempuan yang tampak manis dengan dress lengan panjang motif bunga yang simple, dengan panjang tepat di bawah lutut.
__ADS_1
Lily mengangguk. Lila menggeleng pelan melihat sang kakak mengangguk. "Ma,,,, ini dress mahal. Elegan dan sopan. Di produksi hanya lima potong di dunia." Lila menunjukkan pada sang mama dengan tatapan sedihnya.
Lily melongo mendengar perkataan dari sang adik. "Kak. Kakak kenal siapa kak Egi kan." tanya Lila dengan tegas.
"Pengusaha muda. Tampan. Kaya. Sukses. Paket komplit. Incaran banyak wanita dari berbagai kalangan dan umur." jelas Lila mengatakan semua kalimat yang menggambarkan seorang Egi.
"Satu saja contohnya. Amanda. Lila yakin, jika sebenarnya Amanda juga menyukai kak Egi. Tapi karena Amanda adalah perempuan baik dan juga terhormat. Dia memilih untuk mundur. Karena kak Egi sudah mempunyai kak Lily." Lila mendesah pelan, menjeda kalimatnya.
"Seandainya kak Egi dan kakak bukan pasangan kekasih. Lila yakin, jika Amanda pasti akan maju. Dan kakak bisa melihat. Bagaimana penampilan Amanda." jelas Lila, seolah ingin mengatakan jika Lily berada di bawah Amanda.
Dan Lila ingin sang kakak merubah penampilannya. Meski hanya sedikit.
Lily hendak membuka mulutnya, tapi Lila terlebih dahulu meneruskan kalimatnya. "Jangan pernah bilang." Lila menunjuk ke arah sang kakak.
"Jika kak Egi akan menerima apapun yang akan kak Lily kenakan. Dengan alasan nyaman dan sopan. Omong kosong." seru Lila kesal.
"Lilaaa!!!" tegur Nyonya Tya tegas pada putrinya tersebut.
"Rubah kak. Rubah cara berpakaian kakak. Lihat di mana kakak berada. Sesuaikan dengan kondisi dan keadaan. Juga tempatnya." tekan Lila.
"Aaaa,,, terserah." ucap Lila kesal. "Terserah kakak. Tapi, siap-siap kakak akan kehilangan kak Egi." ucap Lila menakut-nakuti Lily.
Dengan perasaan jengkel, Lila meninggalkan sang kakak dan sang mama. "Kak Lily...." geram Lila yang saat ini berada di dalam kamar.
Lila mendesah pelan. Memang dari dulu, seingat Lila. Sang kakak tidak pernah memakai dress atau gaun. Bahkan jika ada pertemuan keluarga, sang kakak lebih memilih celana kain dengan atasan blous.
Lila memandang ke arah almari miliknya. "Memang berbeda." ucap Lila, teringat isi daei almari sang kakak.
Lila mengambil beberapa potong dress dari dalam almarinya. "Kakak harus merubah penampilannya. Jika tidak, astaga...." Lila menggeleng pelan.
"Aku tidak mau jika kakak sampai patah hati. Lagi pula, aku sudah klop saka kak Egi. Pokoknya kak Lily harus menikah sama kak Egi. Titik." sungut Lila dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Kak Lily bisa memakai pakaianku dulu." Lila mengangguk, dengan membawa keluar beberapa potong dress miliknya. Karena memang postur tubuh Lila dengan Lily memang sama.
"Sudah, jangan di dengarkan omongan adik kamu." ucap Nyonya Tya, mencoba menenangkan hati Lily.
"Ma... tapi..." ucap Lily merasa jika memang dia yang salah. Dan apa yang di katakan Lila adalah kebenaran.
"Sayang, mama tahu. Bukannya kamu tidak mau memakai pakaian seperti itu. Hanya saja, kamu belum terbiasa." ucap Nyonya Tya tersenyum.
"Kamu bisa memulai saat kamu berada di rumah. Bagaimana?" tanya Nyonya Tya berencana.
Sebenarnya Nyonya Tya tahu, jika yang dikatakan Lila semuanya adalah benar. Hanya saja, cara penyampaiannya pada Lily salah. Sehingga terkesan Lila menyudutkan Lily. Padahal Nyonya Tya yakin, bukan seperti itu maksud Lila.
"Ma,,, bagaimana jika benar yang dikatakan Lila. Egi kecewa dan marah dengan Lily." cemas Lily, teringat setiap perkataan dari sang adik.
"Makanya, kamu harus berubah. Tidak drastis. Tapi sedikit demi sedikit. Supaya apa yang dikatakan Lila, dan apa yang kamu cemaskan tidak terjadi. Dan untuk itu, kamu harus berusaha. Dan pastinya yakin." jelas Nyonya Tya memberi semangat pada sang putri.
Brukkk.... Lila meletakkan dress miliknya di kursi dekat Lily sedang duduk. "Betul kata mama." imbuh Lila.
"Dan ini, dress Lila. Kakak bisa meminjamnya. Bagaimana. Tidak ada bantahan." Lila menyilangkan tangannya di depan dada.
"Baik. Tapi kamu bantu kakak." pinta Lily.
"Kakak, kakak tidak perlu memakai make up. Untuk awalnya, yang kakak perlukan hanya terbiasa memakai dress. Untuk yang lainnya, nanti kita bisa pikirkan setelah kakak sudah terbiasa memakai dress. Oke." jelas Lila.
Lily mengangguk. "Lila mengizinkan kakak untuk memakai dress milik Lila. Yang mana saja. Jika kakak masih belum percaya diri, kakak bisa memakai di dalam rumah dulu." imbuh Lila.
Nyonya Tya tersenyum senang. Memiliki dua putri yang cantik dan selalu saling membantu satu sama lain. Beliau bersyukur, meski mereka sama-sama perempuan. Tapi mereka tidak pernah terlibat pertengkaran atau mempunyai rasa iri satu sama lain.
Nyonya Tya mendekat dan memeluk keduanya. "Semoga, kalian tetap seperti ini. Jadi, jika papa dan mama sudah waktunya tiba. Kami bisa pergi dengan tenang."
"Maaaa....!!!" ucap Lily dan Lila dengan nada tidak senang.
__ADS_1