
"Bisa kita bicara sebentar." ajak Vincen, mencegat Lily dan Mauren di lorong kampus mereka. Saat keduanya hendak ke arah parkir. Karena jam pelajaran telah selesai.
Belum sempat Lily maupun Mauren membuka mulut. Lila datang dan langsung mengeluarkan perkataan pedasnya.
"Sudah di tolak. Tetap saja kekeh." sindir Lila, berdiri di samping Vincen.
Lila menatap tajam ke arah Vincen. "Kakak saya bukan perempuan buta dan bodoh. Pastilah lebih memilih kak Egi dari pada kamu." cibir Lila.
"Lila..." tegur Lily. Meskipun mereka tidak meneruskan perjodohan tersebut. Tapi Lily juga tidak ingin hubungan keluarganya dan keluarga Vincen menjadi buruk.
"Apa kamu benar-benar sudah tidak laku!?" sengit Lila.
Lily mengambil lengan Lila, membawanya berdiri di sampingnya. "Lila..." tegur Lily lagi. Saat Lila memandang ke arah Mauren dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat. Seperti sebilah pedang yang siap menghunus jantung lawan.
"Kakak. Dia pengkhianat." desis Lila melirik ke arah Mauren, mengangkat sedikit dagunya.
"Adik kakak yang cantik." Lily mencubit gemas kedua pipi Lila. "Sebaiknya kamu segera masuk ke kelas. Mau dihukum karena telat." imbuh Lily.
Lila melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kakak akan melarang kak Egi untuk membantu kamu lo, jika ada apa-apa." ancam Lily.
Lila mencium pipi Lily. "Makasih. Itu mobil aku." ucap Lila cengengesan.
"Kok ke kakak." ucap Lily bingung, karena Egi yang menyelesaikan permasalahannya Lila.
Lila memutar kedua bola matanya dengan malas. "Ya masa aku cium kak Egi. Berabe. Nanti aku bisa jatuh cinta sama kak Egi." celetuk Lila aneh.
"Nanti kakak cium kak Egi, bilang itu ciuman dari Lila. Lila titipkan ke kakak. Ucapan terimakasih." Lila menunjuk ke arah pipi Lily.
"Memang ada seperti itu." heran Lily. Karena adik satu-satunya ini terbilang aneh dan nyleneh.
"Adalah....." ucapnya melenggang pergi meninggalkan mereka bertiga.
Tapi tiba-tiba Lila berhenti dan membalikkan badan. "Kak nanti pulang. Jangan menginap lagi di rumah kak Egi." teriak Lila.
Lily membulatkan matanya dan mengarahkan kepalan tangan seperti hendak meninju ke arah Lila. Sang adik hanya tersenyum tanpa dosa dan meneruskan langkahnya. "Memang Lila sengaja." ucap Lila dalam hati, tersenyum puas.
"Panas panas tuh si Vincen." geram Lila kesal.
Dua orang di dekat Lily memandang Lily dengan tatapan berbeda. Jika Mauren melihat sambil tersenyum. Berbeda dengan Vincen. Ada raut tak suka di wajahnya.
"Apa...!!?" tanya Lily, karena Mauren menatapnya dengan menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Serius. Semalam kamu menginap di apartemen Egi." tanya Mauren.
"Iya, tapi tidak berdua. Ada teman aku lainnya." jelas Lily.
"Teman kamu lainnya. Siapa?" Mauren menatapnya dengan pandangan tidak terima. Apalagi Lily menyebut temannya yang lain. Padahal setahu Mauren, hanya dialah sahabat dekat Lily.
"Aku juga baru kenal semalam. Rekan bisnis Egi." jelas Lily.
"Tunggu." Vincen mengayunkan tangannya untuk mencekal lengan Lily yang hendak melangkah pergi.
Lily melepasnya dengan pelan. "Tidak ada yang perlu di bicarakan. Karena memang semuanya tidak ada yang terjadi. Tidak perlu kata maaf dan meminta maaf. Karena memang tidak ada yang salah." tegas Lily.
Vincen tersenyum. "Baiklah. Jika begitu. Apa mulai sekarang kita bisa berteman." pinta Vincen.
Mauren menatap sengit dan tidak percaya pada perkataan Vincen. Dia tidak ingin Vincen merusak hubungan Lily dan Egi.
"Maksud kamu?" tanya Mauren dengan tatapan menyelidik.
"Oke. Kita berteman." ucap Lily memutuskan. Vincen tersenyum puas dengan ucapan Lily. Tapi tidak dengan Mauren.
"Lily,,,, maksud kamu apa sih." kesal Mauren, tidak terima dengan keputusan yang di berikan oleh Lily.
"Tunggu, biar aku antar." tawar Vincen. "Bukankah kita sudah berteman. Ya itung-itung sebagai bukti, jika kamu memang benar menerima saya sebagai teman kamu." imbuh Vincen berharap.
"Tidak perlu. Ada aku. Lily akan pergi bersamaku. Ayo." tanpa menunggu kalimat yang hendak keluar dari mulut Vincen, Mauren segera menyeret Lily untuk pergi dari hadapan Vincen.
"Kenapa kamu terima permintaan dari Vincen?" tanya Mauren dengan nada kesal, setelah keduanya kini sudah berada di dalam mobil. Dengan Mauren berada di balik kemudi.
Mauren berpikir pasti semua itu hanya akal-akalan Vincen. "Vincen hanya ingin mendekati kamu. Dengan kamu menerima dia sebagai teman kamu. Sama artinya kamu membuat jalannya akan terbuka lebar. Apa kamu tidak takut, jika ketahuan oleh Egi. Aduh,, Lily. Apa sih yang kamu pikirkan." ucap Mauren panjang lebar, dengan tangan memegang stri mobil. Menjalankan mobil menuju tempat Lily akan melakukan latihan bela diri.
"Sudah bicaranya." ucap Lily, karena Mauren berbicara seperti gerbong kereta api. Panjang pake banget.
"Terserah." kesal Mauren. Merasa jika Lily mengambil sikap yang seharusnya tidak dia lakukan.
"Mauren cantik dan seksi. Aku sengaja melakukannya." ucap Lily.
Mauren menatap sebentar ke arah Lily. Karena dirinya masih harus fokus pada jalan yang dia lewati di depan mereka. Jika tidak ingin nyawa melayang, karena kecelakaan.
"Pasti Vincen akan terus menerus meminta hal tersebut. Dan akhirnya, dia akan terus mengekor di belakangku seperti ekor kucing yang menempel." jelas Lily.
Ekspresi Mauren masih terlihat tidak puas dengan penjelasan dari Lily. "Dengan aku menerima permintaannya. Dia akan sedikit menjauh. Karena sudah berpikir bahwa aku menerimanya." imbuh Lily.
__ADS_1
"Ckk,,, kamu tidak tahu seperti apa sifat Vincen." kesal Mauren.
"Aku bisa menebak. Bagiamana karakter Vincen." Lily menjeda kalimatnya sebentar, sebelum melanjutkan lagi perkataannya.
"Dia memang terlihat tenang dengan ekspresi tidak bisa di baca. Tapi dia tidak bisa membohongi Lily. Calon pengacara handal. Putri Tuan Ardes." imbuh Lily.
"Dia lelaki bermuka dua. Dan aku akan menemaninya bermain." desisnya.
"Kamu yakin!?" tanya Mauren, ada rasa khawatir dan cemas. Mengingat bagaiman sosok Vincen yang dia kenal baik, kini berubah menjadi sosok lelaki yang tidak lagi dia kenali.
"Yakin. Bukankah lebih baik bersahabat dengan musuh. Lagi pula, dengan kita menjadi sahabat, kita akan banyak bertemu. Dan dia juga akan semakin banyak menyaksikan, bagaimana rasa cintaku pada Egi." tutur Lily.
Mauren menggeleng pelan dan tersenyum. Kini dia tahu alasan utama Lily menuruti keinginan dari Vincen. "Cihh,,, ternyata mau pamer." dengus Mauren. Disahuti suara kekehan dari Lily.
Mauren mengantarkan Lily sampai ke depan tempatnya melakukan latihan bela diri. "Benar, kamu tidak tertarik melihat ke dalam?" tanya Lily menyakinkan keputusan Mauren.
Mauren menggeleng. "Apa yang dilihat." ucap Mauren pongah.
"Jangan menyesal. Di dalam ada banyak laki-laki tampan. Dan tentunya mempunyai perut kotak-kotak." ucap Lily, berusaha membuat Mauren berubah pikiran.
"Jangan asal bicara. Mana ada. Pasti di dalam isinya lelaki yang galak dan garang dengan wajah menakutkan." Mauren bergidik, membayangkannya.
"Ada. Pasti kamu akan tertarik." bujuk Lily.
"Tidak. Jika ada mana mungkin Egi melepaskanmu ke dalam sarang buaya." ledek Mauren.
Lily membuka pintu mobil. Keluar dari dalam mobil. "Mana ada yang berani mendekatiku. Asal kamu tahu, mereka semua tahu, aku ini siapa. Memang mereka punya nyawa cadangan. Mengusik wanita milik Tuan Egi Yoga Pratama." ucap Lily dengan nada sombong.
"Sombongnya. Sudah sana pergi." usir Mauren.
Wleeekk.... Lily menjulurkan lidahnya, meninggalkan mobil Mauren. Dan Mauren hanya tersenyum sambil menginjak kembali gas mobilnya, meninggalkan tempat tersebut.
Langkah Lily terhenti, saat sudah berada di depan pintu. Lily membalikkan badan. Manik matanya memindai ke sekeliling tempat. "Seperti ada yang mengawasi ku. Tapi apa iya." gumam Lily, merasa ada seseorang yang melihatnya dari jarak jauh.
"Nona Lily." sapa seorang lelaki, membuat Lily menoleh ke arah suara. "Ada apa?" tanyanya, karena melihat jika Lily seperti sedang mencari sesuatu.
"Tidak ada. Aku masuk dulu." ucap Lily tersenyum.
"Silahkan Nona." ucapnya dengan sopan.
Sepeninggal Lily, lelaki yang tadinya berwajah ramah seketika menjadi tegang. Sorot matanya mengarah ke satu tempat. Di mana ada seorang lelaki berdiri di sana. Menggunakan topi dan masker.
__ADS_1