
Sebenarnya, tadi Amanda sempat bertanya pada si kembar Zea dan Zeo. Tentang rencana PHK yang akan di berikan pada karyawan yang berkomplot dengan Revan.
Mereka kira jika jumlah karyawan yang berkhianat tidak seberapa. Ternyata tebakan mereka meleset jauh. Yang artinya, mereka tidak bisa mengambil keputusan atau memberi saran pada Amanda terkait perusahaan.
Terkait rencana Amanda memberhentikan karyawannya yang sudah menjadi antek-antek Revan. Itulah kenapa, mereka menyarankan Amanda untuk meminta pendapat dari Egi.
Karena mereka percaya jika Egi dapat dengan mudah menyelesaikan masalah tersebut. Mengingat diapa sosok Egi dalam dunia bisnis.
Egi mengambil ponsel di dalam saku jasnya bagian dalam. Menghubungi Beni, sang asisten. "Cari tahu semua karyawan yang bekerja di perusahaan Tuan Joshua. Secara rinci." perintah Egi.
Egi berdiri. "Jalankan perusahaan seperti biasa. Jangan sampai Revan mengetahui setiap rencana kamu." pinta Egi.
"Baik." Amanda selalu menjaga lisannya saat berada di perusahaan. Begitupun seharian ini. Meskipun sekarang sudah ada Zea dan Zeo di sampingnya.
Tapi Amanda maupun si kembar tetap harus waspada. Mengingat betapa licik dan licinnya Revan. Apalagi tadi Revan sempat bersitegang dengan Amanda mengenai rencananya untuk bekerja sama dengan Aldric.
Tapi karena ada si kembar si samping Amanda, Revan tidak berani berbuat begitu jauh. Katena sebenarnya, Revan juga masih penasaran dengan keduanya. Dan saat ini, Revan masih menyelidiki tentang Zea dan Zeo.
Meskipun anak buahnya mengatakan jika keduanya adalah teman Amanda saat mereka mengeyam pendidikan di bangku kuliah. Tapi Revan merasa ada yang berbeda dengan keduanya.
Amanda memegang lengan Egi saat Egi ingin meninggalkan ruangan. "Kenapa kita tidak makan malam terlebih dahulu." ajak Amanda.
Egi melepaskan cekalan tangan Amanda. "Baru saja saya makan malam dengan Lily." ucap Egi dingin.
Egi memang tulus dan ikhlas membantu Amanda. Dan Egi bukan lelaki polos yang tidak mengetahui jika Amanda menyimpan rasa suka padanya.
Karena itulah, Egi memilih bersikap dingin dam cuek pada Amanda. Tidak memberikan perhatian lebih pada Amanda. Meskipun dia sedang membantu Amanda.
Egi hanya tidak ingin membuat Amanda semakin berharap dan menaruh perasaan semakin dalam padanya. Kerena sejatinya, Egi juga pernah merasakan sakit hati. Dan dia tidak ingin memberikan harapan palsu pada Amanda.
Amanda melihat kepergian Egi dengan tatapan sedih. Amanda kembali duduk di kursi. Memejamkan kedua matanya. "Zea, ajak Zeo untuk masuk ke dalam. Kita makan bersama." ucap Amanda.
Tanpa banyak berkata Zea segera memanggil Zeo untuk makan malam bersama dengan Amanda. Hanya ada denting suara garpu dan sendok saat ketiganya makan. Tidak ada percakapan di sela-sela mereka menikmati makan malam.
"Ada apa?" tanya Zeo, setelah mereka kembali ke rumah Amanda. Dan sekarang, keduanya sedang berada di teras samping rumah.
__ADS_1
"Biasa, masalah hati. Beruntung Tuan Egi bukan tipikal lelaki yang suka mengumbar perhatian pada perempuan." ucap Zea.
Teringat jika memang Egi selalu bersikap dingin dan cuek pada lawan jenis. "Kita tidak perlu ikut campur masalah mereka. Terlebih menyangkut Tuan Egi." ingat Zeo pada Zea.
"Yah,,, aku tahu. Tapi ada rasa sedikit kasihan pada Nona Amanda. Dia,,, dia perempuan cantik. Dan juga baik. Mereka terlihat cocok." cicit Zea, melihat ekspresi sendu saat Egi menolak ajakan makan malam bersamanya.
Meski baru beberapa hari bekerja dengan Amanda, Zea dapat menilai jika Amanda memang perempuan baik. Terlihat bagaimana Amanda memperlakukan bawahan di sekitarnya dengan sangat jelas.
"Ckkk,,, bukankah baru saja aku katakan. Jangan ikut campur masalah mereka. Hanya Tuan Egi sendiri yang bisa memilih calon istrinya. Jangan ikut campur. Aku tidak bisa membantumu, jika Tuan Egi menghukum kamu." tegas Zeo.
"Lily." gumam Amanda, berdiri di balkon kamar tidurnya. Menatap ke atas. Dimana banyak bintang bertebaran di dalam gelap malam.
"Kamu perempuan yang beruntung." desahnya dengan raut wajah sendu. Amanda duduk jongkok, bersandar pada pagar balkon.
"Hikss,,, hiks,,, Mama, papa. Amanda kangen. Amanda kesepian." Amanda menundukkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di antara kakinya yang di tekuk.
Tanpa Amanda sadari, sepasang mata melihatnya dari bawah. Ada rasa kasihan saat Zeo melihat seorang Amanda yang rapuh.
Dan Zeo yakin, jika saat ini. Amanda membutuhkan seseorang untuk bisa membuat hatinya tenang. Dan Zeo tahu pasti, siapa orang yang saat ini Amanda harapkan. Egi.
Amanda menghapus air matanya. Mengambil ponsel. Dia memutuskan untuk menelpon Lily. Meski malam sudah larut.
"Maaf, aku menelpon. Padahal kamu seharusnya sudah tidur." ucap Amanda merasa tidak enak.
"Kenapa minta maaf. Besok hari libur. Tidak perlu merasa bersalah. Lagi pula aku juga belum tidur. Ayolah,,, kita bisa berbincang." ucap Lily di seberang telepon.
Keduanya berbincang ringan. Hingga membuat perasaan Amanda yang sedih merasa terobati. Setidaknya, dia tidak merasa kesepian.
"Sampai jumpa besok." pamit Lily, sebelum menutup panggilan telepon dari Amanda.
"Baiklah, selamat tidur. Tunggu, aku besok akan ke rumah kamu." tukas Amanda, dengan raut wajah senang.
Amanda menaruh ponselnya di sampingnya, setelah memastikan panggilan teleponnya dengan Lily benar-benar berakhir. "Ahh,,,, ternyata seperti ini rasanya mempunyai teman. Sangat menyenangkan." gumam Amanda tersenyum puas.
"Egi." ucap Amanda lirih. "Ingat Amanda, Egi adalah punya Lily. Mereka sepasang kekasih. Jangan membuat dirimu menjadi perempuan tidak tahu terimakasih." tutur Amanda lada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Lily, dia perempuan baik. Jangan kamu menyakiti hati perempuan lain. Hanya untuk memuaskan rasa senangmu." imbuh Amanda.
Amanda berniat akan mengubur dalam-dalam perasaannya pada Egi. Dirinya sungguh tidak ingin membuat Lily sakit hati. "Lebih baik kamu menjadi saudara Lily." ucap Amanda memutuskan.
Beni mendatangi apartemen Egi meski sudah larut malam. "Proyek yang sempat tertunda, sudah kembali berjalan lagi, Tuan." lapor Beni.
"Suruh orangmu untuk memantau secara teratur. Pastikan tidak ada kendala, hingga semuanya selesai tepat waktu." perintah Egi.
"Pasti Tuan." ucap Beni.
Beni menyerahkan map dengan beberapa lembar kertas di dalamnya. Dengan tenang, Egi membukanya. Membacanya satu-persatu. "Apa alasan mereka yang tidak mau terlibat?" tanya Egi.
Beni memberi laporan tentang tindak kejahatan dari Nando Ebara. Dari beberapa perempuan yang menjadi korbannya, keluarga mereka tidak ingin ikut campur.
Atau, dengan kata lain. Mereka tidak ingin terlibat LAGI dengan keluarga Ebara. "Ketakutan. Bahkan, mereka juga tidak pernah mendapatkan sepeserpun uang dari Ebara." jelas Beni.
Egi tersenyum sinis. "Kaya tapi pelit." sinis Egi. Karena Tuan Ebara menggunakan kekuasaannya untuk menekan keluarga korban tanpa memberi uang.
Tuan Ebara menekan mereka yang menjadi korban. Dan pastinya Tuan Ebara memberi ancaman pada mereka. Dan Egi tahu ancaman yang di berikan pada mereka. Nyawa.
Sebagai keluarga yang berasal dari kalangan bawah, pasti mereka memilih untuk hidup aman. Dari pada mereka kehilangan nyawa mereka.
"Bagaimana dengan korban yang meninggal. Keluarga mereka." tanya Egi menatap Beni.
"Mereka mengusir dan menolak untuk bertemu dengan orang suruhan saya Tuan. Dan terlihat, ada rasa marah saat orang suruhan saya menyebut nama Ebara." jelas Beni.
Egi tersenyum. Sepertinya Egi mengetahui apa yang ada di pikiran mereka. Sakit hati yang mengakibatkan dendam.
Namun sayangnya, dendam mereka hanya sebuah angan-angan. Karena sampai kapanpun, mereka tidak akan bisa membalaskan keluarga mereka yang meninggal, karena kelakuan dari Nando.
"Bagus. Setidaknya masih ada luka di hati mereka. Kita hanya tinggal mengoreknya saja. Membuat lukanya semakin menganga." seringai menakutkan muncul di bibir Egi.
Beni merasa sedikit kasihan membayangkan apa yanga akan terjadi pada Nando Ebara. "Kali ini, pasti Nando tidak akan bisa menyelamatkan diri." ucap Beni dalam hati.
Tapi setidaknya Beni percaya, jika Tuannya mempunyai sesuatu untuk dia lakukan. Melihat bagaimana ekspresi iblis muncul di wajah Tuannya.
__ADS_1