PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 71


__ADS_3

Di apartemen miliknya, Revan meluapkan semua emosinya yang membuncah. "Amanda....!!!!" teriak Revan mengeluarkan rada kesal yang teramat pada sosok tersebut.


Dengan kedua mata menyalang, Revan mengeraskan rahangnya. "Dari mana Amanda memperoleh keberanian seperti itu. Dari mana dia mengetahui semuanya." gumam Revan.


"Aaaa....!!!!" teriaknya.


Prangggg...... Revan melemparkan vas bunga yang berada di atas meja ke arah tembok. Membuat vas tersebut pecah berkeping-keping. "Bob, Joshua, Amanda." Revan mencoba memecahkan semua teka-teki yang berada di sekitarnya.


"Apa mungkin Bob yang melakukannya." tebak Revan. "Tapi untuk apa. Bukankah tujuannya dama seperti diriku. Tidak mungkin Bob berubah menjadi orang baik hati dan dermawan." imbuhnya.


"Joshua tiba-tiba menghilang. Di lanjutkan dengan Amanda yang dengan berani menentang semua keinginanku." Revan mulai mengait-ngaitkan semua kejadian belakangan ini.


Saat pikiran Revan berusaha mencari jawaban atas apa yang terjadi, ponsel miliknya berdering. "Ada apa?" tanya Revan dengan nada sangat tidak bersahabat pada seseorang di ujung telepon.


Seketika Revan berdiri dengan kedua mata membulat sempurna. Bahkan, ponsel yang berada di genggamannya juga terjatuh ke bawah. "Tidak mungkin. Bagaimana bisa terjadi. Pasti ada kesalahan." ucapnya tidak percaya.


"Bagaimana. Bagaimana mungkin semua terjadi. Tidak. Sial, siapa sebenarnya orang di balik semua ini." ucap Revan dengan nada marah.


Revan mendapat laporan dari bawahannya. Jika beberapa properti yang telah berhasil dia pindahkan atas namanya. Kini kembali beralih nama, dan sekarang atas nama Amanda.


Permainan sempurna dari Egi. Membuat Revan dan Bob sekarang merasa tunggang langgang. Bahkan, keduanya tidak mengetahui jika Egi lah yang selama ini berada di belakang Amanda.


Malah sekarang, Bob sedang berurusan dengan Ditya. Dapat di pastikan, jika Ditya tidak akan dengan mudah melepaskan Bob begitu saja.


"Aku harus segera melakukan sesuatu. Aku tidak ingin kembali menjadi miskin. Benar. Aku harus segera bertindak." gumam Revan mencari jalan keluar.


Uang adalah segalanya bagi Revan. Karena sebelum menjadi seperti sekarang, Revan hanyalah orang biasa yang di pandang sebelah mata oleh orang lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nando berlari mengarahkan pisaunya pada Lily. Dan... Bughh,,,,, Lily memukul tangan Nando yang memegang pisau dengan sangat kuat.

__ADS_1


Sehingga pisau tersebut terlepas dari tangan Nando dan terlempar. "Aaa....!!!" teriak Nando memegang tangannya yang kesakitan karena tongkat besi yang di pukulan oleh Lily mengena pada lengannya.


Lily kembali memasang sikap waspada dan siaga. Sebuah keberuntungan bagi Lily. Karena senjata yang dia gunakan berbentuk panjang.


"Perempuan murahan!!" teriak Nando memandang Lily dengan tatapan membunuhnya.


"Dasar. Gila." balas Lily. Tak kalah tajam memandang ke arah Nando. Seolah memberitahu pada Nando, jika dia bukan lagi Lily si penakut.


Nando berdiri, berjalan menuju ke arah Lily dengan tatapan bengisnya. Seolah dia ingin sekali melenyapkan Lily.


Jantung Lily berdetak semakin kencang. Keringat mulai membasahi kening Lily. Terlebih sekarang memang matahari sangat terik. Bercampur dengan rasa takut yang Lily rasakan.


Namun Lily tetap harus bisa bersikap tenang. Dirinya tidak ingin mati konyol hanya karena seorang Nando. "Aku belum ingin mati. Lagi pula aku belum pernah merasakan indahnya malam pertama." gumam Lily berkata aneh.


Lily mengayunkan kembali tongkatnya pada tubuh Nando. Tapi sayang, kali ini Lily tidak berhasil. Nando menangkap tongkat yang di ayunkan oleh Lily dengan mudah.


Mungkin karena rasa takut yang Lily rasakan mengurangi kekuatannya saat dia mengayunkan tongkat besi tersebut.


Lily dan Nando saling menarik tongkat besi tersebut. Tapi itu hanya terjadi sebentar. Dan... "Aaaw..." Lily berteriak, saat dirinya jatuh ke belakang. Karena Nando melepaskan cekalan tongkatnya. Sehingga Lily yang juga sedang menarik tongkat tersebut jatuh terhuyung kebelakang.


Lily segera berdiri dan melangkah mundur. Lily mencari pisau Nando yang terlempar tadi. "Tak,,, tak,,, tak..." kini giliran Nando yang memainkan tongkat besi tersebut di atas aspal.


Nando menyeringai puas, melihat Lily mulai menunjukkan raut wajah takutnya. "Haaa,, ha,,,ha,,,, ha,,,," tawa Nando menggelegar. Seolah puas akan sesuatu.


"Aku sangat menyukai permainan kali ini." ucap Nando.


Segera Lily bergerak, mengambil sesuatu di bawah. "Benarkah?!" ejek Lily, segera tangan Lily menggenggam batu berukuran sedang di masing-masing telapak tangannya.


"Maju kalau berani." tantang Lily dengan tangan di angkat ke atas. Bersiap melemparkan batu ke arah Nando.


"Aku akan membunuhmu. Akan aku habisi kamu!!!" teriak Nando, mulai tidak bisa mengendalikan diri lagi.

__ADS_1


"Silahkan. Bunuh aku jika mampu. Ayo maju." ejek Lily.


"Aku harus melemparkan batu ini di waktu dan saat yang tepat." ucap Lily dalam hati. Lily seakan-akan hendak melempar batu tersebut. Tapi hanya sekedar menakut-nakuti Nando.


Mana mungkin Lily membuang senjata yang terakhir di tangannya dengan sia-sia. Dia bukan perempuan bodoh. Lily masih bisa berpikir waras, meski sekarang dalam keadaan terpuruk.


"Egi, cepatlah datang." ucap Lily dalam hati berharap bantuan segera datang.


Begitu juga dengan Nando. Dirinya juga seakan-akan memilih waktu yang tepat untuk menyerang Lily. Mata Nando selalu melihat ke arah telapak tangan Lily yang memegang batu.


"Wuuaaaa.....!!" seru Nando mengayunkan tongkat besinya. Lily segera menunduk untuk menghindarinya. Tangannya yang satu melepaskan dan melemparkan batu yang dia genggam dengan kuat.


Panggg.... "Kena!!" teriak Lily dengan senang. Saat batu yang dia lempar mengenai wajah Nando. Membuat Nando memegang tongkatnya tidak seerat tadi.


Kondisi Nando lantas tidak di sia-siakan oleh Lily. Segera Lily mengambil tongkat tersebut dan memukulkannya ke arah Nando berkali-kali.


"Aa... a....a...." membuat Nando berteriak berkali-kali karena pukulan-pukulan dari Lily.


"Tenang saja, pukulan dari aku tidak akan membuat kamu mati." seru Lily kembali memukul Nando dengan keras.


Banyaknya pukulan yang di berikan oleh Lily membuat tubuh Nando terjatuh dan tersungkur di atas aspal.


Begitu juga dengan Lily. Nafas Lily mulai terengah-engah. Antara lelah dan ketakutan yang menjadi satu.


Merasa Nando sudah tidak berbahaya untuknya, Lily melepaskan tongkat di tangannya. Tampak Lily mengibas-ngibaskan telapak tangannya yang merah karena terlalu erat memegang tongkat besi tersebut.


"Aku harus segera pergi dari sini." Lily segera membalikkan badan. Berjalan cepat, menyusuri jalan yang dia lalui tadi.


"Siapapun, tolong. Egi tolong." kedua mata Lily mulai berembun. Langkahnya sudah mulai pelan.


Bughhh,,,,, "Aaaa...." seru Lily tersungkur di atas aspal. Memegang bahunya yang sakit karena pukulan seseorang dari belakang.

__ADS_1


Dengan perlahan Lily menoleh ke belakang. Lily terkejut, mendapati siapa yang berdiri dengan senyum menyeringai. Menatap ke arah dirinya. Dengan tongkat besi di tangannya.


"Nando." ucap Lily memundurkan badannya.


__ADS_2