
"Ckk,,, badanku rasanya sakit semua." keluh Vincen, merasa tulang-tulangnya seakan terlepas dari sendi-sendinya.
Belum lagi lebam-lebam di beberapa bagian tubuhnya, yang juga membuat dia merasakan sakit. Dan juga wajah tampannya kini berubah karena terdapat beberapa lebam yang membengkak.
"Egi." gumam Vincen, teringat bagaimana seorang Egi dengan mudah mengalahkan Beno.
"Ternyata dia sangat berbahaya." gumam Vincen, dia hanya mengenal Egi sebagai seorang pengusaha muda yang sukses.
Karena memang, Egi terkenal di negara asal Vincen sebagai pengusaha muda yang sukses dan tentunya kaya raya. Bukan sebagai salah satu ketua organisasi bawah tanah yang kejam.
Karena memang sebetulnya, organisasi yang Egi ketuai berjalan dengan normal. Dan semuanya bergerak di bidang legal dan sangat membantu masyarakat.
Itulah kenapa nama Egi tidak terlalu santer di telinga orang luar sebagai pimpinan dari sebuah organisasi. Namun, bagi mereka yang sudah menggeluti dunia bawah tanah dengan cukup lama, mereka pasti akan tahu.
Bagaimana kejamnya seorang Egi, jika siapapun berani mengusik kehidupannya. Dan juga orang terdekatnya.
"Lebih baik kamu segera kembali ke negaramu." ucap Mauren yang langsung nyelonong masuk ke dalam kamar Vincen tanpa mengetuk pintu atau permisi.
Vincen terlihat acuh pada saudaranya yang tiba-tiba datang dengan mulut cerewetnya. Dengan santai, Mauren duduk di tepi ranjang. Tempat Vincen berbaring.
Mauren menatap Vincen dengan senyum remeh, seperti sedang melihat seorang pecundang. "Lihatlah, wajahmu sudah tidak berbentuk." cela Mauren pada Vincen dengan sinis.
"Sebaiknya kamu segera mempersiapkan diri. Suntik tubuhmu dengan vitamin yang banyak, agar lekas sembuh dan segar seperti sebelumnya. Aku yakin, sebentar lagi Egi akan membuat perhitungan denganmu." cerocos Mauren.
"Akan sangat berbahaya bagi Lily, jika dia bersama dengan Egi." tutur Vincen.
Kedua mata Mauren membulat mendengar perkataan Vincen. Mauren menggelengkan kepala. "Apa karena banyak mendapatkan pukulan, otakmu jadi konslet." ujar Mauren.
__ADS_1
Aneh. Bukannya khawatir akan dirinya, Vincen malah bisa-bisanya mengkhawatirkan Lily yang jelas-jelas punya dewa pelindung di sampingnya.
"Cinta. Sungguh Vincen, jangan kamu menggunakan kata itu lagi. Kamu salah mengarahkan cintamu. Astaga, ini salah siapa sih, apa salah cupitnya saat memanah hati." ujar Mauren memutar kedua matanya dengan malas.
"Bukan Egi yang berbahaya buat Lily. Tapi otak dan pemikiran kamu yang membahayakan Lily. Ingat." kesal Mauren sambil menunjuk ke kepala Vincen.
"Siapa yang menyebabkan semua ini. Kamu. Masih mau bilang, jika Egi berbahaya. Heran. Bukan Egi penyebabnya. Tapi kamu."
"Sebelum kamu bertindak, cari tahu dulu apa yang terjadi. Jangan sok jadi dewa jika akhirnya kamu akan menjadi penyebab malaikat maut datang." Mauren segera pergi meninggalkan Vincen.
Sungguh, Mauren jengah dengan saudaranya tersebut. Bukannya sadar, jika dirinya dan Egi tidak bisa di bandingkan. Malah dia masih berpikir tentang Lily.
"Aaaa...!!!" teriak Vincen merasa pusing, memikirkan Egi dan Lily.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nando berontak, berniat melepaskan tangan dan kakinya yang terikat pada ranjang tempatnya terlentang.
"Kasihan sekali." cibir Egi. "Lepaskan dia, dan bawa ke tempat ku latihan." perintah Egi, melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
"Apa Tuan akan mengubah rencana?" tanya salah satu bawahan Egi secara lirih.
"Mungkin, apalagi setelah kejadian kemarin." ucap rekannya, yang sedang membuka tali pengikat di kaki Nando.
Nando hanya diam, menyimak apa yang sedang di bicarakan mereka. Nando yakin, jika kemarin ada kejadian yang besar.
"Pasti Ebara syok, mendapat hadiah dari Tuan." ujar yang lain.
__ADS_1
Dia memandang ke arah Nando, begitu juga dengan Nando. "Dan bisa dipastikan. Pasti sebentar lagi Tuan akan meratakan semua milik Ebara." seringainya menantang Nando.
Nando melihatnya dengan tajam. Seakan tidak terima dengan perkataannya, yang mengartikan jika sang papa akan kalah dengan Egi.
"Ckk, sial. Hilang sudah kesempatanku." ucapnya memandang Nando dengan kesal.
"Sudahlah, aku yakin. Tuan akan tetap memberi kita bagian. Tenang saja." ucap rekannya, mencoba menenangkannya.
Di menatap Nando dengan tatapan membunuh dan kebencian. "Aku ingin dia merasakan, bagaimana menjadi para perempuan itu." ucapnya tersenyum sadis.
"Bukan hanya kamu. Aku juga sama." ucap salah satu rekannya yang baru datang bergabung. "Bagaimana si brengsek ini merasakan apa yang di rasakan para korban yang semuanya perempuan." lanjutnya.
"Sabar kawan. Berdo'a saja, Tuan kita akan memberikan jatah pada kita, meski sedikit." ucapnya, mulai melepas ikatan di tangan Nando.
Kaki Nando yang sudah terlepas sempurna, bergerak tak beraturan. Seperti ingin menendang. Sayangnya, dia hanya bisa menendang angin.
"Kayaknya terkana penyakit ayan ini orang." kelakar anak buah Egi, yang di susul tawa dari semuanya yang berada di dalam ruangan.
"Diam." bentaknya pada Nando dengan di pegang erat, di bawa ke ruangan. Dimana Egi sudah menunggu di sana.
Egi berada di ruangan yang di kelilingi kaca. Sehingga setiap orang yang berada di luar ruangan dapat melihat apa yang terjadi di dalam. Begitu juga sebaliknya.
Tapi jangan salah. Kaca tersebut anti peluru. Sehingga keamanan orang yang berada di dalamnya akan terjamin.
Egi berdiri di sisi kaca, sembari menyenderkan badannya. Karena memang, satu kursi pun tidak ada di ruangan tersebut.
Egi mulai menyingsingkan lengannya hingga siku. "Aku menginginkan gambar yang bagus di setiap sisinya." perintah Egi pada bawahannya, yang sedang meletakkan ponsel yang akan terhubung secara langsung dengan Tuan Ebara.
__ADS_1
"Baik Tuan." ucapnya, dengan melakukan apa yang di perintahkan Tuannya.