PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 79


__ADS_3

"Sudah siap?" tanya Nanny, masuk ke dalam kamar Amanda. Memastikan jika Nona-nya sudah siap untuk pergi keluar negara.


Amanda tersenyum manis, menghampiri Nanny dan memeluknya. Nanny menepuk bahunya dengan pelan. Keduanya berpelukan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Hanya saling menyalurkan rasa. Seolah sedang membagi perasaan senang pada lawan yang sedang di peluknya.


Nanny mengurai pelukannya. Mengambil koper kecil yang berada di sudut ruangan. "Mari Nona." ajak Nanny dengan senyum yang tak pernah hilang sejak masuk ke dalam kamar Amanda.


Amanda berjalan lebih dulu, di susul dengan Nanny di belakangnya. "Selamat pagi." sapa Amanda pada Zea dan Zeo, keduanya sudah menunggu Amanda dengan berdiri di dekat meja makan.


"Kalian, silahkan duduk. Kita sarapan bersama." ajak Amanda dengan ramah. Tanpa berkata apapun atau membantah, keduanya duduk di meja makan yang sama dengan Amanda.


Seperti biasa, Nanny melayani Nonanya dengan baik. Amanda juga tidak memberitahu Nanny, jika dirinya bersama Zea dan Zeo akan menjenguk kedua orang tuanya.


Lebih sedikit yang tahu akan lebih baik. Itulah kalimat yang di katakan oleh Egi semalam. Bahkan, Egi juga meminta Amanda untuk tidak mengatakan pada Nanny atau siapapun. Cukup Zea dan Zeo yang mengetahuinya.


Awalnya Amanda hendak protes. Namun dia urungkan. Sebab, dia berfikir jika Egi pasti melarangnya karena demi kebaikannya dan juga kedua orang tuanya.


Terlebih, selama ini Egi lah yang membantunya. Melewati semua dan membereskan masalah yang di hadapi. Hanya Egi satu-satunya orang yang Amanda percaya saat ini.


"Nanny senang sekali, Amanda tinggal?!" rajuk Amanda dengan nada manja dan bibir cemberut.


"Nona, mana ada. Saya hanya merasa senang, akhirnya perusahaan kembali ke tangan anda. Dan juga, sekarang anda terlihat begitu bahagia." jawabnya di sela-sela sarapan.


Nanny mendekatkan bibirnya ke telinga Amanda. "Apa Tuan Egi juga ikut?" tanyanya dengan nada menggoda.


Amanda langsung menatap Zea dan Zeo secara bergantian, tapi keduanya nampak menikmati makanan yang sedang mereka santap.


Amanda lalu mengalihkan pandangan pada Nanny dan menggeleng pelan. Membuat ekspresi Nanny langsung berubah datar.


Selesai sarapan, Nanny mengantar ketiganya sampai di teras rumah. "Selamat bersenang-senang." ucap Nanny menaikkan nada suaranya sambil melambaikan tangan pada Amanda yang sudah berada di dalam mobil.


"Huuffftt,,, Sayang, Tuan Egi tidak ikut." gumamnya seperti menyesal.


"Nanny, Nona Amanda pergi ke mana?" tanya seorang pelayan menghampirinya.

__ADS_1


"Pergi menghadiri pesta." jawab Nanny seadanya. "Kembalilah bekerja." perintah Nanny.


"Baik." ucapnya menunjukkan senyum tulus di hadapan Nanny. Namun senyum itu pudar ketika dirinya sudah tidak berada di dekat Nanny.


"Tua bangka. Tunggu saja saatnya tiba. Kamu akan merangkak meminta ampun di kakiku." ucapnya dalam hati.


Tangannya kembali memegang alat pembersih dan melakukan pekerjaannya. "Tenang saja Tuanku, aku akan membantumu menyingkirkan duri. Sehingga kita akan hidup bersama dalam kemewahan." ucapnya dalam hati, tersenyum licik.


"Apa kita akan langsung menuju ke tempat papa dan mama berada?" tanya Amanda dengan antusias.


"Maaf Nona, kami pun juga tidak tahu di mana kedua orang tua anda berada. Hanya saja, kami mendapat perintah dari Tuan Egi untuk selalu menyalakan ponsel." jelas Zea, sementara Zeo masih menyetir.


Amanda hanya diam. "Kenapa Egi bahkan tidak memberitahu pada mereka?" tanya Amanda dalam hati.


Seolah mengerti apa yang Amanda pikirkan, Zeo mengeluarkan suaranya. "Tuan Egi sengaja tidak memberitahu pada kami. Dan saya rasa itu cukup baik. Kita tidak tahu, apa yang akan kita hadapi di perjalanan." papar Zeo, memecah lamunan Amanda.


Amanda mengangguk pelan, membenarkan perkataan Zeo. "Egi, dia memang orang dengan kemampuan berpikir di atas rata-rata." puji Amanda dalam hati.


Amanda melihat jalanan yang mereka lewati menuju bandara. "Zeo, kita mau ke mana?" tanya Amanda bingung.


"Tuan Egi meminta kita untuk melewati jalur lain Nona." jelas Zea.


Amanda merasa khawatir. "Apa ada sesuatu?" tanya Amanda, yang merasa jika beberapa hari terakhir keadaan sudah membaik. Namun siapa sangka masih ada sesuatu yang belum dia ketahui.


"Tuan Egi hanya ingin memastikan jika Nona Amanda selamat sampai tujuan." tutu Zea.


Amanda merasa jika Zea maupun Zeo menyembunyikan sesuatu. Amanda segera menoleh ke belakang. Aman. Tidak ada mobil atau kendaraan lain yang mengikutinya.


Amanda masih merasakan cemas di hatinya. Pandangannya mencari sesuatu yang mungkin dia tidak sadari. "Nona, sebaiknya anda tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak akan terjadi." ucap Zea.


"Maaf Zea, aku hanya merasa ketakutan. Ya, padahal itu tidak perlu. Ada kalian berdua di sampingku." papar Amanda.


Zea dan Zeo hanya saling pandang meski hanya sesaat. Zeo mengangguk. "Nona, bisakah anda berpegangan dengan kuat. Dan sedikit menunduk." pinta Zea.


Klek,,, klek,,, Amanda melihat jika Zea sudah memegang senjata api. "Baik." ucap Amanda menuruti perkataan dari Zea.

__ADS_1


Amanda memejamkan kedua matanya dnegan tangan berpegangan erat pada kursi. Mulut Amanda berkomat kamit. Amanda mengucapkan sesuatu, atau berdo'a untuk keselamatan mereka.


Dorr,,,, dor,,,, Amanda semakin mengeratkan pegangan tangannya. Terlebih Amanda merasakan jika mobil yang dia tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi.


Suara tembakan terus Amanda dengar. Tapi Amanda merasa jika mobil yang dia tumpangi berhenti. "Nona Amanda, segera keluar." seru Zeo.


Zeo memegang lengan Amanda dan membawanya keluar dari dalam mobil. "Kalian amankan tempat ini." perintah Zeo pada semuanya.


Ternyata sedari tadi, Zea dan Zeo sudah sadar jika mereka di buntuti. Segera keduanya melapor pada Egi. Tepat waktu, Egi mengirimkan bala bantuan di saat yang tepat.


"Masuk..!!!" teriak Zea membuka pintu mobil. Masih dengan mata terpejam, Amanda berada di pelukan Zeo.


Zea duduk di kursi pengemudi. Mengemudi layaknya seorang pembalap profesional. Dengan Zeo duduk di belakang, dan Amanda memeluk erat tubuh Zeo. Menyembunyikan wajahnya di dada Zeo.


Tak hanya diam memeluk tubuh Amanda. Tangan Zeo yang satunya masih memegang senjata api. Dengan sikap waspada pada musuh yang mungkin daja masih mengejar mereka.


"Aman...??!" tanya Zea dengan pandangan mata menatap ke arah depan.


Zeo menoleh ke belakang. "Aman." ucap Zeo.


Mendengar perkataan Zea dan Zeo, Amanda perlahan melepaskan pelukannya pada tubuh Zeo. "Air." pinta Zeo. Segera tangan Zea yang satunya mengambilkan air minum di dalam dashboard fan memberikannya pada Zeo tanpa menoleh ke belakang.


"Minumlah Nona." Zeo memberikan botol air mineral pada Amanda.


Ada rasa tidak rela, saat Amanda melepaskan pelukannya pada tubuhnya. "Apa yang aku pikirkan." ucap Zeo dalam hati.


Gluk,,, gluk,,, dengan rakus Amanda meminum air tersebut. "Haaa,,,, astaga. Apa itu tadi." gumam Amanda setelah meneguk air minum.


Ini pertama kalinya Amanda merasakan hal seperti itu. Amanda menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. "Zeo." panggil Amanda lirih, dengan mata menatap ke depan.


Wajah Amanda tampak pucat dengan nafas tersengal ketakutan. "Tenang saja Nona. Tuan Egi mengirim bala bantuan di sat yang tepat." kelas Zeo.


Amanda menoleh memandang Zeo. "Egi." katanya tersenyum manis.


Deg,,,,, ada getaran aneh di hati Zeo. Saat Amanda memandangnya dengan tersenyum dan memanggil nama Tuannya dengan lembut. Segera Zeo memutuskan pandangan matanya pada Amanda.

__ADS_1


__ADS_2