PASANGAN HEBOH

PASANGAN HEBOH
PH 48


__ADS_3

"Kenapa baru pulang?!" sarkas Revan, melihat Amanda pulang ke rumah. Membawa dua orang di sampingnya.


Amanda tidak terkejut mendapati Revan berada di rumahnya. Padahal, seharusnya Revan sudah berada di perusahaan. Untuk bekerja.


Tapi itulah Revan, bertindak seolah dialah bosnya Amanda. Sangat menyebalkan.


Amanda memutar kedua matanya jengah. Mendengar pertanyaan dari Revan. Kenapa harus bertanya. Jika sebenarnya Revan mengetahui dari mana dirinya hingga pulang jam segini.


Apalagi semua yang menimpa Amanda berasal dari ulah Revan. "Berpura-puralah. Sampai kamu tak bisa lagi berpikir." ucap Amanda dalam hati.


Tidak menjawab pertanyaan dari Revan, Amanda malah memperkenalkan dua orang yang di bawanya. "Kenalkan. Dia Zea, dan dia Zeo." ucap Amanda, memperkenalkannya pada Revan sambil mengarahkan pandangan pada dua orang yang berdiri di kanan dan kiri nya.


Zea dan Zeo memandang ke arah Revan dengan tajam, begitupun sebaliknya. Tidak ada rasa hormat dari keduanya pada Revan. Seperti sedikit membungkukkan badan.


Dan Nanny, melihat dari arah lain sembari tersenyum. Ini pertama kalinya Nanny melihat Amanda berani memasang ekspresi dingin di hadapan Revan.


Karena sebelumnya, Amanda hanya memandang wajah datar tanpa ekspresi.


"Terimakasih Tuhan. Tenang saja Nona. Sesuai janjiku. Selamanya aku akan mengabdikan diri pada keluarga Nona Amanda. Sebisa mungkin, aku akan menjaga Nona. Sampai Tuan dan Nyonya pulang." batin Nanny, yang memang tidak mengetahui keadaan majikannya.


Setelah menemukan serbuk aneh yang dia berikan pada Amanda. Sekarang Nanny lebih jeli dalam menggunakan kedua mata dan telinganya.


Nanny mencaritahu siapa saja musuh dalam selimut yang berada di rumah besar dan mewah ini. Dan dalam waktu singkat, dia telah memperoleh nama-nama tersebut. "Enak daja, sudah tidur makan gratis. Di bayar lagi. Malah mau mencelakai majikan kalian." dumal Nanny dalam hati.


"Aku harus memberitahu Nona Amanda mengenai mereka. Semoga Nona Amanda bisa mengambil tindakan tegas." ucap Nanny berharap.


"Sebaiknya kalian keluar." usir Revan pada keduanya menatap dengan sengit.


Zeo tersenyum sinis. "Tuan kami adalah Nona Amanda. Yang berhak mengusir dan memberi perintah pada kami adalah Nona Amanda. Bukan anda." tegas Zeo.


"Kamu." geram Revan.


"Silahkan Nona, sebaiknya anda segera bersiap." ucap Zea dengan sopan, karena memang Amanda harus pergi ke perusahaan.


Amanda tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia melenggang pergi. Revan hendak melangkah menghalangi kepergian Amanda.


Ada rasa kesal di hati Revan. Amanda pulang membawa dua orang di sampingnya. Itupun tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu.

__ADS_1


Segera Zeo menghentikan langkah Revan dengan berdiri tepat di depan Revan. "Minggir." sarkas Revan tidak terima.


Zeo tersenyum sinis. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Ingat. Kita sama. Sama-sama bekerja untuk Nona Amanda." tegas Zeo, seolah mengingatkan kedudukannya di rumah dan di perusahaan.


"Asal kamu tahu...." ucap Revan terpotong oleh ucapan dari Zeo terlebih dahulu.


"Aku sudah tahu. Tanpa kamu beritahu." ujar Zeo dengan gaya tengilnya.


Revan lantas lebih memilih pergi meninggalkan kediaman dari Amanda dengan rasa kesal dan dongkol. "Siapa mereka?" tanya Revan lirih.


"Cari tahu, tentang dua orang tersebut." perintah Revan pada bawahannya.


"Amanda, berani sekali dia melakukannya. Apa dia berniat membangkang." ucap Revan dalam hati.


Revan benar-benar tidak menyangka, jika Amanda melakukannya. Padahal kemarin dia masih menjadi perempuan penurut di mata Revan.


"Apa karena kejadian semalam." gumam Revan.


Yang Revan takutkan, jika Amanda menceritakan semuanya pada Egi. "Jika benar dugaanku. Dua orang di samping Amanda adalah orangnya Egi. Tapi, kenapa Egi masih diam." Revan mulai mencoba menebak apa yang terjadi.


"Tuan, dua orang yang datang bersama dengan Nona Amanda bernama Zea dan Zeo. Keduanya adalah sahabat Nona Amanda sewaktu kuliah." jelas anak buah Revan.


"Jadi mereka bukan orangnya Egi. Berarti Amanda tidak bercerita apapun pada Egi." Revan tersenyum puas.


Tapi seketika senyumnya memudar. "Lantas untuk apa dia membawa pulang dua gundik tidak berguna itu. Apa Amanda sudah tahu tentang hilangnya kedua orang tuanya." tebak Revan.


"Tidak." lanjut Revan menyanggah sendiri pemikirannya.


Karena menurut Revan, jika Amanda mengetahuinya. Pasti sekarang Amanda akan menangis dan menjerit. Bahakan akan mengusir Revan.


Revan menyimpulkan jika Amanda belum mengetahui perihal kedua orang tuanya.


"Nona...!!!" seru Nanny, tanpa mengetuk pintu masuk ke dalam kamar Amanda dan memeluk tubuh Amanda dengan erat.


Segera Nanny melepaskan pelukannya. "Maaf." ucap Nanny, karena kelancangannya masuk ke dalam kamar Amanda dan memeluknya.


"Terimakasih. Nanny menghubungi Egi tepat waktu. Mungkin jika terlambat sedikit saja, pasti ceritanya akan berbeda." ucap Amanda sedih.

__ADS_1


"Husssttt,,, Nona orang baik. Pasti Tuhan akan melindungi dam menolong orang yang baik seperti Nona." sahut Nanny.


Pandangan Nanny beralih kepada Zea. "Dia Zea, dan yang di bawah tadi Zeo. Mereka berdua orangnya Egi." jelas Amanda.


Nanny tersenyum, tapi di wajahnya ada raut kekhawatiran yang terlihat jelas. "Tapi Nanny tenang saja. Egi sudah mengurus semuanya." Amanda mengerlingkan sebelah matanya.


Nanny bernafas lega. Memegang kedua telapak tangan Amanda. "Ingin sekali Nanny bertemu dengan Tuan Egi. Pasti dia lelaki yang sangat tampan." tebak Nanny. Dan Amanda segera mengangguk untuk menjawab perkataan dari Nanny.


Nanny mengalihkan pandangan kepada Zea. Dan Amanda sepertinya dapat menebak apa yang dipikirkan oleh Nanny. "Katakan saja. Dia tidak mungkin berkhianat." ucap Amanda yakin.


"Atau Egi akan menghabisinya dengan mudah." bisik Amanda.


Nanny tersenyum lega sambil melirik ke arah Zea. Dan sepertinya Zea bisa menebak apa yang dibisikkan oleh Amanda pada perempuan tua di depannya tersebut.


Setidaknya, mulai sekarang akan ada seseorang yang akan membantu dan mendorong Amanda. Itulah yang Nanny pikirkan. Sehingga Amanda tidak perlu merasakan ketakutan.


"Ada banyak penyusup di dalam rumah." ucap Nanny. Amanda menatap ke arah Zea.


"Lakukan apa yang ingin Nona lakukan. Kami akan berada di samping Nona." ujar Zea.


Amanda menarik nafasnya. "Apa Nanny sudah mengetahui siapa saja?" tanya Amanda. Dan Nanny segera mengangguk. Nanny menyebutkan satu-persatu orang yang menurut Nanny adalah musuh dalam selimut.


"Aku akan mengambil tindakan sekarang. Bagaimana?" tanya Amanda, menatap ke arah Zea.


"Lebih cepat lebih bagus Nona." dukung Zea.


"Tunggu aku di luar. Aku akan berganti pakaian dulu. Nanny, tolong ajak Zea fan Zeo berkeliling rumah." pinta Amanda, sambil mereka menunggu Amanda berganti pakaian.


Keduanya lantas keluar dari kamar Amanda. Sementara di dalam kamar, Amanda segera melakukan apa yang dia ingin lakukan. Tanpa membuang banyak waktu.


"Ada apa Nona?" tanya Nanny saat melihat senyum dari bibir Zea. Saat keduanya di ajak Nanny untuk keliling rumah. Memperkenalkan dan memberitahu setiap bagian dari rumah tersebut.


"Panggil daja Zea dan Zeo. Tanpa ada imbuhan lain." pinta Zeo yang berdiri di samping Zea.


"Baik."


"Ternyata benar, di sini banyak ularnya." gumam Zea. Beberapa mata pelayan seakan memandang ke arah mereka dengan tatapan menyelidik. Tapi ada juga yang menatap bisa, dan acuh.

__ADS_1


"Revan memang pandai dan cerdik. Menempatkan orang-orangnya di sekitar Nona Amanda." sinis Zeo.


Menyuruh beberapa orang bekerja di kediaman Tuan Joshua, bekerja sebagai mata dan telinga Revan. Tapi di bayar daei uang Tuan Joshua. Bukankah benar-benar pandai memanfaatkan peluang yang ada.


__ADS_2