
Lantaran selama ini, atasannya tidak pernah sekalipun membawa perempuan ke perusahaannya. Selain rekan kerja.
Tapi kali ini ada pemandangan berbeda. Egi berjalan beriringan dengan seorang perempuan, meski mereka tidak berpegangan tangan.
Sampai di dalam ruangan, Egi dan Lily duduk di kursi empuk. "Aku tadi mampir beli ini." dengan senyum di bibirnya, Lily membuka satu bungkus makanan di depannya.
"Ini." ucap Lily menyodorkan makanan pada Egi.
Tanpa banyak berucap, Egi mengambilnya dan memakan makanan yang di berikan oleh Lily. Selama makan, Lily sama sekali tidak menggangu Egi. Lily membiarkan Egi makan dengan tenang.
"Tadi dari mana?" tanya Lily setelah mereka selesai makan, sementara tangannya sibuk membersihkan meja.
"Perusahaan papamu."
"Ketemu sama papanya." tanya Lily sekedar berbasa-basi.
"Iya. Ada adik kamu juga." ucap Egi, meneguk minuman mineral dalam botol kemasan di depannya.
Tangan Lily yang sedang membersihkan meja seketika berhenti, mendengar jika Egi bertemu dengan Lila. Adiknya.
"Dia namanya Lila. Cantik dan pintar." ucap Lily memuji adiknya.
"Iya." sahut Egi singkat sambil berdiri menuju ke kursi kerjanya.
Entah kenapa, mendengar kata "iya" yang terlontar dari mulut Egi seakan membuat nafas Lily tercekat. Segera Lily membersihkan meja.
"Saya permisi." ucap Lily tanpa melihat ke arah Egi, dan langsung meninggalkan ruangan Egi.
Egi mengernyitkan dahinya melihat tingkah Lily. "Ada apa dengannya." gumam Egi. "Padahal gue mau ngucapin terimakasih. Malah keluar." gumam Egi mengangkat kedua bahunya.
"Aaawwasshhh." karena tidak memperhatikan jalan, Lily menabrak seseorang yang juga berjalan ke arahnya.
"Nona tidak apa-apa." ucap seseorang segera menahan tubuh orang yang di tabrak oleh Lily. Sementara Lily terjatuh ke lantai.
"Kamu, kalau jalan gunakan mata!!" hardik Revan. Karena yang tidak sengaja di tabrak oleh Lily adalah Amanda.
"Aku tidak apa-apa. Jangan berlebihan." ketus Amanda tidak suka pada Revan.
__ADS_1
"Berdirilah." Amanda mengulurkan tangannya untuk membantu Lily.
"Maaf." ucap Lily, mengulurkan tangannya.
"Tidak apa-apa. Lagi pula saya tidak sampai terjatuh." ucap Amanda dengan senyum di bibirnya.
"Apa ada yang sakit?" tanya Amanda memastikan.
"Tidak ada. Sekali lagi, saya minta maaf." ucap Lily merasa tidak enak hati.
"Maaf Nona. Tuan Egi sudah menunggu. Kita harus segera ke sana." ucap Revan mengingatkan Amanda.
"Jika begitu, saya permisi dulu." pamit Amanda pada Lily.
Lily memandang ke arah Amanda yang semakin menjauh darinya. "Egi. Pasti dia rekan kerja Egi." gumam Lily tersenyum hambar.
Di dalam mobil, Lily duduk termenung. Dirinya masih diam, tidak menyalakan mesin mobil. Entah mengapa tiba-tiba air mata Lily jatuh ke pipinya.
"Kenapa rasanya sakit." ucap Lily mengingat Egi mengatakan iya, saat Lily berkata jika Lila cantik dan pintar.
Lily mengusap air mata di pipinya. Menyandarkan badannya di kursi, memejamkan mata dan menghirup nafas dalam-dalam.
Seperti rencana awal, Lily beserta kedua orang tuanya menghadiri acara fashion show di sebuah gedung mewah dan megah.
Dimana Lila akan menjadi pembuka acara tersebut. Dengan memainkan piano menggunakan jari indahnya.
Lily duduk di kursi paling depan. Bersama Tuan Ardes dan juga Nyonya Tya. "Egi." gumam Lily masih bisa di dengar kedua orang tuanya.
Terlihat Egi datang bersama seorang perempuan paruh baya. Perempuan tersebut memegang lengan milik Egi. Bahkan tangan Egi juga menggenggam tangan perempuan tersebut di lengannya.
"Siapa perempuan itu?" tanya Lily dalam hati, merasa khawatir.
"Dia Nyonya Tiwi. Tiwi Hariningrum. Mama dari Egi. Dia adalah seorang desainer." jelas Tuan Ardes. Seketika Lily tersenyum dan merasa lega mendengar penjelasan sang papa.
Saat Lily ingin berdiri ada beberapa perempuan yang menghampiri Egi dan mamanya. Membuat Lily kembali duduk dengan tenang.
Lily melihat ke arah dirinya sendiri. Memakai pakaian biasa. Tapi kali ini, Lily tidak memakai kemeja. Melainkan baju model sabrina berlengan panjang. Dan pastinya dengan bawahan celana jeans panjang. Dan rambut terikat menjadi satu.
__ADS_1
Entah kenapa, Lily menjadi merasa minder. Melihat penampilannya sendiri. Sementara perempuan yang menghampiri Egi dan mama Egi tampak berdandan dengan cantik.
Menggunakan gaun, yang terkesan anggun untuk pemakainya. Membuat para perempuan tersebut tampak begitu cantik.
"Ada apa sayang?" tanya Nyonya Tya, melihat Lily menundukkan kepalanya.
"Ehh,,, Tidak ada apa-apa. Kapan acaranya akan di mulai?" tanya Lily mengalihkan topik pembicaraan.
"Mungkin sebentar lagi." tebak Nyonya Tya, karena beliau sendiri juga tidak tahu.
Lily melihat ke arah Egi. Di mana Egi beserta mamanya duduk di kursi samping model yang akan melakukan catwalk, beserta para desainer lainnya. Tampak Egi sangat gagah dan terlihat tampan.
"Itu Egi Yoga Pratamaka kan. Sumpah, ganteng banget."
"Tapi dia sedingin es. Tapi tidak masalah. Aku rela kedinginan. Asal bersama dia."
"Damage banget. Nggak ada obatnya."
"Aku dengar sih, masih single."
"Huhh,,,, jadi panas, dengar dia masih single."
"Orang seperti Egi, pasti carinya perempuan berkelas. Mana mau dengan perempuan seperti kita."
"Siapa tahu, rezeki ku. Jodoh tidak ada yang tahu."
Suara-suara berseliweran di telinga Lily. Membuat Lily harus menebalkan telinganya. Nyonya Tya yang mendengarnya, memegang telapak tangan putrinya dan tersenyum.
Lily juga tersenyum dan memandang ke arah sang mama. Sementara Tuan Ardes hanya menggelengkan kepala dan melihat ke arah dimana Egi sedang duduk dengan tenang memainkan ponselnya.
Acara di mulai. Terdengar suara piano yang indah. Membuat semua orang yang berada di ruangan seakan terdiam. Tersihir oleh permainan piano dari Lila.
Seketika ruangan yang tadi riuh, sekarang menjadi sunyi. Hanya ada suara piano yang masuk ke dalam indera telinga masing-masing.
Tapi berbeda dengan Lily. Dia sama sekali tidak mendengarkan dan menikmati permainan piano dari sang adik. Matanya fokus menatap ke arah Egi.
Dimana Egi juga terlihat menikmati permainan piano dari Lila. Tampak mata Egi memandang ke arah panggung. Dimana Lila sedang duduk dengan anggun.
__ADS_1
Dengan jari lentiknya menekan setiap not piano. Menjadi bunyi yang sangat indah.
Entah kenapa, Lily merasa tidak rela melihat Egi menatap terus ke arah panggung. "Aku di sini." batin Lily, meremas sendiri telapak tangannya.