
Egi langsung berdiri dan menatap ke arah Lily. Mengernyitkan dahinya. "Siapa dia?" batin Egi.
"Lily." seru Tuan Ardes, mendekat ke arah putrinya tersebut. Segera Lily menggandeng lengan Egi dengan erat. Membuat Egi tidak bisa melepaskannya.
"Pa, dia kelasih Lily." ucap Lily. Sontak membuat semua terkejut. Baik Tuan Ardes ataupun Egi.
Beni dan Ditya menatap Egi. Mereka merasa bingung. Bagaimana Egi bisa mempunyai seorang kekasih, sampai mereka berdua tidak mengetahuinya.
"Kekasih." batin Egi.
"Iya pa, Lily mohon. Papa batalkan perjodohan itu. Kami saling mencintai, iyakan sayang." dengan manja, Lily bergelayut pada lengan Egi.
"Membatalkan perjodohan. Kekasih. Apa-apaan perempuan gila ini." batin Egi.
Egi melihat ke arah Lily, seketika Egi teringat jika dia adalah perempuan di bar dan juga di tengah jalan waktu itu. "Permainan anak kecil." batin Egi.
Sepertinya Egi mulai menyadari jika dirinya sedang di permainan oleh perempuan yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya tersebut.
Egi hanya akan di jadikan tameng, untuk membatalkan perjodohan dirinya dengan lelaki pilihan papanya.
Entah apa tujuan dari perempuan ini. Egi tersenyum miring. Sepertinya Egi akan mengikuti permainan perempuan yang bernama Lily tersebut.
"Tidak buruk. Tapi masih terlalu jauh dari Ella." batin Egi melihat penampilan perempuan di sampingnya.
"Lily,,, apa yang kamu katakan." ucap Tuan Ardes menatap ke arah Lily dan Egi bergantian.
"Namanya Lily. Anak dari Tuan Ardes. Lumayan." batin Egi yang memang berniat mengajak Tuan Ardes bekerja sama. Karena perusahaan Tuan Ardes adalah perusahaan bonafit dan besar di negara ini.
"Saya Egi Tuan. Kekasih anak anda. Lily." ucap Egi dengan tenang.
Deggg.... Entah kenapa, jantung Lily seakan berhenti mendengar Egi menyebut dirinya sebagai kekasihnya. Di hadapan sang papa.
"Apa itu benar. Lily..!!" seru Tuan Ardes seperti sedang menginterupsi sang anak.
"Be-be- benar pa." ucap Lily gugup. Membuat Egi tersenyum samar. Kemana perginya nyali perempuan yang dengan berani mengakui dirinya sebagai kekasih dari Egi.
Kenapa seketika nyali Lily menciut. Bahkan terlihat kegugupan di wajah Lily. Dan juga, Egi merasakan tangan Lily bergetar.
__ADS_1
"Kami baru beberapa hari menjalin hubungan." ucap Egi santai.
"Lily yang mendatangiku di bar. Dia bilang sangat mencintaiku. Awalnya saya menolak. Tapi karena kegigihan Lily, saya menerimanya sebagai kekasih." jelas Egi. Ditya tersenyum dan menggelengkan kepala. Sepertinya dia mengerti sekarang. Apa yang di alami oleh sahabatnya tersebut.
Lily mengeratkan rahangnya. "Dia bilang apa. Aku mengejar-ngejar dia. Brengsek. Mana ada." batin Lily tidak terima dengan perkataan Egi.
Tapi mau bagaimana lagi, Lily hanya bisa diam dan membiarkan Egi berbicara sesuka hati Egi. Dari pada nanti Egi malah membongkar sandiwaranya.
Akhirnya pertemuan untuk membahas proyek bersama telah selesai. Dan ketiga perusahaan telah mencapai kata sepakat. Perusahaan milik Egi, perusahaan Ditya, dan juga perusahaan milik Tuan Ardes.
Dan Lily, seperti janjinya. Dia duduk di meja yang berbeda. Lagi pula, dirinya tidak ingin pusing mendengar perkataan mereka tentang bisnis.
"Maaf, bisa kita bicara sebentar. Berdua." ajak Tuan Ardes pada Egi.
"Silahkan." Egi kembali menurunkan pantatnya di kursi yang sempat dia duduki sebelumnya.
"Kalau begitu, kami permisi dulu." pamit Ditya.
"Silahkan." ucap Tuan Ardes.
"Tuan, saya tunggu di mobil." ucap Beni, dan Egi hanya mengangguk. Membiarkan asistennya menunggu di parkiran.
"Ini bukan soal bisnis. Dan sepertinya anda paham apa yang akan saya tanyakan." ucap Tuan Ardes, menatap wajah Egi dengan serius.
"Sial, kenapa gue lupa dengan perempuan pembuat onar itu." batin Egi.
Egi tersenyum. "Tuan, sebaiknya Tuan langsung tanyakan pada putri anda. Karena kami berhubungan masih beberapa hari. Tak pantas rasanya jika kita membahas terlalu jauh." jelas Egi.
"Saya sudah katakan tadi, jika putri anda yang mengejar saya terlebih dahulu. Jadi, saya harus memastikan perasaan saya. Menikah bagi saya adalah hal yang sakral." imbuh Egi.
"Jika tidak ada yang Tuan tanyakan lagi, saya mohon pamit undur diri. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Termasuk proyek kerjasama kita."
Egi berdiri, sedikit membungkukkan badan. "Permisi." ucap Egi. Meninggalkan Tuan Ardes yang masih diam seperti patung yang memandangi dirinya pergi.
Bahkan, Egi sama sekali tidak melihat atau menyapa Lily saat meninggalkan restoran. Membuat Tuan Ardes mengernyitkan dahinya.
Dan Lily, seolah tampak cuek dengan kepergian Egi. Membuat Tuan Ardes semakin curiga dengan putrinya.
__ADS_1
"Apa benar jika kamu berhubungan dengan Egi." tanya Tuan Ardes yang sudah berada di damping Lily. Suara sang papa mengejutkan Lily.
"Papa." dengus Lily seraya memegang dadanya.
"Jawab Papa." bentak Tuan Ardes. Tapi Lily hanya diam dan menunduk. Lily memejamkan mata.
"Pa, jangan keras-keras. Dilihat banyak orang." ingat Lily, karena mereka masih berada di dalam restoran.
Keduanya lantas pergi meninggalkan restoran. "Katakan pada papa." ucap Tuan Ardes ketika keduanya sudah berada di dalam mobil, memandang tajam ke arah Lily.
"Semoga papa percaya. Dan membatalkan perjodohan itu. Lagi pula, kelihatannya lelaki menyebalkan itu juga tidak tertarik dengan aku. Setelah beberapa bulan, dan papa tidak mengingat perjodohan itu, aku bilang saja jika sudah putus dengan Egi." batin Lily.
"Lily.....!!" seru Tuan Ardes. Karena Lily malah senyum-senyum sendiri tidak jelas.
"Iya pa." ucap Lily.
"Terpaksa aku merendahkan diriku. Gara-gara mulut lelaki sialan itu." batin Lily memaki Egi.
"Lily menyukai Egi pa. Saat melihat Egi, jantung Lily berdetak dengan kencang." ungkap Lily bohong.
"Tapi kelihatannya Egi tidak menyukai kamu." ucap sang papa. Merasa khawatir dengan putrinya.
Padahal sama sajakan, Egi maupun lelaki yang hendak di jodohkan dengan putrinya. Keduanya juga tidak menyukai Lily. Tapi entahlah dengan lelaki yang di jodohkan dengan Lily.
"Sama pa, Lily juga tidak menyukai lelaki sombong itu." batin Lily.
"Lily akan berusaha membuat dia menyukai Lily pa. Papakan tahu, ini pertama kalinya Lily menyukai seorang lelaki." rayu Lily.
"Baiklah, papa akan membatalkan perjodohan itu." ucap Tuan Ardes memutuskan.
"Semudah itu." batin Lily bersorak gembira. Lily ingin berteriak karena merasa senang. Tapi tidak mungkin dia melakukannya.
"Ajak dia ke rumah. Kita makan bersama. Supaya Egi juga lebih akrab dengan keluarga kita." ujar Tuan Ardes.
Terrrrkkkkk... Seketika tubuh Lily membeku. Mendengar papanya, menyuruhnya untuk mengajak Egi ke rumah. Lily memejamkan mata. Mencoba mencari cara supaya keinginan papanya tidak terlaksana.
"Tapi tidak untuk waktu dekat ini pa. Papakan tahu sendiri, Egi menerima Lily karena merasa kasihan." ucap Lily dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Lily akan buat Egi menyukai Lily dulu. Baru setelah itu, Lily akan mengajak Egi untuk bermain ke rumah." imbuh Lily.